
📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI WRITER SEASON 8. OKE? 💜💜💜
Karena merasa jenuh di rumah, Rhea memutuskan untuk menghubungi Krystal. Dia sedang butuh teman bicara setelah apa yang terjadi antara dia dengan kakaknya.
"Halo, Krys. Kau di mana sekarang?" tanya Rhea begitu Krystal menjawab panggilannya. Dia lalu merebahkan tubuhnya ke atas ranjang, menatap langit-langit kamar yang entah kenapa terlihat sangat membosankan. Rhea jenuh.
"Aku sedang pergi berbelanja dengan teman-temanku, Rhe. Ada apa?" jawab Krystal dari dalam telepon.
Rhea menghela nafas.
"Ya sudahlah kalau sedang sibuk, kapan-kapan saja aku baru menceritakan masalah ini padamu. Aku tidak ingin mengganggu waktumu dengan teman-temanmu itu, Krys!" ucap Rhea sedikit cetus. Dia kesal sendiri setelah tahu kalau Krystal sedang sibuk dengan teman-temannya. "Aku matikan dulu panggilannya ya?"
"Eh eh, tunggu dulu. Kenapa buru-buru sekali sih, Rhe!" teriak Krystal mencegah Rhea agar jangan memutuskan panggilan mereka. "Em begini saja. Bagaimana kalau sekarang kau datang ke sini dan ikut berbelanja bersama kami, Rhe. Daripada kau sendirian di rumah, kan lebih baik pergi bersenang-senang dengan kami di sini. Iya 'kan?"
"Apa tidak akan menggangu waktu kalian jika aku ikut bergabung?" tanya Rhea antara ingin pergi, tapi merasa sungkan. Jujur, Rhea sebenarnya sangat antusias sekali mendengar tawaran Krystal. Dia juga ingin menghabiskan waktunya di luar rumah seperti gadis-gadis yang lain.
"Tidaklah. Ya sudah, sekarang kau pergilah bersiap. Aku tunggu ya?"
Walaupun tak terlihat, Rhea tetap menganggukkan kepalanya. Dia kemudian bergegas bertukar pakaian setelah Krystal memberitahu alamat mall tempatnya berbelanja melalui pesan. Rhea yang memang sangat jarang sekali keluar rumah terlihat begitu bahagia saat merias wajahnya. Dan mungkin ini akan menjadi kali pertama dalam hidup seorang Rhea pergi berbelanja bersama banyak orang yang tidak semua dia kenal. Kampungan sekali bukan? Mau bagaimana lagi. Selama ini Rhea tidak memiliki satupun teman dekat, jadi dia tidak pernah merasakan seperti apa rasanya pergi jalan-jalan bersama.
__ADS_1
"Oke, sekarang sudah siap. Waktunya berangkat!" ucap Rhea kemudian mengambil tas dan juga ponselnya lalu keluar dari dalam kamar.
Sambil menuruni anak tangga, Rhea tak henti-hentinya tersenyum. Padahal dia itu bukan ingin pergi berkencan, tapi hatinya sangatlah senang. Ternyata seperti ini ya rasanya memiliki seorang teman dekat. Rhea sungguh beruntung bisa mengenal gadis sebaik Krystal.
"Rhea, kau mau kemana sayang?" tanya Silvi sambil menatap heran ke arah putrinya yang sudah berpenampilan rapi.
Ardan menatap sekilas ke arah putrinya kemudian kembali fokus pada film yang sedang dia tonton. Dia masih kesal akan sikap Rhea yang telah lancang meminta Jovan agar memutuskan hubungan dengan Nania.
"Krystal mengajakku pergi berbelanja, Bu," jawab Rhea tak mengindahkan sikap acuh sang ayah. Masa bodo.
"Malam-malam begini?" kaget Silvi. "Rhea, selama ini kau itu kan jarang sekali keluar rumah. Apa tidak apa-apa kau menuruti ajakan Krystal? Kakakmu bilang dia itu ....
"Tapi Rhe, dia ....
"Silvi, sudahlah. Biarkan saja Rhea melakukan apa yang dia inginkan. Toh kita semua sudah mengingatkan kalau Krystal itu memiliki tujuan yang tidak baik terhadapnya. Masalah dia akan percaya atau tidak itu bukan urusan kita lagi. Terserah, kau hanya akan membuang waktu saja bicara dengan gadis keras kepala seperti dia. Percuma!" ucap Ardan ikut menimbrung percakapan antara istri dan anaknya.
"Ayah, apa maksud Ayah bicara seperti itu? Krystal itu bukan orang lain, dia anaknya Paman Kendy, teman lama Ayah. Kenapa Ayah tega beranggapan seperti itu terhadap anak dari teman Ayah sendiri. Krystal tidak salah apa-apa, Ayah. Yang salah itu Nania, dia yang telah menghasut kalian semua agar membenci Krystal. Tolong sadarlah!" sahut Rhea tak habis pikir akan sikap sang ayah yang masih saja tak percaya kalau Krystal itu adalah gadis yang baik.
