My Sugar Daddy ( Nania)

My Sugar Daddy ( Nania)
46.Gadis Medusa


__ADS_3

πŸ“’πŸ“’πŸ“’BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI WRITER SEASON 8. OKE? πŸ’œπŸ’œπŸ’œ


"Bagaimana? Mereka sudah selesai latihan belum?" tanya Krystal pada salah satu temannya. Hari ini dia sengaja tidak masuk ke kampus agar nantinya dia tidak di curigai ketika video Nania beredar. Biasalah, Krystal mana mungkin rela nama baiknya rusak meski rencana ini merupakan ide dari salah satu sahabatnya. Jadi berhasil atau tidaknya rencana mereka, setidaknya nama baik Krystal masih bisa terselamatkan karena dia memiliki bukti kuat tentang ketidakhadirannya di kampus. Idenya sangat brilian sekali bukan?


"Sudah, tapi di dalam sana masih ada beberapa orang yang belum pulang. Kita tunggu sebentar lagi saja. Oke?" jawab Sintia, gadis yang mencetuskan ide untuk mengerjai Nania lewat cara ini.


"Oke," sahut Krystal.


Setelah itu Krystal bertanya apakah kamera sudah di pasang dengan baik atau belum. Dia ingin memastikan kalau usaha mereka tidak akan berakhir sia-sia. Sembari menunggu semua orang pergi, Krystal dan teman-temannya menyempatkan diri untuk mengolok-olok Nania yang aibnya sebentar lagi akan segera tersebar. Mereka tertawa puas, tak sabar ingin segera menyaksikan si bunga kampus kehilangan kepercaya-diriannya.


"Haaahh, aku jamin setelah ini Nania pasti tidak akan berani datang lagi ke kampus kita. Benar tidak?" tanya Krystal seraya menatap bergantian ke arah teman-temannya.


"Kau benar sekali, Krys. Hissss, rasanya aku benar-benar sudah sangat muak melihat Nania yang selalu saja tebar pesona kepada semua orang. Memangnya dia pikir semua orang suka apa melihat kelakuannya yang murahan itu. Heh!" jawab Sintia sinis.


"Biasalah, namanya juga orang miskin. Mereka tidak akan bisa hidup kalau tidak berharap pada belas kasih dari orang lain. Ya contohnya seperti yang sering dilakukan oleh Nania dan kedua temannya itu. Berlenggak-lenggok di hadapan para mahasiswa laki-laki dengan harapan mereka akan di puji sebagai gadis paling cantik di muka bumi ini. Padahal ... ya ampun. Aku geli sendiri membayangkan pakaian dan juga make-up mereka yang ketinggalan zaman itu. Iyuhhhh!" ucap Krystal sambil bergidik jijik.


Tanpa di sadari oleh Krystal dan teman-temannya, semua percakapan mereka tengah direkam oleh seseorang yang berada tak jauh dari sana. Susan, ya, itu Susan. Dia mendapat perintah penting dari Nania untuk mengumpulkan bukti tentang kejahatan yang akan dilakukan oleh Krystal dan teman-temannya. Sedangkan Tasya, dia mendapat tugas lain di tempat yang berbeda dari Susan.


Heh, dasar gadis medusa kau, Krystal. Wajahmu memang cantik, tapi hatimu benar-benar sangat busuk. Sayang di dunia ini ada hukum pidana. Kalau tidak, aku pasti sudah memberimu hukum rimba sekarang juga. Dasar licik, geram Susan dalam hati.


Sementara itu di dalam ruang latihan, terlihat Nania yang sedang mengemasi barang-barangnya. Sesekali ekor matanya melihat ke sekeliling ruangan, mencoba mencari tahu kira-kira jebakan seperti apa yang di pasang oleh Krystal dan teman-temannya.

__ADS_1


"Huffttt, tenang Nania, tenang. Kau itu tidak terkalahkan, jadi jangan cemas. Kau juga tidak sendiri, ada Susan dan Tasya yang membantu mengawasi gerak gerik sekelompok ulat bulu itu," ujar Nania pelan.


Nania meregangkan otot-otot di tubuhnya sesaat sebelum dia meninggalkan ruangan latihan. Dan ketika Nania hendak membuka pintu, tiba-tiba saja pintunya sudah di kunci dari luar. Nania diam, lalu setelahnya dia menyeringai samar. Sekarang Nania bisa menebak permainan apa yang akan dilakukan oleh Krystal.


Ooohh, jadi kalian ingin mengajakku bermain gelap-gelapan? Haha, lucu sekali. Rumor yang menyebut kalau aku takut gelap hanyalah alibiku saja. Aku memang takut gelap, tapi itu dulu. Dan sekarang, heh. Kalau saja menantang malaikat maut itu bukan sesuatu yang mustahil, aku bahkan berani mengajaknya bergulat jika dia nekad datang menghampiriku. Dan kalian? Astaga. Krystal-Krystal, kenapa kau suka sekali sih melakukan tindakan bodoh. Ada-ada saja, batin Nania.


