My Sugar Daddy ( Nania)

My Sugar Daddy ( Nania)
72. Pertemuan Yang Tak Disengaja


__ADS_3

📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI YOU ARE A WRITER SEASON 8. OKE 💜💜💜


***


“Huh, sial sekali aku hari ini. Tapi tidak apa-apalah. Setidaknya aku bisa melihat langsung seperti apa bentuk muka duanya Krystal. Dengan begini aku tidak perlu lagi merasa ragu kalau memang hanya Nania-lah yang paling cocok untuk Kak Jovan. Ya, hanya gadis beracun itu yang akan kuterima sebagai calon kakak iparku. Pokoknya Kak Jovan hanya boleh menikah dengan Nania saja. Titik!”


Setelah puas menyerang balik semua hinaan yang Krystal ucapkan, Rhea memilih untuk tidak jadi makan di restoran itu. Dia terlalu kesal untuk terus berada di tempat yang sama dengan gadis yang telah terang-terangan menipunya. Jadilah Rhea meninggalkan restoran dalam kondisi lapar dan juga terbakar emosi. Dan kini dia tengah berhenti di lampu merah sambil terus mengomel sendirian.


“Aku kesepian? Heh. Dulu memang iya, tapi sekarang rasa kesepian itu sudah menjadi mantan. Berkat Nania aku telah menemukan kebahagiaanku yang baru. Dan berkat Nania juga sekarang hubunganku dengan Kak Jovan berubah menjadi hangat. Jadi dengan hidupku yang seindah ini Krystal mana boleh menyebutku sebagai gadis yang kesepian? Kau salah besar jika menganggapku seperti itu, nenek lampir,” ucap Rhea yang kembali merasa kesal saat teringat dengan hinaan yang di ucapkan Krystal. Saking kesalnya, Rhea sampai menekan klakson berkali-kali yang mana membuat seseorang datang menghampiri mobilnya.


Tok tok tok


“Nona, kau baik-baik saja?”


Rhea terperanjat kaget saat ada orang yang tiba-tiba mengetuk jendela. Dia yang memang sedang mengomel sampai kebingungan harus melakukan apa saat orang ini tak henti mengetuk kaca mobil.


“Duhhh, bagaimana ini?” gumam Rhea sambil menggaruk keningnya.


“Nona, tolong buka jendelanya. Kau baik-baik saja ‘kan?”


Tak tahan mendengarnya, Rhea dengan terpaksa menurunkan kaca jendela mobilnya. Dia lalu diam terpaku saat mendapati ada seorang pria tampan yang tengah menatapnya dengan ekpresi khawatir. Mendadak jantung Rhea berdebar dengan sangat kuat. Dia … terpesona.


“Nona, kau ….


Belum sempat pria itu menyelesaikan perkataannya, dari arah belakang sudah lebih dulu terdengar suara klakson mobil saling bersahut-sahutan. Ternyata lampu lalulintas sudah berubah menjadi hijau, dan para pengendara lain sudah tak sabar untuk segera melajukan mobil mereka.

__ADS_1


“Nona, menepilah sebentar ke jalanan yang agak sepi. Aku perlu memastikan keadaanmu dulu!” ucap si pria sebelum kembali masuk ke dalam mobilnya.


Seperti tersihir, Rhea dengan patuh mengikuti perintah pria tersebut. Dia melajukan mobilnya dengan perlahan kemudian menepi di dekat minimarket yang tak jauh dari sana. Masih dengan jantung yang berdebar-debar, Rhea mematikan mesin mobil. Dia kemudian menunggu dengan tidak sabar si pria tampan kembali datang menghampirinya.


Dan benar saja. Tak lama setelah Rhea berhenti, mobil milik pria itu juga ikut berhenti tepat di sebelah mobilnya. Rhea yang melihatnya pun langsung buru-buru merapihkan rambut. Dia lalu tersenyum canggung ketika pria tampan itu langsung memintanya untuk keluar sejenak.


“Nona, maaf jika sikapku lancang. Tadi saat di lampu merah kau terus menyalakan klakson mobilmu. Kalau boleh tahu kenapa kau melakukannya? Apa kau sedang membutuhkan pertolongan?”


“Tidak. A-aku baik-baik saja,” jawab Rhea gugup. Dia lalu menatap seksama ke arah pria tersebut. Seperti tidak asing, tapi dimana Rhea pernah melihat pria ini? Aneh.


Hening. Baik Rhea maupun pria tampan tersebut keduanya sama-sama saling diam sambil terus memperhatikan wajah masing-masing. Dan sepertinya bukan hanya Rhea saja yang merasa familiar, tapi pria itu juga. Terbukti karena pria itu langsung menanyakan beberapa hal pada Rhea.


“Nona, rasa-rasanya aku seperti memiliki teman yang wajahnya sedikit mirip denganmu. Kalau boleh tahu namamu siapa?”


“Rhea. Namaku Rhea,” jawab Rhea jujur. “Kau sendiri siapa namanya? Aku juga merasa tidak asing dengan wajahmu. Mungkinkah kita saling mengenal sebelumnya?”


Mulut Rhea langsung ternganga lebar begitu dia mengetahui nama dari pria tampan ini. Bulu kuduknya bahkan sampai berdiri semua begitu mendengar kalau Galang ternyata adalah salah satu teman kakaknya.


