My Sugar Daddy ( Nania)

My Sugar Daddy ( Nania)
66. Stok Pria Tampan


__ADS_3

📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI YOU ARE A WRITER SEASON 8. OKE 💜💜💜


***


Seperti biasa, Nania beserta Susan dan Tasya langsung pergi ke kantin begitu kelas mereka berakhir. Dan kedatangan mereka kesana menarik perhatian para mahasiswa yang sudah lebih dulu datang sebelum mereka. Sambil berjalan menuju salah satu meja yang kosong, Nania mengedipkan mata pada seorang mahasiswa laki-laki yang tengah menatapnya tak berkedip. Nania kemudian tertawa saat wajah mahasiswa tersebut berubah menjadi merah padam setelah di goda olehnya.


“Hahahahaha, imut sekali dia,” ujar Nania menertawakan mahasiswa yang baru saja di godanya.


“Ck, kau ini semakin menjadi-jadi saja sih, Nania. Kalau sampai kelakuanmu tadi membuat anak orang terkena serangan jantung bagaimana?” omel Tasya. Dia sampai menggelengkan kepala melihat ulah sahabatnya yang kecentilan ini.


“Lho, memangnya apa yang sudah kulakukan sampai dia harus mati karena serangan jantung, Sya? Kau ini,”


Nania mendudukkan bokongnya ke kursi lalu melambaikan tangan pada pelayan kantin. Sambil memainkan rambutnya, Nania mulai memesan makanan untuk mengisi perutnya yang sudah keroncongan sejak tadi. Susan dan Tasya pun tak mau kalah dari Nania. Mereka berdua berebut menyebutkan makanan apa saja yang akan di pesan.


“Kalian ini bisa tidak sih bersikap elegan sedikit. Seperti tidak pernah makan saja. Heran!” tegur Nania sambil menatap jengkel ke arah Susan dan Tasya.


“Nania, untuk urusan perut kami tidak mengenal kata elegan. Akan tetapi jika menyangkut pria tampan, baru kami akan bersikap seperti putri kerajaan yang anggun dan berpendidikan. Benar tidak, Sya?” sahut Susan sambil menyenggol lengan Tasya.


“Aku ikut apa katamu sajalah. Yang penting perutku kenyang,” jawab Tasya sekenanya.


Susan langsung menggerutu mendengar jawaban Tasya. Setelah itu pandangannya teralih pada Marcell yang baru saja datang ke kantin bersama dengan teman-temannya. Ingat kalau Nania memiliki janji untuk mengajak Marcell makan malam bersama, Susan pun segera menanyakan apakah Nania sudah memenuhi janjinya atau belum.


“Nania, kau ingat tidak kalau kau itu sudah berjanji akan mengajak Marcell makan malam? Jangan coba-coba mangkir kau ya. Ingat, janji adalah hutang dan hutang harus di bayar. Tahu kau?!”

__ADS_1


“Hei, cepat ralat ucapanmu. Sembarangan saja kau menuduhku mangkir dari janji yang kubuat sendiri. Kau pikir aku ini apa hah?” omel Nania tak terima di sindir seperti itu oleh Susan. Dia tentu sangat ingat akan janjinya kepada Marcell. Bahkan Nania juga sudah minta izin pada Jovan untuk makan malam bersama anak itu. Sembarangan.


“Ya siapa tahu kau lupa. Akukan hanya mengingatkan saja,” sahut Susan dengan santainya.


“Mengingatkan ya mengingatkan, tapi tidak dengan cara menuduhku seperti tadi juga, Susan. Bagaimana sih!”


“Baiklah-baiklah, aku minta maaf.”


Nania mendengus kesal. Dia kemudian menoleh saat Susan memintanya untuk melihat ke sebuah meja di mana ada Marcell yang sedang mengobrol dengan teman-temannya di sana. Paham akan maksud Susan, Nania pun memutuskan untuk langsung menghampiri Marcell.


“Ekhmmm, hai Marcell. Boleh minta waktumu sebentar tidak? Aku ingin bicara,” tanya Nania seraya memasang senyum manis di bibirnya. Dia kemudian mengelus pundak Marcell saat anak ini malah terbengang menatapnya. “Cell, boleh tidak?”


“Boleh. Tentu saja sangat boleh, Nania,” sahut Marcell terbata. Dia kemudian bergeser, mengelap kursi sampai bersih sebelum mempersilahkan Nania untuk duduk. “Nah, duduklah. Betis indahmu bisa membengkak kalau berdiri terlalu lama.”


“Wahhh, ternyata kau perhatian sekali ya. Terima kasih banyak, Marcell.”


Marcell yang tidak menyangka akan di datangi oleh Nania sama sekali tak bisa menyembunyikan raut bahagianya. Dia terus saja melirik ke samping, berdecak kagum dalam hati memuji maha karya Tuhan yang sangat luar biasa indah ini. Sungguh, ingin rasanya Marcell menyatakan perasaannya pada Nania sekarang juga. Dia seperti sudah tidak sanggup menahan ledakan rasa yang di pendamnya saat mereka duduk bersebelahan seperti ini.


