My Sugar Daddy ( Nania)

My Sugar Daddy ( Nania)
110. Tak Terprovokasi


__ADS_3

Jovan berusaha untuk tidak terpancing emosi saat ayahnya Krystal terkesan mempersulit pekerjaan yang sedang mereka bahas. Dia mencoba berpikir jernih dengan fokus memikirkan Nania yang suka dengan uang. Agak konyol memang. Akan tetapi hanya ini satu-satunya cara yang bisa membuat Jovan tidak terbakar emosi.


"Bagaimana, Jovan? Apa kau keberatan dengan poin yang aku sampaikan?" tanya Kendy bicara dengan nada sinis. Dia sangat berharap kalau anak muda ini akan merasa terprovokasi kemudian mengamuk. Kendy telah bertekad akan menghancurkan kebahagiaan keluarga Ardan setelah kejadian penghinaan waktu itu. Dia tak terima. Jadi menggunakan kesempatan ini untuk menjatuhkan nama baik Jovan dan perusahaannya.


"Tentu saja tidak, Paman Kendy. Kalau Paman merasa itu jauh lebih baik, maka aku akan setuju-setuju saja," jawab Jovan dengan santai.


"Kau yakin tidak ingin mengoreksi apapun? Menyampaikan pendapat mungkin?"


Kendy menyipitkan mata. Agak kaget melihat respon Jovan yang terkesan santai meskipun dia terus berusaha memojokannya.


"Tidak ada. Selama itu tidak mengganggu kontrak yang sudah kita sepakati bersama, aku rasa sudah tidak perlu untukku banyak berkoar ini dan itu. Lagipula siapalah aku ini, Paman. Sangat jauh jika harus di bandingkan dengan jam terbang Paman yang sudah sangat berpengalaman dalam dunia bisnis. Jadi aku setuju saja pada apa yang Paman rencanakan!"


Sial. Kenapa Jovan malah bersikap tenang begini sih. Harusnya dia itu marah, merasa tak terima karena pendapatnya tidak di dengar. Brengsek.


Diam-diam Marcell terus mengawasi perubahan ekpresi di wajah ayahnya Krystal. Sangat licik. Walaupun dia baru melangkah masuk ke dalam pergulatan bisnis, tapi Marcell bisa melihat dengan jelas kalau di balik semua rencana yang Tuan Kendy sampaikan, banyak terselip kecurangan yang tentunya akan sangat merugikan perusahaan Jovan. Tapi karena Marcell tak punya hak untuk ikut menimbrung, dia memutuskan untuk diam dulu dan baru akan membahasnya dengan Jovan setelah mereka pulang nanti.


"Ya sudah kalau begitu. Karena semuanya sudah beres kita akhiri pertemuan sampai di sini saja!" ucap Kendy menyudahi pertemuan dengan hati yang sangat dongkol. Dia lalu mendorong kursi yang di dudukinya dengan kasar sebelum melangkah pergi dari sana.


Saat akan melewati Jovan, langkah Kendy terhenti. Dia kemudian menoleh, menggeretakkan gigi saat mendapati sikap Jovan yang terkesan acuh dan tak menghargai.


"Aku sebenarnya sangat malas jika masih harus terlibat pekerjaan denganmu dan juga dengan ayahmu. Melihat wajah kalian membuat perutku terasa sangat mual. Orang-orang tolol seperti kau dan ayahmu itu sangat tidak pantas menjalin kerjasama denganku. Tahu?" olok Kendy kembali memancing keributan. Sengaja dia bicara dengan suara yang cukup kecil agar klien lain tidak mendengar apa yang dia katakan.


"Begitu pun dengan aku, Paman. Kalau saja proyek ini belum di jalankan, aku akan lebih memilih untuk menarik dana perusahaanku. Jadi jangan Paman kira aku begitu bahagia menjalin hubungan kerjasama dengan orang seperti Paman ya. Tidak seperti itu kalau Paman mau tahu," sahut Jovan seraya menampilkan senyum penuh ejek. Enak saja mengatai dia dan ayahnya sebagai orang tolol. Jadi jangan salahkan Jovan kalau dia balas mengeluarkan kata yang tak kalah menyakitkan hati.


"Dasar sombong. Ingat ya, Jovan. Kau itu masih anak bau kencur yang baru saja menginjakkan kaki di dunia persahaman. Hati-hati, karena sikap sombongmu itu bisa membuatmu terjerumus dalam kehancuran!"


