
“Marcell!”
Marcel yang tengah di sibukkan dengan pekerjaannya sedikit berjengit kaget saat seseorang berteriak memanggil namanya. Segera dia menoleh ke arah sumber suara untuk melihat siapa pelakunya.
Whaaattttt? N-Nania … astaga. Dia seksi sekali. Ya Tuhan, ini cobaan. Ini cobaan!!
Jakun Marcell bergerak naik-turun dengan cepat sambil terus mempelototi bentuk tubuh Nania yang kini tengah berjalan ke arahnya. Meski sebelumnya Marcell pernah hampir akan di hajar oleh Nania gara-gara tak sengaja bersikap mesum, tanpa sadar kali ini dia kembali mengulanginya. Mau bagaimana lagi. Marcell adalah laki-laki normal, dia mana tahan melihat gadis cantik dengan penampilan yang sangat luar biasa seksi tengah berjalan dengan begitu anggunnya. Wajarkan kalau bulu-bulu di dalam tubuhnya bergetar semua? 😂
Melihat Marcell yang terbengang sambil menatapnya membuat Nania tak kuasa untuk tidak meng*lum senyum. Sudah tidak heran. Jangankan Marcell, semua karyawan pria yang tadi melihat kemunculan Nania juga menunjukkan reaksi yang sama. Jadi itu bukan suatu pemandangan aneh dimana Nania akan merasa risih ataupun jengah. Justru melihat para pria yang terkagum-kagum akan keseksiannya membuat mood Nania menjadi semakin baik. Wajarlah. Nania datang dengan mengenakan dres berwarna merah terang di mana bagian pahanya ada belahan panjang membentang. Tak lupa juga Nania menggunakan lipstik, tas, dan juga highheels dengan warna senada yang mana membuatnya terlihat begitu seksi dan juga sangat menantang. Beruntung para pria itu tidak mimisan karena mabok melihat keseksiannya. Jika itu sampai terjadi, Nania yakin Jovan pasti akan mencemburui semua orang yang bekerja di perusahan ini. Kalian pasti tahu bukan kalau sugar daddynya itu lumayan posesif?
“Kenapa? Terpesona ya?” ledek Nania sambil meletakkan satu tangannya di pinggang begitu dia sampai di depan meja kerjanya Marcell. Nania kemudian terkekeh saat Marcell tersadar dari kekagumannya dan langsung terlihat gugup. Mungkin Marcell takut Nania akan memarahinya seperti waktu itu. Hehe.
Ya ampun, Nania wangi sekali. Parfum apa ya yang dia pakai?
“Cell, hari ini ada ulat bulu yang mendekati sugar daddyku tidak?”
“T-tidak, Nania. Semuanya aman-aman saja kok,” jawab Marcell agar terbata. Seketika dia ingat kalau Nania adalah kekasih dari atasannya. Segera Marcell menyadarkan diri agar tidak terus terbuai oleh pesona yang dimiliki Nania. Marcell takut dipecat oleh Jovan.
“Baguslah kalau semuanya aman. Terima kasih banyak ya, Cell. Berkatmu aku jadi bisa memantau keadaan sugar daddyku. Sebagai hadiahnya kapan-kapan kita pergi makan malam bersama lagi yuk. Tapi harus bersama Jovan. Kau mau tidak?” ucap Nania berbaik hati menunjukkan rasa terima kasihnya pada Marcell yang telah membantu mengawasi Jovan di perusahaan.
“Benarkah?”
Mata Marcell langsung berbinar cerah begitu mendengar tawaran Nania. Dan binar tersebut semakin jelas terlihat ketika Nania menganggukkan kepala. Tak apalah tak bisa memiliki Nania seutuhnya, bisa makan malam bersamanya saja Marcell sudah sangat bahagia. Sungguh.
“Ya sudah kalau begitu aku masuk ke dalam dulu ya. Kasihan Jovan. Dia hampir mati karena merindukanku dari semalam. Selamat bekerja kembali cctv bernyawaku,” pamit Nania seraya melambaikan tangan pada Marcell.
