
📢📢📢 BOM KOMENTARNYA BESTIE 💜
***
Setelah memarkirkan mobil, Jovan bergegas masuk ke dalam rumah. Tak lupa juga dia merapihkan lengan kemeja yang tadi sempat dia gulung ke atas. Jovan penasaran siapa tamu penting yang membuat sang ayah begitu tidak sabar ingin agar dirinya bisa segera sampai di rumah.Â
"Ayah, Ibu. Maaf sudah membuat kalian semua menunggu lama. Ada kecelakaan lalu lintas saat di jalan tadi, jadi aku terjebak macet," ucap Jovan beralasan. Setelah itu Jovan duduk di samping sang ayah, lalu menyunggingkan senyum ke arah tiga orang tamu yang terus menatapnya. Dari ketiga tamu tersebut, ada seorang gadis yang membuat mata Jovan sakit seketika. Otaknya langsung tanggap akan sesuatu di balik kedatangan tamu-tamu ini.
Sialan, sepertinya aku akan di jodohkan. Hmmm, aku layak di sebut bodoh jika sampai menerima gadis itu sebagai pasanganku. Wajah dan bodinya saja masih kalah jauh dari Nania. Astaga, seperti tidak ada gadis lain saja di dunia ini. Ayah-Ayah, keluh Jovan dalam hati.Â
"Oh ya Kendy, kenalkan. Ini putra sulungku, namanya Jovan!" ucap Ardan dengan sangat bangga memperkenalkan Jovan pada teman lamanya. "Dan Jovan, beliau ini adalah teman lama Ayah. Namanya Paman Kendy, lalu di sebelahnya ada Bibi Ailenn. Dan ... gadis cantik itu adalah putri semata wayang mereka. Namanya Krystal!"
"Wow, sangat tampan. Sama sepertimu, Ardan," sahut Kendy kagum akan ketampanan putra temannya. "Halo, Jovan. Senang berkenalan denganmu."
"Halo juga, Paman Kendy. Adalah kehormatan yang sangat besar untukku bisa berkenalan dengan orang penting seperti Paman," sahut Jovan dengan ramah. "Halo, Bibi Ailenn, senang bisa menyapa bidadari cantik seperti Bibi!"
"Ya ampun, Silvi. Bagaimana bisa kau memiliki putra semanis ini?" tanya Ailenn gemas akan sikap Jovan.Â
"Hahh, ya begitulah kelakuan putraku, Ai. Jangan heran ya, dia jadi seperti itu karena terlalu lama tinggal di luar negeri. Makanya dia bisa begitu enteng saat menggoda para wanita. Kau harus hati-hati padanya," jawab Silvi sudah tak heran akan sikap putranya. Sikap Jovan banyak berubah sejak menempuh pendidikan di luar negeri. Mungkin karena terpengaruh lingkungan yang memang cukup terbuka untuk hal-hal semacam ini. Entahlah.Â
"Ck, hati-hati bagaimana. Justru aku malah senang melihat pria yang mudah akrab dengan siapa saja. Bukan begitu, Jo?"
"Bibi bisa saja. Tapi jujur, Bibi memang sangat cantik. Wanita ketiga tercantik setelah Ibu dan adikku!" sahut Jovan yang lagi-lagi berkelakar.Â
__ADS_1
Suara gelak tawa langsung memenuhi ruang tamu setelah mereka mendengar candaan Jovan. Lalu tibalah saatnya untuk Jovan dan Krystal saling mengenalkan diri. Jovan yang memang tidak tertarik pada kecantikan Krystal, sama sekali tak menunjukkan sikap khusus ataupun malu-malu ketika berkenalan dengannya. Namun hal berbeda justru dirasakan oleh Krystal. Begitu Jovan datang, dada Krystal tak berhenti berdetak. Dan tanpa di sangka-sangka ternyata Krystal jatuh cinta di pandangan pertama pada anak dari teman lama ayahnya.Â
"Hai, Krystal. Aku harap ke depannya nanti kita bisa menjadi teman dekat seperti kedua orangtua kita," ucap Jovan dengan santai.Â
"Hai juga, Jo. Kalau bisa aku malah ingin jauh lebih dekat lagi dari pada mereka. Kalau bisa ya?" sahut Krystal menanggapi ucapan Jovan dengan candaan, tapi candaan ini memiliki maksud terselubung. Krystal ingin mengenal Jovan lebih dekat, sangat dekat hingga membuat mereka terikat oleh satu hubungan yang sangat istimewa.Â
"Uwhh, kau terlalu terang-terangan, sayang. Santai, jalan masih panjang," seloroh Kendy sambil menertawakan keagresifan putri semata wayangnya.Â
"Benar sekali, Ken. Aku sangat setuju denganmu," timpal Ardan.Â
Jovan hanya tersenyum simpul mendengar perkataan ayahnya dan juga ayah Krystal. Ingin mendekatinya? Hah, lawan Nania dulu jika bisa. Orang-orang ini tidak tahu saja kalau Jovan sudah lama di tandai sebagai calon suami masa depan gadis beracun itu. Jadi mau secantik dan seseksi apapun Krystal, Jovan tidak akan pernah bisa berpaling dari Nania. Karena apa? Ya karena cintanya pada gadis beracun itu sudah mendarah daging sampai ke tulang-belulangnya.Â
"Oh ya, Jovan. Paman dengar mulai besok kau sudah akan menggantikan posisi Ayahmu di perusahaan. Apa benar?" tanya Kendy. Wajahnya langsung berubah serius begitu membahas tentang pekerjaan.Â
Kendy melihat ke arah Ardan. Setelah itu dia bertepuk tangan, takjub karena pria semuda Jovan sudah berani mengambil beban pekerjaan yang lumayan berat.Â
"Didikanmu memang sangat luar biasa, Ar. Aku salut!"
