My Sugar Daddy ( Nania)

My Sugar Daddy ( Nania)
25. Adegan Panas


__ADS_3

📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI WRITER SEASON 8. OKE? 💜💜💜


***


Na ... na ... na ... na ... na ...


Terdengar suara senandung merdu dari arah kamar mandi di sebuah universitas. Dan tak jauh dari sumber suara tersebut, ada dua orang gadis yang sedang berjalan mengendap-endap sambil membawa balon di tangan mereka. Sepertinya kedua gadis ini berniat mengerjai pemilik suara merdu itu.


"Susan, kau yakin Nania tidak akan menggantung kita berdua jika mengagetinya seperti ini," tanya Tasya sedikit ragu saat akan mengerjai sahabatnya yang jago bela diri itu. Dia takut di buat babak belur olehnya.


"Em, sebenarnya aku juga tidak tahu, Sya. Akan tetapi tidak ada salahnya juga kan kalau kita mencobanya lebih dulu? Siapa suruh dia terus-terusan sibuk dengan sugar daddy-nya. Jadi jangan salahkan kita kalau sekarang kita mengerjainya. Anggap saja ini adalah bentuk balas dendam dari dua sahabat yang terabaikan," jawab Susan antara takut dan juga kesal.


"Ck, seharusnya kalau kau mau mati itu jangan mengajak-ajak orang lain, Susan. Awas saja ya kalau nanti Nania sampai marah kemudian menghajar kita berdua. Aku pastikan akan menjual namamu untuk melindungi diri. Paham?"


"Hihh, dasar tidak setia kawan!"


"Masa bodo. Mau setia kawan juga harus pilih-pilih dulu, San. Ya kali aku juga harus ikut menderita padahal kau adalah pelakunya. Tidak-tidak. Dalam kamus pertemanan kita tidak ada pasal yang seperti itu. Tahu kau!"


Susan mencebikkan bibir mendengar protes yang dilayangkan oleh Tasya. Setelah itu dia meminta Tasya agar diam karena posisi mereka sudah sangat dekat dengan keberadaan Nania. Sambil terus berbicara menggunakan bahasa isyarat, Susan meminta Tasya agar bersiap untuk meletuskan balon yang mereka bawa. Dia lalu memberikan aba-aba ketika akan mulai menghitung mundur.


"Saat hitungan terakhir kita letuskan balonnya secara bersamaan. Paham 'kan?" perintah Susan sambil berbisik.


"Iya-iya. Sudah sana cepat hitung dulu," sahut Tasya jengah.


"Baiklah,"


Susan menarik nafas dalam-dalam kemudian mulai berhitung. "Lima, empat, tiga, dua ... SA ... TU!!!"

__ADS_1


DUAAARRRR


Hening. Tak ada suara apapun yang terdengar begitu Susan dan Tasya meletuskan balon yang mereka bawa. Merasa ada yang salah, Susan dan Tasya pun saling memberi kode lewat cara mengedipkan mata. Setelahnya mereka pun saling dorong untuk memastikan keadaan Nania yang kala itu masih berada di dalam kamar mandi.


"Kau yang membuat ide ini, San. Sekarang kau juga yang harus bertanggung jawab!" omel Tasya menolak untuk menjadi orang yang mengintip Nania. Dia benar-benar sangat takut sekarang.


"Hei, kau jangan coba-coba cuci tangan dari masalah ini ya, Sya. Kalau bukan kau yang mengeluh tentang sikap Nania, ide ini juga tidak akan mungkin muncul di kepalaku. Enak saja!" sahut Susan tak mau kalah.


"Tapi tetap saja kau yang memulai,"


"Mana ada. Jelas-jelas kaulah biang keroknya. Hih!"


"Apa kalian sudah selesai bertengkarnya?"


Susan dan Tasya sama-sama menelan ludah begitu mendengar suara dingin yang sangat amat familiar di telinga mereka. Dan bulu kuduk di tubuh mereka pun seketika meremang hebat saat merasakan ada sepasang mata tajam yang tengah menatap mereka dari arah samping.


Apa jangan-jangan itu hantunya Nania ya yang mati karena terkejut mendengar letusan balon? Ya Tuhan, tolong kami, batin Susan panik.


"Hehehe, Nania. Ternyata kau masih hidup ya. Aku pikir kau mati di dalam kamar mandi karena kaget mendengar suara letusan balon," ucap Susan sambil menggaruk rambutnya. Dia meringis ketika matanya beradu pandang dengan manik mata Nania. Sungguh menyeramkan.


"Nania, ini semua idenya Susan. Aku hanya mengikutinya saja!" timpal Tasya langsung melakukan pembelaan diri. Dia bisa merasakan kalau kemarahan sahabatnya ini sudah sampai di ubun-ubun kepalanya, jadi melindungi diri adalah yang terbaik. Masalah Susan akan selamat atau tidak, itu masa bodo. Tasya tak peduli, yang penting nyawanya aman.


"Haih, kalian ini ya. Seperti tidak punya pekerjaan lain saja!" sahut Nania. Dia lalu mengajak keduanya untuk pergi ke kantin. Nania lapar.


Saat dalam perjalanan menuju kantin, Nania tidak sengaja melihat Krystal yang tengah bercengkrama dengan teman-temannya. Dia lalu tersenyum miring saat sebuah ide lucu terbersit di dalam kepalanya.


"Nania, kenapa sih akhir-akhir ini kau selalu saja sibuk menghabiskan waktu bersama Jovan. Kau sudah mengabaikan kami berdua, Nania. Itu tidak adil!" protes Susan.

