
📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI YOU ARE A WRITER SEASON 8. OKE 💜💜💜
***
Jovan ternganga tak percaya sambil menatap layar ponselnya yang sudah menghitam. Baru juga mulutnya akan terbuka, tapi Nania sudah lebih dulu memutuskan panggilan setelah memintanya untuk menempatkan Marcell di posisi Krystal. Namun, yang membuat Jovan ternganga seperti ini bukan karena sikap Nania. Melainkan kata-kata I love you yang terucap keluar dari mulut sintal kekasihnya itu. Ya, pikiran Jovan langsung bleng saat Nania menutup panggilan dengan kata cinta yang sangat manis. Biasalah, bucin. 😂
“Ya Tuhan, kenapa aku merasa ada banyak sekali kupu-kupu beterbangan di dalam perutku ya? Apa ini yang namanya cinta? Aaaaa,” gumam Jovan sambil tersenyum lebar. Setelah itu Jovan menempelkan layar ponsel ke bibirnya, menciumnya berulang kali seolah itu adalah Nania. “Sayang, kau benar-benar sangat pandai menjungkirbalikkan duniaku. Awas ya kau nanti. Hahaha.”
Andai ada yang melihat, saat ini Jovan sangat mirip dengan orang yang sedang mengalami gangguan jiwa. Hanya karena Nania mengucapkan kata I love you padanya, Jovan sudah langsung berubah menjadi tidak waras seperti ini. Lalu apa kabar dengan nyawa Jovan jika sampai melihat Nania melepas pakaian di hadapannya? Penulis rasa Jovan akan langsung mati di tempat. Benar tidak?
Tok tok tok
Euforia yang Jovan rasakan seketika terhenti saat ada yang mengetuk pintu ruangannya. Segera dia berdehem dan merapikan penampilannya dulu sebelum mempersilahkan orang tersebut untuk masuk ke dalam. Tak lupa juga dia mengedipkan mata ke arah foto Nania yang terbingkai apik di meja kerjanya. Gadis itu berpose sedang bertopang dagu sambil mengedipkan mata, dan alasan Nania memberikan foto ini adalah agar Jovan tidak melarikan diri pada wanita lain. Konyol sekali bukan?
“Masuk!”
Ceklek
“Long time no see, Jovan!”
Di depan pintu ruangan tengah berdiri seorang pria tampan yang sedang tersenyum lebar. Jovan yang merasa tidak asing dengan wajah pria tersebutpun tampak mengerutkan keningnya. Hingga di detik selanjutnya barulah Jovan tersadar siapa pria tersebut.
“Wow, Galang. Apa kabar? Penampilanmu sedikit membuatku pangling. Masuklah!” ucap Jovan sambil beranjak dari tempat duduknya. Segera dia menghampiri sahabatnya yang memang sudah cukup lama tidak bertatap muka. Tanpa merasa canggung sedikitpun Jovan langsung memeluk Galang yang kulitnya sedikit menghitam. Dia lalu meninju lengannya pelan. “Bung, ada apa dengan kulitmu, hm? Seingatku kau itu sangat putih seperti sagu. Kenapa sekarang kulitmu jadi terlihat seperti gula jawa? Kau barusaja pulang dari berperang atau bagaimana?”
“Sialan kau, Jo!” umpat Galang sambil terkekeh. Dia lalu balas meninju lengan Jovan sambil mengajaknya masuk ke dalam ruangan. Bak tempat sendiri, Galang meminta Jovan duduk. Setelah itu dia duduk di sebelahnya. “Aku barusaja kembali setelah menjadi sukarelawan di sebuah desa. Itulah kenapa kulitku sekarang sedikit menghitam. Tapi kau jangan khawatir, Jo. Dalam waktu singkat pesonaku pasti akan segera kembali. Hehe.”
“Cihhh, narsis sekali kau. Oya, kau mau minum apa?”
__ADS_1
“Air putih saja.”
“Oke. Tunggu sebentar.”
Jovan segera menghubungi asistennya dan meminta agar mengantarkan minuman dan juga cemilan ke ruangannya. Setelah itu Jovan kembali mencecar Galang dengan beberapa pertanyaan. “Bagaimana kabarmu sekarang, Lang? Dan kekasihmu, kapan kalian akan menikah?”
