
Pagi harinya setelah bangun, Nania bergegas pergi ke kamar Susan dan Tasya. Senyum manis terus menghiasi bibir, seolah ingin memberitahu dunia kalau hatinya sedang bahagia. Jelas bahagialah, kan semalam dia tidak tidur sendirian. Namun, yang membuat Nania bisa terlihat sebahagia bukanlah tentang keberadaan Jovan, tapi ada hal lain yang jauh lebih membahagiakan lagi. Apa itu? Kekuatan iman pria itu. Ya. Meski di goda sampai harga diri Nania anjlok ke harga yang paling murah, Jovan tetap tak bergeming untuk menyentuhnya. Hal inilah yang membuat pagi Nania menjadi sangat berseri-seri. Dia kini semakin yakin kalau Jovan adalah pria yang paling pantas untuk dia jadikan suami. Jadi Nania bertekad akan lebih posesif lagi kepadanya.
"Ekhmm-ekhmmm!" Nania berdehem sambil menggerak-gerakkan tangan yang terpasang gelang pemberian Jovan. Dia ingin pamer. Biasalah.
Susan dan Tasya kompak menoleh. Dan dalam sekejap posisi mereka yang tadinya sedang berada di atas ranjang kini sudah berpindah ke sisi kanan dan kiri Nania saat mereka mendapati ada barang baru yang melekat di tubuh gadis seksi ini. Bak seorang detektif, Susan dan Tasya menatap lekat-lekat benda berkilau yang melingkar indah di pergelangan tangan sahabat mereka. Curiga, keduanya langsung melayangkan tatapan menyelidik.
"Nania, semalam kau jual diri ya? Seingatku kemarin gelang ini tidak ada di tanganmu, kenapa sekarang bisa ada? Ayo cepat mengaku sugar daddy mana yang telah kau rayu!" cecar Susan sambil menyipitkan mata penuh curiga. Walaupun tahu kalau gadis ini bukan tipe gadis yang sembarangan, Susan tetap saja merasa perlu menyelidiki. Siapa tahu sugar daddy itu punya teman. Kan lumayan bisa di ajak kenalan. Hehe. (Ups maaf ini rahasia.)
"Iya benar. Kemarin tanganmu masih kosong. Tidak mungkin ada tuan jin yang tiba-tiba datang kemudian memberimu gelang ini. Sudah mengakulah saja. Aku dan Susan pasti akan tutup mulut!" timpal Tasya penuh rasa ingin tahu. Pikirannya kurang lebih sama seperti Susan. Mulut berkata penuh curiga, tapi hati menjerit penuh harap. Haha.
Wajah Nania langsung berubah masam setelah di tuduh telah merayu sugar daddy oleh kedua sahabatnya. Entah kemana perginya otak di kepala dua gadis ini. Memangnya sugar daddy mana yang mau melakukan transaksi di sebuah rumah sakit. Selain Jovan, Nania rasa tidak akan pernah ada sugar daddy yang mau melakukan hal seperti itu. Haihhh, ada-ada saja.
"Jangan diam saja, Nania. Ayo cepat jawab!" desak Susan tak sabaran.
"Wahai kaum-kaum yang bodoh, bisa tidak kalian itu berpikir dulu sebelum menuduh yang bukan-bukan pada orang lain?" tanya Nania sembari menyentil kening kedua sahabatnya. Dia kemudian menghela nafas, berusaha sabar meski emosinya sudah naik ke ubun-ubun. "Ini rumah sakit, bukan hotel. Jadi bagaimana mungkin aku merayu seorang sugar daddy di tempat yang menjadi sarang penyakit dan juga arwah penasaran? Sudah gila apa!"
"Ck, bisa tidak sih kau jangan melakukan kekerasan. Kepalaku sedang terluka. Kalau otaknya sampai geser bagaimana?" protes Tasya sambil mengelus keningnya yang sedikit memerah.
"Pada dasarnya otakmu itu memang sudah geser, Tasya. Jadi jangan menyalahkan aku ya!"
"Ck!"
Nania terkekeh senang. Dia lalu mengelus gelang berlian yang ada di tangannya. Teringat akan perjuangan yang Jovan lakukan demi bisa memesan gelang tersebut, tanpa sadar membuat Nania jadi tersenyum-senyum sendiri. Dan hal itu membuat Susan dan Tasya saling lirik makin curiga. Sambil terus mengusap kening mereka yang terasa sedikit panas, mereka mulai mengeluarkan jurus membujuk agar Nania bersedia membuka mulut. Jujur, mereka penasaran setengah mati sugar daddy dermawan mana yang mau memberi sahabat mereka perhiasan indah tersebut.
"Nania, kau sadar tidak kalau kecantikanmu jadi terlihat semakin bersinar setelah memakai gelang itu?" puji Susan mulai merayu. "Akan tetapi kau akan terlihat jauh lebih cantik lagi jika berkenan memberitahu kami siapa orang yang telah memberikan hadiah itu kepadamu. Iyakan, Sya?"
__ADS_1
"Iya, Nania. Sebagai sahabat, wajib hukumnya bagi kami mengetahui sugar daddy mana yang telah dengan begitu berani menarik perhatian kekasihnya Jovan. Jadi tolong kau bicara dengan jujur pada kami berdua ya. Oke?" timpal Tasya penuh harap.
"Dasar bodoh!" Nania mengumpat. "Kalian pikir sugar daddy mana yang mau repot-repot datang ke rumah sakit hanya untuk memberikan gelang ini selain Jovan, hah?"
"Haaa? Jadi Jovan yang memberikan gelang itu?" kaget Tasya.
"Iyalah. Siapa lagi memangnya,"
"Woaaahhh. Romantis sekali dia. Mirip pangeran-pangeran yang ada di dalam novel!"
