My Sugar Daddy ( Nania)

My Sugar Daddy ( Nania)
88. Kecemburuan Nania


__ADS_3

Jovan dengan penuh percaya diri masuk ke dalam club kemudian mencari-cari dimana kekasihnya berada. Karena penampilannya sedikit mencolok di mana Jovan muncul dengan memakai kemeja hitam beserta celana warna senada, kedatanganya berhasil menarik perhatian banyak mata kaum hawa. Belum lagi dengan kalung yang melingkar di lehernya, membuat para wanita itu seperti akan meneteskan air liur dari mulut mereka. Dan kurang lebih seperti inilah kehidupan dunia malam. Namun sebenarnya Jovan tidak terlalu menyukai hal-hal yang berbau kemaksiatan seperti ini. Dia merasa kurang cocok dengan suara dentuman musik yang memekakkan telinga. Akan tetapi karena kekasihnya sesekali suka menghabiskan akhir pekan di tempat seperti ini, mau tidak mau Jovan harus bisa mengimbanginya. Jadilah sekarang dia berada di club ini karena khawatir Nania-nya akan dilirik oleh pria lain jika di biarkan hanya bersama Susan dan Tasya saja. Jovan kurang percaya pada gadis-gadis nakal itu.


“Jovan. Di sini!” teriak Nania sambil melambaikan tangan pada sugar daddy-nya yang baru saja datang. Dia yang kala itu sedang menikmati segelas minuman tanpa alkohol sontak berdiri sambil berkacak pinggang saat melihat ada seorang wanita yang seperti sengaja menabrakkan tubuhnya pada Jovan. “Cari mati. Berani sekali dia menyentuh kekasihku. Harus di beri pelajaran!”


Dengan marah Nania melangkah cepat menuju Jovan yang terlihat jijik pada wanita yang memakai pakaian sangat luar biasa minim. Begitu sampai, tanpa ragu Nania langsung menumpahkan minuman miliknya ke pakaian wanita itu kemudian bersikap kalau dia tidak sengaja melakukannya.


“Upsss, maaf Nona. Baju yang kau kenakan membuat mataku sakit. Jadi kakiku tidak sengaja terpeleset dan minuman yang kubawa tumpah di atas bajumu. Kau tidak marah ‘kan?” ucap Nania seraya menampilkan senyuman lebar di bibirnya. Dia lalu melingkarkan tangan memeluk pinggang Jovan penuh posesif.


“Cihhhh, jangan kau kira aku tidak tahu ya kalau kau itu sebenarnya sengaja mengotori pakaianku. Gerak-gerikmu sudah cukup memberitahuku kalau kau sedang mencoba untuk menggoda priaku. Mengaku sajalah!” sahut si wanita enggan mengalah. Di hadapannya ada seorang mangsa yang sangat empuk, dia mana mungkin rela melepaskanya begitu saja. Benar tidak?


“Apa kau bilang? Priamu?”


Nania tertawa terbahak-bahak saat wanita ini dengan tidak tahu malunya menyebut Jovan sebagai prianya. Sedangkan Jovan sendiri, dia sudah tidak mempedulikan perdebatan antara Nania dengan wanita yang tadi menabraknya. Jovan sibuk menciumi rambut Nania yang di ikat kuncir kuda. Sangat manis dan juga menggoda karena model ikatan ini membuat leher jenjang Nania jadi terlihat semakin jelas. Belum lagi dengan kulit putihnya yang begitu bersinar. Kalian pasti tahu sendirikan ya apa yang sedang singgah di dalam pikiran Jovan sekarang? Haha.


“Hei Nona gatal. Kuberitahu kau satu hal ya. Bermimpi itu boleh, tapi kalau terlalu tinggi nanti kau bisa jatuh dan rasanya pasti sakit sekali. Asal kau tahu saja pria yang kau sebut sebagai PRIA-Mu ini sebenarnya adalah kekasihku. Dan dia bisa datang ke club ini adalah demi menemaniku bersenang-senang sampai puas. Bukan begitu, Jo?” tanya Nania sambil menatap Jovan. Dia kemudian tersenyum miring saat wanita itu langsung pergi dari hadapannya sebelum sempat Jovan memberikan jawaban. “Cihhh, dasar ulat bulu. Berani sekali kau ya menyebut kekasihku sebagai priamu. Sembarangan!”


“Sayang, rambutmu wangi sekali. Shampo apa yang kau gunakan, hem?” tanya Jovan yang sudah mabuk kepayang. Dia sampai tidak fokus akan hiruk pikuk club karena terlalu sibuk menikmati aroma wangi yang mampu mengusik ketenangan juniornya.


“Rahasia,” jawab Nania setengah sewot. Dia tiba-tiba merasa kesal karena Jovan muncul dengan penampilan yang begitu tampan dan juga hot.


“Sayang, hei. Kenapa kau marah? Apa salahku?”

__ADS_1


Sadar ada yang tidak beres, Jovan mengajak Nania untuk pindah ke tempat yang tidak terlalu ramai. Setelah itu Jovan memaksa Nania agar mau duduk di atas pangkuannya. Sambil membelai wajah cantiknya, Jovan bertanya gerangan apa yang membuat kekasihnya yang cantik ini tiba-tiba merajuk.


“Ada apa, hem? Apa kau marah karena tadi aku tak sengaja di tabrak oleh wanita gatal itu?”


