
📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI WRITER SEASON 8. OKE? 💜💜💜
"Kak Gleen?"
Gleen yang baru akan keluar dari restoran langsung berbalik menghadap belakang saat mendengar ada seseorang yang memanggilnya. "Oh, kau, Jovan. Aku pikir siapa tadi yang memanggilku. Calon adik ipar ternyata,"
Jovan tertawa saat Kak Glenn menyebutnya sebagai calon adik ipar. Segera dia berjalan menghampiri pria yang adalah kakak ipar Nania kemudian menyapanya.
"Kau baru akan makan siang ya?" tanya Gleen kemudian mengajak Jovan untuk duduk bersama. Matanya yang tajam diam-diam menelisik memperhatikan penampilan dari pria muda yang baru saja bergabung di dunia bisnis.
Ternyata Jovan sangatlah tampan jika di perhatikan dari jarak dekat. Pantas saja gadis bar-bar itu sangat menyukainya. Nania, matamu benar-benar sangat jeli. Hebat sekali kau ya bisa menemukan sugar daddy sesempurna Jovan. Hmmmm, ujar Gleen membatin.
"Iya, Kak. Aku baru saja mau makan siang. Kakak sendiri, sudah mau pulang atau bagaimana?" jawab Jovan.
"Aku sudah mau pulang, Jo. Tadi ada klien yang meminta untuk bertemu di sini, jadi sekalian saja aku mengajaknya makan siang bersama,"
"Oh, begitu."Jovan mengangguk paham.
__ADS_1
Gleen berdehem. " Ekhmm, oh ya, Jovan. Bagaimana dengan bisnismu? Aku dengar dari Nania sekarang kau adalah bos di perusahaan milik keluargamu. Apa itu benar?"
"Sampai detik ini bisnisku masih berjalan lancar, Kak. Dan ya, sekarang aku yang menggantikan posisi Ayah di kantor. Beliau bilang sudah lelah memimpin perusahaan, lalu memintaku untuk segera menggantikan posisinya. Ya beginilah aku sekarang. Langsung menghadapi kerasnya dunia persaingan bisnis begitu kuliahku selesai," jawab Jovan mengatakan apa adanya.
"Itu bagus, Jo. Karena setidaknya kau bisa langsung mendapat pekerjaan begitu lulus sekolah. Coba kau lihat di luaran sana. Ada banyak sekali sarjana yang menganggur, padahal nilai mereka saat lulus sangatlah lumayan," ucap Gleen seraya menepuk bahunya Jovan. "Sekolah memang penting, tapi kepintaran dalam mengelola kesempatan itu jauh lebih di butuhkan. Apalah gunanya bersekolah tinggi-tinggi kalau pada akhirnya gelar yang kita dapat tidak bisa di gunakan dengan baik. Jadi begitu kesempatan datang menghampiri, segera terima lalu mulailah terjun ke dunia praktek yang sebenarnya. Apa saja, sekalipun tak sesuai dengan jurusan yang kita ambil. Karena pada dasarnya jurusan tidak bisa menjadi patokan untuk kita sukses, tapi pengalaman bisa membukakan pintu kesuksesan di hidup kita. Percaya itu!"
Jovan dengan seksama mendengarkan nasehat dari Kak Gleen. Rasanya dia benar-benar bangga bisa berbincang dengan orang sehebat ini di kala Jovan sendiri baru saja memijakkan kakinya di dunia persaingan. Nasehat, kritik, dan juga masukan sangatlah di butuhkan karena bagaimana pun Jovan belum memiliki banyak pengalaman di bidang bisnis. Jadi dengan dia berbincang seperti ini, secara tidak langsung Jovan telah mendapatkan ilmu agar dia tidak semena-mena pada pekerjaan yang sedang di gelutinya.
"Maaf ya jika aku terlalu banyak bicara. Aku hanya ingin lebih dekat saja dengan sugar daddy-nya Nania. Hehehe," ucap Gleen tanpa basa basi.
"Ya ampun, Kak. Aku malah senang berbincang seperti ini denganmu. Ya anggaplah kalau aku sedang menimba ilmu dari seseorang yang sudah sangat berpengalaman dalam dunia bisnis. Kan lumayan. Semua nasehat darimu bisa aku terapkan agar bisa memajukan perusahaanku nanti. Dan seperti yang kau bilang tadi Kak, kalau aku ini adalah sugar daddy-nya Nania. Dia bisa membuangku jika usaha yang aku jalankan sampai bangkrut. Kau tahu sendiri kan seperti apa Nania?" sahut Jovan semringah saat sedang membahas tentang Nania.
"Tentu saja aku merasa sangat beruntung sekali, Kak. Tapi ya itu, aku harus berjuang mempertahankan kekayaanku agar Nania tidak pergi. Makanya aku sangat berterima kasih atas saran dan nasehat yang kau berikan tadi, Kak. Aku yakin nasehat itu pasti akan sangat berguna untukku nanti," jawab Jovan.
