
Lusi dan Luri sama-sama menarik nafas dalam melihat kepulangan adik mereka yang menenteng banyak paperbag di tangannya. Namun, sebenarnya bukan itu yang membuat mereka menarik nafas. Akan tetapi pakaian yang di kenakan oleh Nania. Ya, seperti kebiasaan gadis itu. Nania pulang dengan memakai gaun merah berbelahan tinggi yang sangat luar biasa seksi hingga menampakkan kulit mulus kakinya yang memang sangat putih dan terawat. Jika dulu Luri dan Lusi selalu menjaga cara berpakaian mereka, lain halnya dengan gaya adik bungsu mereka ini. Entah siapa yang di contoh, Nania selalu menjadikan perkembangan zaman sebagai alasan agar dia bebas mengumbar keseksian tubuhnya. Agak sedikit menyimpang memang. Tapi baik Lusi maupun Luri, keduanya sama-sama tidak bisa menghentikan kegilaan adik mereka. Dan pada akhirnya semua orang hanya bis pasrah dan terserah pada apa yang Nania inginkan.
“Hellow kakak-kakakku yang cantik. Kenapa kalian memandangku sampai seperti itu? Terpesona ya melihat kecantikanku?” tanya Nania seraya mendudukkan bokong sintalnya di atas sofa. Dia lalu bersilang kaki sambil menatap bergantian pada kedua kakaknya. “Why? Ada apa dengan ekpresi kalian?”
“Nania, kau darimana?” tanya Lusi ingin tahu. “Setahu Kakak pagi tadi kau berpamitan berangkat ke kampus bukan memakai gaun yang itu. Kenapa tiba-tiba kau sudah berganti baju? Dan … apa isi paperbag yang kau bawa? Jangan bilang kau barusaja memeras Elea ya?”
Nania langsung memutar bola matanya karena jengah mendengar tuduhan sang kakak. Sambil melepas kaca mata hitam yang masih bertengger manis di matanya, Nania menceritakan darimana dia mendapatkan barang yang tentu isinya adalah barang-barang mahal. Termasuk juga mengapa pakaian yang dikenakannya bisa berubah.
“Wahai Kak Lusi yang cantik dan baik hati. Untuk apa aku repot-repot memeras Elea kalau aku sendiri memiliki tiga sugar daddy yang kaya raya? Mubadzir kalau mereka tidak di gunakan. Sedangkan Elea, aku baru akan menggunakanya sebagai kartu as di saat aku butuh dukungan harga diri darinya. Dan kalau Kakak ingin tahu kenapa dan kapan aku bertukar baju, jawabannya adalah setelah aku pulang dari kampus aku singgah sebentar di rumahnya Susan. Dan karena dari semalam Jovan terus merengek meminta untuk bertemu denganku, jadi ya sudah aku langsung pergi saja menemuinya di perusahaan setelah dari rumahnya Susan. Dan untuk gaun ini sendiri, aku memilih untuk memakainya karena Jovan suka aku memakai gaun merah. Lebih menantang katanya!” jelas Nania dengan gamblang.
Lusi terperangah. Salah, sangat salah Lusi bertanya seperti itu pada Nania. Harusnya dari awal Lusi sudah bisa menebak kenapa Nania bisa berpakaian seperti ini. Ya Tuhan … Lusi sungguh tidak mengerti mengapa suami, adik iparnya, dan bahkan adik kandungnya sendiri memiliki sikap yang sedikit gila dalam memperlakukan pasangannya. Mungkinkah ini adalah kutukan? Dan anehnya, Jovan juga tak kalah gila dalam menunjukkan cintanya pada Nania. Sepertinya Jovan juga akan masuk ke dalam deretan para pria gila di rumah ini. Kecuali ayahnya ya?
“Nania, kami tidak menyalahkanmu yang pergi menemui Jovan di perusahannya. Akan tetapi bisakah kau sedikit mengurangi gaya berpakaianmu yang terbuka itu? Ingat, Nania. Wanita terlihat cantik tidak harus dengan mengumbar bentuk tubuhnya, tapi wanita juga bisa terlihat cantik dengan memakai pakaian yang tertutup. Mengerti?” ucap Luri memberi nasehat selembut mungkin. Tak lupa juga dia menyunggingkan senyum hingga menampakkan kedua lesung di pipinya.
“Maksudnya Kakak memintaku agar berpakaian tertutup seperti ninja ya?”
__ADS_1
Haihhh, mulai lagi Kak Luri. Apa Kak Luri lupa kalau aku ini bukan gadis berattitude sutra sepertinya? Ya Tuhan, kalau begini ceritanya bisa mati berdiri aku. Mana mungkin aku bisa bertahan hidup jika harus mendengarkan saran dari Kak Luri. Bisa turun pamor aku nantinya. Bagaimana sih.
“Tidak seperti itu juga, Nania. Tidak apa-apa kalau mau seksi, asal jangan terlalu mencolok. Kau itu seorang gadis. Bagaimana jika sampai ada orang yang berniat jahat karena tak tahan melihat kemolekan tubuhmu, hem?” jawab Luri yang merasa lucu saat Nania menyebutkan tentang pakaian ninja. Ada-ada saja adiknya ini.
