My Sugar Daddy ( Nania)

My Sugar Daddy ( Nania)
11. Ketegasan Jovan


__ADS_3

📢📢📢 BOM KOMENTARNYA BESTIE 💜


***


Di kala Nania tengah menggibahkan tentang Jovan bersama kedua sahabatnya, di tempat lain terlihat Jovan yang sedang duduk di dalam ruang kerja barunya bersama sang ayah. Wajahnya terlihat lelah, tapi itu tak menutupi rasa bahagia atas apa yang baru saja dia terima. Ya, hari ini Jovan resmi di umumkan sebagai pemimpin di perusahaan ini guna menggantikan posisi ayahnya. Bangga? Tentu saja. Karena dengan cara inilah Jovan bisa segera mendapatkan hati Nania yang sejak dulu selalu bersemboyan hanya ingin menikah dengan pria yang banyak uang. Jadi dengan posisi Jovan yang sekarang wajar saja kan kalau dia merasa bangga? Hohoho, tentu saja. 


"Jo, menurutmu Krystal gadis yang bagaimana?" tanya Ardan iseng-iseng menyinggung tentang anak dari sahabat lamanya. Dia menatap lekat ke arah putranya yang sejak tadi tidak berhenti tersenyum. 


"Krystal ya?" sahut Jovan. "Em, menurutku dia gadis yang cukup cantik, Ayah. Kenapa memangnya?"


"Tidak apa-apa. Ayah hanya ingin memastikan saja kalau kau itu masih tertarik pada wanita," jawab Ardan berseloroh. 


"Ayah tidak perlu bohong. Bilang saja kalau Ayah dan Paman Kendy berniat menjodohkan kami berdua. Iya 'kan?" tanya Jovan langsung menyindir sang ayah secara terang-terangan. Biar saja, Jovan malas membuang waktunya hanya untuk memikirkan hal-hal yang tidak berguna dalam hidupnya. 


Ardan sedikit kikuk saat tujuannya di ketahui Jovan dengan begitu cepat. Sadar kalau sudah tidak bisa mengelak lagi, Ardan pun akhirnya memberitahu Jovan tentang niatannya yang memang ingin menjodohkan dia dengan anak dari teman lamanya itu. 


"Jo, Ayah tahu ini mungkin terlalu cepat untukmu. Sebagai orangtua, Ayah hanya ingin yang terbaik untuk kau dan juga adikmu. Kau paham kan apa maksud Ayah?"


"Dengan menjodohkan aku dan Krystal?" 


"Benar. Akan tetapi Ayah tidak akan memaksa jika seandainya kau tidak mau. Sungguh!"

__ADS_1


Jovan menghela nafas. Dia memilin bibir bawahnya sambil membandingkan Krystal dengan Nania. Jauh, benar-benar sangat jauh perbedaan di antara mereka berdua. Krystal memang cantik, tapi Nania seribu kali lebih cantik dan menarik. Kedua gadis ini masih sama-sama kuliah, dan itupun di satu universitas yang sama. Akan tetapi jika membandingkan kecerdasan mereka, tentu saja Nania adalah juaranya. Karena selain pintar, Nania juga adalah seorang atlet dengan prestasi yang sangat membanggakan. Sedangkan Krystal, gadis itu lebih terkenal karena sikapnya yang manja. Oh ya, jika kalian merasa penasaran darimana Jovan bisa mengetahui ini semua, jawabannya adalah karena dia telah meminta seseorang untuk mengumpulkan informasi dari kedua gadis ini. Terutama Nania. 


"Jadi Jo, apa tanggapanmu tentang rencana Ayah yang ingin menjodohkanmu dengan Krystal?" tanya Ardan ingin tahu. "Apa kau bersedia untuk bertunangan dengannya?"


"Tidak!"'jawab Jovan singkat, padat, dan jelas. 


"Tapi kenapa? Apa kurangnya Krystal?" cecar Ardan kaget begitu mendengar jawaban singkat Jovan. 


Sebelum menjawab, Jovan sedikit memajukan tubuhnya ke depan. Dia lalu meletakkan satu tangannya di atas paha, kemudian menatap ayahnya sambil bertopang dagu. 


"Ayah, Ayah masih ingat Nania tidak?" tanya Jovan. 


"Nania? Siapa dia?"


"Nania adalah gadis yang berani memarahi Ayah dan Ibu saat dulu aku dilarikan ke rumah sakit gara-gara syok mendengar kabar kalian yang ingin bercerai. Dan dulu aku juga pernah memberitahu Ayah dan Ibu kalau aku menyukainya. Ingat tidak dengan Galang dan Luri? Saat itu mereka pernah datang ke rumah kita bersama dengan Nania untuk menjengukku!" ucap Jovan mencoba mengulik kembali ingatan sang ayah tentang siapa Nania. 


"Nania Nania Nania. Oh-oh, Ayah ingat sekarang. Kalau tidak salah dia itu gadis galak yang dengan begitu berani meneriaki Ayah dan Ibu saat dia datang ke rumah sakit bukan?" sahut Ardan sedikit heboh.


