
📢📢📢 BOM KOMENTARNYA BESTIE 💜
***
Dengan ekpresi wajah yang masih begitu kesal Krystal berjalan masuk ke dalam perusahaan milik Jovan. Tadi setelah Krystal bertengkar dengan Nania di kampus, mood-nya terus saja memburuk hingga sekarang. Bahkan ketika Krystal di ingatkan oleh sang ayah kalau dia harus sesegera mungkin pergi ke perusahaan ini, mood Krystal masih saja belum kembali. Ancaman yang dilontarkan oleh Nania tadi benar-benar mempengaruhi emosi Krystal. Dia sangat amat kesal karenanya.Â
"Selamat siang, Nona Krystal. Sesuai arahan Tuan Jovan, semua berkas-berkas yang akan anda pelajari sudah ada di atas meja ini. Silahkan Nona baca dan pahami terlebih dahulu sebelum memulai pekerjaan anda sebagai seorang sekertaris!"
Kedua alis Krystal saling bertaut begitu dia mendengar perkataan karyawan wanita ini. Dia yang baru akan masuk ke dalam ruangan Jovan seketika tercengang saat karyawan ini menunjukkan di mana tempat dia akan bekerja.Â
"Apa tidak salah aku duduk di luar?" tanya Krystal tak habis pikir. "Bukankah seorang sekertaris itu bekerja dalam satu ruangan yang sama dengan atasan mereka ya?"
"Untuk masalah itu Tuan Jovan sendiri yang telah mengaturnya untuk anda, Nona. Jadi maaf saya tidak bisa memberikan jawaban atas apa yang baru saja Nona tanyakan."
Sialan. Kalau begini caranya kapan aku akan memiliki waktu untuk mendekati Jovan? Brengsek, kenapa hari ini nasibku sial sekali sih. Di kampus aku di permalukan oleh Nania. Dan sekarang, sekarang Jovan malah membangun jarak dengan tidak membiarkan aku berada dalam satu ruangan yang sama dengannya. Sial! kesal Krystal dalam hati.Â
Krystal berdiri diam sambil memikirkan cara bagaimana agar dia bisa bertemu Jovan terlebih dahulu. Karena jujur, sekarang Krystal benar-benar sedang membutuhkan sandaran. Dan sandaran yang dia inginkan adalah bahu pria itu, dia butuh pelukan dan perhatian dari Jovan untuk mengembalikan mood-nya yang sudah dirusak oleh Nania.Â
"Nona Krystal, anda baik-baik saja?"
"Em, aku tahu apa tugasku. Tapi sekarang aku ingin bertemu Jovan dulu karena ada sesuatu yang mau aku katakan padanya. Tidak apa-apa 'kan?" tanya Krystal.Â
"Tapi, Nona. Sebelumnya Tuan Jovan telah berpesan kalau beliau sedang tidak ingin di ganggu oleh siapapun. Termasuk anda!"
"Tapi aku ...Â
"Sedang apa kau di sini?"
Krystal yang sedang berusaha membujuk si karyawan langsung menoleh begitu mendengar suara seseorang. Dan di detik selanjutnya Krystal di buat kaget akan kemunculan Nania, gadis yang telah membuatnya kehilangan mood seharian.Â
__ADS_1
"Hei, kau tidak punya telinga apa bagaimana? Aku bertanya apa yang sedang kau lakukan di sini. Tuli ya?" tanya Nania sembari bersedekap tangan. Dia merasa sangat heran mengapa Krystal bisa berada di perusahaan milik Jovan. Aneh.Â
"Seharusnya yang bertanya itu aku, Nania. Apa yang sedang kau lakukan di perusahaan ini? Meminta sumbangan, iya?" sahut Krystal balik bertanya dengan kata-kata penuh ejekan. Dia lalu menatap sinis ke arah Nania yang entah kenapa terlihat sangat seksi dengan penampilannya sekarang.Â
Kenapa Nania berdandan seperti akan mengunjungi orang spesialnya ya? Apa mungkin kekasihnya itu sedang berada di ruangan Jovan? Tapi siapa? ujar Krystal dalam hati.Â
"Haih, malas sekali aku bicara dengan manusia penyakitan sepertimu, Krystal. Memang apa salahnya jika benar aku datang untuk meminta sumbangan? Lagi pula kan bukan kau pemilik perusahaan ini. Kenapa repot!" jawab Nania santai. Dia sudah berdandan dengan sangat cantik demi bertemu dengan sugar daddy-nya. Jadi Nania tidak mau meladeni Krystal dulu karena khawatir itu akan membuat lipstik dan bedaknya menjadi luntur. Kan tidak lucu. Iya khaaaann?Â
"Jelas aku repot karena pemilik perusahaan ini adalah orang terdekatku. Asal kau tahu saja ya, Nania. Aku dan pemilik perusahaan ini telah ....Â
"Krystal, kau sudah datang rupanya!" tanya Ardan. Dia lalu menatap gadis seksi yang tadi seperti sedang berdebat dengan anak temannya. "Maaf, Nona. Kau siapa? Dan ada keperluan apa kau datang kemari?"
"Paman, gadis ini datang hanya untuk meminta sumbangan. Lebih baik Paman segera mengusirnya pergi dari sini!" timpal Krystal menggunakan kemunculan ayahnya Jovan untuk mengusir Nania.Â
"Meminta sumbangan?"
Ardan menatap lekat-lekat wajah gadis seksi yang ada di hadapannya. Serasa tidak asing, tapi di mana dia pernah bertemu dengan gadis ini?
