
📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI WRITER SEASON 8. OKE 💜💜💜
***
Entah sedang sial atau bagaimana, sesampainya Rhea di mall dia malah berpapasan dengan Nania yang datang bersama kedua temannya. Seketika kekesalan yang susah payah Rhea lupakan kembali muncul di permukaan. Rasanya sungguh geram melihat Nania bisa tertawa lepas di saat hati Rhea sedang sangat tersakiti setelah pertengkarannya dengan sang ayah di rumah. Kalau tak ingat dia sedang berada di tempat umum, Rhea pasti sudah menjambak rambut Nania lalu menghajarnya sampai babak belur. Dia benar-benar sangat kesal sekarang. Huh.
"Uppss, ada adik ipar di sini!" ucap Nania kaget saat tak sengaja berpapasan dengan Rhea. Dia lalu memasang senyum semanis mungkin dengan tujuan ingin memprovokasinya. Biasalah, Nania ingin mencari korban. Hehe.
"Hati-hati dengan mulutmu, Nania. Aku tidak sudi di anggap sebagai adik ipar dari wanita tidak tahu malu sepertimu. Cuihhh!" sahut Rhea cetus sambil meludah ke samping.
"Uuuuu, aku takut sekali. Siapapun, tolong aku!"
Susan dan Tasya sama-sama terkikik lucu melihat Nania yang sedang berakting ketakutan setelah dimarahi oleh Rhea. Sedangkan Nania sendiri, dia kembali tersenyum manis, yang mana membuat Rhea menjadi semakin bertambah kesal.
"Heh, aku sungguh tidak mengerti kenapa kakakku bisa sampai memilih gadis sakit jiwa sepertimu untuk di jadikan kekasih. Memalukan!" ucap Rhea dengan kasar menyebut Nania sebagai gadis gila. Dia menatapnya dengan angkuh sambil bersedekap tangan.
"Apa? Aku sakit jiwa?" ucap Nania menirukan ejekan Rhea. "Adik iparku yang manis, seharusnya sebelum kau mengataiku seperti itu kau berkaca lebih dulu di rumahmu. Lihat dan perhatikan siapa di antara kita yang pantas di sebut sebagai gadis gila. Kau atau aku. Dan girl's, menurut kalian siapa yang cocok mendapat julukan sebagai gadis gila? Aku atau adik iparku yang cantik ini. Hmmm?"
"Tentu saja dia jauh lebih cocok, Nania. Raut wajahnya menunjukkan kalau dia itu tidak bahagia dengan hidupnya. Cantik sih, tapi adik iparmu itu sangat membosankan. Benar tidak, Sya?" jawab Susan sembari menyenggol lengan Tasya.
"Yap, kau benar sekali," sahut Tasya. "Teruntuk Nona Rhea yang paling cantik, alasan kenapa kakakmu bisa jatuh cinta pada Nania adalah karena mata kakakmu sehat. Kakakmu tahu kalau Nania adalah gadis yang sempurna dalam segala bidang, jadi wajar saja kalau kakakmu menjadikan Nania sebagai kekasihnya. Nania cantik, seksi, dan juga pintar. Sedangkan kau, kau tidak memiliki itu semua kan? Makanya kau merasa iri lalu menyebut Nania sebagai gadis gila. Heh, kalau iri itu bilang iri saja. Tidak perlu berlagak seolah kau adalah yang paling sempurna di dunia ini. Dasar keong racun!"
__ADS_1
"Apa kau bilang? Keong racun?"
"Iya, keong racun. Kenapa? Apa perlu aku mengatakannya lewat pengeras suara supaya kau bisa mendengar dengan jelas?"
"Kau!" geram Rhea sambil mengepalkan kedua tangannya. Dia lalu menatap sengit ke arah Nania yang sedang menertawakannya. Benar-benar ya anak satu ini.
Melihat Rhea yang menatapnya dengan begitu sengit membuat tawa Nania terhenti. Dia lalu menjentikan jari, meminta Susan dan Tasya untuk diam. Raut wajah Nania seketika berubah serius ketika dia hendak berbicara. Dia lalu maju tiga langkah ke depan, hingga membuat wajahnya berada tak jauh dari depan wajahnya Rhea.
"Aku penasaran sebenarnya apa yang membuatmu bisa begitu tidak menyukaiku. Seingatku di antara kita tidak pernah ada masalah sebelumnya. Kau kenapa, Rhea?" cecar Nania dingin. Dia terus menatap lekat manik matanya Rhea hingga membuat gadis itu menjadi kikuk.
"Menjauh dariku!" hardik Rhea cetus. Dia lalu berniat mendorong tubuh Nania ke belakang.
Dengan sigap Nania mencekal tangan Rhea yang ingin mendorongnya kemudian menariknya kuat hingga membuat tubuh mereka hampir bertabrakan. Jujur, Nania sebenarnya merasa kasihan pada Rhea. Gadis ini sangat polos sampai tidak menyadari kalau dirinya sedang dimanfaatkan oleh Krystal. Namun sikap keras kepala di diri Rhea terkadang membuat Nania habis kesabaran. Padahal dia itu berniat baik ingin mengingatkan Rhea kalau Krystal itu sangatlah licik. Krystal adalah jenis manusia yang rela menghalalkan segala macam cara agar keinginannya bisa terpenuhi. Picik sekali bukan?