__ADS_1


"Iya benar, Nania. Kau seperti kacang yang lupa kulitnya," timpal Tasya.


"Apa kalian bilang? Haha, lucu sekali kalian ya," ledek Nania sambil tertawa sumbang. "Jovan adalah sugar daddy-ku, sudah sepantasnya aku menghabiskan waktu bersamanya. Lagipula kalau nanti aku mendapat transferan dari Jovan, kalian berdua juga yang akan ikut menghabiskannya. Jadi anggap saja kalau sekarang aku sedang berjuang demi kesejahteraan bersama. Tahu kalian?!"


"Yang benar kami akan kecipratan uangnya Jovan juga, Nania. Kau tidak bohong 'kan?" tanya Susan dan Tasya berbarengan.


"Untuk apa aku bohong. Kalian tenang saja, aku bukan tipe orang yang mudah melupakan kebaikan orang lain yang selalu ada di kala aku susah dan sedang kesepian. Asal kalian berdua tahu ya. Aku terus menempel pada Jovan karena kami itu sedang memainkan sebuah game yang sangat seru. Kalian mau tahu tidak?"


Susan dan Tasya kompak mengangguk. Setelah itu mereka duduk bersebelahan saat sudah sampai di kantin. Nania yang melihat kedua sahabatnya sudah siap mendengar tentang permainan seru itu pun segera merangkul bahu keduanya kemudian mulai memberitahu permainan apa yang dia maksud.


"Dengar. Jovan sebenarnya akan di jodohkan dengan Krystal, si senior yang selalu mencari gara-gara dengan kita. Akan tetapi karena Jovan sangat mencintaiku, dia mengajakku untuk menjadikan Krystal sebagai orang ketiga dalam hubungan kami. Rencananya kami akan membuat celah seolah-olah Krystal memiliki banyak kesempatan untuk merebut Jovan dariku. Dengan begitu aku jadi bisa mengerjainya sepuas hati. Sekalian untuk bahan perhitungan atas apa yang telah Krystal lakukan pada kita selama ini. Dan kebetulan juga sekarang Krystal sedang magang di perusahaan Jovan sebagai sekertarisnya. Itulah kenapa sekarang aku selalu pergi ke sana setiap ada kesempatan. Lumayanlah untuk melatih otot leher supaya tetap sehat!"


"Woaahhh, benarkah?" tanya Susan takjub. "Nania, kira-kira ada lowongan tidak di dalam rencanamu dengan Jovan. Aku ingin melamar sebagai peran pembantu. Kalian tahu sendiri bukan kalau aku itu mempunyai dendam kesumat pada Krystal? Aku jamin permainannya akan bertambah semakin seru jika aku ikut bergabung bersama kalian. Boleh 'kan?"


"Ck sudahlah, kau dan Tasya lebih baik terima beres saja. Lagipula di antara aku dan Jovan sering terjadi adegan panas, dan pemandangan tersebut sangat tidak baik untuk mental anak di bawah umur seperti kalian. Paham?" tolak Nania enggan mengabulkan permintaan Susan.


"Sialan. Kalau kami masih anak di bawah umur lalu kau sendiri apa, Nania? Di antara kita bertiga kan kaulah yang bulan lahirnya paling muda. Jadi bagaimana bisa kau menyebut kami sebagai anak di bawah umur? Apa tidak kebalik itu!" omel Tasya tak terima di anggap sebagai anak kecil oleh Nania. Dia sudah besar.


Nania memutar bola matanya jengah. Dia lalu memainkan kalung pemberian Jovan, sengaja pamer untuk memanas-manasi kedua sahabatnya.


"Aaa, kalungnya indah sekali, Nania. Apa ini adalah hasil yang kau dapatkan setelah menemani sugar daddy-mu?" tanya Susan iri. Dia lalu menatap penuh kagum akan keindahan kalung yang terpasang di leher jenjang sahabatnya. Benar-benar sangat indah.


"Tentu saja. Aku kan sudah bilang kalau Jovan itu sangat kaya, bahkan keringatnya saja berbau uang. Jadi perhiasan seperti ini sangatlah mudah untuk dia belikan untukku. Keren 'kan?" jawab Nania tanpa ragu membanggakan keistimewaan Jovan di hadapan Susan dan Tasya.


"Keren, itu keren sekali. Tolong bantu carikan aku sugar daddy seperti Jovan ya? Aku juga ingin dimanja sepertimu, Nania. Bisa 'kan?"


"Iya Nania. Rasanya aku seperti sulit bernafas melihat kalung pemberian Jovan itu. Aku juga ingin punya," timpal Tasya ikut merengek seperti Susan. Dia tidak bisa berhenti menatap berlian indah yang di kenakan oleh Nania. Perhiasan itu terlalu cantik dan berkilau, sama persis seperti yang memakainya.

__ADS_1


"Baiklah-baiklah. Nanti sepulang dari kampus aku akan mengajak kalian untuk pergi ke perusahaannya Jovan. Kalian berdoa saja semoga di sana Jovan sedang bersama dengan teman-teman bisnisnya, jadi kalian berdua bisa langsung berkenalan dengan mereka. Oke?" sahut Nania sembari mengelus puncak kepala kedua sahabatnya. Dia lalu mengajak keduanya untuk memesan makanan, kemudian kembali bersenda gurau dengan di iringi senyum semringah di bibir masing-masing.


*******


__ADS_2