“Ck, Jovan. Kenapa sih kau harus datang dengan penampilan seperti ini? Memangnya tidak bisa ya kau jangan rapi-rapi saat akan datang ke club? Sudah tahu di sini adalah sarang wanita yang haus akan belaian, masih saja kau muncul dengan penampilan yang sangat cool. Akukan jadi cemburu!” jawab Nania tak ragu untuk melayangkan protes. Setelah itu Nania mensejajarkan wajahnya dengan wajah Jovan sambil mengerungkan kedua alisnya. “Ingat ya, Jo. Kau itu hanya boleh menjadi milik Nania seorang. Jadi jangan coba-coba menebar pesona di hadapan wanita lain selain aku. Paham?”


“Apa kau sedang bersikap posesif padaku?”


“Menurutmu?” sahut Nania seraya mencebikkan bibir. “Sudah pasti aku wajib untuk bersikap posesif pada kekasihku sendiri. Lagipula suatu saat nanti kau akan menjadi suamiku, jadi aku perlu mengamankanmu dari incaran-incaran singa buas yang butuh belaian. Tahu kau?”


Jovan meng*lum bibirnya saat mendengar pengakuan Nania. Meskipun ini bukan yang pertama, tapi tetap saja perasaan Jovan akan membuncah setiap kali Nania menyebutnya sebagai suami.


“Kenapa kau tersenyum seperti itu, Jo? Kau masih sehat ‘kan?” tanya Nania heran.


“Benarkah?”


Kini giliran Nania yang meng*lum bibirnya begitu mendengar perkataan Jovan. Penasaran apakah benar jantung Jovan berdegub lebih kencang dari biasanya atau tidak, Nania segera membungkukkan tubuh kemudian menempelkan telinganya tepat ke jantung Jovan. Dan benar saja, jantung Jovan seperti ditabuh dengan begitu kuatnya. Dan hal itu membuat Nania tak kuasa untuk tidak tersenyum lebar. Dia lega karena sugar daddy-nya bukan titisan vampir.


“Benar ‘kan?”


“Hehehe, benar. Syukurlah karena kau bukan bagian dari klan vampir, Jo. Aku lega sekali mengetahui kebenaran ini,” sahut Nania kemudian mengalungkan kedua tangannya ke leher Jovan. Dia lalu menatapnya lekat. “Jovan, aku benar-benar tidak suka kau menjadi pusat perhatian seperti tadi. Itu membuatku kesal sekali. Sungguh!”

__ADS_1


“Lalu aku harus bagaimana, Nania? Bukankah memang seperti ini ya model pakaian yang harus kupakai jika ingin mendatangi sebuah club?” tanya Jovan mulai gemas melihat Nania yang bicara dengan nada suara manja. Ini favoritnya. Karena biasanya Nania akan berubah menjadi sedikit agresif jika Jovan berhasil menemukan titik celahnya. Ah, dia jadi tidak sabar.


“Benar sih, tapi tetap saja aku tidak menyukainya,” jawab Nania seraya mengerucutkan bibirnya.


“Tumben sekali kau manja begini, sayang. Kau tidak sedang mabuk ‘kan?”


“Ck, tentu saja tidak, Jovan. Aku memang suka dengan suasana club, tapi bukan berarti aku bisa menikmati minuman keras yang di sajikan oleh tempat ini. Sejak aku mulai mengenal dunia malam, tidak pernah sekalipun aku pernah menyentuh minuman yang di jual di sini. Aku punya prinsip kalau aku hanya akan menikmati alkohol dengan harga selangit, dan tentu saja hal itu hanya akan aku lakukan bersama dengan keluarga ataupun orang yang kusayang. Jadi kau tenang saja karena aku tidak sedang mabuk minuman, tapi sedang mabuk karena melihat ketampananmu. Tahu?”


Setelah berkata seperti itu Nania langsung mencium pipinya Jovan. Dia sengaja meninggalkan bekas lipstik di sana dengan tujuan agar para wanita yang ada di dalam club tahu kalau Jovan adalah miliknya. Agak sedikit berbeda memang karena biasanya para prialah yang akan meninggalkan tanda. Akan tetapi dia adalah Nania, gadis yang selalu mensetarakan dirinya sejajar dengan pria. Nania tidak akan ragu untuk memulai lebih dulu selagi itu dengan kekasihnya sendiri, bukan dengan kekasih wanita lain apalagi suami orang. Sangat pantang baginya.


“Hmmmm, manis sekali. Aku sangat suka saat kau sedang bersikap manja begini padaku, Nania. Sungguh,” ucap Jovan seraya menyeka lipstik yang sedikit mengotori sudut bibir Nania. Setelah itu dia mengecupnya pelan. “Teruslah menjadi Nania yang berprinsip agar aku selalu memiliki cara untuk jatuh cinta padamu. Bisa ‘kan?”


“Aku tidak bisa berjanji, tapi aku akan berusaha untuk memenuhi apa yang kau harapkan. Selama kita belum terikat tali pernikahan, selama itu pula kau tidak mempunyai hak untuk mengaturku. Menasehati boleh, tapi untuk mengekang, maaf. Hal tersebut sangat tidak bisa aku toleransi. Kau bisa mengerti itukan, Jo?”


“Tentu. Apapun asalkan kita bisa terus bersama. I love you,”


“I love you to,”


Di tengah-tengah hantaman musik dj yang begitu kencang, Jovan dan Nania membangun kesenangan mereka sendiri. Dan tanpa di sadari oleh keduanya ada sepasang mata yang tengah memperhatikan mereka dengan penuh kebencian. Krystal, matanya tampak memerah menyaksikan kemesraan Jovan dengan Nania. Hatinya serasa di bakar api menyadari kalau wanita yang berada di atas pangkuan Jovan bukanlah dirinya.


Nania. Arrggghhhhhh!!

__ADS_1


***


__ADS_2