Kak Galang? Ya Tuhan, bagaimana bisa dia menjadi setampan ini sampai aku tidak mengenalinya? Tidak kusangka aku akan bertemu dengannya di sini, ujar Rhea membatin.


Galang tampak mengerutkan keningnya melihat reaksi Rhea yang seperti kaget setelah mereka saling memperkenalkan diri. Heran, gadis ini kenapa ya? Galang jadi merasa penasaran kepadanya.


“Em Rhea, kau kenapa?” tanya Galang memastikan.


“Um itu … itu. Anu … Kak Galang, aku Rhea adiknya Kak Jovan,” sahut Rhea yang akhirnya membenarkan dugaan Galang kalau dia itu memang benar adiknya Jovan. “Pantas saja aku merasa tidak asing denganmu. Ternyata karena kita memang pernah bertemu. Dunia ini sempit sekali ya?”

__ADS_1


“Hah? Jadi benar kau adiknya Jovan?” pekik Galang seakan tak percaya. Dia lalu mengusap wajahnya sambil tertawa. “Astaga, Rhea. Aku pikir kau siapa tadi. Tapi wajar sih kalau kita tidak saling kenal. Kan dari dulu kita memang tidak terlalu dekat. Ya ampun, beberapa tahun tidak bertemu kau sudah tumbuh sebesar ini ya. Dulu saat aku pertama kali melihatmu, kau masih kecil dan juga sangat angkuh. Kau bahkan tidak pernah menyapaku saat aku datang ke rumahmu. Waahhhh, pertemuan ini benar-benar membuatku kaget. Sungguh!”


Rhea tersenyum kecut saat Galang mengingatkan sikapnya yang memang tak pernah mau menegur siapapun yang datang ke rumahnya. Jangankan menegur, Rhea saja sama sekali tidak peduli saat kakaknya masuk ke rumah sakit. Jadi wajar saja kalau Galang bicara seperti ini. Toh memang benar kalau sikapnya dulu sangatlah angkuh.


Haihh, aku bahkan tidak memiliki kesan baik di mata teman kakakku. Sikapmu benar-benar harus di perbaharui lagi, Rhea. Mulai sekarang kau harus berubah menjadi orang yang lebih baik lagi agar di masa depan nanti kau bisa memiliki kesan sebagai gadis baik di mata orang lain. Semangat, batin Rhea menyemangati dirinya sendiri.


“Oya Kak Galang, kau masih berprofesi sebagai dokter tidak?” tanya Rhea setelah berhasil berdamai dengan kekecewaannya. Dia menatap lekat ke arah Galang yang tengah memainkan ponselnya.


“Tentu saja masih. Dan aku barusaja pulang dari menjadi sukarelawan di salah satu kota yang terkena musibah. Kenapa memangnya? Kaget ya melihatku dengan penampilan santai seperti ini?” jawab Galang.


“Tidak, bukan begitu,” sahut Rhea sambil mengibaskan tangan. “Aku hanya tidak mengerti saja mengapa seorang dokter bisa berkeliaran di jam-jam seperti ini. Makanya aku tanya!”


“Hmmmm, tiga hari ini aku masih libur. Ya semacam istirahat panjang setelah menyelesaikan tugas yang cukup berat. Kau sendiri kenapa malah berpakaian seperti ini? Sedang mengaggur atau hanya sedang cuti?”


Sebelum sempat Rhea menjawab, ponsel milik Galang sudah lebih dulu berdering. Rhea lalu menganggukkan kepala saat Galang pamit untuk menjawab panggilan tersebut. Sambil menunggu Galang kembali, Rhea mengingat-ingat tentang pria itu.


Seingatku dulu Kak Galang adalah orang yang sangat irit bicara. Kenapa tadi dia bisa begitu ramah ya? Apa itu karena profesinya yang berhubungan dengan banyak orang? Aneh. Ternyata sikap dingin seseorang bisa berubah menjadi hangat juga ya seiring berjalannya waktu. Hmmm, batin Rhea merasa heran akan sikap ramah yang di tunjukkan oleh Galang.


Tak lama kemudian Galang telah selesai dengan panggilannya. Dia lalu menghampiri Rhea yang sudah duduk di dalam mobil. Setengah membungkuk, Galang mencoba mengajak gadis ini untuk makan siang bersama. Sekalian ingin menanyakan kabar tentang sahabatnya, Jovan. “Rhe, kau senggang tidak? Kalau iya aku ingin mengajakmu makan siang bersama. Dari pagi aku belum sempat makan apapun, dan sekarang aku lapar sekali. Mau tidak?”


“Boleh. Kebetulan aku juga belum makan siang. Kalau begitu ayo kita berangkat sebelum lambungmu meletus,” sahut Rhea berkelakar.


“Woaahhh, ternyata gadis angkuh ini bisa bercanda juga ya. Kau tidak salah makan obat ‘kan?” ledek Galang sambil mengacak rambutnya Rhea yang tergerai indah. Dia lalu tertawa terbahak-bahak saat gadis ini mengerucutkan bibirnya karena kesal.


Setelah itu Galang pun mengajak Rhea pergi menuju salah satu restoran favoritnya dengan menaiki mobil masing-masing.

__ADS_1


***


__ADS_2