My Sugar Daddy ( Nania)

My Sugar Daddy ( Nania)
62. Dewa Yunani


__ADS_3

📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI YOU ARE A WRITER SEASON 8. OKE 💜💜💜


***


Rasanya ingin sekali Rhea menjambak seseorang yang tengah tersenyum di depan pintu rumahnya. Tadi saat dia pergi ke dapur untuk mengambil air minum, Rhea diminta oleh sang ibu agar membukakan pintu ketika bel rumah mereka berbunyi. Meskipun enggan, Rhea dengan terpaksa menuruti perintah sang ibu. Dan begitu pintu di buka, bammm. Gadis yang membuatnya di hukum dengan santai melambaikan tangan sambil tersenyum padanya. Ya, gadis itu adalah Nania.


“Mau apa kau di sini?” tanya Rhea dengan cetus.


“Uhhhhh, galak sekali sih. Kenapa? Kesal ya karena tidak bisa keluar rumah?” sahut Nania meledek Rhea yang terlihat sangat kesal begitu melihatnya. “Makanya jangan nakal. Dihukum kan kau sekarang.”


“Tutup mulutmu, Nania. Sekarang cepat pergi dari sini, aku tidak sudi menerima tamu sepertimu!” hardik Rhea dengan kasar mengusir Nania. Darahnya serasa naik ke ubun-ubun saat di ejek seperti itu olehnya. Benar-benar gadis yang sangat menjengkelkan.


Nania hanya tersenyum saja menanggapi sikap kasar Rhea. Bak rumah milik sendiri, Nania melangkah masuk ke dalam rumah setelah menyenggol tubuh Rhea hingga terdorong ke samping. Dia lalu meletakkan tasnya di atas meja, memperhatikan keadaan rumah yang sepertinya ada sedikit perubahan. Tanpa mengindahkan keberadaan Rhea, Nania melihat-lihat foto yang terpajang di rumahnya Jovan. Dia lalu tersenyum melihat Jovan yang terlihat sangat tampan ketika mengenakan baju wisuda.


“Ck, calon suamiku tampannya melebihi ketampanan dewa Yunani. Benar tidak, Rhe?” tanya Nania sambil terus berdecak kagum akan ketampanan yang dimiliki oleh sugar daddy-nya.


“Tentu saja kakakku sangat tampan. Secara, dia itukan terlahir dari orangtua dengan gen yang sangat sempurna. Wajarlah kalau ketampanannya tak kalah dari ketampanan dewa Yunani,” jawab Rhea merasa bangga mendengar Nania memuji ketampanan kakaknya. Dia lalu tanpa sadar berjalan mendekat, merasa hangat saat melihat foto keluarganya yang tergantung dengan begitu indahnya.


Diam-diam Nania melirik ke arah Rhea yang kini berdiri di sebelahnya. Iba, itu yang Nania rasakan saat memperhatikan Rhea yang terlihat begitu bahagia saat memandangi foto keluarganya. Sebenarnya Rhea adalah gadis yang baik, hanya saja tertutup oleh sikapnya yang tidak mudah bergaul dengan orang lain. Jadi bagi yang baru mengenalnya, mereka pasti akan berpikir kalau Rhea adalah gadis angkuh dan juga menyebalkan. Padahal sebenarnya tidak seperti itu. Nania bisa melihat dengan sangat jelas kalau Rhea ini sangat kesepian. Dan bisa jadi sikapnya yang memperlakukan Nania layaknya musuh hanyalah untuk mencari perhatian saja. Karena jika tidak, Rhea tidak akan semudah ini berpaling sikap. Tak mau membiarkan Rhea terus merasa kesepian, Nania memutuskan untuk mulai mendekatinya. Dan hal pertama yang harus Nania lakukan adalah memujinya. Ya, ambil hatinya lalu dapatkan restunya. Hahaha.


“Kak Jovan sangat tampan seperti Ayah. Aku merasa sangat bangga setiap kali mendengar ada yang memujinya,” ucap Rhea sambil tersenyum.

__ADS_1


“Kau juga cantik. Sama persis seperti Ibumu,” sahut Nania memulai rencana untuk mendekati Rhea. Dia kemudian menoleh saat Rhea seperti kaget mendapat pujian seperti itu darinya. “Rhea, kau sangat cantik. Dan kau adalah gadis kedua yang mendapat pujian dariku setelah aku memuji diriku sendiri. Jadi berbahagialah.”


Rhea tertegun. Dia tidak menyangka Nania akan memujinya seperti ini. Tak terbiasa dengan situasi akrab seperti ini, Rhea menjadi salah tingkah saat Nania menatapnya lekat sambil menaikkan kedua sudut bibirnya. Gadis ini … ternyata sangat manis.


Sadar, Rhe. Yang barusan memujimu itu Nania, dia musuhmu. Kau jangan sampai terpedaya juga seperti kakak dan orangtuamu. Sadar Rhe, sadar, ujar Rhea dalam hati.


“Kalau mau tersenyum ya tersenyum saja, Rhe. Jangan ditahan-tahan seperti itu,” ledek Nania.


“S-siapa juga yang mau tersenyum. Jangan sok tahu kau,” sahut Rhea tergagap. Padahal memang benar kalau sekarang dia sedang menahan diri agar tidak tersenyum. Karena jujur, pujian dari Nania membuat Rhea merasa sangat senang. Selama ini tidak ada seorangpun yang menyebutnya cantik selain ibunya, jadi Rhea merasa pujian dari Nania sangatlah special meskipun pujian tersebut datang dari gadis yang sangat tidak di sukainya.


