My Sugar Daddy ( Nania)

My Sugar Daddy ( Nania)
34. Menjadi Pemenang


__ADS_3

πŸ“’πŸ“’πŸ“’BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI WRITER SEASON 8. OKE? πŸ’œπŸ’œπŸ’œ


***


Jovan keluar dari dalam mobil dengan raut wajah yang begitu santai. Dia lalu memperhatikan kedua orangtuanya yang berjalan tergopoh-gopoh saat akan masuk ke dalam kantor polisi.


Nania-Nania, aku pikir kau dan Rhea hanya akan adu mulut. Kenapa kalian malah berakhir di kantor polisi seperti ini? Ada-ada saja, ujar Jovan merasa tergelitik akan apa yang terjadi pada kekasihnya.


Tadi saat Jovan sedang bersantai di kamarnya, tiba-tiba Nania mengirimkan pesan yang berisi kalau dia ingin memberi pelajaran pada adiknya. Awalnya sih Jovan merasa khawatir. Akan tetapi setelah Nania menjelaskan kalau dia memiliki tujuan tersendiri, Jovan akhirnya memberikan izin. Namun Jovan sama sekali tidak menyangka kalau adik dan juga kekasihnya akan di gelandang ke kantor polisi seperti ini. Walaupun cukup mengejutkan, tapi Jovan tidak merasa cemas sama sekali. Kekasihnya adalah gadis yang kuat dan juga hebat, Jovan yakin Nania pasti bisa menyelesaikan masalah ini sampai tuntas.


"Hei, Jo. Ke sini!" teriak Susan sambil melambaikan tangan ke arah Jovan yang baru saja datang.


Gleen yang saat itu duduk tak jauh dari Susan dan Tasya pun segera menoleh ke arah Jovan. Dia lalu tersenyum lebar melihat kedatangan orang yang sedang di tunggunya. Segera Gleen mengatur kata yang tepat untuk melakukan pendekatan dengan Jovan, bos muda yang sedang dia incar untuk di jadikan sebagai kolega bisnis.


"Kak Gleen, apa kabar?" sapa Jovan ramah. Tak lupa juga dia menyapa Susan dan Tasya.


"Aku baik. Kau sendiri?" sahut Gleen balik menanyakan kabar Jovan.


"Sangat baik, Kak!"


"Baguslah!"


"Nania bagaimana?"

__ADS_1


Jovan duduk di sebelah kakak ipar Nania tanpa merasa canggung sama sekali. Dia lalu melihat ke arah pintu masuk kantor polisi, heran mendapati sang ayah yang keluar dengan raut wajah penuh kebingungan.


"Jo, sebaiknya kau temani Ayahmu saja di sana. Kekasihmu cukup brutal, Ayahmu pasti sangat syok setelah melihat keadaan adikmu," ucap Gleen sambil memperhatikan ayahnya Jovan. Sungguh lucu, adik iparnya memang tidak main-main dalam mengguncang mental orang lain. Sekelas ayahnya Jovan saja bisa di buat kebingungan sampai seperti itu. Benar-benar bakat yang sangat luar biasa.


"Nania tidak akan mungkin menyakiti adikku jika adikku tidak menyinggungnya lebih dulu, Kak. Dan tadi sebelum mereka bertengkar, Nania sudah meminta izin padaku dulu," sahut Jovan kemudian berdiri. Dia lalu pamit pergi untuk menghampiri ayahnya.


Di depan pintu masuk kantor polisi, Ardan terus saja menarik nafas dalam-dalam. Sungguh, tak pernah sekalipun Ardan menyangka kalau putrinya akan senekad ini mencari masalah dengan Nania. Bukannya Ardan tidak mau membela putrinya, tapi di sini putrinya-lah yang bersalah. Tadi begitu Ardan dan Silvi menemui polisi, mereka langsung di beritahu penyebab mengapa Nania bisa menyerangnya di tempat umum. Rhea, putrinya, dengan begitu berani menghina kedua orangtua Nania. Bayangkan! Menghina orangtua dari gadis berlatar belakang tidak biasa itu. Tidakkah menurut kalian ini adalah kabar yang sangat mengerikan? Ardan tak bisa membayangkan akan jadi seperti apa nasib keluarganya nanti jika keluarga besar Nania sampai merasa tak terima. Bisa-bisa nasib keluarganya berakhir di detik itu juga. Ya Tuhaaannn ....


"Ayah, Ayah kenapa keluar? Mana Ibu? Dan ... bagaimana keadaan Rhea dan Nania?" tanya Jovan sembari menepuk pelan bahu sang ayah.


"Jo, bagaimana ini. Polisi bilang pada Ayah kalau Rhea telah menghina kedua orangtua Nania. Dia menyebut mereka tidak becus mendidiknya dan menuduh Nania telah menjalin hubungan gelap dengan kakak iparnya sendiri!" jawab Ardan kalut. "Ayah takut sekali, Jo. Ayah takut Nania akan mengadukan perbuatan Rhea pada keluarganya. Karena saat Ayah dan Ibu masuk ke dalam, Nania seperti orang yang baru saja menangis. Ayah benar-benar sangat takut, Jo!"


Melihat ayahnya yang begitu kalut sebenarnya Jovan merasa tak tega. Tapi apa mau di kata, semua ini sudah di rencanakan oleh Nania. Jadi yang bisa Jovan lakukan sekarang hanyalah mencoba untuk meyakinkan sang ayah kalau Nania tidak akan mungkin mengadukan perbuatan Rhea pada keluarganya.