“Oya Cell. Karena kemarin kau telah membantuku, malam ini aku berniat mengajakmu pergi makan malam bersama. Kira-kira kau punya waktu tidak?” tanya Nania. Dia bukan tidak tahu kalau sejak tadi Marcell terus meliriknya. Nania hanya pura-pura tidak menyadarinya saja karena tak ingin membuat Marcell malu di hadapan teman-temannya. Kasihan. Walaupun tidak kaya dan tidak setampan Jovan, tapi setidaknya Marcell pernah berbuat baik pada Nania. Jadi Nania memilih untuk membiarkan Marcell meliriknya sampai puas.


“A-apa, Nania? Kau ingin mengajakku makan malam?” beo Marcell tak percaya.


Ini … ini aku tidak sedang bermimpi ‘kan? Nania mengajakku makan malam, ini sungguhan atau hanya halusinasiku saja? Ya Tuhan Ya Tuhan, tanganku langsung tremor. Bagaimana ini? Jerit Marcell dalam hati.

__ADS_1


“Iya. Kan kemarin aku sudah berjanji padamu, Cell. Kau lupa ya?” sahut Nania menatap marcel sambil bertopang dagu. Dan hal ini membuat teman-teman Marcell bersorak heboh karena cara Nania menatap Marcell terlihat seperti seorang dewi yang sedang merengek pada kekasihnya.


Marcell yang mendengar sorakan tersebut menjadi salah tingkah sendiri. Sekujur tubuhnya jadi terasa panas dingin saking senangnya dia di teriaki sebagai kekasihnya Nania. Dengan raut wajah yang begitu berbinar, Marcell pun menyatakan kesediaannya untuk makan malam bersama bunga kampus ini. “Tidak kok, aku tidak lupa. Aku hanya tidak percaya saja kau benar-benar akan menepati janjimu. Terima kasih banyak ya. Dengan senang hati aku menerima tawaran darimu!”


“Baiklah. Nanti malam jam setengah tujuh kau harus sudah sampai di rumahku. Dan untuk tempatnya kau saja yang pilih. Jangan lupa untuk berdandan serapi mungkin karena aku ingin makan malam kita meninggalkan kesan yang mendalam di hidupmu. Oke?” ucap Nania sambil mencolek dagunya Marcell. Setelah itu dia kembali menuju meja tempat Susan dan Tasya berada.


Sepeninggal Nania, Marcell langsung di goda habis-habisan oleh semua temannya. Mereka menyatakan betapa irinya mereka akan nasib baik yang di terima oleh Marcell. Sedangkan Nania, dia acuh-acuh saja saat Susan memprotes perlakuannya terhadap Marcell yang terkesan memberi harapan.


“Kalau Marcell sampai berharap lebih padamu bagaimana, Nania. Kau itukan sudah punya Jovan, janganlah bersikap berlebihan pada pria lain,” ucap Susan sambil mengaduk minuman di dalam gelas.


“Berlebihan apanya sih. Aku hanya duduk di sebelah Marcell dan mencolek dagunya. Apanya yang berlebihan? Lagipula aku melakukan itu semua di hadapan banyak orang kok, harusnya sih Marcell tidak menganggap serius hal itu,” sahut Nania mulai kesal karena Susan tak berhenti memprotes sikapnya. Tersadar akan sesuatu hal, Nania langsung menyipitkan mata memperhatikan Susan dengan seksama. Dia curiga.


“Ck, apalagi sekarang?” tanya Susan seraya menghela nafas panjang.


“Jangan bilang kau berniat merebut Jovan dariku, San. Makanya kau sengaja mengompor-ngompori aku agar aku semakin memberi harapan pada Marcell. Iya ‘kan?” tuduh Nania dengan sengitnya.


Tasya langsung tersedak mendengar perkataan Nania. Setelah itu dia menatap Susan, memastikan apakah tuduhan Nania benar atau tidak. “Susan, benar kau mengincar Jovan?”


“Kalaupun benar aku mengincar Jovan, memangnya Jovan akan bersedia menjadi kekasihku? Tidak ‘kan?” jawab Susan berusaha sabar menghadapi tuduhan dari kedua sahabatnya. “Dan kau, Nania. Aku memperingatkanmu seperti tadi bukan karena aku ingin merebut sugar daddy-mu, tapi aku hanya ingin mengingatkanmu agar jangan menebar pesona pada mereka lagi. Biarlah sisa pria tampan di kampus ini menjadi bagianku dan Tasya, kau cukup Jovan saja. Paham tidak?’


“Ooohh, begitu. Kenapa tidak bilang langsung kalau kau takut aku menghabiskan stok pria tampan di kampus kita. Berbelit-belit sekali,” ucap Nania agak kaget mendengar alasan Susan memprotesnya. Agak lain ya bu-ibu? Hahaha.


Susan berdecih. “Sudah tahu kau hampir sempurna di semua hal. Masih saja tidak paham kalau aku dan Tasya belum menemukan sugar daddy yang tepat. Jangan serakah-serakahlah, Nania. Kau harus ingat juga dengan nasib kedua sahabatmu ini. Bagaimana sih!”

__ADS_1


Nania tertawa terbahak-bahak melihat Susan yang begitu kesal karenanya. Setelah itupun dia berjanji untuk tidak menebar pesona pada pria-pria tampan yang ada di kampus mereka. Nania rela mengalah demi kelangsungan hidup kedua sahabatnya. Dia baik hati sekali bukan? Tentu saja. Siapa dulu, Nania.


***


__ADS_2