
Apa yang sedang dilakukan Nania sekarang ya? Tumben sekali dia tidak mengirimiku pesan. Nania tidak mungkin sedang bersama pria lain, bukan?
Gusar karena tidak ada kabar, Jovan memutuskan untuk istirahat sejenak dari menyelesaikan pekerjaan. Setelah itu Jovan meregangkan otot-otot tubuhnya sebelum dia meraih ponsel miliknya. Nania, kekasihnya itu entah kenapa tak kunjung memberikan kabar. Padahal setiap pukul setengah tujuh malam biasanya Nania akan menanyakan apakah Jovan sudah pulang atau belum. Tapi hari ini kenapa tidak ada pesan masuk. Aneh. Jovan jadi gelisah.
“Kau pergi kemana, sayang? Tumben sekali kau belum mengirim pesan padaku,” gumam Jovan sebelum mengecup bibir Nania yang dia jadikan sebagai wallpaper ponsel. Jovan kemudian terkekeh saat menyadari kekonyolannya sendiri. “Kalau ada orang yang melihatku sedang seperti ini, aku yakin mereka pasti akan langsung menganggapku gila. Tapi masa bodolah. Nania-ku sangat cantik dan seksi, jadi tidak ada salahnya kalau aku menjadi gila begini. Iya ‘kan?”
“Ya ya ya ya. Kau benar sekali, Kak. Kau gila karena Nania."
Kening Jovan mengerut. Segera dia menatap ke arah sumber suara. “Rhea? Sejak kapan kau ada di sana?”
Rhea yang sedang menyender ke daun pintu sambil bersedekap tangan nampak menggelengkan kepala melihat kekagetan di diri kakaknya. Sebenarnya Rhea sudah ada di dalam ruangan ini sejak dua menit yang lalu. Akan tetapi karena kakaknya terlalu fokus dengan pekerjaan yang juga diselingi dengan melamunkan Nania, kakaknya sampai tidak menyadari kedatanganya. Ingin heran, tapi kakaknya sudah terlanjur menjadi tidak waras karena mencintai gadis galak itu. Jadi Rhea hanya bisa pasrah saja ketika dirinya acap kali di anggap layaknya makhluk tak kasat mata. Menyebalkan sekali, bukan?
“Sebegitunya kau memikirkan Nania sampai tidak menyadari kehadiran adikmu di ruangan ini, Kak? Benar-benar kau ya,” ejek Rhea sambil berjalan masuk. Dia kemudian mendudukkan bokongnya ke sofa lalu menatap langit-langit ruangan. Rhea menghela nafas panjang. “Aku rasa aku juga akan sama gilanya sepertimu kalau aku memiliki kekasih. Benar tidak, Kak?”
“Umm itu bisa saja terjadi karena kita berasal dari gen yang sama. Walaupun dulu orangtua kita sempat ingin bercerai, tapi hal itu tak bisa menutup kenyataan kalau Ayah sangatlah mencintai Ibu,” jawab Jovan tak menampik pemikiran Rhea. Setelah itu dia beranjak dari duduknya kemudian berpindah duduk di sofa. “Kenapa kau tidak mencoba untuk menjalin hubungan dengan seorang pria saja, Rhe? Usiamu sudah cukup matang untuk berpacaran. Bahkan menikahpun kau sudah sangat cocok.”
“Bagaimana mungkin aku menikah kalau calonnya saja masih belum ada, Kak?” sahut Rhea. “Aku sebenarnya juga ingin memiliki kekasih seperti kau dan Nania. Tapi apa daya, sikapku terlalu membosankan di mata para pria. Dan aku rasa ini menjadi penyebab kenapa sampai sekarang aku masih belum memiliki kekasih. Haihhhh!”
__ADS_1
Jovan terkekeh. Sejak Rhea menerima kehadiran Nania, sejak saat itu pula hubungan Jovan dengannya bertambah semakin baik. Terkadang mereka bahkan tak ragu untuk saling melempar candaan, hal yang tak pernah mereka lakukan selama ini. Iba terhadap nasib percintaan adiknya, Jovan akhirnya memberikan sebuah saran untuk Rhea. Ya semoga saja saran ini bisa di terima dengan baik oleh adiknya. Benar tidak?
“Rhe, kau jangan tersinggung dulu dengan perkataanku ya. Begini. Kau dan Galang kan sudah saling kenal, kenapa kau tidak mencoba untuk mendekatinya saja. Galang yang sekarang sudah jauh berbeda dengan Galang yang dulu, dan aku yakin Nania pasti akan langsung setuju jika kalian berpacaran. Bagaimana?”
“Yang benar saja kau, Kak. Kak Galang adalah dokter ternama, dia mana mungkin mau menjalin hubungan dengan ani-ani batu sepertiku. Tidak-tidak. Aku tidak mau!” tolak Rhea yang kaget mendengar saran dari kakaknya. Setelah itu Rhea menoleh ke samping. “Kak Jovan, sebelumnya aku memang belum pernah berpacaran. Tapi bukan berarti aku tidak memiliki tipe pria yang kusukai. Kak Jovan memang tampan dan juga mempunyai masa depan cerah, tapi dia tidak kaya sepertimu. Nania pernah bilang padaku kalau di zaman sekarang sangat penting untuk mencari pria yang kaya raya agar kesejahteraanku bisa terjamin sampai tua. Profesi dokter memang lumayan, tapi masih belum sebanding dengan profesi sebagai bos. Itu yang Nania katakan padaku jika ingin mencari kekasih!”