Lubang hidung Nania langsung kembang kempis saat Tasya menyebut Jovan mirip dengan pangeran yang ada di dalam novel. Tasya yang melihat gelagat menjijikkan di diri sang sahabat akhirnya merasa menyesal karena sudah menyanjung sugar daddy itu. Dia dengan jengkel menarik ujung telinga Nania kemudian menyatukan kening mereka.
"Kau jangan senang dulu ya, Nania. Kalau sampai kau tidak mau mengenalkan aku dan Susan kepada kolega bisnis sugar daddy-mu, percaya tidak kalau kami akan menganggap Jovan bagaikan burung gagak bodoh yang hanya diperalat saja olehmu. Tahu?"
"Iyalah. Kenapa memangnya?" sahut Tasya penuh nada menantang.
"Kalau begitu aku batal mengajak kalian pergi liburan. Dan untuk bikini yang sudah ku pesan, akan kuberikan semuanya kepada Rhea. So, menyingkirlah dariku karena mulai sekarang hubungan kita sudah berakhir. Kalian dan aku sekarang hanyalah mantan. Tahu?" ucap Nania penuh kemenangan.
Secepat kilat Tasya langsung melepaskan jeweran di telinga Nania kemudian memasang senyum tak berdosa. Hehe. Asal kalian tahu saja ya. Senyum yang sedang Tasya perlihatkan sebenarnya bukan senyum tak berdosa, melainkan senyum menahan sakit. Mengapa demikian? Karena saat ini di bagian bokongnya ada tangan kepiting yang sedang mencapitnya dengan kuat. Dan tangan kepiting itu adalah milik Susan, gadis yang tidak tahu apa-apa tapi namanya ikut terseret dalam ancaman yang Tasya lontarkan pada Nania.
"Kenapa kau? Merasa tidak berdaya ya?" ejek Nania sudah tak heran dengan prilaku sahabatnya.
"Nania, kau adalah sahabat terbaik di muka bumi ini. Bisakah jangan membatalkan rencana liburan kita?" bujuk Tasya saat merasakan capitan di bokong semakin kuat.
Ah sialan sekali Susan. Dia tidak tahu apa pura-pura tidak tahu kalau bokongku sedang lebam gara-gara kecelakaan itu. Mana capitannya kuat sekali. Dia makan apa sih?
__ADS_1
"Itu tergantung apakah kau masih akan mengancamku atau tidak!" sahut Nania. Dia lalu mengerungkan kedua alisnya ketika melihat Tasya yang seperti menahan sakit. Khawatir terjadi sesuatu, segera dia meraih satu tangannya kemudian mencecarnya penuh kecemasan. "Sya, kau kenapa? Apa kau merasa ada yang sakit di tubuhmu?"
"Iya, Nania. Sepertinya tulang ekorku bergeser ke samping. Sakit sekali," jawab Tasya malah dengan sengaja mendramatisir keadaan. Kapan lagi coba bisa mengerjai gadis seksi ini. Hehehe.
"Ya Tuhan, kalau begitu kau kembalilah berbaring di ranjang. Aku akan keluar memanggilkan dokter dulu. Dan kau Susan, cepat bantu Tasya. Dia kesakitan!" ucap Nania panik setengah mati.
Tak mengindahkan kepura-puraannya yang duduk di kursi roda seperti seorang pesakitan, dengan cepat Nania berlari hendak keluar. Akan tetapi saat tangannya baru akan memutar knop pintu, dia di buat terheran-heran mendengar suara cekikikan dari arah belakang. Penasaran, Nania pun berbalik untuk melihat apa yang sedang terjadi.
"Tasya, Susan. Kalian kenapa tertawa?"
"Hehehe, ya terserah kamilah ingin tertawa karena apa. Mulut-mulut kami. Kenapa kau sibuk?" celetuk Susan sambil terus terkikik di samping Tasya.
"Sudah sana cepat panggilkan dokter saja. Kan tadi kau terlihat sangat cemas. Sana pergi!" imbuh Tasya sambil menaik-turunkan kedua alisnya. Puas sekali rasanya bisa mengerjai gadis itu. Hahaha.
Nania terdiam. Dia berusaha mencerna baik-baik semua perkataan Susan dan Tasya. Dan setelah berpikir sekian detik, barulah dia tersadar kalau kedua gadis itu sedang mengerjainya. Nania tak terima. Untuk membalas perbuatan mereka, Nania segera mengunci pintu kemudian menyingsingkan lengan baju tidurnya ke atas. Dia lalu berjalan perlahan ke arah dua gadis yang masih sibuk dengan tawa mereka.
"Sudah puas tertawanya, hem?"
Gluuukkk
Tawa Susan dan Tasya terhenti seketika saat menyadari kalau Nania tengah memperhatikan mereka sambil tersenyum aneh. Sadar kalau gadis ini ingin melakukan serangan balasan, mereka berdua segera berlari melarikan diri. Namun karena kondisi keduanya belum pulih benar, Nania bisa dengan mudah menangkapnya. Bak seorang pemain gulat, Nania mengangkat tubuh ramping Tasya kemudian membantingnya ke ranjang. Setelah itu dia berbalik mengejar Susan, hingga membuat gadis itu berteriak seperti sedang di kejar setan.
Alhasil, kamar yang harusnya di huni oleh orang sakit berubah menjadi arena gulat di mana Nania menjadi pemenangnya. Jangan khawatir. Nania tidak benar-benar menggunakan keahlian bela dirinya untuk membalas Susan dan Tasya. Dia hanya sekedar bersenang-senang saja dengan mereka. Keisengan langka yang selalu menjadi penghias persahabatan mereka sejak dulu. Manis sekali, bukan? Tentu saja. Hehee.
***
__ADS_1