
📢📢📢 BOM KOMENTARNYA BESTIE 💜
***
"Ayah Ibu, aku pergi dulu ya. Jovan sudah menungguku di luar!" pamit Nania sambil berlari kecil menghampiri kedua orangtuanya yang sedang duduk sambil menonton televisi. Dia lalu mencium pipi keduanya, kemudian mengedipkan mata pada kakak iparnya yang tengah tersenyum penuh evil padanya. "Kak Gleen, tolong sabar dulu. Jangan khawatir, aku pastikan Jovan akan bersedia menjalin kerjasama dengan perusahaanmu. Oke?"
"Oke. Kau yang terbaik, Nania!" sahut Gleen sambil mengacungkan jari jempol. Dia sungguh beruntung memiliki adik ipar yang begitu tergila-gila akan uang.
"Oh, tentu saja!"
Nania mendesis menahan sakit saat tangannya di cubit oleh sang kakak. Dia lalu mendengus ketika kakaknya memelototkan mata padanya.
"Apa sih, Kak. Niatku itu baik dengan ingin membangun hubungan dekat antara Kak Gleen dengan calon suamiku. Lagipula ya, pada akhirnya nanti semua harta milik Jovan akan menjadi milikku juga. Jadi tolong berhenti menghakimi seolah aku hanya menginginkan uangnya Jovan saja. Aku juga mau orangnya asal kakak mau tahu!" gerutu Nania kesal.
"Nania, apapun itu tolong berhenti mendengarkan ide sesat dari kakak iparmu itu. Jovan adalah pria yang baik, Kakak takut dia akan kecewa jika sampai mengetahui hal ini. Paham kau?" ucap Lusi berusaha menasehati sang adik yang entah kenapa bisa begitu klop jika sudah membahas tentang uang bersama dengan suaminya. Kadang Lusi sampai tak habis pikir melihat kelakuan kedua orang ini. Hmmm.
"Iyalah, iyalah. Ya sudah kalau begitu aku pergi menemui sugar daddy-ku dulu ya. Bayy,"
Dengan langkah yang begitu seksi Nania berlalu pergi dari hadapan keluarganya. Dan senyum manis langsung mengembang di bibir Nania begitu dia melihat Jovan yang tengah berdiri menyender di pintu mobil. Matanya berbinar, terpesona akan ketampanannya.
"Wow, wow, wow. Jovan, kau benar-benar sangat tampan malam ini. Aku jadi semakin tergila-gila padamu!" puji Nania tanpa ragu.
"Kau terpesona padaku atau terpesona pada apa yang aku bawa, hm?" tanya Jovan sambil terkekeh. Dia lalu mengangkat bucket bunga di tangannya kemudian memberikannya pada Nania. "For you, honey. Dan ... kau sangat cantik dengan gaun putih itu. I love you,"
"Uuuuu, manisnya,"
Segera Nania menerima bunga pemberian Jovan kemudian menciumnya. Dia lalu mengerlingkan mata ketika menemukan ada sebuah kotak perhiasan yang terselip di dalam bucket bunga tersebut. Sambil tersenyum penuh goda, Nania mengambil kotak tersebut kemudian memberikannya pada Jovan.
"Keromantisan ini akan semakin terasa kalau kau yang memasangkannya langsung untukku. Em, cincin atau kalung?" tanya Nania.
__ADS_1
"Sebenarnya aku ingin memberimu cincin, tapi karena kita belum menikah jadi aku memilih untuk membeli kalung saja agar kau semakin terlihat cantik dengan berlian yang melingkar indah di leher jenjangmu," jawab Jovan dengan senang hati membuka kotak di tangannya. Dia kemudian maju mendekat, menatap wajah cantik kekasihnya yang begitu sulit untuk dilupa. "Rambutmu sedikit menghalangi. Haruskah aku mengikatnya lebih dulu?"
"Oh, tidak usah sayang. Kau hanya tinggal memindahkannya ke samping lalu kau bisa memasangkan kalung itu di leherku," jawab Nania tanpa ragu membiarkan Jovan menyentuh rambut kesayangannya. "Jangan takut. Menyentuh rambut tidak akan membuatku hamil. Santai!"
Sebenarnya Jovan cukup kaget mendengar jawaban frontal kekasihnya ini. Akan tetapi kekagetan tersebut langsung hilang begitu dia ingat kalau kekasihnya ini bernama Nania, si gadis bar-bar yang suka sekali menjungkirbalikkan perasaan para pria. Setelah itu Jovan pun segera berpindah ke belakang tubuh Nania kemudian menyibakkan rambutnya ke samping. Dan untuk beberapa saat Jovan di buat tertegun ketika menghirup aroma wangi yang berasal dari rambut dan juga tubuh Nania. Otak Jovan mendadak tidak bisa berfungsi dengan baik. Dia eror seketika.
Ya Tuhan, cobaan apa ini. Bagaimana bisa aku memiliki kekasih yang begitu harum dan juga menggoda? Aku tidak kuat Tuhan, aku tidak kuat. Tolong aku, batin Jovan gelisah.
Nania tampak mengerutkan kening saat Jovan tak kunjung memakaikan kalung di lehernya. Aneh, sugar daddy-nya tidak mungkin meninggal kan hanya karena melihat kulit tengkuknya yang putih bersih?
"Jo, kau masih bernafas 'kan?" tanya Nania khawatir.
"Apa?" sahut Jovan tersentak kaget saat Nania tiba-tiba bertanya. Lamunannya seketika lenyap, dia kemudian berdehem untuk menormalkan kekagetannya. "Kau bertanya apa barusan?"
