My Sugar Daddy ( Nania)

My Sugar Daddy ( Nania)
12. Memberi Kesempatan


__ADS_3

📢📢📢 BOM KOMENTARNYA BESTIE 💜


***


Dengan raut wajah yang begitu gembira Krystal berjalan sambil menggaet lengan ayahnya. Senyum manis tampak menghiasi bibirnya, membuat para karyawan yang berpapasan dengannya menatap dengan penuh kagum. Oh ya, hampir saja lupa. Saat ini Krystal dan ayahnya sedang berada di perusahaan milik Paman Ardan. Mereka datang kemari bermaksud untuk memberikan ucapan selamat pada Jovan yang baru saja diresmikan sebagai pemimpin baru di perusahaan ini.


"Selamat sore, Tuan dan Nona. Apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya salah seorang resepsionis wanita dengan sangat ramah. 


"Selamat sore kembali, Nona," sahut Kendy sambil tersenyum. "Apa Tuan Ardan dan Jovan ada di ruangannya? Namaku Kendy, dan ini putriku, Krystal. Kami ingin bertemu dengan mereka!"


"Oh, Tuan Kendy. Tuan Ardan dan Tuan Jovan sudah menunggu kedatangan kalian di dalam ruangannya. Mari saya antarkan kalian ke sana,"


"Baiklah. Terima kasih,"


Krystal segera merapihkan penampilannya begitu si resepsionis mengajak dia dan ayahnya menuju ruangan tempat Jovan berada. Bahagia, itu sudah pasti. Sejak pertemuan mereka semalam pikiran Krystal selalu di bayangi oleh ketampanan pria itu. Bahkan pagi tadi Krystal dengan sengaja menyinggung tentang perjodohan yang telah direncanakan oleh ayahnya bersama dengan ayahnya Jovan. Dia ingin bisa segera memilikinya. 


"Senang sekali. Sebahagia itukah ingin bertemu dengan Jovan, hem?" tanya Kendy sambil mengelus rambut Krystal yang terus saja tersenyum sambil merapihkan penampilannya.


"Sejelas itukah?" sahut Krystal balik bertanya.


"Sangat. Bahkan orang buta pun bisa merasakan kalau kau sedang jatuh cinta pada Jovan. Ayah benar tidak?"


Krystal tersipu. Dia lalu menepuk pelan lengan sang ayah yang telah menggodanya secara terang-terangan. Hingga tak berapa lama kemudian sampailah mereka di depan ruangan tempat Jovan dan ayahnya berada.


"Silahkan masuk Tuan Kendy, Nona Krystal!"


"Terima kasih banyak," sahut Kendy.


"Sama-sama, Tuan. Kalau begitu saya permisi,"

__ADS_1


Kendy mengangguk. Dia lalu mengajak Krystal untuk segera masuk dan menemui teman lamanya.


"Selamat datang di ruangan baru pemimpin perusahaan ini, Ken!" ucap Ardan ketika menyambut kedatangan Kendy dan Krystal. "Dan Krystal. Hari ini kau cantik sekali, sayang!"


"Ah Paman bisa saja," sahut Krystal sambil melirik ke arah Jovan. "Paman juga terlihat sangat tampan dengan jas itu. Bibi Silvi benar-benar sangat beruntung mempunyai seorang suami setampan Paman Ardan. Sungguh!"


Ardan tertawa mendengar pujian yang dilontarkan oleh Krystal. Setelah itu dia dan Kendy saling memeluk, lalu mereka bertiga duduk bersama sambil menunggu Jovan yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.


"Paman, Krystal. Kalian duduklah dulu bersama Ayah. Aku masih harus memeriksa beberapa berkas yang akan di pakai untuk meeting besok!" ucap Jovan sedikit tak enak hati pada tamu ayahnya. Sekalian karena dia ingin menghindari Krystal, gadis yang ingin di jodohkan dengannya.


"Oke, santai saja, Jo. Paman bisa mengerti," sahut Kendy maklum. Dia lalu sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Ardan, bermaksud menanyakan sesuatu yang penting kepadanya. "Ar, apa kau berniat mengerjai anakmu sendiri? Jovan baru saja di umumkan sebagai pemimpin perusahaan, masa iya kau langsung membuatnya jadi sesibuk ini?"


"Biar sajalah. Hitung-hitung untuk meringankan beban di pundakku, Ken. Kau tahu sendiri kan betapa sibuknya aku selama ini, jadi sesekali bolehlah aku duduk santai dan membiarkan Jovan yang mengurus semuanya. Iya 'kan?" jawab Ardan dengan santainya.


"Ya tidak salah juga sih kalau kau beralasan seperti itu. Aku hanya kasihan saja padanya,"


"Santai. Jovan itu sangat cerdas, pekerjaan kecil seperti itu tidak akan mungkin membuatnya stres!"


Krystal hanya diam sambil mendengarkan obrolan antara ayahnya dengan ayah Jovan. Ekor matanya sama sekali tidak bisa berhenti melirik ke arah Jovan, mencuri-curi pandang untuk menikmati ketampanan pria itu. Jujur, sebenarnya Krystal sedikit kecewa karena Jovan lebih memilih untuk tetap bekerja ketimbang mengobrol dengannya. Padahal selama dalam perjalanan kemari Krystal sudah membayangkan kalau Jovan akan mengajaknya berkeliling untuk melihat-lihat perusahaan miliknya. Tapi apa mau di kata, ternyata khayalan tidaklah seindah kenyataan. Karena pria itu malah sibuk sendiri dengan pekerjaannya. 


