
Nania melirik sinis ke arah gadis kecil yang sejak tadi terus menatapnya. Menyebalkan, benar-benar sangat menyebalkan. Awalnya Nania pikir dia, Susan dan juga Tasya akan pergi shopping bersama Elea saja. Namun siapa yang akan menyangka kalau Elea akan membawa salah satu anaknya. Dan sialnya yang dibawa oleh Elea adalah Flowrence, kurcaci imut yang kata-katanya selalu sukses membuat bibir Nania mengerucut sebal.
“Ibu, kenapa bibil Bibi Nania selalu maju ke depan? Apakah Bibi Nania sedang saliawan?” tanya Flowrence penuh rasa ingin tahu.
Langkah Nania langsung terhenti begitu mendengar pertanyaan yang terlontar keluar dari mulut mungilnya Flowrence. Andai bisa dilihat, saat ini dari lubang telinga Nania tengah mengeluarkan kepulan asap tebal gara-gara dia yang jengkel di panggil dengah sebutan bibi. Yang benar saja. Cukup Sora dan Reiden saja yang menyebutnya bibi, tidak dengan anaknya Elea. Bisa turun pamor Nania nantinya. Dan ketika Nania hendak mengomeli Flowrence, dia dibuat menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan kuat begitu Elea membuka mulut.
“Bibir Bibi Nania bisa seperti itu karena di dalam mulutnya sedang terjadi tawuran. Jadi jangan heran ya?” jawab Elea asal.
“Owh, begitu ya. Pantas,” sahut Flowrence seraya mengangguk-anggukkan kepala.
Ya Tuhan!!! Kalau Flowrence tidak disingkirkan lama-lama aku bisa mati berdiri di sini. Arrggghhh! Elea juga. Kenapa sih dia harus membawa kurcaci cerewet ini? Akukan jadi kalah telak. Huh.
Tanpa Nania sadari, Flowrence diam-diam meng*lum senyum melihat raut kesalnya. Dari sekian sahabat ibunya, hanya Nania seorang yang paling di sukai oleh Flowrence. Walaupun usianya baru lima tahun lebih secupil, tapi Flowrence bisa merasakan kalau bibi galak ini sebenarnya adalah orang yang baik hati. Itu terbukti karena bibinya Reiden tidak pernah memprotes apapun yang Flowrence katakan. Bibi Nania orang yang sangat baik hati sekali bukan?
“Em Flowrence, di mana Russel?” tanya Susan mencoba menengahi gencatan senjata tak kasat mata antara gadis kecil ini dengan sahabatnya. Susan jelas tidak mau kehilangan kesempatan berbelanja gratis dengan istri dari pewaris Group Ma ini. Selain karena dia bisa bebas membeli apa saja, juga karena moment ini sangatlah berpengaruh bagi reputasinya bersama Tasya dan juga Nania. Kalian pasti tahulah ya seperti apa pengaruh keluarga Ma ini. Apalagi status Elea juga tidak sembarangan. Sudah pasti kebersamaan mereka akan sangat berdampak bagi kesejahteraan pamor Susan dan kedua sahabatnya. Benar tidak? Hehee.
“Lussel sedang belajal belsama Ayah Jackson, Bibi. Kalau sudah besal nanti Lussel akan menjadi doktel, jadi dia tidak boleh bodoh sepeltiku. Iyakan, Bu?” jawab Flow dengan riangnya.
“Iya sayang,” sahut Elea seraya tersenyum kecil. Dia lalu menatap bingung ke arah Susan, Tasya dan juga Nania yang diam terpaku dengan mulut ternganga. “Hei, kalian bertiga kenapa? Tidak sedang kerasukan jin yang ada di mall ini ‘kan?”
__ADS_1
Nania menmgerjap-ngerjapkan mata. Dia lalu menyenggol lengan Susan dan Tasya yang masih terbengang. “Ekhmmm, Elea. Sebenarnya kau itu memberi makanan jenis apa pada Flowrence sih. Kenapa dia bisa begitu gamblang mengakui kalau dia itu bodoh? Aku tahu jujur adalah sikap yang baik, tapi tidak begini juga caranya. Astaga. Jantungku sampai berhenti berdetak gara-gara anakmu. Huh!”
“Flow, Bibi Nania bertanya makanan apa yang Ibu berikan padamu setiap hari. Ayo jawab!”
Flowrence mengangguk. Dia melepaskan gandengan tangan ibunya kemudian berpindah ke samping Bibi Nania yang tengah menatapnya sinis. Flowrence kemudian tersenyum. “Bibi Nania, Ibu selalu membeliku makanan yang enak-enak. Kadang-kadang aku dan Kak Kal juga suka menculi makanan di kantin olang kalena Kakek Gleg bilang kalau makanan itu paling banyak gizinya. Begitu.”
