My Sugar Daddy ( Nania)

My Sugar Daddy ( Nania)
81. Tiga Pria Gila


__ADS_3

Gleen dan Fedo tampak menikmati waktu luang dengan duduk di luar rumah sambil menikmati anggur beserta cemilan kecil buatan istri mereka. Sebagai pria penggila gadis desa, Gleen dan Fedo tak ragu untuk saling bertukar cerita mereka dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Dan keduanya sama sekali tidak merasa canggung ataupun merasa malu saat mengakui kebodohan dan juga kekonyolan yang pernah mereka lakukan pada istri masing-masing.


Sebenarnya keadaan ini sedikit menggelitik hati bagi siapapun yang melihatnya. Bagaimana tidak. Dua orang yang dikenal sama-sama kuat dalam dunia bisnis tengah duduk berdua sembari memperbincangkan kebucinan pada istri mereka. Jika biasanya para bos ketika sedang berkumpul hanya akan membicarakan tentang harga saham dan juga para daun muda yang bisa memuaskan hasrat mereka, hal seperti itu tidak pernah dilakukan oleh Fedo maupun Gleen. Bagi mereka dengan menggunjingkan Luri dan Lusi sudah lebih dari cukup untuk menghilangkan rasa lelah yang mereka rasakan. Istri-istri mereka sangatlah istimewa, jadi Gleen dan Fedo tak perlu kerja keras bagai kuda untuk mencukupi kebutuhan para wanita yang terkenal dengan jutaan ribu printilan di tubuhnya. Biasalah, kalian pasti paham akan apa yang di maksud oleh Gleen dan Fedo. 😅


“Biasanya kau berapa ronde sekali main dengan Luri, Fed?” tanya Gleen sambil menuangkan anggur ke dalam gelasnya. Dia lalu menyesapnya perlahan sembari menunggu Fedo menjawab.


“Kalau aku sih maunya sampai pagi, Gleen. Akan tetapi hal itu tidak bisa selalu aku lakukan karena Luri harus membagi waktunya dengan mengurus rumah sakit. Ibuku khawatir aku akan membuat Luri lumpuh karena terlalu sering mengajaknya bercinta, jadi dibuatkannyalah satu rumah sakit dan langsung meminta Luri yang menjadi direkturnya. Dengan kesibukan yang begitu padat kau bisa bayangkan sendirilah betapa menderitanya aku dalam menahan hasrat,” jawab Fedo mengeluarkan unek-unek yang tersimpan di dalam hatinya. Setelah itu Fedo balik bertanya pada Gleen tentang aktifitas ranjangnya dengan Lusi. “Kau sendiri bagaimana, Gleen? Apa Lusi sanggup meladenimu saat bermain di ranjang?”


“Hehe,” ….


Sebelah alis Fedo tertarik ke atas saat dia melihat Gleen tertawa aneh.


“Jangan bilang kau memaksanya meladenimu sampai pagi, Gleen. Woaahhh, gila juga kau ya!”


“Mau bagaimana lagi, Fed. Aku selalu hilang kendali hanya dengan melihat Lusi berbaring di ranjang. Rasanya dia seperti sedang menggodaku. Jadi ya sudah, aku eksekusi saja sampai dia kehabisan tenaga. Lalu lahirlah Reiden, jagoan tampan kami. Hehe,” ucap Gleen tanpa merasa bersalah sama sekali.


Saat Gleen dan Fedo sedang asik-asiknya menggibah tentang urusan ranjang, sebuah mobil tampak bergerak memasuki pekarangan rumah. Fedo yang merasa asing dengan mobil itu tampak memperhatikannya dengan seksama. Sekarang jam sudah menunjukan pukul sembilan malam, dia jadi penasaran siapa yang berani datang berkunjung ke rumah mertuanya di jam seperti ini.


“Selamat malam Kak Gleen,” sapa Jovan dengan sopan begitu dia memarkirkan mobilnya. Setelah itu Jovan menatap pria tampan yang adalah suaminya Luri. “Kak Fedo, selamat malam. Kapan kau datang?”

__ADS_1


“Aku dan keluarga kecilku datang tadi siang,” jawab Fedo masih merasa penasaran. “Ngomong-ngomong kau itu siapa? Kenapa datang bertamu di jam seperti ini?”


“Aku Jovan, Kak. Temannya Luri dan Galang,”


“Oh, Jovan. Sugar daddy-nya Nania ya?”


Jovan mengangguk dengan cepat tanpa merasa keberatan sedikitpun saat Fedo menyebutnya sebagai sugar daddy-nya Nania. Setelah itu Jovan berjalan mendekat kemudian duduk bergabung dengan kedua calon kakak iparnya.


“Nania sedang pergi berbelanja dengan sugar mommy-nya. Dan kemungkinan besar tengah malam nanti dia baru akan pulang ke rumah mengingat kalau kekasihmu itu sangat mata duitan. Kau pasti sudah hafal bukan dengan kelakuan kekasihmu itu?” ucap Fedo memberitahu Jovan kalau Nania sedang tidak ada di rumah.


“Iya aku tahu, Kak. Tadi Nania sudah memberitahuku kalau dia sedang sibuk menguras uang istrinya Tuan Gabrielle,” sahut Jovan dengan santai.


