My Sugar Daddy ( Nania)

My Sugar Daddy ( Nania)
51. Perkara Luka


__ADS_3

📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI WRITER SEASON 8. OKE 💜💜💜


***


Luyan, Nita, Lusi dan juga Gleen menatap aneh ke arah Nania yang sedang menangis tersedu-sedu di hadapan mereka. Benar-benar sudah tidak ada obat. Hanya karena perkara luka pipinya, Nania menangis sampai seperti ini. Seperti orang yang kehilangan anggota keluarga untuk selamanya. Haihhh.


"Hiksss, harga diriku terluka. Sekarang aku sudah tidak cantik lagi, Ibu. Jovan pasti akan meninggalkan aku setelah dia melihat wajahku yang sudah jelek ini. Aku akan menjadi janda. Aaaaa, hikssss," ucap Nania di sela-sela tangisnya.


"Ya ampun, Nania. Kau dan Jovan kan belum menikah, jadi mana bisa kau menjadi janda. Jangan bicara sembaranganlah!" sahut Nita tak habis pikir akan perkataan putrinya.


"Tapi tetap saja, Bu. Hueemm, bagaimana ini. Kecantikanku sudah ternodai. Aku sudah tidak sempurna lagi sekarang,"


Kedua rahang milik Gleen terbuka dengan sangat lebar saat mendengar omongan Nania yang menyebut dirinya akan menjadi janda jika Jovan sampai meninggalkannya. Sungguh, dia benar-benar sangat ingin menggetok kepala gadis satu ini. Hanya karena sebuah goresan kecil di wajahnya, Nania bisa berpikiran sampai sejauh itu. Gleen sampai tak habis pikir karenanya.


"Nania, luka itu bukan luka yang berat. Dua atau tiga hari lagi pasti sudah akan sembuh. Kau tinggal membeli cream penghilang bekas luka saja di klinik langgananmu. Mudah 'kan?" ucap Lusi berusaha sabar menghadapi sikap adiknya yang memang begitu terobsesi dalam menjaga kecantikan. Lucu sih, tapi lumayan membuat sakit kepala juga jika Nania sedang dalam mode manja seperti ini. Membuat Lusi menjadi bingung antara ingin tertawa atau malah kasihan.


"Mudah bagaimana sih, Kak. Lihat, lima senti, Kak. Lima senti. Pipiku tergores sepanjang lima senti. Dengan luka sepanjang ini bagaimana bisa Kakak menyebutnya mudah, hah? Ini adalah masalah terberat yang pernah ku alami sepanjang hidup di dunia ini, Kak Lusi. Aku tidak sanggup!" sahut Nania langsung memprotes perkataan kakaknya. Tak lupa juga dia memberitahukan tentang ukuran panjang dari luka bekas cakaran tangan Rhea.


Lusi meringis sambil menggaruk pinggiran kepalanya saat Nania bertambah semakin kesal setelah mendengar saran darinya. Sebenarnya Lusi ingin tertawa, tapi berusaha dia tahan karena tak ingin membuat Nania semakin menggila. Adiknya yang aneh ini pasti akan langsung mengamuk jika sampai ada yang berani menertawakannya. Ya mau bagaimana lagi. Selama ini Nania begitu hati-hati dalam merawat kecantikan wajah dan juga kemolekan tubuhnya. Jadi tidak mengherankan kalau sekarang Nania sampai sehisteris ini saat kecantikan yang selalu dia jaga tanpa sengaja telah tergores.

__ADS_1


"Ekhmmm, jadi sekarang maumu bagaimana, Nania? Pergi ke dokter langgananmu atau mengganti wajahmu dengan wajah yang baru. Katakan saja, nanti biar aku yang membayar semua biayanya. Cash," tanya Gleen bosan melihat kelakukan adik iparnya yang sedikit berlebihan ini. Berurusan dengan Nania biasanya akan langsung beres jika kata kuncinya sudah di sebutkan. UANG. Dengan uang, serumit apapun masalahnya pasti akan langsung selesai.


"Kak Gleen, tega sekali kau memintaku untuk berganti wajah. Apa kau tidak tahu kalau kecantikanku ini adalah satu-satunya di dunia. Hanya aku, Kak. Hanya aku yang memiliki wajah sesempurna ini. Jadi tolong jangan sembarangan memintaku untuk melakukan pembedahan wajah. Aku tidak mau," jawab Nania sambil menyedot ingusnya agar kembali masuk ke dalam hidung. Dia lalu kembali menangis.


Kedua sudut bibir Luyan berkedut melihat kelakuan putri bungsunya. Dia kemudian menoleh saat Nita mencubit pinggangnya pelan.


"Jangan mencari masalah, Luyan. Nania bisa semakin menjadi-jadi kalau kau ketahuan sedang menertawainya!" tegur Nita dengan suara yang sangat pelan. Dia takut perkataannya di dengar oleh Nania. Bisa gawat nanti.


"Putrimu itu terlalu lucu, sayang. Aku hampir tidak kuat menahan tawa. Sungguh," sahut Luyan sambil menutupi mulutnya dengan tangan.


