
π’π’π’BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI WRITER SEASON 8. OKE? πππ
***
Luyan dan Nita hampir terkena serangan jantung saat pelayan memberi kabar kalau Nania di bawa ke kantor polisi. Lusi yang kebetulan baru akan pulang bersama Gleen dan putra mereka, langsung meminta pelayan untuk memanggilkan dokter. Setelah itu Lusi menanyai pelayan yang baru saja menyampaikan kabar tersebut.
"Bibi, kenapa Nania bisa sampai di bawa ke kantor polisi?" tanya Lusi panik.
"Nona Susan bilang itu karena Nona Nania telah menyerang seseorang saat sedang berada di restoran, Nona."
"Ya Tuhan, apa yang sebenarnya dilakukan anak itu. Bagaimana bisa Nania melakukan penyerangan di tempat umum. Astaga!"
Gleen dengan sigap menenangkan Lusi yang histeris setelah mendengar penyebab adik iparnya di bawa ke kantor polisi. Tak ingin Lusi kenapa-napa, Gleen mengajaknya untuk duduk di sofa. Dia lalu meminta pelayan untuk mengambilkan air minum.
"Sweety, walaupun Nania bar-bar, dia tidak akan mungkin melakukan penyerangan jika tidak ada orang yang memprovokasi kemarahannya lebih dulu. Aku harap kau jangan salah paham pada Nania," ucap Gleen pelan.
"Aku tahu itu, Gleen. Tapi tetap saja apa yang dilakukan Nania adalah tindakan kriminal. Melakukan penyerangan di tempat umum, astaga!" sahut Lusi seraya memijit pinggiran kepalanya.
"Hmmm, Nania memang salah. Tapi aku yakin ada orang lain yang mendalangi hal ini. Kalau begitu aku pergi ke kantor polisi dulu ya. Aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di sana. Kalau sampai aku tahu orang yang di hajar Nania telah melakukan sesuatu yang salah, orang itu tidak akan bisa selamat dari tanganku. Berani-beraninya dia mengusik adik kesayanganku. Cari mati!"
Setelah pelayan datang membawakan air minum, Gleen bergegas pergi ke kantor polisi. Raut wajahnya terlihat sangat tenang, sama sekali tak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Lagipula untuk apa Gleen mencemaskan gadis yang kemampuan bela dirinya hampir setara dengan kemampuannya. Gleen hanya tak suka saja ada orang yang berani mengusik keluarganya. Dia benci itu.
Kira-kira manusia jenis apa ya yang sudah begitu berani mencari masalah dengan gadis sebar-bar Nania? Hmmm, aku yakin wajah orang itu pasti sudah babak belur di hajarnya, ujar Gleen dalam hati.
Tak lama kemudian sampailah Gleen di kantor polisi. Dia kemudian menghampiri Susan dan Tasya yang saat itu sedang duduk sambil menikmati es krim dengan santainya.
"Hei, ladies. Di mana teman kalian?"
__ADS_1
"Oh, Kak Gleen. Nania ada di dalam, sedang di interogasi oleh polisi," jawab Susan tanpa merasa cemas sedikit pun. Dia lalu menunjukan sebuah rekaman yang tadi di ambil saat Nania sedang membuat kegaduhan di restoran. "Kak, tahu tidak. Lawan Nania kali ini adalah adiknya Jovan. Sayang mereka sedang berada di restoran. Kalau perkelahian itu terjadi di atas ring, di jamin seluruh tulang di tubuh Rhea pasti akan di patahkan oleh Nania!"
Gleen menelan ludah begitu tahu dengan siapa Nania terlibat baku hantam. Bayangkan, menghajar adik dari kekasihnya sendiri. Tidakkah menurut kalian Nania sangat gila? Luar biasa. Gleen benar-benar salut akan kegilaan adik iparnya itu.
"Ya sudah kalian bersantailah dulu di sini dan simpan video itu baik-baik. Aku mau masuk ke dalam dulu untuk melihat keadaan di sana," ucap Gleen yang baru teringat dengan adik iparnya.
"Baik, Kak!" sahut Susan dan Tasya berbarengan.
Sementara itu di dalam kantor polisi, terlihat Nania yang sedang duduk bersebelahan dengan Rhea. Di samping mereka ada Krystal, tapi gadis itu hanya diam saja sejak tadi.
"Jadi Nona Nania, bisakah kau menjelaskan kenapa kalian bisa berkelahi seperti itu di tempat umum? Siapa yang memulainya lebih dulu?" tanya polisi sudah hampir frustasi menanyai kedua gadis yang penampilannya sudah sangat berantakan.
"Pak polisi yang baik hati, di antara kami berdua akulah yang lebih muda. Sebenarnya tadi itu aku hanya ingin mengajak mereka bicara baik-baik, tapi dia malah menghina orangtuaku. Aku marah, lalu tak sengaja menjambak rambutnya," jawab Nania sambil memasang tampang seperti gadis baik-baik. Tak lupa juga dia pura-pura menahan tangis agar drama yang dia mainkan terlihat semakin nyata.
"Nania, kau!" hardik Rhea tak terima.
Rhea kicep. Dia lalu mendengus kasar saat tak sengaja melihat satu smirk licik di bibir Nania.