"Jangan memujiku seperti itu, Ken. Yah, memangnya pada siapa lagi aku menaruh harapan kalau bukan pada Jovan. Adiknya? Itu mustahil. Rhea sibuk dengan kegiatannya sendiri, dan dia juga akan langsung menolak setiap kali aku mengajaknya bicara tentang perusahaan. Rea tidak seperti ibunya yang sangat menyukai bisnis," sahut Ardan seraya menatap penuh cinta pada Silvi, istri kesayangannya.Â
"Di balik pria yang sukses selalu ada wanita hebat yang menemani. Bukankah kalimat ini sangat cocok di peruntukkan bagi istri-istri kita yang cantik ini, Ar?" ucap Kendy tak memungkiri tentang fakta tersebut.Â
"Tentu saja. Karena tanpa mereka kita pasti tidak akan sampai di titik ini, Ken. Dan Jovan ... kapan kau akan mengenalkan wanita hebat yang akan menjadi pendukung kesuksesanmu kelak, hm?"
__ADS_1
Mata Krystal langsung menatap lekat ke arah Jovan, menunggu dengan berdebar-debar jawaban seperti apa yang akan keluar dari mulutnya. Karena jujur, Krystal sangat berharap kalau Jovan belumlah memiliki kekasih. Dengan begitu Krystal jadi mempunyai banyak kesempatan untuk mendekatinya.Â
"Ayah, Paman. Untuk sekarang ini aku masih belum memiliki wanita yang bisa aku kenalkan pada kalian. Namun kalian jangan khawatir karena aku baru saja bertemu dengannya," jawab Jovan sambil membayangkan wajah cantik Nania.Â
"Apa dia cantik?" tanya Ardan penasaran.Â
"Tentu saja, Ayah. Malah menurutku kecantikannya adalah yang paling sempurna jika di bandingkan dengan wanita-wanita yang pernah aku temui di luaran sana!" sahut Jovan tanpa ragu. Kan memang benar kalau Nania adalah gadis yang sangat cantik, pintar dan juga badas. Ah, memikirkan gadis itu Jovan jadi merindukannya.Â
Astaga, apa Jovan sedang membicarakan aku? Ya Tuhan, bagaimana ini. Ternyata perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan. Baiklah, Krystal. Mulai sekarang kau harus pandai-pandai menjaga sikap agar Jovan tak lepas dari genggaman. Aaa, senangnya hatiku, ujar Krystal dalam hati.Â
"Hahh, sepertinya kecantikan Ibu sudah tergeser oleh kecantikan gadis itu, Jo. Ibu jadi sedih," goda Silvi sambil memasang wajah pura-pura terluka.Â
"Ibu tenang saja. Secantik apapun dia, Ibu tetaplah cinta pertamaku. Kecantikan Ibu adalah pemenang yang sebenarnya," sahut Jovan sambil mengedipkan mata ke arah sang Ibu. Dia lalu tertawa saat ayahnya memberikan satu pukulan pelan di bagian lengan, cemburu mungkin. Hehe.Â
"Ibumu itu milik Ayah, Jo. Lebih baik kau cari wanita lain saja!" sungut Ardan.Â
"Berbagi seidikitlah dengan anak sendiri, Ayah. Jangan pelit-pelit!" olok Jovan.Â
"Untuk yang satu ini Ayah tidak akan mau berbagi dengan siapapun. Termasuk dirimu. Paham?"
Setelah itu semua orang tertawa terbahak-bahak melihat Ardan yang langsung memeluk Silvi dengan sangat erat. Sedangkan Krystal, dia mulai berandai-andai betapa bahagia dan sempurna hidupnya ketika dia dan Jovan bersama nanti. Krystal yakin sekali kalau dia pasti akan menjadi wanita paling beruntung di dunia ini. Ya, dia yakin akal hal itu. Hmmm.Â
****
__ADS_1