"Nania sangat cantik, bahkan dia yang paling cantik jika di bandingkan dengan kedua kakaknya. Hmmm, kau yang semangat ya. Pastikan uang di rekeningmu selalu bertambah setiap menitnya agar Nania tidak sampai kabur ke pelukan sugar daddy lain. Kau bisa gila nanti!"
Setelah berkata seperti itu Gleen dan Jovan tertawa terbahak-bahak. Mereka tentu sama-sama tahu kalau cara Nania mendeskripsikan tentang cinta sangatlah mengerikan. Gadis bar-bar itu menganggap kalau uang jauh lebih penting daripada cinta karena cinta tidak bisa membuat perut menjadi kenyang. Itu memang fakta. Namun, bagi sebagian orang hal tersebut merupakan tekanan yang cukup berat. Bagaimana tidak berat! Para pria seakan di tuntut harus menjadi kaya raya jika ingin mendapatkan Nania. Karena jika tidak, maka para pria hanya bisa mengigit jari dan bermimpi bisa memiliki seorang Nania yang sangat cantik dan juga seksi.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong kenapa kau tidak mengajak Nania untuk makan siang bersama saja, Jo?" tanya Gleen penasaran mengapa Jovan tidak mengajak adik iparnya datang ke restoran ini.
"Haihhh, kau seperti tidak tahu Nania saja, Kak. Sebenarnya tadi itu aku sudah akan pergi menjemputnya di kampus, tapi dia tiba-tiba menolak dengan alasan kalau udara siang ini sangat panas. Nania takut kulitnya terbakar sinar matahari karena jarak restoran ini cukup jauh dari kampusnya. Juga karena dia ada latihan bela diri, makanya dia menolak pergi makan siang denganku," jawab Jovan lesu.
Gleen terbengang heran mendengar jawaban Jovan. Benar-benar ya si Nania. Bisa-bisanya dia beralasan seperti itu, padahal Jovan menjemputnya menggunakan mobil. Haduuhh, Gleen jadi sakit kepala sendiri memikirkan kelakuan Nania.
"Aku baru dengar ada orang yang kulitnya bisa terbakar sinar matahari di saat orang itu sendiri duduk di dalam mobil ber-AC. Dan sepertinya hanya Nania saja yang mempunyai pemikiran seperti itu, Jo. Benar tidak?"
"Tapi itulah uniknya Nania, Kak. Kalau yang bicara seperti itu bukan dia, saat ini aku pasti sudah makan siang bersama gadis lain. Pokoknya apapun yang di katakan oleh Nania semuanya terdengar wajar. Dan aku percaya," sahut Jovan tanpa ragu membela Nania di hadapan kakak iparnya. Tapi memang benar kalau Jovan sama sekali tidak merasa keberatan atas semua alasan Nania yang terkadang terdengar sedikit tidak masuk akal. Masa bodo, yang penting Nania miliknya. Hehe.
"Wahhhh, sepertinya kau benar-benar sudah cinta mati pada Nania ya, Jo. Bahkan keanehannya kau anggap sebagai sesuatu yang unik. Sebegitu cintanya kau pada Nania, hm?" ledek Gleen antara heran dan juga lucu melihat Jovan yang sedang terNania-Nania. Dia merasa seperti sedang bernostalgia akan perjuangannya dulu dalam mendapatkan hatinya Lusi.
"Aku bukan hanya sudah cinta mati pada Nania, Kak. Tapi rasa cintaku padanya sudah sampai di taraf aku benar-benar tidak bisa menjalin hubungan jika bukan dengan Nania. Namanya sudah terlanjur mendarah daging di tubuhku. Jadi apapun yang terjadi dan mau seperti apa orang mencela Nania, aku akan tetap mencintainya," sahut Jovan dengan sangat percaya diri.
"Yaaa, kenapa aku mual ya mendengar perkataanmu, Jo. Aku seperti sedang berkaca pada diriku beberapa tahun yang lalu saat aku sedang mendekati kakaknya Nania. Dan sialnya perasaan itu terus melekat sampai sekarang. Aku juga tidak bisa jika tidak bersama istriku. Kita sama, sama-sama bodoh setelah terjebak pesona para gadis desa itu!"
Gleen dan Jovan akhirnya menertawakan kebodohan mereka yang tidak bisa lepas dari jerat pesona Lusi dan Nania. Sungguh, entah apa yang telah dimakan oleh para gadis desa itu sampai membuat Gleen dan Jovan hampir setengah gila karena mencintai mereka. Yang jelas sensasinya sangat luar biasa hebat. Cobalah jika tidak percaya.
__ADS_1
*******