Jovan yang merasa seperti sedang di perhatikan tanpa sengaja melihat ke arah Krystal. Dan bulu kuduknya langsung meremang begitu melihat reaksi Krystal yang seperti tersipu malu karena tak sengaja beradu pandang dengannya.


Apa-apaan dia. Di pikirnya aku akan terpesona apa melihatnya bersikap malu-malu begitu. Huh, untung Nania sedang tidak ada di sini. Kalau ada, aku berani jamin Krystal pasti akan langsung di hajar olehnya. Hmmm, ujar Jovan dalam hati.


"Em, Jo. Kenapa kau tidak meminta sekertarismu saja yang mengerjakan berkas-berkas itu?" ucap Krystal memberanikan diri untuk bertanya. Dadanya tak berhenti berdebar setelah tadi tidak sengaja di tatap oleh Jovan.


"Untuk sekarang aku masih belum mempunyai sekertaris pribadi, Krys. Mungkin besok aku baru akan membuka lowongan pekerjaan untuk bagian ini," sahut Jovan berusaha menjawab dengan nada biasa. Padahal sebenarnya Jovan benar-benar sangat malas bicara dengan Krystal, dia takut bibirnya akan gatal-gatal.


"Ooh, begitu ya,"

__ADS_1


Jovan mengangguk. Dia lalu kembali fokus pada pekerjaannya, mengabaikan Krystal yang masih menatapnya dengan tatapan mendamba.


"Jo, bagaimana kalau Krystal saja yang menjadi sekertaris pribadimu? Kebetulan dia juga mengambil jurusan bisnis di kampusnya," ucap Kendy membuka pintu agar putrinya bisa berdekatan dengan anak temannya.


"Tapi Krystal kan masih seorang mahasiswi, Paman. Bagaimana caranya dia membagi waktu untuk bekerja dan kuliah?" sahut Jovan jengah. Dia sudah bisa menebak kalau hal ini pasti akan terjadi.


"Masalah itu bisa Paman atur, Jo. Kau tenang saja. Asalkan kau bersedia menjadikan Krystal sebagai sekertarismu, apapun pasti akan Paman lakukan untuk kalian!"


Jovan menghela nafas. Dia mengatupkan kedua tangannya ke atas meja sambil menatap bergantian ke arah Krystal dan ayahnya.


"Bagaimana ini, Ayah. Apa tidak apa-apa kalau aku membiarkan Krystal bekerja sebagai sekertarisku?" tanya Jovan sembari menatap sang ayah penuh maksud.


Di tanya seperti itu oleh Jovan membuat Ardan jadi dilema. Di satu sisi dia sangat setuju kalau Krystal bisa berada dekat di sisi putranya. Akan tetapi di sisi lain Ardan tak bisa lupa ketegasan Jovan dalam menolak perjodohannya dengan Krystal. Dia bingung. 


"Ar, kenapa diam saja. Jovan sedang menunggu jawabanmu," ucap Kendy heran melihat sikap Ardan yang seperti orang kebingungan.


"Em, bagaimana ya. Aku takut ini akan mengganggu fokusnya Krystal dalam belajar, Ken. Kau tahu sendiri kan kalau pekerjaan seorang sekertaris itu hampir sama beratnya dengan pekerjaan yang Jovan tanggung. Ini bukannya aku menolak Krystal menjadi sekertarisnya Jovan ya," sahut Ardan mencoba menjawab sebijak mungkin.


"Paman, Paman tidak perlu khawatir. Aku berani jamin kalau kuliahku tidak akan mungkin terganggu meskipun aku bekerja sebagai sekertarisnya Jovan. Ya ... sekalian aku belajar sebelum nanti aku masuk ke dunia bisnis untuk menggantikan Ayah. Benar tidak?" timpal Krystal meyakinkan ayahnya Jovan agar mengizinkannya bekerja di perusahaan ini.


Ardan lagi-lagi terdiam. Dia bingung harus menjawab iya atau tidak. Tak mau salah bicara, Ardan memilih untuk mengalihkan keputusan pada Jovan saja.


"Jo, karena kau yang membutuhkan sekertaris, maka Ayah serahkan jawabannya kepadamu. Terserah apakah kau akan mengizinkan Krystal atau tidak, Ayah tidak akan ikut campur,"


"Em, bagaimana ya?" sahut Jovan menahan kesal. "Atau jika tidak begini saja, Krys. Karena aku membutuhkan sekertaris yang benar-benar bisa membantu mengurangi beban pekerjaanku, aku akan memberimu waktu selama tiga bulan untuk masa percobaan. Jika memuaskan, kau boleh lanjut bekerja padaku. Bagaimana, apa kau setuju?"


"Baiklah, begitu juga tidak apa-apa. Iya kan Ayah, Paman?" jawab Krystal kegirangan.


Kendy dan Ardan kompak mengangguk. Mereka turut senang akan kesempatan yang di berikan oleh Jovan tanpa menyadari kalau Jovan sebenarnya merasa kesal atas hal ini.

__ADS_1


*****


__ADS_2