My Sugar Daddy ( Nania)

My Sugar Daddy ( Nania)
77. Serba Mahal


__ADS_3

Gleen dan Fedo bertopang dagu sambil memperhatikan dua anak manusia yang sedang menatap seksama pada bibi mereka, Nania. Si gadis seksi penggila sugar daddy itu kini tengah sibuk merias wajah tanpa mempedulikan kalau di sampingnya ada dua bocah di bawah umur yang sedang memperhatikannya. Bukannya apa. Gleen dan Fedo hanya khawatir saja kalau anak-anak mereka nanti akan mengikuti jejak bibinya yang ugal-ugalan itu. Kalau yang mengikuti jejaknya Nania itu si Sora sih masih mending, tapi jika yang melakukannya adalah Reiden? Gleen dan Lusi bisa mati berdiri nanti.


“Kak, kenapa kau dan Kak Gleen menatap Nania sampai seperti itu? Sedang terpesona apa bagaimana?” tanya Luri bingung melihat sikap suami dan juga kakak iparnya. Dia yang tadinya sedang membantu pelayan menyiapkan makan malam merasa sangat aneh mengapa suami, kakak ipar, anak, keponakan dan juga adiknya tidak membuat kegaduhan seperti biasanya. Khawatir terjadi sesuatu, Luri pun bergegas pergi memeriksa apa yang tengah dilakukan oleh para perusuh ini. Namun begitu Luri datang, dia langsung mengerutkan keningnya heran melihat kesunyian yang sedang terjadi di sini.


“Sayang, tolong jangan menuduhku yang bukan-bukanlah. Kau tahu bukan kalau aku hanya terpesona padamu seorang?” sahut Fedo tak terima di anggap sedang terpesona pada Nania oleh istri tercintanya. Segera dia beranjak dari duduknya kemudian menghampiri Luri yang sedang terkekeh. Fedo kemudian memeluknya. “Kau kenapa manis sekali sih saat sedang tertawa begini. Malam ini aku dapat jatah ‘kan?”


Srriiinggg


Gleen dan Nania kompak melayangkan tatapan membunuh pada mantan Casanova yang baru saja bicara mesum. Berani-beraninya ya gajah pensiun itu bicara frontal di hadapan anak di bawah umur. Cari mati apa bagaimana sih. Heran. 😤


“Fed, bucin ya bucin. Tapi tolong kondisikan kata-katamu yang vulgar itu. Sora dan Reiden ada di sini, bagaimana kalau mereka sampai merekam omonganmu yang mengandung kalimat 21++ lalu mempraktekkannya?” tegur Gleen jengkel. Dia lalu mendekati Reiden yang masih terpaku menatap bibinya. Setelah itu Gleen meniup lubang kupingnya pelan. “Anak tampan, tolong jangan dengarkan apa kata iblis mesum tadi ya. Ibumu bisa marah nanti kalau kau sampai mengikuti kesesatannya. Oke?”


“Oke, Ayah,” sahut Reiden patuh tanpa memahami arti dari kata-kata yang dibisikkan oleh ayahnya.


“Good boy,”


“Kak Luri, kenapa kau hanya diam saja sih melihat ulahnya Kak Fedo. Cepat beri dia pelajaran. Sudah tahu di sini ada anak-anak, masih saja dia membucin tanpa tahu tempat. Membuat otak anak-anak tercemar saja!” omel Nania sambil menatap jengkel ke arah kakak ipar keduanya. Dia kemudian beralih menatap Sora, si putri tidur yang masih saja terbengang menatapnya. “Hei kau putri Jepang. Mentalmu baik-baik saja bukan memiliki Ayah seperti Kak Fedo? Kalau kau merasa tidak sanggup dan ingin menyerah, jangan ragu untuk menghubungi Bibi. Jangan khawatir. Bibimu yang cantik ini pasti akan langsung menyelamatkanmu. Oke?”


Sora yang notabennya masih berusia dua tahun hanya diam saja saat Nania mengajaknya bicara. Fedo yang melihat hal tersebutpun merasa menang. Sambil memeluk pinggang Luri, dia melayangkan ejekan pada Nania. Lumayanlah untuk olahraga urat menjelang makan malam. Hehe.


“Hei kau gadis beracun. Bagaimana rasanya diabaikan oleh Sora, hem?” tanya Fedo mulai melayangkan ejekan. “Asal kau tahu saja ya. Sora itu sudah kebal dengan segala kebucinanku pada kakakmu. Dia sudah terbiasa mendengar kata-kataku yang sedikit vulgar. Iyakan, sayang?”

__ADS_1


Luri memukul pelan tangan Fedo. “Kau ini bicara apa sih, Kak. Walaupun Sora masih kecil, tapi otaknya sudah bisa merekam setiap pembicaraan yang dia dengar. Jadi lebih baik kau lebih berhati-hati lagi dalam berucap. Aku tidah mau ya kalau Sora sampai menuruni kebiasaanmu yang suka gonta ganti pasangan!”


“Hahahaha!”


Nania dan Gleen tertawa terbahak-bahak melihat Fedo yang kena omel oleh istrinya. Sungguh, drama ini lawak sekali. Mereka tentu saja tahu kalau tadinya Fedo berniat mengompori Nania, tapi apa daya. Senjata yang dia lemparkan malah berbalik mengenai tubuhnya sendiri. Menggelikan sekali.


“Ck sayang. Kau ini kenapa malah memarahiku sih. Lihat, mereka jadi menertawakan aku ‘kan?” rajuk Fedo sambil mengerucutkan bibir.