Sebelum menjawab pertanyaan, Jovan membaca pesan yang barusaja masuk ke ponselnya. Dan seketika Jovan tersenyum lebar tanpa mempedulikan kalau sekarang dia tidak sedang sendirian. Gleen dan Fedo yang melihat sikap aneh Jovan langsung terdiam dengan pemikiran masing-masing. Sikap Jovan yang seperti hilang kewarasan karena Nania membuat mereka jadi bernostalgia dengan perjalan cinta mereka sebelum berhasil menikahi kedua kakaknya Nania. Dan pada akhirnya ketiganya sama-sama menggila saat mengenang cinta mereka terhadap tiga gadis desa yang pesonanya mampu menghilangkan separuh akal sehat di diri Gleen, Fedo dan juga Jovan.


“Kak Gleen, Kak Fedo, kenapa kalian tersenyum-senyum seperti itu? Kalian masih sehat ‘kan?” tanya Jovan bingung melihat kedua kakak ipar Nania malah asik melamun sambil tersenyum aneh.


“Jovan, selamat datang di dunia halusinasi penuh cinta para gadis desa. Jangan khawatir, sebentar lagi kau pasti akan segera merasakan apa yang tengah kami rasakan sekarang. Aku sudah berhasil menikahi si sulung, sedangkan Fedo sudah berhasil menikahi anak tengah di keluarga ini. Dan giliranmu akan segera tiba begitu kau berhasil mengikat Nania dalam pernikahan. Saat nasib baik itu terjadi jangan lupa untuk berbagi cerita dengan kami ya. Asal kau tahu saja. Kita bertiga ini sudah dibuat gila oleh ketiga gadis desa itu. Jadi kau jangan ragu untuk menunjukkan kegilaanmu di hadapan kami berdua. Paham?” ucap Gleen dengan bangganya menyambut Jovan.


“Gleen benar, Jo. Kita sudah dibuat hilang kewarasan oleh putri-putrinya Ayah Luyan dan Ibu Nita. Jadi nikmati saja dan jangan pernah sungkan. Kita bertiga sama, sama-sama dibuat gila oleh ketiga gadis desa itu,” imbuh Fedo sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


“Em,, apa ini artinya aku sudah diterima oleh kalian?” tanya Jovan memastikan.


Gleen dan Fedo kompak mengangguk. Jovan yang melihat hal tersebutpun menjadi senang bukan kepalang. Restu dari oramgtua Nania sudah dia dapatkan, dan sekarang restu dari kedua kakaknya Nania pun sudah Jovan dapatkan. Kini tinggal restu dari kedua kakak Nania saja yang belum Jovan kantongi. Semoga saja tidak ada penolakan nantinya.


Lihatlah, Nania. Rasa rinduku padamu membawaku pada restu dari kedua kakak iparmu. Tidak sia-sia aku nekad datang ke rumahku . Ahai senangnya aku.


“Oya, Jo. Gleen bilang kalian sedang melakukan kerjasama. Apa benar?” tanya Fedo saat kegilaannya sudah sedikit mereda. Dia langsung menatap serius ke arah Jovan begitu membahas tentang pekerjaan.


“Benar, Kak. Aku belum lama di angkat menjadi bos di perusahaan Ayahku, jadi aku masih sangat amatir tentang bisnis. Untung ada Kak Gleen yang bersedia membimbingku. Untuk proyek inipun aku banyak mengandalkannya. Mau bagaimana lagi. Kekasihku sangat menyukai uang, jadi aku harus pintar-pintar mencari rupiah agar Nania tidak kabur ke pelukan sugar daddy lain. Nania masih belum mencintaiku sepenuhnya dan hanya uanglah yang bisa membuatnya terus berada di pelukanku,” jawab Jovan dengan jujur mengakui ketidakmampuannya dalam berbisnis. Jovan bukan sedang menghiba, dia hanya sedang menyampaikan saja kalau dia sangat membutuhkan orang-orang yang sudah berpengalaman agar kemampuannya dalam memimpin perusahaan bisa menjadi lebih baik lagi. Dan kakak ipar Nania adalah guru pembimbing pertamanya.


Melihat kesungguhan Jovan dan juga kerendahan hatinya dalam mengakui kekurangannya, membuat Fedo tertarik untuk ikut membantu kelancaran bisnis calon adik iparnya. Segera Fedo menuangkan anggur ke gelas lain lalu memberikannya pada Jovan.


“Santai saja, Jo. Kau punya aku dan Gleen dalam dunia bisnis. Jangan ragu untuk bertanya ataupun meminta bantuan pada kami berdua jika di suatu hari nanti perusahaanmu mengalami masalah. Dan karena kau sedang berjuang menaklukan cinta gadis desa seksi itu, maka aku dengan senang hati akan mengirim kontrak kerjasama ke perusahaanmu agar rekeningmu tidak mengering setelah isinya dikuras habis oleh Nania,” ucap Fedo sambil mengangkat gelas minumannya ke arah Gleen dan Jovan. “Cheerss?”


“Cheerrss,” ….


Gleen dan Jovan menyambut niat baik Fedo dengan saling menempelkan gelas mereka. Setelah itu mereka bertiga lanjut mengobrol sembari menunggu Nania kembali dari bersenang-senang dengan sugar mommy-nya.


***

__ADS_1


__ADS_2