"Jauhi Krystal!" sahut Nania to the point. "Dia bukan gadis yang baik. Kau bisa menyesal jika terus berteman dengannya!"
"Apa hakmu memintaku untuk menjauhi Krystal hah!"
"Karena aku adalah calon kakak iparmu lah. Apalagi memangnya?" sahut Nania dengan bangga.
"Cihhh, sampai kapanpun aku tidak akan sudi menerima dan menganggapmu sebagai kakak iparku, brengsek. Asal kau tahu saja ya. Selama aku masih bisa bernafas, aku akan terus berusaha menghancurkan hubunganmu dengan Kak Jovan. Kakakku begitu baik, dia sangat tidak pantas menjalin hubungan dengan gadis iblis sepertimu. Awas, lepaskan tanganku aku bilang!" teriak Rhea yang akhirnya lepas kendali. Dia lalu mencakar pipi Nania, hingga membuat kulit wajahnya yang halus itu terluka dan mengeluarkan darah.
__ADS_1
Susan dan Tasya memekik kaget melihat pipi Nania yang terluka. Sedangkan Nania, dia hanya diam tak merespon. Namun diamnya Nania membuat Rhea merasa ketakutan. Terbukti karena sekarang Rhea terlihat panik tanpa berani berontak untuk melepaskan tangannya.
"Kau tahu, Rhea. Setiap jengkal kulit yang ada di tubuhku adalah aset yang sangat amat berharga. Dan kau baru saja membuatnya lecet. Apa kau tidak takut kalau perbuatanmu ini bisa membuat duniamu menjadi gelap seketika, hm?" tanya Nania dingin. "Susan Tasya. Cepat foto luka di pipiku sebanyak mungkin. Aku tidak terima kecantikanku dilukai seperti ini. Cepat!"
Dengan raut kebingungan Rhea memperhatikan kedua teman Nania yang kini sibuk memotret luka yang ada di wajahnya. Jujur, sikap Nania yang seperti ini membuat bulu kuduk di tubuh Rhea berdiri semua. Dia seolah merasa kalau nasibnya akan menjadi sangat sial setelah foto-foto itu beredar.
"Nania, apa yang ingin kau lakukan, hah! Kenapa kau meminta mereka untuk memotret luka di wajahmu. Apa maksud semua ini?" tanya Rhea gelisah. Dia takut Nania akan melaporkan perbuatannya ke kantor polisi.
"Hmmm, inilah akibatnya kalau kau berani mencari masalah dengan orang yang salah. Tapi kau tenang saja, Rhe. Aku tidak akan melaporkanmu ke kantor polisi, tapi aku akan langsung mengadukan perbuatanmu pada Jovan dan kedua orangtuamu. Kita lihat, setelah itu apa kau masih mampu untuk bersikap angkuh di hadapanku atau tidak. Dasar bodoh. Bukannya berterima kasih sudah ku ingatkan, kau malah menyakiti fisikku yang adalah kesayangan pria sejuta umat. Sana pergi, aku mual melihat wajahmu!" jawab Nania kemudian mendorong Rhea hingga jatuh terduduk di lantai.
Setelah itu Nania bergegas mengeluarkan cermin dari dalam tasnya. Dan sedetik kemudian, terdengar suara jeritannya yang syok melihat luka bekas cakaran sepanjang lima senti melintang di kulit pipinya yang putih mulus.
"Ya ampun, bagaimana ini. Aset kebanggaanku lecet, apa yang harus aku lakukan?" tanya Nania sambil menatap panik ke arah Susan dan Tasya.
"Minta Jovan untuk membayarkan uang operasi plastik, Nania. Wajahmu sudah cacat, kau tidak cantik lagi sekarang," jawab Susan dengan sengaja memanas-manasi Nania agar melakukan operasi plastik. Tujuannya? Sudah pasti agar Susan bisa ikut operasi juga secara GRATIS. Hehe.
"Yakkk Susan, idemu kenapa sesat sekali sih. Kau gila ya meminta Nania melakukan operasi plastik hanya karena luka cakaran seperti itu!" sembur Tasya tak setuju akan ide yang dilontarkan oleh Susan barusan.
"Hei, kenapa kalian malah bertengkar. Ayo cepat bantu cari solusinya!" teriak Nania jengkel melihat Susan dan Tasya yang malah sibuk berdebat.
Kesal karena lukanya di abaikan, Nania akhirnya pergi dari sana. Dia harus segera mendatangi dokter kecantikan yang sudah menjadi langganannya untuk mencari tahu apakah luka di pipinya bisa di obati atau tidak.
__ADS_1
Awas kau, Rhea. Kalau wajahku sampai tidak mulus lagi, aku tidak akan pernah melepaskanmu. Mata di balas mata, yang artinya aku juga akan melukai wajahmu kalau kecantikanku sampai ternoda. Sialan, umpat Nania dalam hati.
***