
📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI WRITER SEASON 8. OKE 💜💜💜
***
Setelah puas berbelanja bersama Krystal dan teman-temannya, Rhea akhirnya pulang ke rumah. Senyum lebar tampak mengembang di bibir Rhea saat dia melirik ke arah tangannya yang menenteng banyak paperpag berisi tas dan juga sepatu baru. Malam ini Rhea benar-benar senang sekali, dia seperti baru saja memasuki dunia baru yang sebelumnya belum pernah dia jajaki.
“Ternyata mempunyai banyak teman itu menyenangkan sekali ya. Aku sungguh bodoh karena baru menyadarinya sekarang,” ucap Rhea.
“Oh, sudah pulang kau ternyata!”
Langkah kaki Rhea langsung terhenti saat dia mendengar seseorang bicara. Setelah itu Rhea segera berbalik menghadap ke belakang untuk melihat siapa yang baru saja bertanya padanya. “Kak Jovan. Apa yang sedang kau lakukan di sana? Dan kenapa juga kau tidak menyalakan lampu. Membuat orang kaget saja.”
Saat Jovan pulang ke rumah, dia tidak bisa menemukan keberadaan Rhea di manapun. Ayah dan ibunya lalu memberitahu Jovan kalau Rhea sedang pergi jalan-jalan bersama Krystal. Jovan yang memang sedang sangat marah semakin bertambah marah begitu tahu dengan siapa adiknya pergi. Dia lalu memutuskan untuk menunggu kepulangan Rhea di ruang tangah tanpa ada penerangan sama sekali. Bukannya apa. Jovan hanya tidak mau membuat kedua orangtuanya khawatir jika tahu kalau sekarang dia begitu ingin mencekik leher adiknya yang lancang itu. Jovan benar-benar sangat kesal sekarang.
“Kak, kau kenapa sih?” tanya Rhea bingung melihat kakaknya yang hanya diam tak bergeming dari tempatnya duduk.
“Kau masih berani bertanya kenapa setelah apa yang kau lakukan pada Nania? Hah, sulit di percaya, Rhea!” sahut Jovan sambil tertawa menahan kesal.
Rhea langsung membeku di tempat begitu sang kakak menyebut nama Nania. Dia langsung sadar kalau kakaknya sejak tadi sudah menunggunya pulang untuk menjelaskan tentang apa yang terjadi antara dia dengan Nania. Ini gawat. Teringat saran yang di ucapkan oleh Krystal, Rhea pun segera mengatakan alasan mengapa dia dan Nania bisa bertengkar. Dan Rhea sangat amat yakin kali ini kakaknya pasti akan membelanya.
“Kak, kejadian yang sebenarnya tidak seperti yang Nania katakana padamu. Aku tidak sengaja melukainya. Semua itu terjadi begitu saja karena Nania terus memprovokasiku saat kami tak sengaja bertemu di mall tadi. Aku tersinggung saat Nania memintaku agar menjauhi Krystal, lalu setelahnya kami bertengkar. Lagipula itu hanya luka gores kecil saja, jadi kau tidak perlulah sampai semarah ini padaku,” ucap Rhea mencoba meyakinkan sang kakak kalau dia tidak bersalah. Tapi jujur, Rhea cukup takut sekarang.
__ADS_1
“Hanya kau bilang?” beo Jovan kian meradang. “Apa kau tahu, Rhea. Jangankan luka gores kecil, rambut Nania rontok satu saja aku merasa sangat tidak terima. Lalu kau dengan entengnya menyebut hanya pada luka gores yang kau buat di wajah Nania? Yaakk, kau sudah gila ya. Asal kau tahu saja ya. Semuan yang ada di tubuh Nania itu sangat berharga untukku. Berani sekali ya kau lancang merusak sesuatu yang tidak seharusnya kau sentuh. Sepertinya peringatanku waktu itu hanya kau anggap sebagai angin lalu saja. Baiklah kalau begitu. Biar aku tunjukkan hukuman apa yang akan kau terima karena sudah berani menyakiti kekasihku!”
Setelah berkata seperti itu Jovan beranjak dari duduknya kemudian menghampiri Rhea. Dia lalu dengan kasar menarik semua paperbag yang ada di tangan adiknya kemudian mendorongnya ke belakang hingga punggung Rhea membentur dinding.
“Kak Jovan, apa-apaan kau!” teriak Rhea ketakutan. Dan saking takutnya, tubuh Rhea sampai gemetar hebat. Dia sama sekali tak menyangka kakaknya akan bereaksi kasar seperti ini hanya karena masalah sepele yang terjadi antara dia dengan Nania. Sangat berlebihan, tapi Rhea tidak berani melawan.
Jovan sama sekali tak mengindahkan suara teriakan Rhea yang bisa saja membangunkan kedua orangtua mereka. Di pikirannya hanya satu, memberi gadis ini pelajaran. Ini mungkin sedikit keterlaluan, tapi Jovan tidak peduli. Salahkan saja adiknya yang bukannya meminta maaf, malah dengan enteng menganggap kalau luka yag di terima Nania hanyalah luka kecil biasa. Jadi wajar saja kan kalau Jovan termakan amarah sampai seperti ini?
