My Sugar Daddy ( Nania)

My Sugar Daddy ( Nania)
102. Pasang Badan


__ADS_3

Jovan hampir menabrak pejalan kaki saat tengah melajukan mobil menuju rumah sakit. Pikirannya kalut membayangkan keadaan kekasihnya setelah mendengar laporan Marcell tentang Nania yang terpaksa dilarikan ke rumah sakit gara-gara di serang oleh Krystal. Entah apa yang terjadi. Yang jelas Jovan tak bisa fokus menyetir karena Nania yang tak mau menjawab panggilannya.


"Angkat, Nania. Biarkan aku mendengar suaramu supaya lega!" ucap Jovan sambil terus mengemudi. Dia lalu membanting ponselnya ke bawah, emosi sendiri karena lagi-lagi harus mendengar suara operator mengoceh. "Selalu saja seperti ini. Masalah yang kemarin saja masih belum terpecahkan, sekarang malah bertambah satu masalah lagi. Sebenarnya maumu itu apa, Krys. Apa kau sengaja menjadikan wilayah kampus sebagai lokasi untuk menyakiti Nania karena tahu dia tidak di izinkan melakukan kekerasan di sana? Jika benar, maka bersiaplah untuk berurusan denganku. Kau pikir kau itu siapa seenaknya menyakiti gadis yang sangat kucintai. Dasar brengsek!"


Karena menyetir dengan ugal-ugalan, tak butuh waktu lama untuk Jovan sampai di rumah sakit. Dan betapa kagetnya Jovan saat tahu kalau rumah sakit tempat Nania dirawat merupakan rumah sakit tempat Susan dan Tasya berada. Memikirkan kenakalan gadis itu membuat Jovan jadi merasa bodoh sendiri.


"Kenapa aku bisa lupa ya kalau kekasihku bernama Nania. Harusnya aku itu ingat kalau mustahil untuk Nania kalah dari Krystal. Astaga," gumam Jovan menertawakan kebodohannya sendiri. Dia lalu mengusap wajahnya beberapa kali sebelum melangkah masuk ke dalam gedung rumah sakit.


Seperti biasa, Nania adalah Nania yang suka menciptakan drama aneh yang membuat orang geleng kepala. Sesampainya Jovan di dalam, dia langsung disuguhkan pemandangan absurd di mana Kak Lusi tengah memarahi seorang gadis cantik yang duduk di atas kursi roda. Kekasihnya, Nania, tampak mengerucutkan bibir sambil memegangi hidungnya yang terpasang perban. Lucu, membuat Jovan sedikit ingin melemparkannya ke dalam jurang. Membuat orang panik saja. Huh.


"Hanya masalah sepele begini untuk apa kau membuat pengumuman seperti itu di dalam grup? Mau membuat Kakak mati jantungan apa bagaimana, Nania?" omel Lusi sambil mengelus dada. Tadi dia sedang menyelesaikan pesanan baju di butik saat Nania mengirim pesan di grup chat keluarga yang berisi foto kalau dirinya tengah di tangani dokter. Sebagai seorang kakak yang sangat menyayangi adiknya, sontak kabar tersebut membuat Lusi kalang kabut sendiri. Tak mengindahkan pesanan yang sudah hampir jadi, dia langsung meluncur ke rumah sakit guna melihat keadaan adiknya. Tapi apa yang terjadi? Gadis yang baru saja membuat huru hara tengah duduk santai di sebuah kursi roda sambil menikmati cemilan. Sangat membagongkan sekali, bukan? Itulah kenapa sekarang Lusi sangat marah sekali. Dia merasa ditipu oleh gadis nakal ini.


"Kak, Kakak tahu sendirikan kalau setiap jengkal tubuhku merupakan aset yang sangat luar biasa berharga?" tanya Nania seraya memasang wajah badmood. "Lihat, ujung hidungku lecet gara-gara ulahnya Krystal. Jadi sudah sewajarnya aku membagi musibah ini agar semua orang rumah tahu kalau aku sedang tidak baik-baik saja. Begitu,"


"Tapi tidak begini juga caranya, Nania. Astaga!"


"Lalu? Apa yang harus aku lakukan dengan keadaanku yang hampir cacat ini? Diam membiarkan lukanya membusuk sehingga aku jadi terlihat jelek seperti nenek sihir? Begitu?"


Nania mencebikkan bibir. Dia lalu menatap ke arah lain, dan baru menyadari kalau sejak tadi sugar daddynya ada di sana. Membuang semua cemilan yang sedang dinikmatinya, Nania langsung merentangkan tangan pada Jovan. Dia butuh pelukan.

__ADS_1


"Kenapa, hem? Sedang sedih ya sehingga bersikap manja begini?" tanya Jovan sesaat setelah sampai di hadapan Nania. Dia kemudian memeluknya sembari melayangkan tatapan memohon pada Kak Lusi. "Kak, tolong jangan memarahi Nania-ku. Dia begini karena ada yang menyerangnya. Tolong jangan marah lagi. Oke?"


"Haihh, Kakak rasa kau sudah terlalu memanjakan gadis ini, Jovan. Kurang-kurangilah sedikit," sahut Lusi seraya menggelengkan kepala melihat kebucinan dua anak manusia ini. Pawangnya sudah datang, jadi sudah tidak ada celah untuk bisa memarahi adiknya lagi.


