
📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI YOU ARE A WRITER SEASON 8. OKE 💜💜💜
***
Setelah selesai bersiap Nania bergegas keluar menemui Marcell yang sudah menunggunya di ruang tamu. Sesuai yang di janjikan, malam ini Nania dan Marcell akan makan malam bersama. Dan sepertinya Marcell cukup tahu seleranya karena tadi dia mengirimkan pesan akan mengajaknya makan di sebuah restoran bintang lima.
“Cell, ayo berangkat. Aku sudah siap,” ucap Nania mengajak Marcell untuk segera berangkat.
Marcell yang tengah mengobrol dengan ayahnya Nania langsung hilang fokus begitu melihat sesosok gadis yang sangat luar biasa cantik tengah berdiri di hadapannya. Dia sampai terbengang-bengang saking terpesonanya pada gadis tersebut.
Apa gadis ini adalah perwujudan dari seorang bidadari? Ya Tuhan, Nania cantik sekali, batin Marcell penuh kagum.
“Ekhmmm, Marcell, Nania sudah siap. Kalian berangkatlah sebelum hari menjadi semakin malam,” ucap Luyan seraya berdehem pelan dengan maksud menyadarkan Marcell dari lamunannya. Luyan cukup maklum melihat reaksi pria ini begitu melihat putrinya muncul. Sudah hal biasa.
“Aku tahu aku ini cantik dan seksi, Cell. Tapi tidak perlulah memelototiku sampai seperti itu. Ayo cepat berangkat. Nanti di sana kau bisa memandangiku sampai puas. Ayo!” ucap Nania mendesak Marcell agar segera berangkat.
Nania cuek saja saat Marcell terlihat malu. Setelah itu Nania berpamitan pada ayahnya, di susul juga oleh Marcell. Mereka kemudian berjalan beriringan saat melangkah menuju mobil. Begitu sampai di luar, dengan cepat Marcell membukakakan pintu mobil untuk Nania. Dan dia sempat menahan nafasnya saat mencium aroma tubuh Nania yang begitu wangi. Hah, kalau begini ceritanya bagaimana mungkin Marcell tidak semakin tergila-gila pada gadis cantik ini? Ya Tuhan, ini cobaan.
“Ngomong-ngomong mobilmu keren juga, Cell. Ini mobil milikmu sendiri atau kau hanya menyewanya saja?” tanya Nania memuji mobil Marcell yang memang lumayan bagus. Namun masih belum menyaingi mobil milik sugar daddynya. Hehe.
“Mobil ini adalah mobil pemberian dari orangtuaku, Nania. Jadi mobil ini bukan milikku pribadi, juga bukan mobil sewa. Begitu,” jawab Marcell jujur.
Sesekali Marcell mencuri-curi pandang ke arah kulit paha Nania yang begitu putih dan mulus. Sungguh, pemandangan ini adalah ujian paling berat bagi seorang Marcell yang selama ini tidak pernah berduaan dengan gadis manapun. Andrenalinnya terpacu dengan begitu tinggi dan pikirannya menjadi tidak fokus. Pesona gadis penyuka sugar daddy ini memang tidak ada duanya. Sungguh.
__ADS_1
Nania menyipitkan sebelah matanya saat menyadari kalau Marcell terus saja melirik ke arah pahanya. Tak suka, dengan kesal Nania mengepalkan tangannya membentuk kepalan tinju lalu mengarahkannya ke depan wajah Marcell. Dia lalu melayangkan tatapan galaknya ketika Marcell menoleh. “Berani sekali kau ya macam-macam denganku. Jangan kau pikir karena aku adalah seorang wanita lalu kau bisa seenaknya melecehkanku, Cell. Percaya tidak kalau aku bahkan berani meremukkan kantung semarmu detik ini juga. Dasar pria cabul!”
“A-apa? Pria cabul?”
Hampir saja Marcell menabrak kendaraan lain saat Nania menyebutnya sebagai pria cabul. Sadar akan kesalahannya, Marcell buru-buru menepikan mobilnya. Sambil menelan ludah, Marcell menjelaskan pada Nania kalau dia tidak bermaksud melecehkannya.
“Nania, kau salah paham. Oke aku salah karena aku lancang melihat sesuatu yang tidak seharusnya aku lihat. Tapi Nania, aku ini pria normal. Melihat bentuk tubuhmu yang begitu seksi membuat naluriku tergugah. Aku … aku hanya terlalu terpesona padamu. Aku sama sekali tidak ada niat yang bukan-bukan terhadapmu, Nania. Sungguh!”
“Apapun itu aku tetap tidak bisa mentolerir caramu menatap bagian tubuhku, Cell. Aku tidak munafik. Aku memang suka di perhatikan, tapi saat ini kita hanya berdua. Kau harus bisa membedakan situasinya!” sahut Nania sambil mendelikkan mata pada Marcell.
