My Sugar Daddy ( Nania)

My Sugar Daddy ( Nania)
64. Jovan Yang Agresif


__ADS_3

📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI YOU ARE A WRITER SEASON 8. OKE 💜💜💜


***


Jovan menyeka pinggiran bibir Nania sambil tersenyum lebar. Matanya kemudian menyipit saat mendapati kekasihnya ini malah tersenyum genit sambil mengedipkan sebelah mata.


“Yoooo, kau benar-benar sangat agresif, Jo. Kau menciumku seolah sudah tak adalagi hari esok. Kenapa? Apa aku semenggoda itu di matamu, hm?” tanya Nania sambil menaik-turunkan kedua alisnya. Untung Nania rajin olahraga. Kalau tidak, dia pasti sudah pingsan menghadapi keagresifan Jovan setiap kali mereka berciuman. Sungguh sugar daddy yang sangat menantang. Haha.


“Hmmmmm, jangankan aku. Jika para nyamuk bisa bicara aku yakin mereka pasti akan mengatakan kalau kau begitu menggoda di mata mereka,” jawab Jovan sambil membelai-belai pipi Nania yang begitu lembut. Dia lalu menghela nafas panjang, merasa berat saat teringat kalau mereka akan segera berpisah. “Sayang, kenapa kita tidak menikah saja sih. Dengan begitukan kita tidak perlu berjauhan lagi. Kita menikah ya?”


Mendengar Jovan yang lagi-lagi membahas tentang pernikahan membuat Nania menggoyangkan jari telunjuknya kekanan dan kekiri. Keputusannya masih sama, dia tidak akan membiarkan Krystal merebut posisinya di kampus. Nania tak mau perawan tua itu berasa terbang ke atas langit jika para mahasiswa beralih memujinya. Lagipula Nania juga masih membutuhkan banyak pujian dari banyak pria agar kecantikannya tetap terjaga dengan baik. Karena berdasarkan dari buku penyihir yang di bacanya, tatapan kagum dari para pria bisa membuat wanita menjadi awet muda. Dan hal itulah yang paling di butuhkan oleh Nania saat ini selain kekayaan dari sugar daddy-nya. Jadi mana mungkin dia merelakan hal penting tersebut hanya untuk sebuah pernikahan? Tidak-tidak, Nania masih belum puas dengan masa mudanya.


“Jo, tolong jangan bahas pernikahan lagi denganku. Oke?” ucap Nania sambil menempelkan jari telunjuknya ke mulut Jovan saat kekasihnya ini hendak bicara.


“Ck, Nania. Ayolah. Di rumah tadikan kau sudah memanggil Ayah dan Ibu dengan sebutan mertua? Bukankah itu sama artinya kalau kau akan segera menjadi istriku?” protes Jovan. Lagi-lagi dia di tolak. Huh.


“Pada akhirnya nanti aku memang akan menjadi istrimu, Jo. Tapi tidak sekarang,” jawab Nania. Dia lalu membuka seatbelt yang terpasang di tubuhnya kemudian berbalik dan menangkup kedua pipi Jovan. Setelah itu Nania mengecup bibirnya beberapa kali, kemudian terkekeh melihat Jovan yang terus saja cemberut setelah menerima penolakan darinya. “Sudah,jangan merajuk lagi. Lebih baik sekarang kau pulang dan istirahatlah. Ini sudah malam.”


“Ck,” Jovan berdecak.


Nania kembali terkekeh. Tanpa mengindahkan Jovan yang masih merajuk, Nania melangkah keluar dari dalam mobil. Dia lalu melambaikan tangan ke arah Jovan sebelum masuk ke dalam rumahnya. Kejam? Tentu saja tidak. Sikap Nania yang seperti itu malah membuat Jovan menjadi tidak karu-karuan sendiri. Dia sampai mengacak-acak rambut seperti orang tidak normal melihat betapa seksinya Nania saat melangkah pergi meninggalkannya.

__ADS_1


“Astaga, aku benar-benar sudah gila sekarang. Hahhh!”


Setelah memastikan Nania benar-benar telah masuk ke dalam rumahnya, barulah Jovan pergi dari sana. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang sambil melamunkan interaksi antara Nania dengan keluarganya tadi. Jujur, Jovan sangat salut pada Nania. Meskipun masih muda, tapi Nania begitu pandai mengambil hati keluarganya. Terutama Rhea. Dengan cara khas yang dimiliki Nania, adiknya yang keras kepala itu bisa tunduk dengan mudah. Aneh bukan? Padahal selama ini Rhea begitu membencinya, tapi hanya dalam waktu singkat Nania bisa merubah hal tersebut. Kenapa Jovan bisa begitu yakin? Karena secara tak sengaja, Jovan beberapa kali menangkap basah adiknya yang tengah menahan senyum mendengar celotehan Nania yang terkadang menusuk hati. Bukankah itu tandanya kalau Rhea mulai menyukainya? Yap, itu sudah pasti. Hanya gengsinya Rhea saja yang terlalu tinggi.


Tak lama kemudian Jovan akhirnya sampai di rumahnya. Sambil bersiul dan memainkan kunci mobil, Jovan berjalan masuk ke dalam. Namun langkahnya terhenti tepat ketika dia hendak menaiki anak tangga. Jovan lalu tersenyum saat mendapati seseorang yang tengah berdiri sendirian sambil menatap foto keluarga yang tergantung di dinding. Dia lalu memutuskan untuk menghampirinya.