“Itu salahmu sendiri Kak karena sudah bicara sembarangan. Lain kali jangan begitu lagi ya. Sora dan Reiden masih anak-anak. Mereka tidak seharusnya mendengar omongan orang dewasa. Paham?” sahut Luri seraya mengelus pelan lengan Fedo.


Fedo diam saja. Bibirnya lalu berkomat-kamit tidak jelas saat mendapati Nania yang tengah menjulurkan lidah padanya. Benar-benar ya anak satu ini.


“Selamat malam semua!”


“Ck, biasa saja sih kalian. Sora memang lucu, tapi tidak perlulah sampai seperti in … astaga, Sora! Kenapa kau mengorek bedak mahalku. Ya ampuuuunnnnnn!” pekik Nania syok melihat bedak kesayangannya sudah berlubang di tangan bayi kecil yang sedang tersenyum lebar tanpa merasa bersalah sama sekali. Ingin marah tapi yang melakukannya adalah Sora Eiji, si bayi emas yang terkadang Nania jadikan tambang emasnya. Jadi ya sudah, Nania hanya bisa meratapi nasib bedaknya yang sudah rusak. “Ya Tuhan, Sora. Kau tahu tidak kalau bedak ini merupakan separuh dari hidupku, hem?”


“Ck, hanya bedakpun!” ejek Gleen.


“Apa kau bilang, Kak? Hanya??”


Nania meradang. Segera dia mengambil ponsel di atas meja kemudian menunjukkan pada kakak iparnya betapa mahal bedak yang baru saja dirusak oleh Sora. “Lihat, Kak Gleen. Dengan harga semahal ini kau bilang itu hanya bedak? Oh ayolah, Kak. Jangan bercanda!”

__ADS_1


Di saat yang bersamaan Luyan, Nita dan juga Lusi datang bergabung di ruang tengah. Mereka bertiga lalu menatap bingung ke arah Gleen yang sedang ternganga sambil menatap layar ponsel.


“Gleen, kau kenapa?” tanya Lusi penasaran.


“Sweety, memang benar ya ada orang yang menjual bedak dengan harga semahal ini? Lihat!” tanya Gleen seraya mengarahkan layar ponsel kepada Lusi. Mendadak nafasnya jadi sesak begitu melihat harga dari bedak yang dirusak oleh anaknya Fedo.


“Gleen-Gleen. Kau ini sudah pikun atau bagaimana. Adikmu itu Nania. Dari ujung rambut sampai ujung kakinya mana ada barangnya yang tidak mahal. Jadi kau tidak perlulah sampai seterkejut itu hanya dengan melihat harga bedak miliknya karena itu masih belum sebanding dengan harga lipstiknya. Kalau tidak percaya coba kau tanyakan saja pada Susan dan Tasya. Pernah tidak mereka menjumpai barang milik Nania yang harganya sedikit manusiawi. Ayah yakin mereka pasti akan menjawab tidak pernah!” sindir Luyan yang memang sudah tidak heran dengan kebiasaan putri bungsunya yang hobi membeli alat make-up dengan harga selangit.


Gleen menelan ludah. Wajar saja kalau dia syok begini. La wong Lusi tidak pernah berbelanja alat make-up sampai semahal ini hanya untuk satu barang. Istrinya itu sudah sangat cantik dengan riasan sederhana, wajarkan kalau dia jantungan mendapati harga satu bedak milik adik iparnya? Astaga.


“Paman Luyan benar, Kak Gleen. Bahkan sisir yang Nania pakai adalah yang paling mahal di kampus kami. Iyakan, Sya?” ucap Susan membenarkan perkataan ayahnya Nania.


“Iya benar. Semua yang Nania pakai tidak ada yang murah. Barangnya selalu asli dan terkadang limited edition. Itulah kenapa para mahasiswa menyebut Nania sebagai gadis mahal,” sahut Tasya ikut membenarkan.


“Lalu darimana kau mendapatkan semua uang itu, Nania?” tanya Gleen semakin syok.


Satu senyuman iblis langsung menghiasi bibir Nania begitu kakak iparnya bertanya. Sambil mengibaskan rambut, Nania pun menjelaskan darimana dia mendapatkan semua uang-uang itu.


“Kakak pertamaku merupakan desainer pakaian anak-anak yang sangat sukses hingga mampu mendirikan butik ternama. Darinya aku mendapatkan satu kartu dewa yang limitnya tidak terbatas. Lalu kakak keduaku adalah seorang dokter ternama yang juga adalah direktur rumah sakit di Jepang. Darinya aku mendapat gaji bulanan yang jumlahnya sangat banyak. Kemudian aku juga memelihara dua sugar daddy yang merupakan pemain saham kelas kakap. Dari mereka, aku bahkan bisa membeli seluruh isi dunia ini jika Tuhan mengizinkannya. Jadi sekarang sudah jelas bukan siapa saja yang menjadi ATM berjalanku?” ucap Nania dengan penuh percaya diri. “Girls, ayo kita berangkat. Malam ini aku ada janji temu dengan Elea. Dia kaya raya, aku tidak boleh melewatkan kesempatan ini dengan sia-sia. Ayo!”


“Baiklah. Kalau begitu kami permisi dulu semuanya. Bay,” pamit Susan dan Tasya berbarengan. Setelah itu mereka berdua segera menyusul Nania yang sudah keluar lebih dulu.

__ADS_1


Nania dan Elea bertemu. Ya Tuhan, apa kabar dengan orang-orang yang berada di sekitar mereka? Semoga saja mereka tidak mati jantungan, batin Fedo dan Gleen serentak.


***


__ADS_2