"Rhea, kau membenci Nania tanpa sebab yang jelas. Sekarang Ayah tanya, kau itu sebenarnya tahu tidak siapa Nania, ha? Kau sadar tidak kalau Nania itu seribu kali lebih berharga daripada Krystal. Dan yang paling penting kakakmu menyukainya. Sangat amat menyukai Nania sejak kakakmu masih SMA. Tahu kau?!" sentak Ardan mulai terpancing emosi melihat putrinya yang begitu keras kepala.
__ADS_1
Rhea terdiam. Dia tentu masih ingat dengan gadis galak yang dulu pernah menghajar kakaknya ketika dilarikan ke rumah sakit gara-gara overdosis obat. Namun karena rasa benci di hatinya sudah terlanjur membuncah, kenyataan itu seolah menutup mata Rhea dengan tidak mengizinkan hatinya bersimpatik terhadap kebaikan yang telah Nania lakukan. Dulu ya dulu, sekarang ya sekarang. Dan poin pentingnya, Rhea tahu kalau Nania mendekati kakaknya hanya untuk menyincar uang kakaknya saja. Gadis tidak tahu diri itu hanya ingin menumpang hidup enak, tidak lebih.
"Kenapa diam, hah. Masih belum mau mengakui juga kalau Nania itu bukan gadis seperti yang kau pikirkan. Iya?" tanya Ardan sambil menatap tajam ke arah putrinya yang diam tak berkata-kata.
"Apapun yang Ayah katakan aku akan tetap menganggap Nania sebagai parasit di dalam hidupnya Kak Jovan. Dan aku akan terus berusaha untuk memisahkan mereka berdua. Aku tidak rela kakakku menjalin hubungan dengan gadis yang mata duitan seperti Nania. Aku tidak akan rela!" jawab Rhea tanpa merasa takut sedikit pun melihat tatapan tajam sang ayah.
"Ar, Rhea, sudahlah. Jangan di teruskan lagi. Aku tidak suka melihat kalian berdebat seperti ini. Ya?" bujuk Silvi mencoba untuk melerai adu mulut yang sedang terjadi antara suami dan putrinya.
"Bu, aku pergi dulu!" sahut Rhea kemudian berlalu pergi dari hadapan kedua orangtuanya. Moodnya rusak, dia benar-benar muak melihat sikap sang ayah yang masih saja membela Nania. Padahal sudah sangat jelas kalau Nania itu hanya menginginkan uang kakaknya saja, tapi kenapa keluarganya masih tidak menyadari hal itu juga. Heran.
Awas saja kau, Nania. Walaupun Kak Jovan dan kedua orangtuaku selalu mati-matian membelamu, aku tidak akan pernah mundur untuk membongkar kebusukanmu. Cepat atau lambat mereka pasti akan segera tahu kalau kau itu sangat tidak layak untuk menjadi pasangan kakakku yang sempurna itu. Heh, geram Rhea dalam hati.
Sepeninggal Rhea, Ardan dan Silvi saling diam. Jika diamnya Ardan di sebabkan karena dia yang kesal menghadapi sikap Rhea, lain halnya dengan yang dirasakan oleh Silvi. Sebagai seorang Ibu, Silvi jelas tahu kalau Krystal adalah satu-satunya teman yang dimiliki oleh putrinya. Jadi dia bisa maklum melihat Rhea yang tidak terima saat teman yang dia miliki di anggap sebagai gadis yang jahat. Namun, di sisi lain Silvi juga tidak bisa mengabaikan perkataan Jovan yang menyebut kalau Krystal mendekati Rhea hanya karena ingin memanfaatkannya saja. Jujur, dia khawatir.
"Ar, apa mungkin Krystal akan setega itu pada Rhea?" tanya Silvi resah.
"Aku tidak tahu, sayang. Tapi yang jelas, jika Rhea sampai kenapa-napa aku tidak akan segan untuk membuat perhitungan dengan Kendy," jawab Ardan tegas. Dia kemudian memeluk Silvi yang terlihat gelisah di sampingnya. "Jangan khawatir. Kita berdoa saja semoga apa yang di katakan oleh Jovan dan Nania tidak menjadi kenyataan. Oke?"
Dalam kekalutannya, Silvi hanya bisa mengangguk pasrah. Posisinya sekarang sungguh sangat serba salah. Kedua anaknya mempunyai prinsip tersendiri yang masing-masing tidak ada yang mau mengalah. Dan sebagai orangtua tentu saja Silvi harus bersikap adil dengan tidak memihak salah satu dari mereka. Tapi ....
__ADS_1
***