“Uhukk, Kak, sadar, Kak. Kau menyakitiku,” ucap Rhea sambil terbatuk-batuk saat lehernya di cekik dengan dengan sangat kuat.
“Aku bahkan sangat sadar kalau kau itu adalah adik kandungku, Rhea,” sahut Jovan. “Kenapa? Bukankah tadi kau begitu sombong saat sedang bicara denganku? Kenapa sekarang kau ketakutan? Harusnya kau itu sudah tahu konsekuensi seperti apa yang akan kau terima jika berani menyakiti gadis yang kusukai. Jadi kau tidak usah berakting seolah kau adalah korban di sini. Aku jijik melihatnya!”
Dan begitu Rhea selesai bicara, dia di buat kaget saat pipinya ditampar dengan sangat kuat oleh kakaknya. Untuk beberapa saat Rhea hanya terdiam syok, seolah menolak untuk percaya kalau sang kakak tega berbuat kasar hanya karena seorang gadis.
“Jovan, apa-apaan kau hah! Kenapa kau menampar adikmu seperti itu!”
Ardan yang merasa terganggu dengan suara gaduh yang berasal dari ruang tengan rumahnya pun memutuskan untuk keluar dari dalam kamar. Dan betapa terkejutnya dia tatkala melihat Jovan yang baru saja melayangkan satu tamparan ke pipi adiknya.
“Apa-apaan kalian, hah!” tanya Ardan sembari mendorong Jovan agar melepaskan cekikan dileher Rhea. Dia lalu mengelus pelan pipi Rhea yang memerah. Keterlaluan, entah apa yang terjadi hingga putranya tega berbuat kasar pada adiknya sendiri. Ardan sungguh tak habis pikir.
“Ingat, Rhe. Yang aku lakukan sekarang itu belum apa-apa. Aku bisa berbuat jauh lebih buruk daripada ini kalau kau masih berani menyentuh Nania!” gertak Jovan sambil menunjuk wajah Rhea tanpa merasa kasihan sama sekali.
__ADS_1
“Jo, ini sebenarnya ada apa. Kenapa kau tega mengancam adikmu seperti itu. Kau lupaya kalau kalian itu adalah saudara!” tegur Ardan kaget mendengar perkataan Jovan.
“Kalau benar anak ini menganggapku sebagai saudara, dia tidak akan mungkin menyakiti gadis yang kusukai, Ayah!” sahut Jovan dengan lantang. “Rhea menyerang Nania. Dan aku tidak terima akan hal itu. Dia juga mengancam akan menabrak Nania karena tak suka aku lebih membelanya. Jadi jangan salahkan aku kalau aku sampai bersikap kasar seperti ini padanya. Rhea sudah sangat keterlaluan, Ayah!”
Kedua mata Ardan langsung membelalak lebar begitu dia mengetahui penyebab kenapa kedua anaknya bertengkar. Setelah itu Ardan menoleh, menatap penuh tanya ke arah Rhea yang sedang menangis tanpa suara.
“Rhe, apa itu benar?” tanya Ardan. “Apa benar kau menyerang Nania dan ingin menabraknya?”
Tak ada kata yang keluar dari mulut Rhea saat dia di tanya seperti itu oleh ayahnya. Ardan yang melihat kebungkaman Rhea pun akhirnya ikut merasa geram seperti Jovan. Entah harus berapa kali Ardan mengingatkan Rhea kalau Nania itu bukan gadis yang bisa sembarangan di sentuh. Nania celaka sedikit saja itu sudah bisa membuat nasib Ardan dan keluarganya berubah, apalagi jika Rhea benar-benar sampai menabraknya. Ardan yakin sekali kalau masa depan keluarganya pasti akan hancur detik itu juga.
“Masuk ke kamarmu sekarang juga. Dan mulai malam ini, Ayah tidak akan mengizinkanmu keluar dari rumah selama satu minggu. Kalau kau berani melawan, maka Ayah tidak akan ragu untuk mengusirmu pergi dari sini. Paham!”
“Ayah!” pekik Rhea syok. Dia tak percaya kalau ayahnya akan tega menghukumnya. Dan semua ini terjadi gara-gara Nania.
“Ayah bilang masuk!” sentak Ardan.
Sambil menangis sesenggukan, Rhea berlari menuju kamarnya. Dia sudah tak mempedulikan lagi barang belanjaannya yang masih berserakan di lantai. Malam yang tadinya terasa begitu membahagiakan, dalam sekejab telah berubah menjadi malam yang penuh air mata. Ternyata ide yang di sarankan oleh Krystal tak membuat Rhea mendapat pembelaan dari keluarganya. Malah sekarang dia harus rela menanggung rasa perih di pipinya dan juga hukuman dari sang ayah.
Hiksss, awas kau, Nania. Aku tidak terima diperlakukan seperti ini oleh Ayah dan Kak Jovan. Tunggu saja, aku pasti akan menuntut balas padamu, ujar Rhea dalam hati.
***
__ADS_1