Saat ini Nania masih menunjukkan kepalan tinjunya, yang mana membuat Marcell terlihat semakin gugup.
Marcell diam tergugu. Dia sangat amat menyadari kesalahannya. Andai saja tadi dia bisa menjaga pandangan matanya, Nania pasti tidak akan marah seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah terlanjur menjadi bubur. Kini satu-satunya hal yang bisa Marcell lakukan hanyalah meminta maaf dan membujuk Nania agar tidak membencinya. Marcell bisa gagal ginjal kalau makan malam mereka sampai gagal.
“Nania, aku salah. Aku sadar sikapku telah membuatmu merasa tidak nyaman, aku minta maaf. Sekarang tolong beritahu aku bagaimana cara untuk menebus kesalahanku itu. Aku benar-benar sangat menyesal, Nania. Aku menyesal,” ucap Marcell seraya menundukkan kepala.
Aihhh, kenapa suasananya jadi aneh begini ya. Nania-Nania, kau ini bagaimana sih. Harusnya kau itu bisa memprediksi keadaan ini dengan tidak memakai pakaian terlalu seksi saat keluar dengan pria selain Jovan. Sekarang Marcell jadi merasa bersalah kan, batin Nania mengomeli dirinya sendiri.
“Jangan diam saja, Nania. Beritahu apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahanku. Jangan marah. Ya?” ucap Marcell resah melihat sikap Nania yang malah mendiamkannya dengan kepalan tinju yang masih berada di depan wajahnya.
“Haihhh, sudahlah. Lebih baik sekarang kita lanjutkan lagi perjalanannya. Aku lapar,” sahut Nania mengalihkan pembicaraan.
“Kau sudah tidak marah lagi padaku?” tanya Marcell agak kaget melihat respon Nania yang dengan cepat menyudahi kesalah-pahaman yang terjadi. Padahal jantungnya masih berdebar kencang, tapi gadis ini bisa dengan mudah berganti suasana hati. Benar-benar gadis yang sangat sulit ditebak jalan pikirannya.
__ADS_1
“Tidak. Sudahlah, ayo kita berangkat,” jawab Nania dengan santainya.
“Kalau memang sudah tidak marah lalu ini apa?”
Nania meringis saat Marcell menunjuk kepalan tinju di depan wajahnya. Segera Nania menurunkan kepalan tangannya kemudian menoleh ke samping. Malu, hohoho, tentu tidak. Satu-satunya hal yang bisa membuat Nania merasa malu hanyalah sentuhan Jovan. Ah, memikirkan pria itu membuat Nania jadi merindukan sugar daddy-nya. Nania sampai lupa kalau dia baru saja berselisih paham dengan Marcell.
“Jadi kita lanjut?” tanya Marcell seraya meng*lum senyum. Lega rasanya melihat Nania sudah tak marah lagi padanya.
“Tentu saja. Apa gunanya kita terus berada di sini. Ingin karaoke atau bagaimana?” jawab Nania sedikit cetus.
“Baiklah tuan putri. Kita berangkat.”
Sambil menyunggingkan senyum, Marcell kembali menyalakan mobil kemudian bergerak pergi dari sana. Belajar dari pengalaman yang tadi, kali ini Marcell memilih untuk memfokuskan pandangannya ke arah depan. Meski hatinya terus berkata untuk menoleh ke samping, dia berusaha keras agar tidak terpengaruh karena bagi Marcell makan malam ini sangatlah berarti. Selain karena dia yang sangat mengagumi Nania, ini adalah dinner pertamanya bersama gadis tercantik yang ada di kampus. Akan sangat rugi sekali bukan jika dinner ini sampai gagal?
“Oya, Cell. Kau mau tidak jika kukenalkan pada seseorang?” tanya Nania setelah membuka pesan yang masuk ke ponselnya. Dia tahu kalau Marcell sedang berusaha bertahan agar tidak terpesona pada keseksiannya lagi. Hehe.
“Seseorang? Siapa?” sahut Marcell.
“Adalah. Mau tidak?”
Marcell diam sejenak sebelum akhirnya menganggukkan kepala. Siapapun orang itu, Marcell yakin orang tersebut pastilah orang baik karena yang akan mengenalkannya adalah Nania. Dan siapa tahu juga orang itu bisa membantu Marcell agar bisa menjalin hubungan lebih dekat dengan gadis ini. Benar tidak?
“Good boy. Nanti dia akan datang menemui kita di restoran. Kau siapkan saja kata apa yang akan kau sampaikan padanya. Oke?” ucap Nania merasa senang atas kesediaann Marcell bertemu dengan seseorang yang dia maksud.
__ADS_1
“Oke. Kau atur sajalah,” sahut Marcell kemudian menoleh. Dia tersenyum. Bahagia, tentu saja.
***