Begitu ayahnya Jovan muncul, Nania langsung bersikap sopan dengan menyapanya terlebih dahulu. Mengapa demikian? Karena Paman Ardan adalah calon ayah mertuanya di masa depan. Jadi wajar saja bukan kalau Nania bersikap ramah padanya? Hohoho, tentu saja.Â
"Nona, kau bahkan mengetahui namaku. Kalau boleh tahu kau itu siapa sebenarnya dan kenapa aku merasa kalau sebelumnya kita pernah bertemu. Apa benar?" tanya Ardan kian merasa penasaran.Â
"Tentu saja aku tahu siapa nama Paman karena dulu kita memang pernah bertemu. Aku bahkan pernah memaki dan memarahi Paman beserta Bibi Silvi juga. Apa Paman lupa?" jawab Nania seraya tersenyum lebar.Â
Kening Ardan mengerut. Dia benar-benar tidak ingat siapa gadis ini, tapi gadis ini bahkan mengetahui namanya dan juga nama istrinya. Ardan bingung.Â
"Nania, namaku Nania. Apa sekarang Paman sudah ingat?" ucap Nania tak tega melihat calon mertuanya kebingungan karena memikirkan pertemuan mereka beberapa tahun yang lalu.Â
"Apa? Jadi kau Nania?" pekik Ardan dengan mata membelalak lebar.Â
__ADS_1
Krystal terkejut melihat reaksi di diri Paman Ardan begitu Nania menyebutkan namanya. Tak mau ada kenangan masa lalu muncul di antara mereka, dengan cepat Krystal memikirkan cara untuk mengusir Nania dari sana. Bisa gawat nanti jika Paman Ardan sampai memperlakukan Nania dengan baik. Krystal takut posisinya akan tergeser.Â
"Nania, aku sarankan kau sebaiknya segera pergi dari sini atau aku akan ....Â
"Sssttt, diam. Kekasihku menelpon!" sela Nania sambil menempelkan jari telunjuk ke depan mulutnya. Dia lalu menjawab panggilan dari Jovan dengan mata bersinar terang. "Halo, sayang. Sudah tidak sabar ingin segera bertemu denganku ya?"
Ardan hanya bisa menelan ludah ketika mendengar Nania memanggil kekasihnya dengan panggilan sayang. Dia yakin, benar-benar sangat yakin kalau orang yang di panggil sayang oleh Nania pasti adalah Jovan. Setelah itu pandangan Ardan beralih ke arah Krystal, anak temannya yang memang ingin di jodohkan dengan Jovan. Lagi-lagi Ardan menelan ludah. Dia panik.Â
Aduh, bagaimana ini. Nania dan Krystal sama-sama ingin bertemu dengan Jovan, dan sepertinya Nania-lah yang akan masuk ke dalam. Apa yang harus aku jelaskan pada Krystal jika nanti dia sampai bertanya ada hubungan apa antara Jovan dengan Nania? Astaga, kenapa jadi rumit begini sih, keluh Ardan dalam hati.Â
"Oh, kalau begitu tunggu sebentar lagi ya. Tadi saat datang kemari sepatuku tidak sengaja menginjak kotoran ayam, jadi aku perlu membersihkannya terlebih dahulu sebelum pergi menemuimu. Tolong sabar dulu ya, sayang. Aku tahu kau merindukan aku, karena aku juga merasakan hal yang sama. Tapi tidak mungkin juga kan aku pergi menemuimu dengan kondisi bau seperti ini?" ucap Nania dengan sengaja memanas-manasi Krystal. "Ya sudah kalau begitu aku matikan dulu panggilannya. Jangan khawatir, secepatnya aku akan segera datang ke pelukanmu!"
Setelah selesai menggoda Jovan Nania langsung memutuskan panggilan. Dia lalu menatap penuh ejek pada Krystal yang tengah membuang muka ke arah lain. Senangnya hati ini bisa mengerjai orang berhati angkuh seperti Krystal. Hmmm.Â
"Nania, siapa yang ingin kau temui?" tanya Ardan ketar-ketir sendiri. Dia begitu berharap kalau Nania tidak akan menyebut nama putranya.Â
"Tentu saja kekasihku, Paman. Memangnya tadi Paman tidak dengar ya pembicaraan kami di telephone?" jawab Nania sambil terus memperhatikan gelagat ayahnya Jovan yang terlihat aneh dan mencurigakan. Nania jadi terpikir akan sesuatu hal.Â
"Oh. Begitu ya. Lalu ... di mana kekasihmu sekarang?"
"Ada di dalam sana. Kenapa? Apa Paman ingin ikut masuk dan melihat seperti apa paras tampannya, hem?"
Sialan. Ternyata Jovan ingin di jodohkan dengan Krystal. Huh, jangan harap hal itu akan terjadi. Enak saja, geram Nania begitu menemukan penyebab kenapa ayahnya Jovan bersikap sedemikian rupa.Â
"Cihhh, paling-paling pria tua yang ingin kau temui di dalam sana. Begitu saja bangga!"'ejek Krystal.Â
"Biar saja. Walaupun tua, setidaknya dia tergila-gila padaku dan mau memperlakukan aku layaknya ratu. Memangnya kau. Sudah jelek, angkuh, tidak laku lagi. Dasar perawan tua. Huh!"
Nania dengan santai melangkah masuk ke dalam ruangan milik Jovan setelah puas mengatai Krystal. Nania bahkan tak mempedulikan teriakan Krystal yang begitu menggila setelah dia mengatainya sebagai perawan tua yang tidak laku. Kasihan sekali, tapi Nania menyukainya. Hahaha
__ADS_1
******