Kriik kriik kriik
Jangan bilang Rhea sudah tertular virus sugar daddy-nya Nania. Astaga, gadis itu ada-ada saja sih. Kalau begini ceritanya kapan Rhea akan laku. Sikapnya saja masih sangat angkuh dan keras kepala. Masa iya adikku harus menjadi perawan tua sampai mati sih ....
“Aku tahu apa yang sedang kau lamunkan, Kak Jovan!” sindir Rhea sambil memicingkan mata.
“Tentu saja aku tahulah. Ekpresimu terlalu jelas terlihat,”
Jovan tergelak. Sepertinya dugaan Jovan memang benar kalau Rhea telah tertular virus-virus aneh yang dimiliki oleh Nania. Jadi teman-teman, tolong beritahu sikap seperti apa yang harus Jovan tunjukkan dalam menyikapi sikap adiknya yang sudah hampir sebelas dua belas dengan sikap kekasihnya. Haruskah dia berbahagia, atau malah berduka? Tulis komentar kalian di sini ya.
“Oya Kak, ngomong-ngomong Nania sedang pergi ke mana? Tadi aku tidak sengaja mendengar gumamanmu yang menyebut kalau Nania belum memberikan kabar. Dia pergi makan malam lagi dengan pria lain?” tanya Rhea ingin tahu.
__ADS_1
“Aku akan langsung menikahinya kalau dia sampai berani makan malam dengan pria selain aku,” jawab Jovan yang langsung tersulut api cemburu. Seketika perasaannya menjadi gelisah. Walaupun Nania telah menetapkannya sebagai calon suami masa depannya, tapi kecantikan dan kemolekan gadis itu selalu berhasil membuat Jovan ketar-ketir setiap saat. Nania sukses menyiksa jiwa raga Jovan hingga membuatnya berpikir kalau semua pria sedang berusaha merebut Nania darinya. Berlebihan sekali bukan? Namun, itulah yang Jovan rasakan setelah dia resmi menjadi kekasih seorang dewi kecantikan bernama Nania.
“Memangnya kau tidak takut burungmu akan di potong oleh Nania kalau kau sampai berani menikahinya secara paksa? Dengar-dengar Nania adalah atlet bela diri. Tidak takut kau akan babak belur bahkan sebelum sempat kau mengucapkan janji pernikahan?” ledek Rhea sambil menaik-turunkan kedua alisnya. Rhea sudah menerima informasi dari Nania kalau Nania tidak akan mau menikah dengan kakaknya sebelum dia menyelesaikan kuliah. Dan alasan yang Nania lontarkan cukup membuat Rhea sesak nafas.
“Aku tidak akan pernah menikah dengan kakakmu sebelum aku lulus kuliah, Rhe. Karena jika itu sampai terjadi, Krystal pasti akan langsung mengambil alih posisiku di kampus. Aku bisa sangat rugi nanti karena menurut buku sihir yang aku baca, mendapat banyak perhatian dari pria tampan merupakan jalan pintas agar tetap awet muda. Jadi aku mana mungkin membuang kesempatan emas ini hanya demi menikah dengan kakakmu yang masih kaya nanggung itu,” ….
Kurang lebih seperti itulah bunyi penolakan yang Nania ucapkan saat Rhea menanyakan alasan kenapa tidak langsung menikah saja dengan kakaknya. Cukup membagongkan sekali ya bunda-bunda? Dan sialnya kini Rhea jadi ikut-ikutan memiliki pemikiran seperti Nania. Gila tidak?
“Ekhmmm, aku rasa Nania tidak akan setega itu ingin memotong burung milik kekasihnya sendiri, Rhe. Dia mencintaiku dan aku sangat mencintainya. Nania bukan gadis yang kejam,” sahut Jovan sambil mengendurkan dasi dilehernya. Mendadak dia merasa gerah saat membayangkan Nania yang sedang tersenyum aneh sambil memegang pisau tajam di tangannya. Itu sangat mengerikan. Percayalah.
“Yakin?”
“Tentu saja aku sangat yakin!”
Rhea tertawa terbahak-bahak melihat reaksi tak biasa di diri kakaknya. Sungguh, itu terlihat sangat lucu sekali. Tak terima di tertawakan, Jovan akhirnya mengusir Rhea agar pergi dari ruangannya. Dia kesal sekali saat tersadar kalau Rhea sedang mengerjainya saja.
“Dasar adik kurang ajar. Sejak kapan Rhea jadi jahil begini? Apa mungkin Nania yang mengajarinya? Astaga,” keluh Jovan sambil mendengus pelan. Ada-ada saja.
__ADS_1
***