
📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI WRITER SEASON 8. OKE? 💜💜💜
***
Nania dengan sabar mengelus-elus punggung Jovan yang baru saja bercerita tentang pertengkarannya dengan Rhea. Dia kasihan, tapi juga kesal. Namun karena suasana hatinya Jovan sedang tidak baik, Nania berusaha menahan diri untuk tidak mengatakan apapun dulu. Baru nanti setelah Jovan tenang, dia akan meluapkan kekesalannya.
"Aku tidak mengerti kenapa Rhea masih tidak mau percaya kalau dia itu hanya sedang dimanfaatkan saja oleh Krystal. Oke aku paham kalau hubungan pertemanan mereka cukup baik, tapi kan tidak harus sampai sebodoh ini juga sampai tidak menyadari kalau Krystal sangatlah licik. Rhea bukan anak-anak lagi, tapi dengan bodohnya dia di perdaya oleh seseorang yang berusia jauh lebih muda darinya. Tidakkah ini sangat memalukan, Nania?" tanya Jovan seraya menghela nafas. Kekesalannya masih belum hilang juga meski kini dia telah bersama kekasihnya tercinta.
"Ya kau benar. Sikapnya Rhea benar-benar sangat memalukan," jawab Nania membenarkan.
"Kalau kau yang ada di posisiku apa yang akan kau lakukan padanya, Nania?"
Raut wajah Nania langsung berubah begitu Jovan menanyakan tentang reaksi seperti apa yang akan dia tunjukkan dalam menghadapi kebodohan Rhea. Dia yang memang sudah menahannya sejak tadi tanpa pikir panjang segera meluapkan kekesalannya.
"Jovan, kalau aku jadi kau aku tidak hanya akan mencengkeram tangan Rhea, tapi aku akan langsung membantingnya ke lantai. Percuma. Bicara dengan manusia yang otaknya pas-pasan hanya akan membuat kita kesal. Jadi lebih baik kita langsung memberinya efek jera saja!" jawab Nania dengan penuh semangat. Dia kemudian menyeringai saat membayangkan Rhea yang sedang kesakitan sambil menggeliat di lantai. Sangat seru.
Mendengar jawaban Nania yang begitu bar-bar membuat Jovan menelan ludah. Dia lupa kalau kekasihnya ini adalah jenis manusia yang tidak terlalu suka banyak bicara, tapi lebih menyukai tindakan. Setelah itu Jovan menoleh, dan tengkuknya langsung meremang melihat senyum aneh di bibir Nania.
Kenapa senyum Nania mengerikan sekali ya? Aku jadi takut mencari masalah dengannya, batin Jovan.
"Oh ya, Jo. Tadi siang kau bilang di kantor ada kejadian yang sangat seru. Apa itu?" tanya Nania mengubah pembicaraan. Dia sudah tidak tertarik membayangkan sedang berduel bersama Rhea di atas ring tinju. Membosankan.
"Krystal," jawab Jovan. Dia lalu meng*lum senyum saat terkenang dengan ekpresi malu di wajah Krystal saat akan keluar dari dalam ruangannya.
"Krystal?" Nania membeo. Dia mengerutkan keningnya karena merasa penasaran. "Memangnya apa yang dilakukan Krystal di kantor? Apa dia menggodamu dengan pakaian seksi?"
"Ya, kau benar sekali, sayang,"
__ADS_1
"Oh begitu. Dan kau tergoda melihat keseksiannya yang tidak seberapa itu, hm?"
Radar cemburu langsung muncul dalam dunia imajinasi Nania begitu dia mendengar kalau Krystal telah menggangu keamanan sugar daddy-nya. Untung saja sekarang Krystal tidak ada di sini. Kalau ada, Nania berniat mengajaknya battle untuk melihat siapa di antara mereka yang paling seksi. Beraninya mencari gara-gara seperti ini. Huhh.
"Sayang, meskipun Tuhan menurunkan ratusan bidadari dari kayangan, aku itu hanya akan terpesona padamu seorang. Krystal? Heh. Tadi siang dia dengan tidak tahu malunya memakai rok yang sangat pendek dan sengaja membuka beberapa kancing kemejanya saat masuk ke dalam ruanganku. Mungkin dia berpikir kalau aku akan tergoda melihatnya muncul dengan penampilan seperti itu, tapi dia salah membuat rencana. Kalau saja tak ingat dia adalah anaknya Paman Kendy, aku mungkin sudah memanggil pihak keamanan kemudian meminta mereka untuk menyeretnya keluar dari kantor. Penampilan Krystal tadi benar-benar sangat menjijikkan, Nania. Bulu kudukku sampai berdiri semua gara-gara dia. Sungguh!" ucap Jovan menjelaskan kalau dia sama sekali tidak tergoda pada Krystal.
"Apa kau begitu membenci penampilan seksinya?" tanya Nania menyelidik.
"Tentu saja. Aku sangat membencinya," jawab Jovan tanpa ragu.
Setelah mendengar jawaban Jovan Nania langsung berdiri. Dia lalu berpose bak model papan atas tepat di hadapan Jovan, yang mana hal itu membuat Jovan sampai terbengang seperti orang bodoh.
