My Sugar Daddy ( Nania)

My Sugar Daddy ( Nania)
97. Menuduh


__ADS_3

Galang tercengang kaget melihat dua sosok manusia yang tengah berdiri di hadapannya. Karena memiliki urusan dengan salah satu dokter rumah sakit ini, dia bergegas datang kemari seusai berbincang dengan Rhea dan kedua orangtuanya. Namun Galang sama sekali tidak menyangka kalau dia akan bertemu dengan dua wanita yang salah satunya pernah membuatnya hampir gila karena cinta. Nania dan Luri, merekalah kedua wanita itu.


Astaga, bagaimana bisa Nania berubah jadi secantik ini? Dia seperti tidak nyata. Dan Luri, ah. Luri masih sama menariknya seperti dulu. Hmmm ....


"Lihat apa kau!" hardik Nania sambil menarik sang kakak agar berdiri di belakang punggungnya. "Kak Galang, kau jangan coba-coba menggoda kakakku ya. Ingat, kakakku sudah bukan gadis lagi. Dia sudah menikah dan mempunyai seorang putri yang sangat menggemaskan. Jangan menggatal!"


"Nania, jangan begitu," tegur Luri merasa tak enak hati pada Galang.


"Apa sih, Kak. Aku ini sedang melindungi Kakak dari sengatan lebah liar. Jangan menghalangiku!"


"Galang bukan lebah liar. Dia sahabat Kakak yang juga adalah sahabat kekasihmu. Jangan berlebihan. Mengerti?"


Melihat Luri menegur Nania tak kuasa membuat Galang tidak tertawa. Gadis seksi ini ternyata benar-benar masih sama seperti dulu. Selalu ceplas-ceplos tanpa menghiraukan apakah lawan bicaranya akan merasa sakit hati atau tidak. Kendati demikian Galang tetap harus mengakui kalau tadi dia sempat terpesona pada kecantikan Nania. Jovan sungguh sangat beruntung sekali bisa menjadikannya sebagai kekasih.


"Ekhmm Luri, apa kabar?" tanya Galang mengalihkan pembicaraan. "Terakhir kali kita bertemu adalah saat kau menikah dengan Fedo. Iya 'kan?"


"Iya benar, Lang. Kabarku sekarang sangat baik. Kabarmu sendiri bagaimana? Kapan kau akan menikahi kekasihmu?" jawab Luri balik menanyakan kabar Galang. Setelah itu dia mendorong pelan tubuh Nania agar tak menghalangi pandangan. Tidak sopan jika harus bicara sambil menjaga jarak begini. Terlebih lagi dengan orang yang dia kenal cukup dekat. Luri tak mau membuat Galang merasa tersinggung.


"Kami sudah putus dan kabarku juga baik-baik saja. Dan Luri, kau masih sama cantiknya seperti dulu. Sungguh!" sahut Galang tak sungkan untuk melayangkan pujian.


"Jangan macam-macam kau ya, Kak Galang. Aku akan langsung melapor pada Kak Fedo kalau kau sampai berani menumbuhkan perasaanmu yang tak berbalas itu. Bay!"


Luri dan Galang sama-sama terperangah kaget melihat Nania yang langsung pergi setelah mengomel. Tak mau sikap sang adik membuat sahabatnya salah paham, Luri pun segera meminta maaf.

__ADS_1


"Lang, tolong jangan dimasukkan ke dalam hati ya perkataan Nania barusan. Aku sungguh tidak mengerti mengapa perangainya sama sekali tak mau berubah meski sekarang dia bukan anak-anak lagi. Tolong kau jangan tersinggung ya,"


"Santai saja, Luri. Aku bukan baru sekali ini mendapat semprotan maut dari gadis bermulut racun itu. Jadi jangan cemas. I'm fine. Oke?" sahut Galang sambil tersenyum maklum. Sudah bukan hal yang baru lagi dia melihat Nania meledak-ledak seperti tadi. Tapi jujur, sikap tersebut malah membuat gadis itu jadi terlihat semakin seksi. Sama seperti bentuk tubuh dan juga pakaian yang di kenakannya. Hehe.


"Syukurlah. Tapi ngomong-ngomong kau ada urusan apa datang ke rumah sakit ini?" tanya Luri ingin tahu.


"Oh, itu. Aku ingin menemui salah satu dokter kenalananku yang bertugas di rumah sakit ini. Lalu kau sendiri? Apa yang sedang kau lakukan? Bukannya kau sibuk mengurusi rumah sakit pemberian mertuamu yang kaya raya itu ya?"


"Kebetulan aku sedang berkunjung ke rumah orangtuaku. Dan semalam kedua sahabat Nania mengalami kecelakaan mobil. Jadilah aku ikut memantau keadaan mereka di sini. Begitu,"


Galang mengangguk paham akan alasan yang di ucapkan oleh Luri. Dan tak lama setelah itu mereka berdua dibuat kaget oleh kemunculan seorang pria yang berjalan dengan sangat cepat seperti sedang di kejar debcolektor. Fedo, pria Jepang itu nampak sangat khawatir melihat Luri yang tengah mengobrol berdua dengan seorang pria asing.