"Memanjakan gadis yang sangat kucintai apakah hal yang salah, Kak?" tanya Jovan sambil mengelus rambut panjang Nania. Apapun yang terjadi tidak ada orang yang boleh memarahi ataupun menyakiti kekasihnya ini. Jovan tak bisa menerima.


"Benar apa kata Jovan, Kak Lusi. Apa salahnya memanjakan kekasih sendiri. Iyakan, Jo?" imbuh Nania merasa menang atas pembelaan sugar daddynya.


"Tidak ada yang salah. Hanya saja tidak semua hal harus selalu dimanjakan. Kakak tahu kau sangat menyayangi Nania, terima kasih untuk hal ini. Akan tetapi kau juga harus bisa memposisikan dirimu untuk menegurnya ketika berbuat salah. Bukan malah pasang badan dengan terus membelanya. Kau sadar tidak kalau perbuatanmu itu bisa membuat gadis ini besar kepala?"


Lusi menghela nafas. Sepertinya sia-sia saja dia menasehati kedua orang ini karena sekarang mereka malah sibuk saling melempar godaan. Melihat kelakuan Jovan yang begitu menggilai Nania membuat Lusi jadi teringat dengan kelakuan Gleen dulu. Kurang lebih sikap kedua pria ini hampir sama. Sama-sama gila dan tidak menganggap keberadaan orang di sekeliling mereka. Seperti sekarang ini. Bukannya mendengar nasehat, yang ada Jovan dan Nania malah sibuk sendiri. Ya sudahlah, Lusi tak mau ambil pusing lagi untuk masalah ini. Yang penting adiknya baik-baik saja. Itu sudah lebih dari cukup.


"Bukan kabur, tapi mau kembali ke butik untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda gara-gara ulahmu. Sudah sana, selesaikan keromantisan kalian sampai puas. Kakak pulang dulu," jawab Lusi berpamitan. Dia lalu melambaikan tangan saat akan berlalu pergi dari sana.


Sepeninggal sang kakak, Nania langsung mendongak menatap wajah Jovan sambil menunjuk ujung hidungnya yang terbungkus perban. Dia hendak mengadu.


"Jangan khawatir. Nanti aku akan mendatangi Krystal untuk menegurnya. Dia sudah sangat kelewatan kali ini!" ucap Jovan tanggap sebelum Nania mengucapkan sesuatu. Dielusnya pelan perban tersebut kemudian dikecupnya. "Mau aku carikan dokter kulit terbaik yang bisa membantu menyembuhkan lukamu lebih cepat atau tidak? Aku tidak suka melihatmu sedih begini. Hatiku ikut merasa sakit!"


"Tidak usah, Jo. Aku sudah punya dokter langganan sendiri yang siap melakukan apapun untukku. Dan kau juga tidak perlu mencemaskan soal biaya. Aku sudah memutuskan untuk memeras Kak Fedo sebelum pria itu kembali ke Jepang. Jadi di insiden kali ini rekeningmu aman," jawab Nania menahan lonjakan hati yang membuncah melihat bagaimana Jovan yang begitu perhatian. Hatinya meleleh seketika.

__ADS_1


"Kenapa harus Kak Fedo? Aku kekasihmu, Nania. Tolong jangan meminta dari pria lain. Aku masih sanggup kok membayar semua biaya perawatan kecantikanmu!" protes Jovan agak tak terima karena Nania lebih mengandalkan pria lain alih-alih memeras uang miliknya.


"Bukan itu masalahnya, sayang."


Sebelah alis Jovan terangkat ke atas saat Nania memanggilnya sayang dengan suara yang sangat lembut. Mendadak jiwa Jovan seperti berpindah ke dimensi lain di mana kini dia tengah berada di sebuah kotak transparan yang ada banyak sekali kupu-kupu di sana. Seperti biasa, Nania paling pandai menjungkirbalikkan perasaan sehingga membuatnya jadi senyum-senyum sendiri.


"Hehehe, kau kenapa, Jo? Tersipu ya karena aku memanggilmu dengan sebutan sayang?" ledek Nania sambil menoel deretan roti sobek di balik kemeja cream yang di pakai sugar daddynya. Dia lalu tertawa saat Jovan menganggukkan kepala. Jujur sekali pria ini. Membuatnya jadi ingin menggodanya lagi. Hehehe.


"Kau kenapa manis sekali sih, Nania. Akukan jadi malu," ucap Jovan sambil meng*lum senyum.


"Mau yang lebih manis lagi tidak?"


"Apa itu?"


"Dekatkan wajahmu. Aku akan membisikannya,"


Tanpa membuang waktu lagi Jovan segera mendekat ke depan wajah Nania. Dan sedetik kemudian dia tiba-tiba berbalik menghadap ke belakang sambil menutup wajahnya yang memerah. Lagi, Jovan seperti hilang kewarasan setelah Nania membisikan kata yang membuat pikirannya jadi travelling kemana-mana. Hahaha.


Apa aku ajak Nania kawin lari saja ya? Aaaa, aku benar-benar bisa gila kalau tidak bisa segera memilikinya. Astaga, Nania. Bagaimana bisa Tuhan menciptakan seorang gadis yang sangat menggemaskan sepertimu? Ya ampun ....

__ADS_1


***


__ADS_2