"Ck, sudah. Diamlah!"


Nania terus menangis tersedu-sedu sambil memegangi perban yang menempel di pipinya. Tadi setelah dia keluar dari mall, Susan dan Tasya langsung mengantarnya pergi ke tempat dokter langganannya. Di sana Nania langsung mencurahkan perasaannya yang hancur lebur setelah mendapatkan luka sepanjang lima senti di pipinya. Sungguh, luka ini adalah pukulan terberat dalam hidup seorang Nania.


"Rhea?" beo Gleen. "Rhea adiknya Jovan maksudnya?"


"Iyalah. Memangnya Rhea mana lagi kalau bukan Rhea adiknya Jovan!" sahut Nania cetus.


"Nania, jangan bilang kalian kembali terlibat baku hantam seperti saat di restoran waktu itu ya. Jika benar, maka Ayah tidak akan mengizinkanmu mengikuti kelas bela diri lagi. Hobimu itu terlalu mengancam keselamatan orang lain. Ayah tidak suka!" ucap Luyan dengan tegas langsung menegur Nania. Dia tidak akan mentolerir sikap brutal putrinya ini. Tidak akan.

__ADS_1


Nyali Nania langsung menciut begitu menerima teguran dari sang ayah. Sambil menyeka air mata yang membanjir di wajahnya, Nania mencoba menjelaskan kalau di sini dia hanyalah korban. Nania sama sekali tidak main tangan, dia hanya mengolok Rhea saja tadi.


"Ayah, aku sudah kapok di hukum Ayah waktu itu. Jadi tidak mungkin aku melakukan kesalahan yang sama lagi. Sungguh," ucap Nania takut-takut.


Luyan menghela nafas. Di tatapnya tajam wajah putrinya yang mendadak jadi terlihat memelas. "Kalau memang benar begitu lalu kenapa wajahmu bisa sampai tergores? Tidak mungkin kan Rhea tiba-tiba datang menyerang jika tidak ada sebab yang jelas?"


"Em itu, Ayah. Sebenarnya tadi akulah yang memulai pertengkaran ini. Saat kami tidak sengaja berpapasan, aku memanggil Rhea dengan sebutan adik ipar yang manis. Dia mungkin tersinggung, kemudian ingin memukulku. Aku berusaha menahan diri dengan menangkap tangan yang sedang dia ayunkan ke arahku. Tapi ... Rhea malah mencakar pipiku menggunakan sebelah tangannya!" jawab Nania menjelaskan dengan sedetail mungkin. Namun di bagian Nania yang mencekal dan mendorong tubuh Rhea tidak dia ceritakan. Nania takut di hukum berdiri di pojok sambil menghadap tembok. Dia sangat amat benci dengan hukuman satu itu. Sungguh.


Tawa semua orang akhirnya pecah setelah mereka mendengar alasan kenapa Rhea bisa sampai menyerang Nania. Bahkan Gleen sampai terbungkuk-bungkuk saking lucunya membayangkan Nania yang di cakar gara-gara memanggil Rhea dengan sebutan adik ipar. Seorang atlet bela diri seperti Nania di buat menangis tersedu-sedu hanya karena sebuah luka cakaran. Sungguh lucu.


"Astaga, Nania. Bisa tidak sih kau itu jangan bicara seenaknya. Wajarlah kalau Rhea marah kemudian mencakar wajahmu. Sudah tahu kalian tidak akur, kau malah dengan sengaja mengoloknya dengan sebutan seperti itu. Mengamuklah dia!" ucap Lusi sambil mengelap air mata yang keluar dari sudut matanya. Adiknya ini benar-benar ya, membuat perut orang menjadi sakit saja. Haihh.


"Aku kan hanya ingin bersikap ramah saja, Kak. Lagipula saat aku dan Jovan menikah nanti, Rhea pasti akan menjadi adik iparku juga. Dia saja yang berlebihan," sahut Nania enggan di salahkan.


"Bukan masalah berlebihan atau tidak, Nania. Memangnya kau sudah lupa ya dengan kejadian di mana kalian di gelandang ke kantor polisi gara-gara baku hantam di restoran, hm? Hubungan kalian itu sedang tidak baik, makanya Rhea menjadi emosi saat kau memanggilnya dengan sebutan adik ipar. Mungkin saja dia tersinggung,"


"Kakakmu benar, Nania. Lain kali jangan usil begitu ya. Masih untung Rhea hanya mencakar pipimu saja. Kalau dia sampai membuat ujung hidungmu hilang bagaimana? Kau sendiri kan yang rugi?" timpal Nita tak kuasa menahan tawanya.


"Ck, kenapa kalian semua malah menertawakan penderitaanku sih. Sudahlah, aku mau istirahat saja di kamar. Kalian semua menyebalkan!" sahut Nania jengkel. Sambil menghentak-hentakkan kakinya Nania berlalu pergi dari hadapan semua orang. Dia kesal.

__ADS_1


Huh, bukannya bersimpatik kenapa mereka malah menertawakan aku sih. Heran, gerutu Nania dalam hati.


***


__ADS_2