My Sugar Daddy ( Nania)

My Sugar Daddy ( Nania)
93. Dua Orang Mencurigakan


__ADS_3

Setelah semuanya siap, Jovan dan keluarganya sama-sama pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Susan dan Tasya. Tak lupa juga mereka membeli oleh-oleh lain sebagai buah tangan untuk gadis seksi yang katanya sedang sedih karena kedua sahabatnya mengalami kecelakaan. Ini katanya lo ya. 😝


“Ayah, Ibu, Rhea. Kalian masuklah dulu ke dalam. Aku ingin menghubungi seseorang yang aku tugaskan menyelidiki masalah kecelakaan itu,” ucap Jovan setelah memarkirkan mobil.


“Oh, ya sudah kalau begitu,” sahut Ardan paham. Dia bergegas keluar dari dalam mobil kemudian membukakan pintu untuk sang istri tercinta. “Silahkan keluar, sayang. Hati-hati,”


“Ayah, tolong bantu bukakan pintu untukku juga ya?” ucap Rhea tak mau kalah dari sang ibu. Dia lalu tertawa melihat sang ayah yang langsung bersungut-sungut karena permintaannya.


“Makanya cari suami supaya ada orang yang memperhatikanmu juga. Bukan malah meminta suami orang lain untuk memperlakukanmu seperti ratu!” sindir Ardan setelah istri dan anaknya keluar dari dalam mobil.


“Yeee, berbagi dengan anak sendiri mana boleh menggerutu, Ayah. Lagipula suami orang yang ini halal-halal saja untuk aku mintai perhatian. Iyakan, Bu?” sahut Rhea seraya menggandeng tangan sang ibu. Dia lalu menjulurkan lidah ketika sang ayah kembali mengomel.


“Kalian ini. Ayo masuk,” ucap Silvi sambil menggelengkan kepala melihat kelakuan suami dan anaknya.


Jovan yang melihat kehangatan keluarganya nampak menyunggingkan senyum tipis di bibir. Bersyukurlah dia. Berkat Nania, dia akhirnya bisa menyaksikan keindahan ini. Jika saja kekasihnya itu tidak muncul dan merobohkan dinding pembatas yang sudah bertahun-tahun menyelimuti keluarganya, Jovan yakin kehangatan seperti tadi tidak akan mungkin pernah terjadi. Benar tidak?


“Nania-Nania, kenapa sih kau itu ajaib sekali? Kalau begini ceritanya aku mana mungkin bisa hidup tanpamu. Hmmm,” gumam Jovan sambil mencari nomor seseorang di ponselnya. Setelah itu dia melakukan panggilan sambil menyender ke kursi mobil.


“Hal, Tuan Jovan. Selamat pagi,”


“Selamat pagi,” sahut Jovan membalas sapaan. Tatapan matanya berubah dalam saat akan melanjutkan perkataan. “Bagaimana? Apa kau menemukan hal janggal di mobil milik kekasihku?”


“Saya sama sekali tidak menemukan hal yang aneh di mobil kekasih anda, Tuan. Sepertinya kecelakaan itu memang murni karena kelalaian korban sendiri. Namun saat saya memeriksa cctv yang terpasang di parkiran klab, saya menemukan ada seorang laki-laki dan juga seorang wanita dengan gerak-gerak mencurigakan berdiri tak jauh dari mobil kekasih anda berada. Sayangnya cctv tidak menangkap jelas wajah mereka karena posisinya yang cukup jauh, jadi saya sedikit kesulitan saat ingin membuat sketsa wajah orang tersebut. Jika anda mau, saya bisa mengirimkan duplikat rekaman cctv itu kepada anda!”


Sebelah alis Jovan terangkat ke atas. “Kalau begitu kirimkan saja videonya. Jika itu orang dekat, aku pasti akan langsung mengetahui siapa orang di balik kecelakaan ini. Aku masih tidak percaya kalau teman kekasihku itu sampai hilang kendali hanya karena sedikit meminum alkohol. Lekas kirimkan video itu padaku. Oke?"

__ADS_1


Jovan mengerungkan kedua alisnya selepas dia mematikan panggilan. Pria dan wanita di sekitar mobil Nania? Siapa mereka dan apa yang sedang mereka lakukan di sana? Mungkinkah itu adalah Krystal dan orang suruhannya?


“Krystal, kalau benar itu adalah kau, maka habislah hidupmu. Memang bukan Nania yang mengalami kecelakaan, tapi secara tidak langsung kau telah membuat hatinya bersedih. Ini tidak bisa aku terima. Lihat saja. Jika dugaanku sampai terbukti benar kau bersiaplah untuk berhadapan denganku. Berani menyakiti kekasihku, itu artinya kau memang sudah siap berurusan denganku. Cihhh!” geram Jovan sembari menunggu kiriman video dari orang suruhannya.


Tak lama kemudian masuklah satu buah video ke dalam ponsel Jovan. Tanpa membuang waktu lagi diapun bergegas melihat. Dan seperti yang diberitahukan oleh orang suruhannya, letak cctv yang cukup jauh membuat Jovan tak bisa melihat dengan jelas siapa kedua orang terlihat sedang berbincang di dekat mobil milik Nania.


“Sial. Klab sebesar itu mengapa pengamanannya minim sekali? Harusnya mereka tidak hanya meletakkan satu cctv saja. Dengan begitu masalah bisa dengan mudah di ungkap. Kalau begini ceritanya sampai lebaran monyetpun aku tidak akan pernah tahu siapa mereka. Brengsek!” umpat Jovan sambil memukul stir mobil. Dia lalu tersentak kaget saat kalkson mobil berbunyi karena tak sengaja terkena pukulannya. “Sialan. Membuat orang kaget saja!”