__ADS_1
Sambil mengibaskan rambutnya yang dibiarkan tergerai, Nania membuka pelan-pelan pintu ruangannya Jovan. Dia kemudian menyunggingkan senyum lebar melihat Jovan yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Jahil, Nania dengan sengaja melepaskan highelss yang dipakainya kemudian berjalan mengendap-endap seperti maling. Dia ingin mengageti Jovan. Haha.
Ekor mata Jovan melirik ke arah bayangan tubuh seseorang yang tengah menuju ke arahnya. Dan Jovan tahu siapa pelakunya. Ya, Jovan sebenarnya sudah tahu kalau Nania datang ke perusahaan. Dia sengaja bersikap seperti ini karena cemburu melihat Nania yang menyapa Marcell alih-alih langsung masuk dan menemuinya. Apalagi saat ini Nania mengenakan warna dres yang sangat di sukai oleh Jovan. Sudah pasti jiwa cemburunya menguar dengan begitu kuat yang mana membuat Jovan mengambil keputusan berat dengan bersikap acuh. Jovan tidak suka Nania berbicara dengan pria selain dia di perusahaan ini. Titik.
“Dorrrrrr!” teriak Nania begitu sampai di dekat meja kerjanya Jovan.
“Maaf aku tidak kaget,” ucap Jovan abai bin cetus. Setengah mati Jovan menahan diri untuk tidak menarik Nania ke dalam pelukannya. Dia merasa frustasi karena keputusannya sendiri
Ya Tuhan, kenapa kekasihku berpenampilan secantik ini sih? Apa iya aku sanggup berlama-lama mengabaikannya? Dia … dia seksi sekali. Apalagi bibirnya. Aaaaa, aku ingin menciumnya, Tuhan. Aku harus bagaimana sekarang???
“Huummm, sepertinya ada yang sedang cemburu nih,” ledek Nania tak merasa heran akan sikapnya Jovan. Sudah tertebak sejak awal. Hehe.
Gemas melihat sugar daddynya merajuk, dengan cepat Nania memutar kursi kerjanya Jovan agar menghadapnya. Setelah itu Nania langsung duduk di atas pangkuan Jovan dan melingkarkan kedua tangannya di leher. Bermanja. Ini adalah jurus paling ampuh yang biasa Nania gunakan untuk meredam rajukan Jovan. Manis sekali bukan?
“Jangan menggangguku, Nania. Aku sedang tidak mood untuk mengobrol,” ucap Jovan masih jual mahal meski jantungnya sudah berdegup kencang sekali. Dres yang Nania kenakan memiliki potongan sedikit rendah di bagian dada, jadi Jovan bisa melihat dengan sangat jelas tonjolan daging kenyal dari arah sana. Itulah kenapa tadi dia membatin. Penampilan kekasihnya sangat luar biasa hot dan menggiurkan. Sungguh.
“Ekhmmmm!”
Tak kuat menahan godaan, Jovan akhirnya luluh hanya dalam waktu yang begitu singkat. Dia dengan cepat menangkap tangan Nania yang tengah merayap di dada kemudian mengecupnya. Setelah itu Jovan menyenderkan tubuhnya ke kursi sambil memejamkan mata. Pasrah, itu yang tengah Jovan lakukan sekarang.
“Jo, kau marah ya melihatku mengobrol dengan Marcell?” tanya Nania lagi. Kali ini dia tidak nakal-nakal dulu. Kasihan sugar daddynya yang terlihat begitu frustasi. “Jangan cemburulah. Aku menyapa Marcell karena dia adalah cctv-ku di perusahaan ini. Aku hanya ingin memastikan saja apakah ada ulat bulu yang mendekatimu atau tidak. Pria dengan tipe sepertimu jelas sangat diburu oleh para pelakor yang haus akan uang dan kasih sayang, jadi sudah sepatutnya untuk aku bersikap waspada. Tolong mengertilah. Oke?”
