
Brukkkkk
“Awwhhhhh!”
Semua barang belanjaan milik Nania jatuh tersebar di lantai saat seseorang tiba-tiba menabrak tubuhnya. Dia yang baru saja memborong beberapa tas dengan menggunakan kartu hitam milik Elea langsung kesal saat orang yang menabraknya hanya berdiri diam tanpa ada niat untuk meminta maaf ataupun membantunya. Tak terima, dengan marah Nania bangkit berdiri lalu menatap galak pada orang tersebut.
“Permisi. Apa kau manusia?” tanya Nania sarkas. Dia bersedekap tangan sembari melayangkan tatapan sinis pada wanita yang tengah berdiri angkuh di hadapannya.
“Yakkk!”
Elea yang sedang sibuk memilih tas langsung menoleh saat mendengar suara teriakan yang cukup kuat. Namun begitu dia tahu kalau orang yang barusaja berteriak sedang berhadapan dengan Nania, Elea kembali fokus memilih tas. Sedangkan Susan dan Tasya, mereka sigap merekam video dengan ponsel masing-masing. Seperti biasa, mereka adalah ahlinya membuat dokumenter tentang kelakuan Nania. Hehe.
“Iyuuuuhhh busuk sekali bau nafasmu. Apa kau barusaja makan sampah, hah?" ejek Nania sambil menutup hidungnya. Dia kembali lanjut melayangkan ejekan. "Jangan berteriaklah. Aku tidak sanggup mencium aroma nafasmu yang sangat busuk itu. Tahu?”
“Kau!”
“Apa, hem? Mau marah?”
Wanita itu terlihat sangat kesal setelah diejek oleh seorang gadis ingusan yang barusaja di tabraknya. Niat hati hendak mengolok-olok gadis yang pastinya adalah peliharaan sugar daddy, malah berbalik menjadi dia yang di olok-olok. Namun wanita itu tak mau tinggal diam. Dia tidak akan mengalah. Sambil menatap jijik ke arah paperbag yang berserakan di lantai, dia balas melayangkan ejekan.
“Wah wah wah, sepertinya ada yang baru saja menerima jatah bulanan dari sugar daddynya. Karena jika tidak, mana mungkin gadis kampungan sepertimu bisa berbelanja begitu banyak di toko tas branded seperti ini. Iya ‘kan?”
“Tentu saja iya. Kenapa memangnya. Iri kau ya?” sahut Nania dengan lantang. Toh memang benar kalau Nania memborong tas di toko ini menggunakan uang milik sugar mommy-nya, bukan sugar daddy-nya. 😎
“Apa? Iri kau bilang? Cihhhh,” ….
Elea kembali menoleh.
“Nania, apa kau butuh bantuanku?”
__ADS_1
“Tidak perlu, El. Kau terlalu berharga jika harus berhadapan dengan wanita berpenyakit hati seperti dia. Fokus saja memilih tas yang bagus agar Flowrence bisa merebusnya lagi nanti. Oke?” sahut Nania menolak bantuan yang di tawarkan oleh Elea.
“Baiklah kalau begitu. Aku lanjut berbelanja saja,”
Susan dan Tasya saling lempar pandangan mendengar percakapan aneh antara Elea dengan Nania. Walaupun sudah cukup lama mengenal kedua wanita beda generasi ini, mereka tetap saja merasa aneh ketika kedua wanita ini saling bicara. Bagaimana tidak aneh. Nalar Susan dan Tasya kadang tak bisa berjalan dengan normal saat kedua wanita ini saling bicara. Seakan pembicaraan mereka menggiring Susan dan Tasya pada satu hal yang lumayan tidak masuk akal. Contohnya barusan. Sejatinya seorang teman pasti akan merasa khawatir saat teman yang lainnya terlibat masalah. Akan tetapi Elea dan Nania? Aih, ya sudahlah. Membicarakan keanehan kedua wanita ini hanya akan membuat sakit kepala saja. Jadi Susan dan Tasya memilih untuk tak mengambil pusing kelakuan keduanya. Menjaga kesehatan jiwa jauh lebih penting bukan daripada memikirkan sesuatu yang tidak akan pernah ada jawabannya?
“Hei kau gadis murahan. Kau bilang apa barusan? Wanita berpenyakit hati? Hah, lucu sekali!” teriak si wanita sambil berkacak pinggang dengan angkuhnya.
Kesal karena terus-terusan di ejek, dia dengan marah melayangkan tangan hendak menampar gadis yang kini tengah berdiri santai sambil memainkan rambutnya. Namun, baru juga tangan wanita itu melayang di udara, dia sudah lebih dulu menjerit kesakitan saat seseorang tiba-tiba menjambak rambutnya dari belakang. “Awwhhhhhh!”
“Oh maaf, Nona. Tadi nyamuk peliharaanku terbang dan hinggap di rambutmu. Jadi aku terpaksa menarik rambutmu agar nyamuk peliharaanku tidak kabur lagi!” ucap Elea sembari melayangkan senyum tak berdosa pada wanita yang barusaja di jambaknya.
“Kau!!”
Nania dengan cepat menangkap tangan wanita itu lalu memitingnya ke belakang punggung saat ingin memukul Elea. Tak menghiraukan suara teriakannya, Nania menatap Elea santai. “Yoooo, Nyonya Ma. Bukankah aku sudah memberitahumu kalau kau itu terlalu berharga berhadapan dengan wanita seperti ini. Tadi kalau kau sampai lecet aku harus menjelaskan apa pada suamimu? Tidak mungkinkan aku menjawab kalau aku lalai menjaga istri kesayangan Tuan Gabrielle Ma?”