"Sekarang jawab dengan jujur. Aku tidak bisa jika tidak berpenampilan seksi, lalu apa kau akan membenciku juga, Jovan?"
Nania memutar bola matanya jengah saat Jovan tak merespon pertanyaannya. Tapi wajar sih, mungkin sekarang pikiran Jovan sedang melayang kemana-mana. Nania yang kala itu memakai dress pendek yang juga sangat ketat sudah pasti mendatangkan fantasi yang cukup liar apalagi kulit pahanya yang putih mulus tepat berada di depan wajahnya Jovan. Jadi sudah pasti kalau pikiran Jovan tidak ada di tempat. Jangankan Jovan, semua pria juga akan bereaksi sama sepertinya setiap kali Nania muncul dengan memperlihatkan keseksian tubuhnya. Biasalah.
Jovan langsung tersadar begitu mendengar ancaman dari Nania. Setelah itu dia mengedarkan pandangan, memastikan apakah di sana ada pria lain yang menikmati keseksian kekasihnya ini atau tidak.
"Jovan, jawab!" desak Nania lagi.
"Sayang, dengarkan aku baik-baik ya!" ucap Jovan kemudian berdiri. Dia lalu melanjutkan perkataannya sambil memeluk pinggang ramping Nania. "Mau seperti apapun penampilanmu, kau tetap yang terbaik di mataku. Aku malah suka kalau kau memakai pakaian seksi seperti ini, sungguh. Karena itu membuatku jadi semakin bersemangat untuk segera menikahimu. Kau yang paling cantik, Nania. Dan bentuk tubuhmu adalah yang paling seksi dari semua bentuk tubuh para gadis yang pernah ku temui!"
"Heii, pandai sekali kau membual. Belajar dari mana?" tanya Nania tersipu. Dia lalu memukul pelan dadanya Jovan, merasa senang setelah di puji seperti itu olehnya.
"Aku tidak sedang membual, sayang. Kecantikan dan keseksianmu berada dalam porsi yang sempurna. Dan itu membuatku gila," jawab Jovan setengah berbisik. Dia kemudian mengecup kilat bibir Nania, berusaha menahan getaran aneh yang muncul dari dalam tubuhnya. "Sayang, ingat ya. Semua yang ada di tubuhmu adalah milikku. Jadi tolong jagalah mereka dengan baik sampai waktunya tiba untuk aku memiliki mereka. Oke?"
"Em boleh-boleh saja. Akan tetapi kau tahu bukan kalau biaya perawatanku itu sangat mahal?" sahut Nania sembari membuat gerakan melingkar di leher Jovan. Dia lalu mengedipkan mata saat Jovan tersenyum. "Besok adalah jadwalku untuk melakukan perawatan tubuh. Jadi kapan aku bisa mulai menikmati kekayaan milik sugar daddy-ku ini, hm? Aku penasaran apakah uangmu semanis yang aku bayangkan atau tidak!"
__ADS_1
"Kalau masalah itu kau tidak perlu cemas, Nania. Karena aku sudah mempersiapkannya jauh sebelum aku pulang ke negara ini," jawab Jovan. Dia lalu mengambil dompetnya, kemudian menarik satu kartu dari sana. "Untukmu, sayang. Kau bebas menggunakannya semaumu. Nah, simpanlah!"
Nania menyambut dengan penuh suka cita kartu pemberian Jovan. Dia kemudian mencium kartu tersebut sebelum akhirnya dia simpan di dalam dompetnya. Setelah itu Nania mengalungkan tangan ke leher Jovan, menatap penuh cinta pada pria yang begitu peka terhadap apa yang dia mau.
"Kenapa, hm?" tanya Jovan gemas melihat cara Nania menatapnya.
"Haruskah aku memberimu hadiah sebagai ucapan rasa terima kasih dariku?" tanya Nania dengan gaya menggoda.
"Itu yang aku tunggu, sayang," jawab Jovan pelan.
"Owh, kau terlalu jujur, Jovan,"
Dan ya, kalian pasti tahulah apa yang terjadi selanjutnya. Jovan dan Nania saling bercumbu dengan hangat. Walaupun sekarang mereka sama-sama sedang jatuh cinta, tapi mereka masih cukup sadar untuk mengendalikan keinginan di diri masing-masing. Dan untungnya Jovan memesan ruangan VIP, jadi mereka tidak perlu merasa khawatir akan ada yang melihat kemesraan mereka. Hehe.
"Upsss sorry. Lipstikku sedikit menempel di bibirmu," ucap Nania kemudian mengambil tisu untuk mengelap bibirnya Jovan.
"Kalau begitu lain kali pilihlah lokasi yang orang lain tidak bisa melihat peninggalan lipstikmu, sayang" ledek Jovan.
"Baiklah. Kau atur saja di bagian mananya," sahut Nania balas menanggapi ledekan Jovan.
"Haaahhh, lama-lama aku bisa gila, Nania. Kenapa sih kau bisa begitu menggemaskan, hm?"
"Karena aku adalah milikmu,"
"Ah, kau benar. Kau milikku, karena itulah kau bisa semenggemaskan ini. Benar tidak?"
"Hoho, tentu saja. Nania," ....
__ADS_1
*******