My Sugar Daddy ( Nania)

My Sugar Daddy ( Nania)
52. Kekhawatiran Jovan


__ADS_3

📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI WRITER SEASON 8. OKE 💜💜💜


***


Jovan panik setengah mati begitu membuka pesan yang dikirmkan oleh Nania. Dia yang baru sempat memegang ponsel setelah bekerja seharian serasa seperti tersambar petir begitu melihat ada luka gores di pipi kekasihnya yang mulus itu. Sebagai pria yang sangat mengangumi kecantikan Nania, sudah pasti hal ini membuat Jovan merasa sangat marah. Dan dia yakin sekali kalau luka gores itu pasti membuat Nania merasa sangat sedih. Jovan jadi penasaran setan mana yang sudah berani menyentuh aset Nania yang paling berharga itu. Cari mati, heh.


“Aku harap bukan kau pelakunya, Rhe. Karena jika itu sampai benar, aku tidak akan pernah mau memaafkanmu," geram Jovan sambil mengepalkan tangannya.


Setelah itu Jovan memutuskan untuk menemui Nania saja. Dia paham betul kalau saat ini Nania pasti sedang sangat membutuhkannya. Tak ingin mengulur waktu, Jovan pun segera meninggalkan ruangannya. Perasannya sangat campur aduk sekarang.


Sambil menunggu lift sampai di lantai bawah, Jovan terus menghubungi nomor Nania. Namun gadis itu tak kunjung menjawab panggilannya yang mana membuat perasaan Jovan semakin tidak karu-karuan. Jovan takut kalau serangan itu tidak hanya meninggalkan luka gores saja, tapi ada luka lain yang jauh lebih serius daripada ini. Makanya sekarang Nania tak mau menjawab panggilannya. Astaga.


“Siapkan mobilku!” perintah Jovan pada bawahannya begitu dia keluar dari dalam lift.


“Baik, Tuan.”


Setengah berlari Jovan keluar dari dalam perusahaan kemudian langsung masuk ke dalam mobilnya. Dia lalu melajukan mobiln dengan kecepatan yang sangat tinggi sebelum akhirnya mobil Jovan membaur dengan kendaraan yang lainnya.

__ADS_1


Dalam perjalanan menuju rumah Nania, Jovan tak henti-hentinya memikirkan siapa orang yang telah mencelakai kekasihnya itu. Nania-nya menguasai ilmu bela diri dengan sangat baik, tapi kenapa Nania bisa sampai terluka? Mungkinkah orang itu mempunyai keahlian yang jauh lebih tinggi dari Nania?


“Siapapun orangnya, aku tidak akan membiarkannya lepas begitu saja. Berani menyentuh Nania, itu artinya dia sudah siap untuk berurusan denganku. Cihhh, dasar pengecut. Beraninya hanya melawan wanita saja. Awas saja kau!” geram Jovan sambil memukul stir mobil.


Tak lama kemudian Jovan akhirnya sampai di depan rumah Nania. Dia lalu bergegas pergi menuju pintu masuk setelah memarkirkan mobilnya secara asal. Masa bodo kalau Jovan akan di anggap sebagai tamu yang tidak sopan, dia tak peduli. Yang paling pentimg sekarang Jovan harus segera melihat seperti apa keadaan Nania. Titik.


“Kak Lusi, di mana Nania?” tanya Jovan ketika melihat kakaknya Nania tengah bermain dengan anaknya di teras rumah. Dia lalu berjalan mendekat. “ Kak, Nania baik-baik saja bukan?”


“Oh, kau, Jovan,” sahut Lusi setelah tahu siapa yang datang. “Nania baik-baik saja. Dia sekarang sedang istirahat di kamarnya. Mungkin kelelahan setelah menangisi luka gores di pipinya.”


Paham akan kebingungan yang dirasakan oleh Jovan, Lusi pun berinisiatif untuk memberikan penjelasan. Lusi yakin sekali kalau kedatangan Jovan ke rumah ini pasti karena adiknya telah mengadu yang tidak-tidak. Makanya Jovan datang dengan raut wajah yang begitu khawatir dan langsung menanyakan keadaan Nania tanpa menyapanya terlebih dulu.


“Jo, kau tidak perlu cemas memikirkan Nania. Dia baik-baik saja, hanya pipinya yang sedikit tergores. Tadi saat Nania pergi ke mall bersama Susan dan Tasya, dia sempat terlibat adu mulut dengan adikmu. Mungkin karena adikmu merasa tersinggung dengan ucapan Nania, dia lalu tak sengaja mencakar pipinya. Dan kau tahu sendiri bukan kalau Nania itu memang sedikit berlebihan dalam mengungkapkan sesuatu? Jadi kau tidak usah khawatir lagi ya. Ini hanya kesalah-pahaman kecil saja antara Nania dengan adikmu.”