Kurang ajar. Dia sedang mempermainkan aku ternyata. Dasar brengsek kau, Nania, amuk Rhea dalam hati.
"Nona Nania, silahkan lanjutkan!"
"Baik, pak polisi!" sahut Nania sembari menyelipkan rambut ke belakang telinga. "Jadi begini awal kejadiannya, Pak. Nona ini telah salah memfitnahku menjual diri pada seorang laki-laki yang ternyata adalah kakak iparku sendiri. Dia juga menjelek-jelekkan aku di hadapan kekasihku dan keluarganya. Aku malu, jadi aku berniat untuk meminta penjelasan darinya. Tapi ....
"Tapi?"
"Tapi dia malah menghina Ayah dan Ibuku dengan menyebut mereka tidak becus dalam mendidikku. Dia juga bilang kalau di antara aku dan kakak iparku terjalin sebuah hubungan terlarang, padahal tidak. Dan sebagai seorang anak yang telah di besarkan dengan susah payah oleh kedua orangtuaku, tentu saja aku merasa tak terima saat Nona ini menghina mereka. Aku marah, lalu lepas kendali dan menyerangnya. Semua itu terjadi semata-mata karena aku yang ingin membela orangtuaku saja, Pak. Sungguh!" ucap Nania dengan gampangnya mendramatisir keadaan.
__ADS_1
"Pak, itu tidak benar, Pak. Tidak semua yang gadis ini katakan sesuai dengan kebenarannya. Bapak jangan sampai terkecoh!" sela Rhea tak terima posisinya terus disudutkan. Dia lalu menatap jengkel ke arah Nania, merasa sangat amat muak mendengar sandiwaranya.
"Lihat, Pak. Nona ini terus memelototkan matanya padaku. Tidakkah menurut Bapak dia sangat mengintimidasi? Tolong aku, Pak. Tolong lindungi aku dari kemarahannya!" ucap Nania sambil mengatupkan kedua tangan. Tak lupa juga dia memasang ekpresi seperti orang yang sedang ketakutan.
Kena kau, Rhea. Hahaha, batin Nania kegirangan.
Krystal yang menyaksikan bagaimana cara Nania memutar keadaan dari seorang pelaku menjadi seorang korban hanya bisa terperangah heran. Sungguh, Nania adalah gadis bermuka dua. Krystal sungguh heran bagaimana bisa Nania memperlihatkan dua sisi yang berbeda di mana tadi dia yang terlihat sangat brutal, kini terlihat seperti gadis lemah yang tidak bisa apa-apa. Ini gila, hal tergila yang pernah Krystal lihat sepanjang dia hidup.
"Nona, siapa namamu?" tanya polisi sambil menghela nafas.
"Rhea," jawab Rhea cetus.
"Apakah ada keluargamu yang bisa di hubungi? Kami perlu bicara dengan orangtuamu mengenai tindakan kurang mengenakan ini!"
Rhea segera melihat Krystal. Dia lalu meminta Krystal untuk memberikan nomor ayahnya. Setelah itu Rhea beralih menatap Nania yang masih saja memasang wajah pura-pura tak berdaya. Sangat menjengkelkan. Rhea benar-benar tak habis pikir kalau Nania akan semudah ini dalam memutar-balikkan fakta. Padahal jelas-jelas saat di restoran tadi Nania-lah yang menyerangnya lebih dulu. Tapi kenapa sekarang malah jadi dia yang di anggap seperti tersangka? Sialan.
Awas saja kau, Nania. Begitu Ayah dan Ibuku datang, aku yakin mereka pasti akan langsung membencimu. Dengan keadaanku yang seperti ini mereka pasti tidak akan membelamu lagi. Lihat saja nanti, ujar Rhea dalam hati.
"Rhe, apa aku perlu memanggilkan dokter kemari? Di wajahmu ada banyak sekali luka cakar, aku takut itu akan terinfeksi," tanya Krystal pura-pura tak tega melihat keadaan Rhea.
"Tidak perlu. Justru dengan luka-luka ini aku berharap Ayah, Ibu, dan juga Kak Jovan bisa sadar kalau Nania adalah gadis yang sangat kasar. Kita lihat saja nanti. Begitu mereka sampai di sini, Nania pasti akan langsung menerima ganjarannya. Aku yakin sekali Kak Jovan pasti akan langsung memutuskan hubungan dengannya. Tunggu saja!" jawab Rhea dengan sangat yakin.
"Em baiklah kalau begitu," ucap Krystal langsung senang mendengar rencana Rhea. Dia lalu melirik ke arah Nania, merasa kasihan karena sebentar lagi gadis itu akan segera di buang oleh Jovan.
"Haisss, apa gunanya aku datang kemari kalau Nania saja bisa mengelabui para polisi itu. Ya sudahlah, lebih baik aku tunggu di luar saja. Aku ingin lihat seperti apa reaksi keluarganya Jovan setelah melihat apa yang terjadi. Kalau mereka berani menghakimi Nania, baru aku akan mengambil tindakan!" ucap Gleen sesaat sebelum memutuskan untuk kembali ke luar menemui Susan dan Tasya.
***
__ADS_1