"Oya?" Jovan terkekeh. Dia kemudian bangun dan berdiri berhadap-hadapan dengan ayahnya Krystal. "Bukankah orang yang seharusnya merasa khawatir itu Paman ya? Sangat jelas di sini kalau Pamanlah yang sedang menampilkan sikap arogan dengan mencampuradukkan permasalahan pribadi dengan pekerjaan. Aku tahu Paman kecewa karena aku menolak bertunangan dengan Krystal. Tapi pantaskah untuk Paman berkata seperti itu pada anak dari sahabat Paman sendiri? Tidak Paman, kata itu sangat tidak pantas terucap keluar. Aku bukan takut, aku justru merasa kasihan. Hanya karena kesalah-pahaman kecil Paman sampai mengibarkan bendera permusuhan dengan keluargaku. Tidak malukah?"


Merasa terpojok, Kendy memutuskan untuk tidak lagi bicara dengan Jovan. Dia tak mau jika perhatian para klien sampai menarik kecurigaan sehingga membuat mereka bertanya-tanya. Alhasil, dengan hati yang sangat gondok Kendy menutup percakapannya dengan Jovan. Dia kesal setengah mati.


Sepeninggal ayah Krystal, Jovan kembali duduk kemudian meneguk habis minuman yang tersisa di dalam gelas. Setelah itu dia menatap Marcell yang hanya diam saja sejak tadi.


"Mau kupesankan minuman lagi?" tanya Marcell menawarkan. "Kau terlihat begitu dahaga setelah beradu mulut dengan Tuan Kendy. Tapi jujur, aku salut sekali karena kau berhasil menahan emosi. Pertahankan, Jo!"

__ADS_1


"Sialan kau, Cell!" Jovan mengumpat sambil tertawa. Dia lalu menghela nafas panjang. "Pesankan aku satu minuman yang bisa menyegarkan. Otakku buntu setelah berbicara dengan Paman Kendy!"


"Oke. Aku akan memesankannya untukmu."


Marcell segera melambaikan tangan memanggil waiters kemudian memesan satu minuman untuk Jovan. Setelah itu dia mengajak Jovan bicara tentang kecurangan yang coba dilakukan oleh ayahnya Krystal.


"Jo, bukannya aku berniat memperkeruh hubungan keluargamu dengan keluarga Krystal. Tapi tidakkah kau sadar kalau Tuan Kendy seperti sengaja ingin melakukan kecurangan dalam proyek ini? Di dalam kontrak perjanjian jelas tercatat kalau untung akan di bagi rata dengan semua penanam saham, tapi kenapa Tuan Kendy meminta hal lain lagi? Dan anehnya yang lain langsung setuju-setuju saja tanpa ada yang merasa curiga. Menurutmu ini janggal tidak?"


Pandangan Jovan berubah dalam. Dia tidak bodoh. Jelas Jovan sangat sadar akan kecurangan yang coba dilakukan oleh Paman Kendy. Namun karena dia paham hal tersebut sengaja dilakukan dengan tujuan memprovokasi kemarahannya, Jovan memilih untuk diam.


"Ternyata kau diam-diam menyadari hal ini juga ya. Cerdik juga kau rupanya," puji Jovan merasa puas akan ketelitian Marcell dalam memantau jalannya meeting. Padahal anak ini belum lama bekerja padanya, tapi mampu menyadari celah kecurangan yang coba dilakukan pihak lain. Sangat mengesankan.


"Itulah gunanya ilmu, Jo. Susah payah aku menjadi mahasiswa di bidang bisnis, ya kali aku tidak mempunyai kemampuan apapun. Ya meskipun masih perlu di asah terus," sahut Marcell agak berbunga di puji oleh Jovan.


"Kalau masalah asah-mengsah kau tidak perlu cemas, Cell. Mulai sekarang kemana pun aku pergi, kau wajib mengikuti. Oya, apa kau sudah menyelesaikan skripsimu?"


"Sudah. Aku hanya tinggal menunggu hari wisuda tiba. Setelah itu aku resmi menyandang gelar sebagai seorang sarjana. Hehehe!"


"Baguslah. Dengan begitu kau bisa selalu ada bersamaku. Dan satu lagi. Nanti saat liburan aku ingin mengajakmu pergi jalan-jalan ke pantai. Kau boleh membawa pasangan jika mau!" ucap Jovan menawarkan liburan gratis pada Marcell.


Kira-kira Nania ikut tidak ya? Ah, gadis itu pasti akan seksi sekali jika memakai bikini. Aku jadi tidak sabar ingin segera pergi liburan.


Kedua mata Jovan langsung menyipit penuh curiga saat mendapati Marcell yang sedang tersenyum-senyum sendiri. Fiksss, pria ini pasti sedang memikirkan Nania. Apalagi memangnya.


"Cell, aku tahu apa yang membuatmu bisa tersenyum-senyum seperti itu. Kau pasti sedang membayangkan tubuh seksi Nania, kan? Ayo cepat mengaku!" tuduh Jovan penuh cemburu. Dia mengambil beberapa helai tisu kemudian melemparkannya ke wajah Marcell. "Sialan kau ya. Nania itu kekasihku, jangan coba-coba membayangkannya. Tahu?!"


