My Sugar Daddy ( Nania)

My Sugar Daddy ( Nania)
100. Mencuri Kesempatan


__ADS_3

Sesampainya di depan kampus, dengan penuh perhatian Jovan membukakan pintu mobil untuk Nania. Dia lalu mengerutkan kening melihat gadis ini yang malah terdiam seperti sedang melamunkan sesuatu. Cemburu sedang memikirkan pria lain, Jovan dengan cepat mencium pipinya setelah memastikan kalau keadaan sudah aman. Hehe, biasalah. Selagi ada kesempatan kenapa tidak?


“Kalau saja aku sedang memegang sekop pasir, aku pasti sudah menyodokkannya ke lubang hidungmu, Jovan. Sudah tahu aku sedang melamun, beraninya kau malah mencuri kesempatan dan kesempitan. Membuat orang kaget saja. Huh!” sungut Nania sambil menatap garang pria yang tengah tersenyum tidak jelas di sebelahnya. Dan kegarangannya itu dalam sekejap langsung berubah menjadi tatapan penuh goda saat matanya tak sengaja melihat sesuatu yang menarik.


Waktunya bermain. Ahay.


“Jo, kau mau aku membalas ciumanmu barusan tidak?” tanya Nania sambil tersenyum sensual. “Kalau mau mendekatlah lebih rapat padaku. Bisa?”


“Tentu saja sangat bisa, sayang,” jawab Jovan dengan penuh semangat. Walaupun agak sedikit kaget melihat perubahan sikap Nania dari yang marah tiba-tiba berubah jadi menggoda, Jovan tak mau ambil pusing memikirkannya. Masa bodo, yang penting dia bisa mendapat asupan pagi penuh kesegaran dari kekasihnya yang seksi ini. 😁


“Kemarilah. Biarkan aku memelukmu dengan erat,”


“Baiklah. Siapa takut!”


Tanpa berpikir dua kali Jovan langsung mencondongkan tubuhnya ke arah Nania kemudian tersenyum lebar saat gadis ini mengedipkan sebelah mata. Paham ada sinyal rahasia dibalik ini semua, Jovan segera memperhatikan keadaan sekitar untuk mencaritahu siapa orang yang sedang ditargetkan oleh kekasihnya ini.


Oh, dia. Ternyata masa hukumannya sudah habis. Pantas Nania memintaku untuk mengantarkannya berangkat ke kampus. Ini to penyebabnya. Hmmmm. Nania-Nania, selalu saja ada ide aneh yang muncul di dalam otakmu. Membuat gemas saja.


Cup


Satu kecupan mendarat indah di sudut bibir Jovan. Kemudian dua kecupan manja mendarat lagi di kedua pipinya. Bagai mendapat rejeki nomplok, keberadaan Krystal membuat Jovan dihujani banyak ciuman oleh Nania. Ciuman itu memang bukan berbentuk l*matan, tapi cukup menghadirkan debaran kuat di dadanya. Ah, Nania-nya. Bagaimana bisa gadis ini bersikap sangat manis hanya demi memanas-manasi orang lain? Tapi ... Jovan suka.


“Hehe, bagaimana? Apa kau suka?” tanya Nania sambil tersenyum puas saat melirik ke arah mobilnya Krystal. Dia yakin seratus persen kalau rubah betina itu pasti sedang mengamuk dan memakinya dari kejauhan. Hahaha.


“Dasar kau ini ya. Kenapa tidak bilang kalau Krystal sedang memperhatikan kita? Tahu begitukan aku bisa memainkan drama yang lebih panas lagi. Tanggung kalau hanya berupa kecupan saja,” jawab Jovan sembari mengelus pipi Nania yang sangat lembut dan juga putih. Tentu saja lembut dan sangat putih. La wong perawatannya saja hampir menyamai para artis dan anak konglomerat. Biasalah, Nania kan memelihara banyak sugar daddy. Jadi tidak mungkin hanya perawatan biasa-biasa saja yang dia jalani.

__ADS_1


“Tidak seru kalau aku langsung memberitahumu, Jo. Begini jauh lebih baik. Iya ‘kan?”


“Ya ya ya ya. Terserah apa katamu saja. Yang penting kau senang,”


Nania membuat gerakan kecupan bibir ke arah Jovan sambil terus menyunggingkan senyum lebar. Setelah itu diapun keluar dari dalam mobil karena sugar daddynya sudah harus berangkat ke perusahaan. Sambil berpose seksi Nania melambaikan tangan sesaat setelah Jovan mencium keningnya lama untuk berpamitan. Manis sekali. Semanis jiwa yang sedang terbakar karena cemburu melihat kemesraannya dengan sang sugar daddy.


Satu, dua, ti ….


“Ekhmmm, kenapa aku merasa ada seorang mahasiswa yang seperti sengaja menjadikan lingkungan kampus sebagai ajang untuk memamerkan kemesraan ya?”


Nah, benar ‘kan? Belum juga Nania selesai menghitung angka, orang yang dia maksud sudah lebih dulu melayangkan sindiran. Ternyata ampuh juga ya cara yang dia gunakan? Hebat sekali.