“Sebenarnya aku sedikit berharap Nona ini menamparku, Nania. Dengan begitu Kak Iel akan membiarkanku memborong semua tas yang ada di sini. Tapi sayang sekali kau malah menahannya!” sahut Elea sambil memasang wajah kecewa.
“T-tunggu, apa kau Ny-Nyonya Elea menantu kesayanganya Nyonya Liona?”
Elea mengangguk.
“K-k-kalau begitu aku ….
“Yang kau pikirkan benar. Kau barusaja memperlakukan menantu kesayangan Nyonya Liona dengan sangat buruk sekali. Kenapa? Apa sekarang kau merasa menyesal, hem?” sahut Nania memotong perkataan si wanita yang wajahnya sudah pucat pasi begitu tahu siapa Elea. Rasanya sungguh puas sekali melihat orang-orang angkuh yang langsung tak bisa berkata apa-apa begitu mengetahui latar belakang dari seseorang yang barusaja dihinanya. Rasakan. Hahaha.
Lima orang penjaga berlari masuk ke dalam toko tas begitu mereka melihat ada kegaduhan di dalam. Nania yang melihat ada celah untuk bersenang-senangpun tak mau melewatkan kesempatan baik ini. Dia segera mengedipkan sebelah matanya pada Elea sambil menyeringai licik. Oke, permainan dimulai.
“Aduhhhh, pipiku sakit sekali!” ucap Elea langsung memasang wajah menderita saat para penjaga sampai di dekatnya.
__ADS_1
“Nyonya Elea, anda kenapa? Siapa yang berani menyakiti anda?” cecar salah satu penjaga dengan mimik wajah yang begitu panik. Nyonyanya terluka, ini artinya kematian untuk mereka semua jika Tuan Gabrielle mengetahui kelalaian yang tak sengaja mereka lakukan.
“Wanita ini. Dia menamparku dan menyebutku wanita murahan,” jawab Elea semakin mendramatisir keadaan atas arahan Nania. Dan jujur, ini sangat menyenangkan.
“Benar. Wanita ini telah menyerang dan melecehkan Elea. Aku dan kedua sahabatku jadi saksinya. Iyakan Sya, Susan?” imbuh Nania ikut memanaskan keadaan. Dia lalu menyipitkan mata saat Susan dan Tasya tak kunjung menjawab pertanyaannya.
Lihat saja. Berani kalian tidak menjawab iya, aku pastikan kalian tidak akan pernah bisa ikut pergi berbelanja denganku dan Elea lagi. Huh.
“A-a itu benar, paman penjaga. Wanita itu telah menyerang Nania dan Elea. Dia memperlakukan mereka dengan sangat kasar. Lebih baik kalian tangkap dia saja lalu bawa ke hadapan Nyonya Liona supaya di adili!” ucap Tasya dengan cepat. Dia tentu sangat tahu arti dari tatapan mata Nania. Kalian pasti tahu bukan kalau gadis seksi itu suka sekali mengancam orang lain, terlebih Susan dan Tasya. Jadi ya sudah, cari aman adalah jalan terbaik agar mereka selamat.
“B-bohong, itu tidak benar. Ak-aku sama sekali belum melakukan apa-apa pada mereka, tapi merekalah yang sudah menyakitiku. Lihat, tanganku bahkan sedang di pitingnya!” teriak wanita itu ketakutan saat membela diri.
“Halah banyak bicara kau. Sekarang lebih baik kau ikut bersama kami saja. Berani menyentuh Nyonya kami, maka kau harus berani berhadapan dengan kemarahan Tuan Gabrielle. Cepat seret dan bawa wanita sundal ini ke mobil lalu hubungi Tuan Ares!”
“Baik.”
Dan begitu si wanita dibawa pergi oleh para penjaga, Elea dan Nania langsung melambaikan tangan sambil memasang wajah datar. Para pengunjung toko dan juga beberapa karyawan yang melihat langsung kejadian tersebut tampak bergidik takut saat memperhatikan Elea dan Nania. Ingin protes tapi mereka tidak ada yang berani melakukannya karena yang sedang berdiri di hadapan mereka merupakan kerabat dekat dari keluarga paling terpandang di negara mereka. Terlebih lagi salah satu dari wanita ini adalah orang kesayangan di keluarga Ma, semakin mereka tak berani untuk bertindak. Diam adalah yang paling baik agar kehidupan mereka tidak terancam bahaya. Benar tidak teman-teman?
“Bagaimana, Elea. Apa kau puas?” tanya Nania.
“Sangat, Nania. Terima kasih ya. Akhirnya setelah sekian lama facum aku bisa merasakan kembali kebahagiaan karena menjahili orang. Lain waktu kita ulangi lagi ya?” jawab Elea yang malah merasa ketagihan akan ide sesat Nania.
“Itu masalah gampang. Kau tenang saja. Selama kau rutin mengajakku pergi berbelanja, aku jamin kau akan lebih banyak lagi merasakan kesenangan yang jauh lebih menantang daripada ini. Sekarang mari kita lanjut memilih tas saja. Barang belanjaanku sudah berserakan di lantai. Aku butuh tas yang lain untuk mengembalikan moodku. Kau tidak keberatan bukan?”
“Tentu saja tidak. Kalian ambillah semua tas yang kalian mau. Aku punya banyak kartu hitam di tasku.”
“Kau yang terbaik, Elea. Ummuaacchhhh!”
Nania menggandeng tangan Elea lalu mengajaknya memilih tas yang lain. Mengabaikan Susan dan Tasya yang tengah terbengang sambil memegang ponsel masing-masing.
__ADS_1
Ya Tuhan, kenapa aku bisa berteman akrab dengan dua wanita mengerikan itu, Ya Tuhan? Tolong lindungi aku dan Tasya ya. Aku tidak mau nasib kami berakhir tragis seperti wanita itu. Tidak mau. Sungguh.
***