“Jadi Rhea yang telah melukai pipi Nania?” tanya Jovan dingin. Kedua sisi rahangnya langsung mengerat, tidak menyangka kalau adiknyalah yang telah melukai Nania.


“Jo, tolong kau jangan marah pada Rhea ya. Aku yakin dia benar-benar tidak sengaja melakukan hal itu,” ucap Lusi merasa tak enak melihat reaksi marah di diri Jovan.

__ADS_1


“Tidak sengaja apanya, Kak. Sejak dia tahu kalau aku menjalin hubungan dengan Nania, Rhea memang tak pernah menyukainya. Tapi aku sama sekali tidak menyangka kalau dia akan nekad berbuat sampai sejauh ini. Sekarang mungkin hanyaluka bekas cakaran di pipi Nania, tapi besok-besok … entahlah. Aku ragu kalau Rhea tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi,” sahut Jovan enggan menuruti perkataan Kak Lusi. Menurut Jovan tindakan Rhea kali ini sudah sangat keterlaluan. Adikny itu sudah berani main fisik, dan masalah ini tidak boleh di biarkan begitu saja. Jovan harus bersikap tegas pada Rhea. Harus.


Sepertinya peringatan yang aku katakan waktu itu masih belum bisa membuatmu mengerti kalau aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Nania, termasuk dirimu. Kau tunggu dan lihatlah apa yang akan aku lakukan padamu, Rhea. Heh, geram Jovan dalam hati.


“Karena sekarang Nania sedang tidur, aku sebaiknya kembali ke kantor saja, Kak. Kebetulan aku juga masih punya beberapa pekerjaan yang tadi belum sempat aku selesaikan. Nanti saat Nania bangun tolong beritahu dia kalau aku sangat mencemaskannya. Dan tolong sampaikan pada Nania agar membalas pesanku. Aku pergi dulu, Kak Lusi. Selamat malam,” pamit Jovan dengan nada suara yang dibuat sepelan mungkin. Dia sedang berusaha menutupi kemarahannya di hadapan kakaknya Nania.


Lusi hanya bisa mengangguk saja saat Jovan pamit pergi. Dan dia bisa merasakan kalau Jovan pergi sambil menahan kemarahannya. Sekarang Lusi jadi mengkhawatirkan Rhea,dia takut Jovan kalap lalu melakukan sesuatu yang bisa menyakiti saudarinya sendiri.


“Semoga saja Jovan bisa meredam kemarahannya nanti. Hmm, Nania-Nania. Hanya karena goresan sekecil itu kau sampai membuat Jovan menjadi begitu khawatir. Sebenarnya apa sih yang sudah kau katakan padanya? Dasar gadis nakal,” ujar Lusi mengeluhkan kenakalan adik bungsunya. Setelah itu dia membawa Reiden masuk ke dalam rumah, sekaligus ingin memberitahu kedua orangtuanya tentang kedatangan Jovan ke rumah ini.


Sementara itu di dalam mobil, Jovan terus saja mengumpat merutuki kesalahan yang telah dilakukan oleh adiknya. Tak lupa juga Jovan memikirkan cara apa yang harus dia gunakan agar adiknya itu bisa segera sadar kalau Nania buka gadis buruk seperti yang dia pikirkan selama ini.


“Aku sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiranmu, Rhe. Sebenarnya apasih yang sudah membuatmu nekad melakukan hal semacam ini. Aku yang sebagai kekasihnya Nania saja tak pernah tega melihatnya sampai bersedih hati. Lalu kau? Hah, kau bahkan berani membuat Nania sampai kelelahan menangis. Kali ini kau benar-benar sudah sangat kelewatan. Jadi walaupun kau adalah adik kandungku, aku tidak memaafkanmu begitu saja. Kau harus tahu kalau ingin menyentuh Nania, maka kau perlu melewatiku lebih dulu!”


Karena pikiran Jovan sudah tidak fokus lagi, dia memutuskan untuk berputar arah menuju rumah. Jovan sudah tidak sabar ingin segera meminta dan memberi pelajaran pada adiknya yang sudah dengan begitu berani membuat kekasih hatinya menangis. Bak seorang pembalap, Jovan memacu mobilnya denga gila-gilaan. Dia bahkan tak peduli lagi ketika pengendara mobil lain meneriakinya yang hampir menabrak mobil mereka. Jovan sedang sangat marah sekarang, jadi masa bodo dengan umpatan orang-orang itu. Dia tidak peduli. Satu yang Jovan harapkan, Rhea sudah pulang begitu Jovan sampai di rumah. Itu saja.


***

__ADS_1


__ADS_2