"Bagaimana mungkin Ayah bisa tenang, Jovan. Kau kan belum melihat bagaimana kondisi Nania sekarang. Rhea benar-benar sudah sangat kelewatan, apa dia sama sekali tidak memikirkan kita sebelum menyerang Nania? Ya Tuhan, kepala Ayah sakit memikirkan kelakuan adikmu, Jo. Tolong kau uruslah, Ayah tidak sanggup."


"Ya sudah kalau begitu Ayah tunggu di mobil saja. Masalah ini biar aku yang urus!" sahut Jovan sambil menahan tawa. "Ini kunci mobilnya. Aku masuk ke dalam dulu ya?"


Setelah berpamitan Jovan pun bergegas masuk ke dalam kantor polisi. Dia lalu mengusap wajahnya begitu melihat Nania yang sedang bicara dengan ekspresi yang sangat memelas. Bukan khawatir, tapi Jovan sedang menahan diri agar tidak tertawa. Sungguh, Nania benar-benar sangat piawai dalam melobi drama melankolis yang sedang dimainkannya. Jovan salut.


"Pak polisi, apakah sekarang aku sudah boleh pulang? Tubuhku sakit semua. Aku perlu untuk pergi berobat dulu," tanya Nania sambil menatap Jovan yang baru saja datang. Dia lalu mencari celah untuk mengedipkan mata padanya.


Menggemaskan, batin Jovan.

__ADS_1


"Pak, jangan biarkan gadis itu pergi. Dia harus bertanggung jawab atas apa yang sudah dia lakukan padaku. Kalian tidak boleh membebaskannya begitu saja!" protes Rhea tak rela melihat Nania tidak mendapat hukuman apa-apa.


"Rhea, sudah. Tolong berhenti membuat kegaduhan seperti ini. Nania itu lebih muda darimu, harusnya kau tidak bersikap kasar padanya. Tahu tidak!" tegur Silvi dilema antara ingin membela putrinya atau membela Nania.


"Tapi Ibu, Nania yang menyerangku lebih dulu. Lihat, semua luka di wajahku dia yang melakukannya. Aku tidak terima kalau dia di bebaskan begitu saja. Nania harus di hukum!" sahut Rhea tetap kekeh ingin polisi memberikan hukuman pada gadis yang masib berpura-pura sok lemah di hadapannya.


"Bibi, kalau memang Rhea begitu ingin aku di hukum, ya sudah tidak apa-apa. Nanti biar keluargaku saja yang menyelesaikan masalah ini. Aku tahu aku salah karena sudah menyerangnya lebih dulu, tapi itu aku lakukan hanya untuk menjaga nama baik Ayah dan Ibuku. Sungguh!" ucap Nania pura-pura mengalah.


Krystal dan Rhea terkejut melihat Nania yang tiba-tiba bicara dengan sangat manis di hadapan ibunya Rhea. Padahal tadi gadis ini selalu saja memojokkan Rhea, tapi entah kenapa sikapnya langsung berubah drastis begitu ibunya Rhea datang. Benar-benar iblis berkepala dua. Huhh.


"Em Nania, sebenarnya masalah ini hanya kesalah-pahaman saja antara kau dengan Rhea. Jadi Bibi rasa kau dan Rhea tidak perlu di hukum. Kalian cukup berbaikan dan saling memaafkan saja. Bukan begitu, Pak?" tanya Silvi pada polisi yang ada di sana. Dia mencoba untuk mengambil jalan tengah agar masalah ini tidak melebar kemana-mana.


"Benar sekali, Nyonya Silvi. Masalah ini sebaiknya di selesaikan secara kekeluargaan saja karena nantinya keputusan ini akan mempermudah kedua belah pihak untuk saling berdamai,"


"Kalian dengar itu 'kan?" ucap Silvi seraya menatap bergantian ke arah Rhea dan juga Nania. "Ayo Rhea, kau minta maaflah dulu pada Nania karena secara tidak langsung kaulah yang mengawali masalah ini. Ayo cepat minta maaf,"


Dengan santainya Nania langsung menyodorkan tangan ke arah Rhea begitu ibunya Jovan menyuruh Rhea untuk meminta maaf padanya. Satu kosong, Nania berhasil memenangkan permainan ini dengan akhir yang begitu memuaskan.


"Rhea, cepat minta maaf pada Nania!" perintah Jovan ketika melihat adiknya hanya diam saja.


Karena terus di desak meminta maaf pada Nania oleh ibu dan juga kakaknya, Rhea memutuskan untuk pergi saja dari sana. Dia benar-benar tidak sudi jika harus meminta maaf pada Nania, gadis licik yang begitu pintar memutar-balikkan fakta di hadapan keluarganya. Krystal yang melihat Rhea pergi pun memutuskan untuk segera menyusulnya. Dia takut di permalukan seperti Rhea, apalagi di sana ada Jovan. Krystal bisa mati berdiri nanti.


Heh, kau pikir kau bisa mengalahkan aku? Itu tidak akan mungkin terjadi, Rhea sayang. Aku ini Nania, gadis yang mempunyai seribu keberuntungan, ujar Nania dalam hati.

__ADS_1


***


__ADS_2