“Sayang, aku sudah hampir gila begini kenapa kau masih meragukanku juga sih? Harus dengan cara apa aku membuktikan kalau aku hanya mencintaimu seorang, hem?” sahut Jovan balik bertanya. Sebelah tangannya dia gunakan untuk mengelus pinggang ramping Nania. “Kalau bukan Tuhan yang turun tangan untuk membalikkan hati dan perasaanku, sampai matipun aku tidak akan pernah jatuh cinta pada wanita selain dirimu. Kau hidupku, Nania. Aku mencintaimu melebihi aku mencintai diriku sendiri. Tahu?”
“Aku tahu, karena aku juga mencintaimu, Jo. Tapi tetap saja kita tidak bisa mengendalikan perasaan orang yang tertarik pada salah satu dari kita berdua!” jawab Nania agak terharu mendengar perkataan Jovan. Hatinya berbunga-bunga. “Kau itukan tampan. Kau juga memiliki masa depan yang sangat cerah. Wajar sajakan kalau aku merasa was-was?”
__ADS_1
Bibir Jovan berkedut. Ternyata seperti ini ya rasanya dikekang oleh cinta dari pasangan kita sendiri.
Tunggu-tunggu. Kalau tidak salah tadi Nania bilang kalau dia juga mencintaiku. Apa mungkin kali ini perasaannya murni atas nama cinta? Ah, tidak mungkin. Nania mencintaiku karena aku kaya, mustahil dia lebih mementingkan rasa ketimbang transferan. Tidak, Nania pasti hanya sedang melantur saja tadi. Dia tetap Nania yang tergila-gila pada sugar daddy kaya raya. Ya, seperti itulah Nania yang aku kenal.
“Jo, dengar-dengar Kak Fedo ingin mengajakmu bekerjasama ya? Kalau benar begitu, boleh tidak kalau aku meminta tambahan untuk uang bulananku?” tanya Nania dengan sorot mata yang begitu terang. Uang, uang uang. Hahaha.
Nah, benarkan?
“Memangnya apa sih yang tidak kuberikan padamu, sayang? Jangankan hanya uang, nyawapun pasti akan aku relakan jika itu bisa membuatmu terus mencintaiku,” jawab Jovan sudah tidak kaget lagi.
Dari sejak Fedo menawarkan kerjasama, Jovan sudah tahu cepat atau lambat Nania pasti akan mendatangi dan bertanya tentang hal ini. Dan benar saja. Nania benar menanyakan masalah ini bukan? 😂
“Hmmmmm, aku memang tidak salah menjadikanmu sebagai kekasihku, Jo. Terima kasih banyak ya karena kau sudah begitu royal padaku. Aku senang sekali,”
“Ciumlah kalau memang benar kau tidak menyesal menjadikanku sebagai kekasihmu.”
Cup
Jovan tergelak. Matanya sampai terbuka lebar saking kagetnya saat Nania mencium bibirnya. Sambil menyeringai lebar, Jovan kembali meminta Nania untuk menciumnya. Ini candu, dan inilah yang paling Jovan tunggu dari Nania-nya. Mendapat suntikan energi. Haha.
“Ulangi lagi. Yang barusan aku belum siap,” ucap Jovan setengah merengek.
“Ketagihan ya?” ledek Nania sambil menaik-turunkan kedua alisnya.
“Tentu saja. Yang menciumku adalah wanita cantik yang begitu seksi, sangat bodoh kalau aku tidak merasa ketagihan,” sahut Jovan jujur mengakui.
__ADS_1
Nania terkekeh. Dia sangat suka dengan pria yang terang-terangan mengakui kecantikannya. Tak mau membuat Jovan menunggu lama, Nania pun langsung memenuhi keinginannya. Dan akhirnya Jovan dan Nania terlibat aksi saling cium dimana keduanya terlihat begitu bersemangat.😝
***