“Ada Kak Fedo dan Kak Gleen yang akan mengurusnya. Jovan juga. Ketiga sugar daddyku mana mungkin diam saja jika mengetahui ada orang yang ingin mencelakaiku. Mudah 'kan? ” sahut Nania dengan santainya. “Dengar ya, Kak Luri. Aku bukannya tidak mau mendengarkan saran darimu. Akan tetapi alur kehidupan yang aku jalani tidak sama dengan kalian. Kau dan Kak Lusi terbiasa dengan penampilan sederhana dan tertutup. Sedangkan aku? Aku ini hanya bisa bertahan hidup dengan bermodalkan pujian dari para pria. Dan jika aku sampai berubah menjadi gadis yang alim, aku yakin semua pria pasti tidak akan sudi untuk menatapku lagi. Jadi tolong terimalah aku apa adanya ya, Kak. Aku janji meskipun penampilanku seperti ini aku dan Jovan tidak akan melewati batasan. Yang seharusnya aku jaga, pasti akan kulindungi dengan sepenuh jiwa. Oke?”
Luri terkekeh. Sedangkan Lusi, dia menggelengkan kepala sambil terus menarik nafas panjang. Sepertinya memang hanya akan sia-sia saja menasehati Nania. Omongan mereka semuanya mental, tak ada satupun yang berhasil mengena di hatinya. Pantaslah jika orangtua mereka sampai mengeluhkan sikap Nania yang setiap harinya semakin menjadi-jadi saja. Hmmmm.
“Oya, Kak. Dimana Reiden dan Sora? Tumben sekali rumah ini sepi. Mereka tidak sedang merencanakan sesuatu untuk menyerangku ‘kan?” tanya Nania sambil celingukan mencari keberadaan kedua keponakannya.
“Yakan siapa tahu saja, Kak. Kalau Tuhan sudah berhendak, apa sih di dunia ini yang tidak mungkin terjadi. Benar ‘kan?”
Setelah berkata seperti itu Nania kembali memakai kaca matanya kemudian bangkit berdiri. Bak seorang putri kerajaan, dia membungkuk di hadapan kedua kakaknya sembari mengayunkan tangan. Nania lalu melenggang pergi menuju kamarnya sambil menenteng barang belanjaannya yang berisi jam tangan, lipstick keluaran terbaru, bikini, dan juga sepatu. Dan apa kalian tahu kartu milik siapa yang dia pakai untuk berbelanja? Milik sugar daddy keduanya, Fedo Eiji. Hehe.
Sepeninggal Nania, Lusi terus saja berdecak sambil mengomentari sikap adiknya yang sangat jauh berbeda dengan sikapnya dan juga Luri. Mau heran, tapi itu adalah Nania. Tidak heran, tapi itu adalah adiknya. Mungkin memang seperti inilah rasa dilema yang harus di alami oleh para kakak yang mempunyai adik perempuan. Khususnya jenis adik yang memiliki penampilan seperti Nania. Harus-harus banyak bersabar. Haihhh.
__ADS_1
“Kenapa, Kak?” tanya Luri sambil tertawa.
“Kakak sungguh tidak mengerti kenapa Tuhan memberikan kita adik seperti Nania, Luri. Bukannya tidak bersyukur, tapi Kakak hanya merasa aneh saja melihat sikapnya yang seperti tidak takut pada apapun. Hah … Nania-Nania. Kakak benar-benar pusing harus bagaimana lagi cara menyadarkanmu. Apa dia tidak tahu kalau penampilannya itu bisa mendatangkan bahaya untuknya sendiri?” jawab Lusi setengah menggerutu.
“Jangan marah, Kak. Ya mau bagaimana lagi. Adik kita memang seperti itu perangainya, jadi kita tidak mungkin berharap terlalu banyak dia bisa berubah. Yang terpenting Nania tahu tentang batasan-batasan yang tidak boleh dia langgar. Dan untuk keamanannya sendiri mungkin kita tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya juga. Selain karena ada Kak Gleen dan Kak Fedo yang mengawasi, Nania juga menguasai ilmu bela diri. Harusnya sih dia bisa melindungi dirinya sendiri jika sampai ada orang yang ingin berbuat jahat kepadanya,” sahut Luri mencoba meredam kekhawatiran kakaknya. Dia cukup paham akan rasa frustasi sang kakak dalam memikirkan adik bungsu mereka.
“Kalau itu Kakak juga tahu, Luri. Tapi tetap saja Nania itu seorang wanita. Dia mana mungkin bisa menang melawan laki-laki yang tenaganya jauh lebih besar dari para wanita. Tapi ya sudahlah, lebih baik kita pasrah dan sabar saja. Dan semoga ke depannya nanti Nania tidak akan pernah menemui masalah apapun,”
Luri mengangguk. Dan sedetik kemudian dia beserta kakaknya dibuat menghela nafas panjang saat mereka mendengar suara teriakan Sora dan Reiden.
“Masih bisakah kita bersabar menghadapi kelakuan adik kita, Luri?” tanya Lusi sambil mengelus dada.
“Memangnya ada acara lain yang bisa kita lakukan selain sabar, Kak?” jawab Luri seraya berjalan menuju anak tangga. Sora tadi sedang tidur di kamar Reiden. Dan begitu Nania pulang putrinya langsung menangis kencang. Fiks, pasti Nania mengganggu mereka. Hmmmm.
Nania-Nania. Kenapa kau mengganggu anak-anak itu? Apa salah mereka padamu? Benar-benar kau ya.
__ADS_1
***