“Nania bilang aku cantik seperti Ibu,” ucap Rhea begitu sang kakak berdiri di sebelahnya.


“Apa kau sengaja menungguku pulang?” tanya Jovan. Dia kemudian ikut memandangi foto keluarganya, merasa hangat saat keempat orang yang berada di dalam foto sama-sama tersenyum bahagia.


“Kak Jovan, aku salah ya?” ucap Rhea menjawab pertanyaan kakaknya dengan pertanyaan. “Usia Nania lebih muda dariku, tapi malah aku yang bersikap kekanakan. Aku menjijikkan sekali bukan?”


Rhea menoleh saat merasakan sebuah elusan lembut di kepalanya. Dia kemudian tersenyum. Akan tetapi senyum tersebut bukan senyum sinis seperti yang biasa dia lakukan, melainkan satu senyuman yang sarat akan kasih sayang. “Kak, aku minta maaf ya kalau selama ini sikapku telah membuatmu merasa tak nyaman. Malam ini aku mendapat satu pelajaran penting dari semua hal yang Nania tunjukkan padaku dan pada orangtua kita. Ternyata selama ini aku tidak mencintai diriku, tidak seperti Nania yang begitu mencintai dirinya sendiri. Saat kami memasak tadi, Nania bilang agar aku tidak usah mempedulikan apa tanggapan orang lain tentang makanan yang kita masak. Tak peduli itu bumbu penyedap atau garam yang kita tambahkan, kalau kita suka maka lakukan dan nikmati saja. Masa bodo apakah orang lain akan menyukainya atau tidak, yang penting kita bahagia. Hidup sesimpel itu, Kak. Dan aku telah mengabaikannya.”


“Aku mengerti, Kak. Dan mulai malam ini aku tidak akan merasa keberatan lagi untuk menerima hubungan kalian. Sungguh,” jawab Rhea membalas pelukan kakaknya dengan hangat. Hatinya mendadak terasa sangat plong, seperti ada beban berat yang baru saja terlepas dari tubuhnya.


Tak lama setelah itu Rhea tiba-tiba teringat dengan perkataan Nania yang meminta agar dirinya jangan terlalu dekat dengan Krystal. Penasaran akan penyebabnya, Rhea pun memutuskan untuk bertanya saja pada kakaknya. Dia ingin tahu apakah Krystal memang benar adalah gadis yang jahat atau tidak.


“Kak Jovan, bisakah kau memberitahuku alasan mengapa kau dan Nania melarangku berhubungan dekat dengan Krystal?"


“Hmmmm, kenapa tiba-tiba kau membahas tentang Krystal? Tolong jangan membuat masalah lagi, Rhe. Aku sedang tidak mood bertengkar denganmu,” sahut Jovan seraya mengurai pelukan.

__ADS_1


“Bukan begitu, Kak. Aku hanya penasaran kejahatan apa yang telah dilakukan Krystal sampai kau dan Nania begitu tidak ingin aku berdekatan dengannya. Jika menurutku alasannya cukup masuk akal, aku mungkin akan mulai berpikir untuk menjauhinya. Begitu,” sahut Rhea cepat-cepat menjelaskan maksud pertanyaannya.


Jovan menghela nafas dalam-dalam. Tidak menyangka kalau kedatangan Nania ke rumah ini akan langsung merubah sikap adiknya secara drastis. Agak mengagetkan sih, tapi ini lebih baik daripada melihat Rhea yang merasa tidak terima saat diminta untuk menjauhi Krystal.


“Rhea, kita ambil garis besarnya saja ya. Nanti kau bisa menanyakan keseluruhan ceritanya pada Nania karena dialah yang bermasalah langsung dengan Krystal. Oke?” ucap Jovan meminta pengertian dari adiknya.


“Baiklah,” sahut Rhea patuh.


“Krystal sengaja mendekatimu hanya untuk memanfaatkanmu saja agar dia bisa mengetahui semua hal tentang hubunganku dengan Nania. Selama kalian berteman, aku yakin Krystal menghubungimu pasti hanya untuk menanyakan tentangku saja. Benar tidak?”


Rhea tanpa ragu langsung menjawab iya saat pertanyaan yang kakaknya berikan sangat sesuai dengan fakta yang ada.


“Dia tahu tidak kalau kau sedang di hukum oleh Ayah?” tanya Jovan.


“Krystal tahu. Aku sendiri yang memberitahunya tentang hal ini,” jawab Rhea lesu.


“Apa hari ini dia menanyakan kabarmu?”


“Tidak,”


“Nah, sekarang kau nilailah sendiri apakah yang aku dan Nania katakan itu benar atau tidak. Dan jika menurutmu salah, aku dan Nania tidak akan memintamu untuk menjauhi Krystal lagi. Pikirkanlah!”

__ADS_1


Jovan memilih untuk masuk ke kamarnya dan membiarkan Rhea sendirian di sana. Biarlah. Jovan ingin memberi waktu untuk adiknya merenungi kesalahannya yang telah terbujuk hasutan dan rayuan Krystal. Dan semoga saja Rhea bisa segera menyadarinya. Dengan begitu kesalahpahamannya terhadap Nania bisa terselesaikan.


***


__ADS_2