“Wahh wahh wahh, siapa ini. Kenapa kau bisa ada di sini, Krystal? Bukankah kau itu sedang menjalani masa hukuman ya?” ejek Nania balas melayangkan sindiran yang jauh lebih menohok lagi. Dia lalu memilin rambut bawahnya sambil memperhatikan Krystal yang sedang berusaha menahan amarah. “Jangan ditahan-tahan, lepaskan saja. Mumpung di sini sedang tidak orang. Santai.”


“Oh, begitu ya. Sayang sekali. Padahal aku sudah sangat menantikan hal itu, Krys. Tapi ya sudahlah kalau kau menolak untuk menunjukkan sikap aslimu di hadapanku. Aku bisa mengerti kalau sekarang kau sedang berusaha memperbaiki image-mu yang tidak sengaja rusak karena kebodohanmu sendiri!”


“Tutup mulutmu, Nania!”


Bertepatan dengan itu sebuah mobil berhenti tak jauh dari tempat Nania dan Krystal berada. Krystal yang kelepasan berteriak segera berdehem pelan untuk menormalkan emosinya begitu melihat Marcell keluar dari mobil tersebut.


“Apa yang sedang kau lakukan pada Nania, Krys? Kau membullynya lagi ya?” tuduh Marcell sambil melayangkan tatapan tajam pada Krystal. Dia lalu beralih menatap Nania, memastikan apakah gadis ini terluka atau tidak. “Nania, kau baik-baik saja ‘kan?”


“Tentu saja aku sangat baik, Marcell. Tapi terima kasih banyak ya karena kau sudah datang di waktu yang sangat tepat,” jawab Nania sambil tersenyum penuh kemenangan. Dia lalu berbisik. “Barusan Krystal meneriakiku dengan sangat kuat hanya karena aku bertanya tentang kabarnya. Dia mengerikan sekali ya? Jantungku sampai sakit karenanya,"


Marcell bingung, tidak tahu harus bersikap apa mendengar bisikan Nania. Bukan dia tidak mau membela. Hanya saja jika kedua gadis ini di bandingkan kekuatan dan ketengilannya, jelas Nania seribu kali lebih unggul. Akan tetapi tidak mungkin juga untuk Marcell membela Krystal, terlebih setelah kejadian pembullyan itu. Jadilah dia memilih untuk diam saja alih-alih memarahi Krystal.

__ADS_1


“Cell, apa benar sekarang kau bekerja sebagai sekertaris magang di perusahannya Jovan?” tanya Krystal penasaran.


“Iya. Dan Nanialah yang telah membantuku masuk ke perusahaan Tuan Jovan. Kenapa memangnya?” jawab Marcell jujur.


“Cihhh, dasar bodoh. Sadar tidak kalau kau itu sebenarnya hanya sedang dimanfaatkan saja oleh gadis ini. Orang sepertinya mana mungkin tulus membantu orang lain. Lebih baik kau mengundurkan diri saja dari sana sebelum menyesal!”


“Lalu kau yang akan menggantikan posisi Marcell jika dia benar berhenti bekerja sebagai sekertaris magang di perusahaan milik Jovan? Iya?”


Nania terkekeh. Namun kali ini kekehannya mengandung emosi terpendam. Sambil berkacak pinggang, Nania maju selangkah ke depan lalu mensejajarkan wajahnya dengan wajah Krystal.


“Mimpi! Jangan kau pikir aku tidak tahu rencana busuk apa yang sedang coba kau lakukan, Krystal. Kau pikri Marcell akan semudah itu kau hasut? Tidak, setan. Marcell adalah pria yang professional. Dia jelas bisa membedakan mana wanita yang benar-benar tulus membantunya dan mana wanita yang bermuka dua dan berhati busuk yang mempunyai niat terselubung. Membujuknya untuk resign dari perusahaan Jovan? Kau pikir mencari pekerjaan itu mudah apa! Hah?!”


Krystal menelan ludah saat Nania meneriakinya. Takut dan juga gugup, itu yang dia rasakan. Tak mau kedua orang ini menyadari ketakutannya, dia memilih untuk pergi dari sana. Meninggalkan Marcell bersama dengan Nania yang masih menatapnya dengan bengis.


“Heh, baru begitu saja sudah kabur dia. Berani sekali ingin mengganggu sugar daddy-ku. Tidak mati babak belur saja seharusnya kau sudah bersyukur Tal-Krystal!” geram Nania sambil mengibaskan rambut. Dia lalu menatap Marcell. “Apa kau percaya pada perkataan rubah betina itu, Cell?”


“Tentu saja tida, Nania. Sudah gila apa,” jawab Marcell dengan cepat.


“Baguslah. Ayo masuk. Aku butuh ruangan sejuk untuk mendinginkan kepalaku yang seperti terbakar. Sialan!”


Marcell mengangguk. Dia dan Nania berjalan beriringan, membuat beberapa pasang mata menatap penuh curiga pada mereka berdua. Abaikan, itu adalah salah satu cara Marcell menutupi kegugupannya saat menjadi pusat perhatian karena memasuki kampus bersama dengan gadis tercantik dan terseksi yang ada d sini.


Kenapa aku jadi memiliki niat untuk menjadi seorang pembinor ya? Astaga, sadar Cell. Kau mana boleh mengganggu orang yang sudah dengan begitu baiknya membantumu keluar dari kesulitan. Sadar!


***

__ADS_1


__ADS_2