“Haih, wajahmu sudah sampai memerah seperti itu masih saja tak mau mengaku. Rhea-Rhea, kau ini sok jual mahal sekali sih. Jangan begitulah.”


Setelah berkata seperti itu Nania tiba-tiba memejamkan mata saat mencium aroma masakan yang begitu wangi. Rhea yang melihat Nania memejamkan mata seperti itu merasa terpesona untuk beberapa detik. Ternyata Nania sangatlah cantik jika di perhatikan dari dekat. Apa mungkin ini yang membuat sang kakak begitu tergila-gila padanya? Harus Rhea akui kalau kecantikan Nania sangat jauh melampaui Krystal. Ah, mengingat nama gadis itu Rhea jadi penasaran mengapa Krystal tidak pernah menanyakan kabarnya setelah menerima hukuman dari ayahnya. Apa mungkin gadis itu sedang sibuk?


“Calon mertuamu?” beo Rhea agak ambigu mendengar pertanyaan Nania.


“Ck, maksudku ibumu, Bibi Silvi. Begitu saja tidak tahu. Bagaimana sih!” sahut Nania sedikit sewot.


“Sejak kapan Ibuku jadi calon mertuamu, Nania. Kau jangan mengada-ada ya.”


“Apanya yang mengada-ada. Memang benar kok kalau Ibumu adalah calon mertuaku. Kan nantinya aku akan menikah dengan Jovan, yang artinya kau akan menjadi adik iparku. Haha. Rasakan!”

__ADS_1


Rhea segera menyusul Nania yang kini tengah berjalan menuju dapur. Dia sampai kehabisan kata-kata mengahadapi kepercaya-dirian gadis ini. Saking tak bisa lagi berkata-kata, Rhea pun mengekori Nania seperti anak bebek. Dia lalu berdiri diam melihat Nania yang langsung menghampiri ibunya tanpa merasa canggung sama sekali.


“Halo Bibi Silvi. Ada yang bisa aku bantu tidak?” tanya Nania sambil melongok melihat ke atas kompor. Dia ingin tahu apa yang sedang dimasak oleh calon ibu mertuanya.


“Ya ampun, Nania. Ini benar kau?” kaget Silvi saat ada seorang gadis cantik bertanya padanya. Dia sampai terbengang-bengang melihat betapa seksinya gadis ini.


“Bibi, aku tahu aku ini cantik dan seksi. Tapi Bibi jangan lupa untuk mengaduk masakannya. Kalau gosong bagaimana? Nanti aku dan calon suamiku sakit perut saat memakannya!” tegur Nania sembari mengambil pengaduk sayur dari tangan ibunya Jovan. Setelah itu dengan piawainya Nania mengambil alih pekerjaan mertuanya, tak mempedulikan raut keheranan di wajah semua orang yang ada di sana.


Silvi bingung harus melakukan apa sekarang. Tadi Jovan memberinya kabar mendadak kalau Nania ingin makan malam di sini. Dan siapa yang akan menyangka kalau tamu yang ingin dia jamu dengan makan malam istimewa kini malah sibuk memasak menu makan malamnya. Tapi jujur, di mata Silvi Nania ini adalah gadis yang cukup unik. Jarang ada gadis yang masih mau berurusan dengan masalah dapur di saat dirinya sudah berpenampilan rapi seperti ini. Sungguh gadis yang istimewa.


“Rhea, kenapa kau malah berdiri seperti orang bodoh di sana. Cepat kemari. Bantu aku memasak!” teriak Nania sambil menatap galak ke arah Rhea.


“A-apa kau bilang? Membantumu memasak?” sahut Rhea syok ketika Nania memintanya untuk ikut membantu di dapur. Sudah gila apa.


“Iyalah. Kenapa memangnya? Tidak mau?” omel Nania. Dia lalu berdecih sinis sambil mengacungkan pengaduk sayur pada Rhea yang terlihat enggan membantunya memasak. “Rhea, kuberitahu kau satu hal ya. Sebagai seorang wanita kita itu harus bisa memasak. Kalau kau tidak mau belajar dari sekarang, kasihan calon suami dan calon anakmu nanti. Mau kau beri makan apa mereka! Batu?”


“Aku bisa membayar pelayan. Jangan meremehkan aku kau, Nania!” sahut Rhea tak kalah sinis.


“Iya kalau suamimu kaya. Kalau Tuhan menakdirkanmu menikah dengan gembel miskin yang tidak punya apa-apa bagaimana? Mau suami dan anakmu terkena busung lapar karena kau yang tidak pandai memasakkan makanan untuk mereka? Hah?” sarkas Nania tak tanggung-tangung. Dia tak peduli meski di sana ada pelayan dan juga ibunya Jovan. “Cepat bantu aku atau aku akan menggoreng bokongmu untuk kujadikan santapan menu makan malam kita. Jangan membantah. Cepat!”


Rhea langsung menelan ludah mendengar ancaman Nania yang sangat tidak manusiawi sekali. Dengan berat hati Rhea akhirnya mendekat ke arah Nania, mendengarkan dengan seksama saat gadis ini memintanya untuk melakukan ini dan itu.

__ADS_1


Nania, meskipun kau sangat galak pada Rhea, entah kenapa Bibi malah merasa beruntung sekali. Semoga saja kedatanganmu kemari bisa merubah pandangan Rhea terhadapmu. Dia sebenarnya adalah gadis yang baik. Akan tetapi karena sikapnya yang terlalu tertutup, dia jadi sulit menerima orang baru di hidupnya. Bibi harap kau bisa memaklumi sikapnya, batin Silvi terharu melihat Nania yang dengan begitu mudahnya menjinakkan kekeraskepalaan putrinya.


***


__ADS_2