"Ck. Kau ini kenapa sih, Jo. Memangnya apa yang sedang kau lakukan di belakangku sampai kau tidak mendengar apa yang aku tanyakan!" omel Nania. Namun sedetik kemudian bibir Nania menyunggingkan senyum evil. Dia yakin sekali kalau Jovan pasti begitu terpesona melihat bentuk tubuhnya, makanya dia tidak fokus saat Nania bertanya. "Jo, jangan bilang sekarang kau sedang membayangkan sesuatu yang panas setelah kau melihat kulit punggungku yang putih menggoda. Benar tidak?"
Menyadari Jovan yang enggan mengakui kebenarannya, dengan iseng Nania berbalik menghadap ke belakang. Dia lalu menggigit bibir bawahnya, sengaja memanas-manasi Jovan agar semakin merasa gerah.
"Jo, kau sedang terpesona padaku 'kan?" tanya Nania kembali memancing Jovan agar mengaku.
"Aku sudah terpesona padamu sejak kita masih berada di satu sekolah yang sama, Nania," jawab Jovan dengan sangat jujur. Dia sadar kalau sudah tidak ada celah untuknya melarikan diri dari Nania. Jadi lebih baik dia mengaku saja daripada nanti Nania marah kemudian pergi meninggalkannya. OMG, Jovan tidak mau itu.
"Oh, jujur sekali kau, Jo. Ckck, patut mendapat apresiasi," sahut Nania takjub.
Tanpa di sangka-sangka, Nania menjinjitkan kakinya kemudian mencium bibir Jovan. Namun itu tidak lama, hanya sekilas saja tapi sudah mampu membuat Jovan terbengang seperti orang bodoh.
"Maaf ya durasinya pendek. Kita kan mau pergi makan malam, tidak lucu kalau lipstikku luntur. Pesonaku bisa menurun jika sampai ada orang yang melihat kalau aku tampil dengan riasan yang tidak sempurna. Kau bisa mengerti itu kan, Jo?" tanya Nania sambil memasang wajah tak berdaya.
"Nania, kau menciumku?" tanya Jovan masih tak percaya. Dia lalu mengusap bibirnya dengan sangat hati-hati. "Manis, rasanya sangat manis. Aku suka,"
__ADS_1
"Tentu saja kau menyukainya, Jovan. Memangnya kapan lagi kau bisa di cium gratis oleh gadis seksi sepertiku. Benar tidak?" jawab Nania dengan bangganya.
"Yakin gratis?"
Jovan tersenyum lebar sambil menaik-turunkan kedua alisnya ketika melihat Nania bersikap malu-malu. Ya Tuhan, ingin rasanya Jovan membungkus gadis ini kemudian membawanya pulang ke rumah. Dia benar-benar telah di buat gila oleh kejujuran Nania yang tak ragu untuk menunjukkan apa yang dia inginkan darinya. Yap, seperti yang kalian tahu kalau Nania itu sangat suka dengan uang. Jovan paham, dan dia juga tidak merasa keberatan jika Nania belum mencintai Jovan sepenuhnya. Asalkan bisa terus bersama gadis ini, hanya di anggap sebagai sugar daddy pun Jovan rela. Gila memang, tapi inilah rasa yang Jovan miliki untuk Nania-nya.
"Hehee, jangan begitu lah, Jo. Kau kan tahu pria jenis apa yang selama ini aku idam-idamkan? Lagipula di zaman sekarang semuanya serba mahal dan apa-apa selalu uang yang di utamakan. Cinta memang perlu, tapi cinta tidak bisa membuatku cantik dan juga kenyang. Jadi ....
Nania meng*lum bibirnya sendiri sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Jadi?" ledek Jovan.
"Jadi teruslah menjadi pria kaya agar aku bisa bergantung padamu sepenuhnya. Dengan begitu aku tidak akan pernah terpikir untuk lari ke pelukan sugar daddy lain," sahut Nania tanpa ragu. "Ada pepatah yang mengatakan kalau cinta datang karena terbiasa. Jadi pastikan tubuhmu akan selalu berbau uang karena sumber cintaku datang dari arah sana. Oke?"
Jovan tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan Nania. Setelah itu Jovan memeluknya, menciumi puncak kepala Nania untuk mengungkapkan betapa dia sangat mencintainya.
"Baiklah, Nona Nania. Sugar daddy-mu ini akan dengan senang hati memburu pundi-pundi uang demi agar bisa menarik cintamu. Karenanya ... maukah kau berbalik agar aku bisa memakaikan berlian ini di leher indahmu? Anggaplah ini sebagai hadiah pembuka untuk dinner kita malam ini," ucap Jovan sembari mengurai pelukan.
"Baiklah, sayangku. Aku terima hadiah darimu,"
Dengan patuh Nania berbalik menghadap belakang sambil menciumi bunga pemberian Jovan. Tak lama kemudian Nania merasakan sentuhan dingin di lehernya saat berlian itu terpasang di sana. Ya, hadiah pertamanya telah datang. Dan Nania berjanji akan terus menyimpan kalung tersebut dengan sebaik mungkin sampai Jovan datang sambil membawakan cincin berlian untuknya.
Setelah memastikan kalau kalungnya telah terpasang dengan baik, Jovan pun segera membukakan pintu mobil untuk Nania. Tak lupa juga dia melayangkan pujian betapa kecantikan Nania semakin bertambah saja setelah memakai kalung tersebut.
"Jangan banyak membual, Jo. Kau bisa pingsan nanti kalau aku sampai birahi!"
"Hahahahaha!"
******
__ADS_1