"Iya benar itu dia, Ayah. Nania adalah orang yang telah membuat hubungan kita jadi seperti sekarang. Tanpanya, saat ini keluarga kita pasti sudah hancur berantakan. Lalu Ayah dan Ibu pasti sudah bercerai dan memiliki keluarga baru masing-masing!" sahut Jovan kegirangan begitu ayahnya berhasil mengingat jasa baik yang telah dilakukan oleh Nania. 


"Astaga, bagaimana bisa Ayah lupa pada sosok gadis galak yang telah mempersatukan keluarga kita ya, Jo. Ya ampun, tidak tahu diri sekali Ayah," ucap Ardan sembari mengusap wajahnya hingga memerah. Bayangan di mana seorang gadis belia dengan begitu berani melontarkan kata-kata yang begitu menusuk langsung memenuhi pikiran Ardan. Dia tak habis pikir mengapa bisa melupakan begitu saja tentang gadis yang telah memberikan jasa besar dalam keluarganya. Keterlaluan. 

__ADS_1


Melihat reaksi sang ayah, Jovan merasa sangat yakin kalau hubungannya dengan Nania pasti tidak akan terkendala restu orangtua. Ya meskipun sekarang dia dan Nania baru bertemu sebanyak dua kali, Jovan berani bertaruh kalau Nania pasti akan menjadi miliknya jika tahu kalau sekarang dia sudah kaya raya. 


"Tapi Jo, apa iya Nania masih mengingatmu? Dan ... jangan bilang kau masih menyukainya sampai sekarang. Benar tidak?" tanya Ardan penuh selidik. 


Apa yang akan aku katakan pada Kendy ya jika seandainya memang benar Jovan masih menyukai Nania. Dia pasti akan merasa sangat kecewa jika gagal menjodohkan Krystal dengan Jovan. Ah, semoga saja Nania sudah punya kekasih yang sangat mencintainya. Hmmm, batin Ardan penuh harap. 


"Kemarin saat aku pergi menemuinya Nania sudah lupa padaku, Ayah. Tapi Ayah tenang saja, pasti ada banyak cara yang bisa membuatnya ingat lagi padaku. Lagipula aku ini kan sudah di tandai sejak lama, jadi bukan hal yang sulit untuk aku membuat Nania bisa kembali mengingat kenangan kami. Santai," jawab Jovan sambil tersenyum penuh maksud. 


Bagaimana tidak santai! Semua harapan Nania berada di diri Jovan. Tampan, kaya raya, dan juga seorang bos. Jovan jamin setelah Nania mengetahui hal ini dia pasti akan langsung menempel padanya. Ah, gara-gara membicarakan Nania terus sekarang Jovan jadi merindukannya. Kira-kira gadis beracun itu sedang apa ya? Jovan jadi penasaran. 


"Jo, kau itu masih muda. Jangan terlalu cepat memutuskan gadis mana yang akan kau pilih. Ayah bukan melarangmu mendekati Nania, Ayah hanya merasa kau perlu untuk mengenalnya lebih jauh. Biar bagaimana pun kalian berdua baru saja bertemu setelah bertahun-tahun terpisah jarak, jadi bisa saja kan kalau sikap Nania yang sekarang sudah berbeda dengan sikapnya yang dulu?" ucap Ardan mencoba mempengaruhi pikiran Jovan. Bukan tak mendukung, tapi Ardan lebih setuju jika Jovan menjalin hubungan dengan Krystal, anak dari teman lamanya. Juga karena Ardan yang merasa tidak enak jika perjodohan yang sudah mereka rencanakan dengan matang gagal karena Jovan lebih memilih gadis lain. 


"Ayah, aku tahu apa maksud Ayah bicara seperti itu. Tapi maaf, gadis yang akan menjadi istriku hanya Nania. Jadi aku harap tolong Ayah jangan mencampuri urusan pribadiku. Karena aku tidak menyukainya!" ucap Jovan langsung menegaskan kalau dia hanya akan memilih Nania, bukan gadis lain. 


"Tapi Jo, Ayah .... 


"Di awal tadi Ayah bilang tidak akan memaksa, lalu ini apa? Ayah jangan coba-coba mengingkari ucapan Ayah sendiri ya, atau aku akan mengundurkan diri dari perusahaan ini kemudian pergi mencari pekerjaan baru di perusahaan lain. Ingat, Ayah. Aku sudah dewasa, aku berhak menentukan pilihan hidupku sendiri!"


Setelah berkata seperti itu Jovan memilih pergi dari sana. Dengan sedikit kasar Jovan melepas dasi yang terpasang di kerah bajunya, dia merasa cukup gerah setelah berbincang dengan ayahnya. 


"Enak saja ingin menjodohkan aku dengan Krystal. Selera anakmu ini tidak serendah itu, Ayah. Hanya Nania, hanya Nania satu-satunya gadis yang aku inginkan. Hanya dia!" gumam Jovan sambil berjalan menuju kantin. Mendadak perutnya terasa lapar setelah berdebat dengan ayahnya. Jovan butuh banyak asupan makanan untuk mengembalikan sebagian tenaganya yang sudah terkuras sejak tadi. 

__ADS_1


***


__ADS_2