Krik krik krik
Bisa kalian bayangkan sendiri buka betapa syoknya Nania, Susan dan Tasya saat mendengar jawaban polosnya Flowrence? Namun yang lebih membuat mereka semakin syok adalah sikapnya Elea yang malah tertawa mendengar kalau putra dan putrinya suka mencuri makanan. Aneh sekali bukan? Mereka benar-benar tak habis pikir dengan kelakuan ibu dan anak ini. Bahkan Nania yang biasanya tak pernah kalah berdebat dengan Elea mendadak jadi merasa frustasi karena Flowrence. Menjengkelkan sekali bukan?
“Ibu, aku mau beli boneka itu. Apa boleh?” tanya Flowrence seraya menunjuk satu boneka hantu yang matanya melotot besar. Dia lalu tersenyum evil. “Aku ingin menakut-nakuti Tola dengan boneka itu. Tola pasti senang sekali.”
“Baik, Ibu.”
“Bibi, tolong bawa Flowrence ke toko boneka itu ya. Beli semua boneka yang dia inginkan. Kalau perlu borong saja semua boneka yang ada di sana. Ayahnya Flowrence kaya raya, mubadzir kalau uangnya tidak di pakai.”
“Baik, Nyonya.”
Sikap Nania yang tadinya sedang kesal mendadak berubah menjadi manis sekali saat Flowrence berpamitan hendak pergi ke toko boneka. Hehehe, kalian pasti sudah tahu bukan apa penyebabnya? Yap, benar sekali. Jiwa pemeras di diri Nania langsung berontak begitu Elea menyebut tentang kekayaannya. Sebagai pemburu sugar daddy yang kaya raya, sudah pasti kehadiran wanita beraroma uang ini membawa kebahagiaan tersendiri di hati Nania, Susan dan Tasya. Mereka serasa sedang berjalan dengan sebatang pohon uang yang uangnya tidak akan pernah habis dimakan tujuh turunan.
__ADS_1
“Elea, toko mana dulu yang akan kita serang?” tanya Nania antusias.
“Emm yang mana ya?” sahut Nania sambil mengelus-elus dagu bawahnya. Dia kemudian menunjuk ke salah satu toko tas merk ternama dunia. “Kita ke sana saja. Kebetulan kemarin Flowrence merebus tas milikku, jadi aku ingin beli yang baru.”
“A-apa? Direbus?!” pekik Nania, Susan dan Tasya berbarengan.
In-ini apa-apaan sih. Semua barang milik Elea harganya selangit, lalu bagaimana bisa kurcaci itu merebus tasnya? Astaga, jantungku benar-benar tidak sehat karena ulah Flowrence. Ya ampun ….
“Iya direbus,” sahut Elea santai. “Mungkin karena Flowrence tahu kalau ayahnya kaya raya, makanya dia suka sekali merebus barang-barang milikku. Atau kalau tidak dia akan meminta Tora untuk mengoyaknya jadi potongan-potongan kecil sebelum akhirnya Flowrence akan memberikan satu-persatu potongan itu pada semua orang yang di jumpainya. Putriku manis sekali, bukan?”
“Ya, manis. Sangan manis malah, Elea. Astaga!” ucap Nania sambil mengusap wajah. Dalam hatinya, Nania membatin kalau dia ternyata masih belum ada apa-apanya jika di bandingkan dengan Elea. Sora merusak bedaknya saja Nania sudah kesurupan, lalu apa kabar dengan nyawa bayi Jepang itu jika sampai melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Fowrence pada barang-barang milik Elea? Mungkin Nania akan menjadi bibi terjahat dalam sejarah dunia. Haih.
“Elea, apa suamimu tidak marah melihat Flowrence merusak barang milikmu?” tanya Tasya dengan ekpresi seperti sedang menahan tangis. Ternyata kehidupan keluarga kaya itu sangat aneh. Bisa-bisanya Elea menceritakan kelakuan Flowrence sambil tersenyum santai begitu. Kalau Tasya yang ada di posisinya Elea, Tasya pasti sudah menggantung anaknya hidup-hidup. Sungguh.
“Kenapa harus marah, Sya. Selain tampan, kaya raya dan juga baik hati, Kak Gabriel adalah sosok ayah teladan yang tidak pernah bisa memarahi ketiga anak kami. Lagipula hanya tas yang direbus oleh Flowrence,jadi itu bukan masalah yang besar juga baginya. Lain cerita kalau aku yang direbus, aku berani jamin Kak Gabriel pasti akan melakukan hal yang sama juga terhadap Flowrence. Dia suami yang peka sekali bukan?”
Wajah Tasya, Susan dan Nania langsung pias mendengar jawaban nyeleneh Elea. Rasanya mereka ingin sekali mengarungi Elea lalu membuangnya ke tengah lautan luas agar menjadi santapan ikan hiu di sana. Tidak istri, tidak suami, tidak anak, semua anggota keluarga Ma sama gilanya. Membuat tekanan darah di tubuh orang lain naik saja. Huh.
***
__ADS_1