Dan benar saja. Tebakan Nania sama sekali tidak meleset karena begitu dia gagal keluar dari ruang latihan, semua lampu tiba-tiba padam yang membuat ruangan menjadi gelap gulita. Setelah itu Nania berbalik, memperhatikan ke seluruh sudut ruangan untuk memastikan sesuatu hal. Dan begitu dia mendapatkan jawaban, Nania langsung memainkan perannya dengan baik agar Krystal dan teman-temannya tidak merasa kecewa.


"Aaaa, gelap. Tolooong!! Toloooong aku!" teriak Nania pura-pura panik. Dia lalu menggedor pintu sambil terus menjerit berharap akan ada orang yang datang menolongnya.


"Siapapun tolong aku. Aku takut sekali. Toloooong!"


Krystal yang kala itu berada di depan ruangan tempat Nania latihan tak kuasa menahan tawa saat dia mendengar suara teriakan frustasi Nania. Setelah itu Krystal melihat ke layar ponselnya yang terhubung dengan kamera pengintai. Tawa Krystal kemudian pecah saat dia melihat Nania yang sedang menjerit ketakutan gara-gara keadaan ruangan yang begitu gelap. Rasanya benar-benar sangat memuaskan bisa melihat gadis yang selama ini begitu angkuh dan sok cantik menangis tidak berdaya seperti orang gila. Sungguh menyenangkan.


"Krystal, apalagi yang harus kita lakukan sekarang. Sebentar lagi satpam kampus akan berkeliling, kita bisa ketahuan kalau tidak segera pergi dari sini," tanya Sintia mengingatkan akan resiko ketahuan kalau mereka tidak bergegas keluar dari kampus.


"Hahhhh, sebenarnya aku masih belum puas mengerjai Nania. Akan tetapi karena waktunya cukup mepet, lebih baik kita sudahi saja permainan ini. Lagipula rekaman yang kita dapat sudah cukup untuk membuat Nania kehilangan muka. Jadi ... ayo kita pulang!" jawab Krystal sambil tersenyum lebar. Dia benar-benar sangat puas sekarang.


"Lalu kamera yang ada di dalam ruangan ini bagaimana? Kita tidak mungkin meninggalkannya begitu saja 'kan?"


"Ck, itu masalah gampang. Besok pagi salah satu dari kita datanglah ke kampus lebih awal untuk mengambil kamera itu. Bereskan?"

__ADS_1


"Tapi Krys, bagaimana jika sampai ada orang yang mengetahui keberadaan kamera itu? Ini bisa menjadi boomerang untuk kita semua," tanya Sintia lagi. Entah kenapa perasaannya jadi tidak nyaman saat Krystal mengatakan agar mereka membiarkan kamera itu tetap berada di dalam ruangan tempat Nania dan mahasiswa lain berlatih bela diri. Sintia merasa ini akan menjadi masalah untuk mereka ke depannya nanti.


"Kau ini sebenarnya kenapa sih, Sintia. Memangnya selain kita siapa lagi yang mengetahui kalau di ruangan ini ada kameranya? Tidak ada 'kan?" kesal Krystal setengah membentak Sintia. Dia jengkel melihatnya yang malah panik sendiri hanya gara-gara kamera.


Sintia dan teman-temannya yang lain saling lirik sebelum akhirnya mereka menuruti apa kata Krystal dengan tetap membiarkan kamera itu tetap terpasang di tempatnya. Dan sebelum pergi, Sintia menyalakan lampu dan juga membuka pintu agar Nania bisa keluar. Mereka masih cukup waras dengan tidak membahayakan nyawa gadis itu karena di khawatirkan Nania mati ketakutan di dalam sana.


"Sin, jangan lupa kau bagikan video ini ke beberapa mahasiswa lain. Tapi jangan biarkan mereka tahu kalau ini adalah perbuatan kita ya!" perintah Krystal sambil berjalan menuju parkiran. Tak lupa dia menutupi wajahnya menggunakan masker agar tidak ada orang yang bisa mengenalinya.


"Oke-oke. Serahkan saja masalah ini padaku!" sahut Sintia dengan senang hati menuruti perkataan Krystal. Dia lalu meminta Krystal agar mengirimkan isi video ke ponselnya.


"Baiklah. Karena hari ini kalian semua sudah bekerja keras untuk membantu membalaskan dendamku pada Nania, maka malam ini aku akan mentraktir kalian berbelanja sampai puas. Setuju tidak?"


"Apa? Kau mau mentraktir kami berbelanja?" pekik teman-teman Krystal tak percaya. Raut wajah mereka menunjukkan ekpresi antara kaget dan juga gembira. Kapan lagi coba mereka bisa berbelanja secara GRATIS. Haha.


"Tentu saja. Kalian mau tidak?" tanya Krystal sembari mengeluarkan sebuah kartu dewa dari dalam dompetnya.


"Mau, tentu saja kami mau, Krys. Woaahhh, kau benar-benar sangat baik. Kau luar biasa, Krystal!"


Di sanjung dan di puja oleh teman-temannya membuat Krystal bagai terbang ke awang-awang. Dia seperti ratu yang sedang di elu-elukan oleh para pelayannya.


Kau lihat, Nania. Yang ratu akan tetap diratukan, dan yang sampah akan kembali ke tempatnya semula. Kau dan aku itu beda level, Nania. Kau terlalu jauh berada di bawah kakiku. Heh, ujar Krystal dalam hati.

__ADS_1


*******


__ADS_2