Tok tok tok


“Jo, apa yang sedang kau lakukan di sini? Cepat buka pintu mobilnya sekarang atau aku akan menghancurkan kaca mobilmu dengan high heels ku!"


Nania terus menggedor kaca mobil sambil melayangkan tatapan tajam. Segera dia masuk ke dalam sana begitu si empunya membukakan pintu. Hehehe, sebenarnya pintu mobil Jovan tidak terkunci. Dasar Nanianya saja yang sok mencari perhatian. Biasalah. 😁😁


“Nania, kenapa kau kemari. Bukankah di dalam ada Ayah, Ibu dan juga Rhea?” tanya Jovan agak kaget melihat kemunculan Nania.


Jovan tergelak. Nania ini ada-ada saja. Bagaimana mungkin keluarganya akan bersikap seperti itu kalau Nania saja sudah mendapatkan tempat spesial di hati mereka? Sekalipun Nania hanya memakai karung goni, Jovan yakin penampilannya itu tidak akan membuat sikap keluarganya berubah. Dasar gadis konyol.


“Oya, Jo. Tadi aku melihatmu seperti sedang menelpon seseorang. Siapa?” tanya Nania penuh curiga.


“Jangan salah paham dulu. Tadi itu aku sedang berbicara dengan orang yang aku minta untuk menyelidiki penyebab mengapa Susan bisa lepas kendali saat mengendarai mobilmu. Darinya aku menerima laporan kalau kecelakaan itu murni terjadi karena kelalaian Susan sendiri. Tapi, Nania. Ada hal aneh yang terjadi di parkiran klab tempat kau memarkirkan mobil,” jawab Jovan dengan mimik wajah yang sangat serius. Dia lalu memperlihatkan video yang ada di ponselnya. “Lihatlah. Ada sepasang orang aneh yang seperti sedang mendiskusikan sesuatu sambil menunjuk pada mobilmu. Coba kau perhatikan baik-baik. Siapa tahu kau bisa mengenali mereka!”


Nania dengan cepat mengambil ponsel Jovan kemudian menonton video yang di maksud olehnya. Sesaat setelahnya kening Nania tampak mengerut memperhatikan wanita yang wajahnya tertutup kain dan juga memakai jaket tebal.


“Jo, kenapa aku merasa sedikit familiar ya dengan jaket yang di pakai oleh wanita itu. Di mana aku pernah melihatnya?” ucap Nania sambil mengingat-ingat siapa orang terdekat yang pernah memakai jaket dengan bentuk dan warna yang sama dengan jaket milik wanita yang ada di dalam video.

__ADS_1


“Jadi kau pernah bertemu dengannya?” tanya Jovan kaget.


“Ck, akukan bilang kalau aku merasa sedikit familiar dengan jaket yang di pakai oleh wanita ini. Sudah tentu aku pernah bertemu dengannya lah. Kalau tidak bagaimana mungkin aku tahu kalau jaketnya familiar? Bagaimana sih!”


Jovan menggaruk keningnya yang tak gatal setelah di semprot oleh Nania. Salahnya juga sih bertanya seperti itu. Hehehe.


“Sudah, masalah jaket ini nanti biar aku saja yang menangani. Urusan barang branded aku ahlinya. Kau cukup cari tahu siapa laki-laki itu. Oke?” ucap Nania menyudahi menonton video. Dia lalu menoleh, menatap nakal pada Jovan yang tengah tersenyum padanya. “Jo, kau rindu aku tidak?”


“Sangat,” jawab Jovan spontan. “Tidak ada waktu yang kulewatkan tanpa merindukanmu, Nania. Kenapa memangnya?”


“Tidak kenapa-napa sih. Hanya ingin tahu saja kau merindukanku atau tidak,” jawab Nania seraya tersenyum penuh maksud.


“Hmmmm, kalau aku bukan sugar daddy yang baik, aku mungkin akan langsung mempercayai ucapanmu begitu saja. Namun, sugar daddymu ini tahu dengan sangat jelas kalau kau sedang menginginkan sesuatu. Ada apa, hem? Kali ini apa yang ingin kau minta?”


Nania tersipu. Radar kepekaan Jovan benar-benar sudah tidak diragukan lagi. Dan tanpa membuang waktu, segera dia mengambil ponselnya kemudian mencari sesuatu yang sejak subuh tadi terus mengganggu pikirann.


“Brand ini barusaja meluncurkan sepasang bikini warna merah kesukaanmu, Jo. Boleh tidak kalau aku membelinya?” tanya Nania dengan sorot mata berbinar. “Sebentar lagi liburan musim panas. Aku, Susan dan Tasya berniat pergi liburan ke pantai. Karena aku tidak punya bikini, jadi aku ingin membelinya. Bagaimana?”


“Kau boleh membeli apapun yang kau sukai, Nania. Akan tetapi untuk bikini ini kau baru boleh membelinya jika aku di izinkan ikut pergi berlibur dengan kalian. Kau kekasihku, aku tidak mau mata-mata para buaya jantan menatapmu penuh n*fsu. Kau tahu itu ‘kan?”


“Deal!”


Cup


Satu kecupan melayang cepat di pipi Jovan begitu dia mengizinkan Nania untuk membeli bikini. Dan di detik selanjutnya Jovan seperti akan kejang-kejang saat Nania membuat symbol hati dan melemparkan padanya. Ah, ini terlalu manis. Jovan jadi tidak sabar melihat Nania memakai bikini merah itu. Haha.

__ADS_1


***


__ADS_2