"Ehehehe, ya maaflah, Jo. Namanya juga pria, mana mungkin tidak memikirkan ke arah sana jika teringat dengan seorang gadis yang mempunyai pesona mematikan. Lagipula siapa suruh kekasihmu begitu menggoda. Akukan jadi merasa tertantang," sahut Marcell tanpa merasa bersalah sama sekali. Dia kemudian tertawa saat Jovan kembali melemparkan tisu ke arahnya.


"Benar-benar brengsek kau ya!"


"Sudah aku bilang ini semua bukan salahku, tapi salah kekasihmu yang begitu menggoda. Tahu?"


Jika biasanya Jovan akan mengamuk, kali ini dia tidak menanggapi celotehan Marcell dengan serius. Toh memang benar kok kalau kesalahan terbesar ada pada Nania. Karena jika gadis itu tidak terlalu mempesona, mustahil ada banyak pria yang tergila-gila padanya. Marcell dan Jovan salah satunya. Jadi ya sudah. Selama Marcell tidak menunjukkan sinyal sebagai penikung, maka Jovan akan menganggapnya sebagai candaan saja.

__ADS_1


"Permisi Tuan-Tuan, boleh aku bergabung dengan kalian?"


Suara lembut seorang wanita membuat tawa Jovan dan Marcell terhenti. Segera keduanya menoleh ke samping, agak terkesiap mendapati seorang wanita dengan pakaian yang sangat luar biasa minim tengah tersenyum sambil menatap penuh goda. Marcell menelan ludah, sedangkan Jovan, dia langsung mengusap tengkuknya yang meremang.


Ya ampun, kuntilanak darimana ini? Bibirnya merah sekali. Apa wanita ini baru saja meminum darah manusia? Menyeramkan. Hiiii.


"Tuan, bolehkah aku ikut bergabung bersama kalian?" tanya si wanita penuh harap.


"Bo ....


"Nona, maaf. Bisakah kau jangan menggangu kebersamaanku dengan kekasihku? Kami sedang bahagia, jadi pergilah cari pria lain saja. Oke?" ucap Jovan langsung memotong perkataan Marcell yang ingin mengizinkan kuntilanak ini bergabung dengan mereka.


"A-apa? Ke-kekasih? Jadi kalian ....


Wanita itu terlihat sangat syok setelah tahu kalau pria yang ingin dia goda ternyata adalah penyuka sesama jeruk. Jijik, tanpa membuang waktu lagi dia segera pergi dari sana sambil menggerutu tidak jelas. Marcell yang kehilangan kesempatan pun merasa sedikit kesal pada Jovan. Terlebih lagi setelah Jovan mengaku kalau mereka adalah sepasang kekasih, membuat sumbu kesabaran di diri Marcell menipis seketika.


"Jadi sekarang kita adalah sepasang kekasih ya?" ejek Marcell sambil melayangkan tatapan kesal. "Tidak kusangka kau lebih suka membiarkan aku mengejar Nania daripada berkenalan dengan wanita seksi tadi, Jo. Hem!"


"Yang benar saja kau, Cell. Tidak lihat ya kalau wanita itu adalah jelmaan kuntilanak? Bibirnya begitu merah membara. Membuatku jadi ketakutan," sahut Jovan tanpa merasa bersalah sama sekali.


"Mana ada kuntilanak berkeliaran di siang bolong begini, Jo."


"Ada Cell, ada. Wanita itu buktinya!"


Hening. Sedetik kemudian Marcell dan Jovan kembali terbahak-bahak menertawakan julukan kuntilanak yang Jovan sematkan untuk wanita yang tadi ingin bergabung dengan mereka.


"Tidak kau tidak Nania. Paling pandai membuat hati orang lain menjadi patah. Kau ini, Jo," ucap Marcell setelah puas tertawa.


"Aku dan Nania adalah satu. Sudah sewajarnya kami memiliki gaya bicara yang hampir serupa. Benar tidak?" sahut Jovan sambil menyeruput minuman yang baru saja di antarkan oleh waiters.


"Ya ya ya, terserah kau sajalah. Yang penting kalian senang!"


Setelah puas berbincang, barulah mereka meninggalkan restoran. Dan saat mereka tak sengaja melewati meja tempat si kuntilanak berada, hampir saja tawa Jovan dan Marcell kembali meledak. Tapi untunglah mereka masih kuat menahannya dan baru tertawa begitu sampai di dalam mobil. Benar-benar tidak ada akhlak mereka berdua ini. Haihhh.

__ADS_1


***


__ADS_2