"Kak Fedo, ada apa? Susan dan Tasya baik-baik saja 'kan?" tanya Luri panik melihat kemunculan suaminya yang begitu tergesa-gesa. Dia sampai lupa kalau suaminya ini ....


"Ya ampun, Kak. Aku pikir kau kenapa. Ternyata overprotectivemu sedang kambuh. Hmmmm,"


"Aku memang pernah sangat mencintai Luri, tapi aku masih belum segila itu untuk merusak hubungan rumah tangga milik sahabatku sendiri. Jadi Tuan Muda Fedo yang terhormat, mohon ralat kembali kata-katamu yang tadi. Dan satu hal lagi, aku bukan pria asing. Tapi aku adalah sahabat istrimu. Mengerti?" protes Galang tak terima akan tuduhan tak manusiawi yang dilayangkan oleh pria Jepang ini.


Fedo acuh saja saat Galang melakukan protes. Dia hanya melirik sekilas kemudian fokus pada Luri. Sekalipun menggunakan kedok sebagai sahabat, Fedo tetap akan menganggap Galang sebagai radar bahaya. Bisa sajakan pria ini berkeinginan untuk merebut Luri? Terlebih lagi pernah ada rasa di dalam hatinya. Jadi adalah hal yang sangat wajar kalau Fedo bersikap posesif seperti ini.


"Luri, tolong kau jelaskan pada suamimu kalau kita ini tidak sengaja bertemu. Aku tidak mau ya nama baikku sampai rusak karena di kira sedang mengganggu istri orang!" ucap Galang meminta Luri untuk meluruskan kesalahpahaman yang terjadi. Dia lalu menatap sinis pada Fedo yang bersikap sok acuh kepadanya. Padahal takut setengah mati kalau dia akan mencuri Luri. Haihh. Payah sekali.


"Sudah-sudah. Kalau di teruskan masalah ini pasti akan bertambah semakin panjang!" lerai Luri sudah tak merasa heran melihat pertengkaran antara sahabat dengan suaminya yang posesif ini. Dia lalu memberi sedikit penjelasan agar suaminya tidak salah paham. "Kak Fedo, yang di katakan Galang itu memang benar kalau kami tidak sengaja bertemu saat aku dan Nania ingin pergi membeli sesuatu. Jadi Galang itu bukan sedang menggodaku, kami hanya saling sapa saja. Begitu ceritanya!"

__ADS_1


"Oh,"


Fedo menjawab singkat. Dia langsung percaya begitu saja karena Luri yang bercerita. Tak mengindahkan keberadaan Galang yang terus menatapnya dengan sinis, Fedo mengajak Luri untuk kembali ke ruangan tempat Susan dan Tasya dirawat. Dan dia hanya diam saja saat Luri mengajak Galang serta.


Menyebalkan sekali sih pria Jepang ini. Padahal jelas-jelas antara aku dan Luri tidak ada hubungan apapun selain persahabatan saja. Tapi kenapa dia terus mencurigaiku seolah aku ini memiliki tampang perusak rumah tangga orang? Heran. Tampan-tampan tapi tidak waras.


"Jangan coba-coba mengejekku kau ya!" sergah Fedo sambil berbalik menatap Galang dengan sengit.


"A-apa?" Galang kaget. Dia tergagap seketika. "S-siapa yang mengejekmu. Sejak tadi aku hanya diam saja mengikuti langkah kalian dari belakang. Jangan sembarangan menuduh!"


"Halah, mengaku saja kau. Makian itu memang tidak keluar dari mulutmu, tapi berasal dari dalam hatimu. Iya 'kan?" lanjut Fedo kekeh menuduh. Tidak bisa di biarkan. Sebenarnya apa sih maunya Galang? Sengaja ingin mencari perhatian dari Luri apa bagaimana? Membuat kesal saja.


"Astaga Kak Fedo, Galang. Kapan sih kalian tidak bisa akur. Selalu saja kalian ini bertengkar meributkan sesuatu yang tidak masuk akal. Ingat ya. Sekarang ini kita sedang berada di rumah sakit. Jadi tolong jangan membuat keributan. Kasihan pasien lain. Istirahat mereka jadi terganggu!" kesal Luri lama-lama habis kesabaran menghadapi kelakuan kedua pria ini.


"Baiklah kami tidak akan bertengkar lagi!" sahut Galang dan Fedo kompak untuk patuh.


"Janji ya?"


"Iya,"


"Baguslah. Ayo!"


Bagai kerbau yang dicolok hidungnya, dengan patuh Galang dan Fedo mengikuti Luri yang kini sudah berjalan lebih dulu di depan. Keduanya saling diam karena mereka akan segera memasuki arena pertarungan yang sesungguhnya. Yaitu berhadapan dengan Nania, si gadis seksi bermulut racun.

__ADS_1


***


__ADS_2