“Kabarku tentu baik-baik saja, Jo. Kalau aku sekarat, aku tidak akan mungkin datang kemari,” jawab Galang berkelakar. “Mengenai kekasihku, kami sudah dari lima bulan lalu memutuskan berpisah. Ada ketidakcocokan pendapat, jadi ya sudah. Sekarang aku sendirian. Kau sendiri apa kabar? Dengar-dengar sekarang kau sudah resmi memimpin perusahaan ini ya? Selamat ya. Kau pantas mendapatkan posisi ini.”
“Seperti yang kau lihat, kabarku sangat baik sekarang. Dan ya, Ayah telah menyerahkan perusahaan ini sepenuhnya kepadaku. Beliau hanya sesekali saja datang ke kantor untuk membantuku memantau pekerjaan para karyawan,” sahut Jovan.
“Baguslah. Aku turut senang melihat kesuksesanmu.”
Tak lama kemudian asisten Jovan masuk ke dalam ruangan sambil membawakan minuman dan cemilan. Meski air putih, Jovan tetap mengajak Galang untuk bersulang. Setelah itu mereka lanjut mengobrol, saling menanyakan kegiatan apa saja yang mereka lakukan setelah berpisah di London waktu itu.
“Jo, apa sekarang kau mempunyai kekasih?” tanya Galang iseng. Sejak dahulu kala, Galang tak pernah sekalipun melihat Jovan mendekati wanita, kecuali Nania. Dan meskipun mereka bersahabat cukup dekat, baik Galang maupun Jovan kadang sampai tak sempat memiliki waktu untuk berbincang seperti ini. Mereka sibuk dengan aktifitas masing-masing, apalagi saat di London mereka juga berbeda jurusan. Jadi wajar saja kalau Galang banyak tidak tahu tentang kehidupan Jovan yang sekarang. Benar tidak?
“Boleh. Awas saja ya kalau kekasihmu tidak secantik yang kau katakan barusan,” sahut Galang dengan senang hati bersedia menunggu Jovan menunjukkan foto kekasihnya.
“Baiklah. Tunggu sebentar.”
Tadinya Jovan berniat menunjukkan foto Nania yang ada di ponselnya. Tapi Jovan urungkan karena di dalam ponselnya ada beberapa foto 21++ dimana Jovan dan Nania sedang bercumbu. Jovan khawatir Galang akan mimisan jika melihat foto itu. Wajarlah, Galang kan sedang tidak punya kekasih, dan Jovan tidak sejahat itu membiarkannya menderita hati. Hahahaha.
Sambil tersenyum-senyum tidak jelas, Jovan mengambil foto Nania yang berada di atas meja kerjanya kemudian menyerahkannya pada Galang. Dia sengaja membiarkan Galang bertanya-tanya dulu tanpa ada niat memberitahu kalau gadis cantik yang ada di dalam foto adalah gadis yang sangat dikenal oleh Galang.
“Jo, kenapa aku merasa familiar melihat senyum gadis ini ya? Sekilas gadis ini juga terlihat mirip dengan Luri. Dia … siapa?” tanya Galang penasaran.
“Coba tebak,” jawan Jovan sambil menaik-turunkan alisnya.
__ADS_1
“Ck, apa susahnya menjawab sih. Jangan bercandalah, cepat beritahu aku siapa gadis ini. Kekasihmu sangat cantik, jangan sampai kau membuatku merasa penasaran kemudian terpikir untuk merebutnya. Mau kau?”
“Dasar brengsek. Sialan sekali kau ya!”
“Hahahaha.”
Tak mau Galang benar-benar mencuri Nania, Jovan akhirnya mengalah. Sambil membayangkan wajah cantik Nania, Jovan memberitahu Galang kalau gadis di dalam foto itu adalah seorang anak belasan tahun yang dulu suka sekali membuat mereka emosi.
“Gadis itu beberapa tahun lebih muda dariku, Lang. Dan kita sama-sama mengenalnya sejak usia gadis itu masih belasan,” ucap Jovan sambil tersenyum kecil. “Kau ingat tidak dengan gadis beracun yang dulu selalu menjadi penghalang usaha kita dalam mendekati Luri? Dia orangnya. Gadis itu sekarang menjadi kekasihku.”
“Luri?” beo Galang. Dan sedetik kemudian Galang langsung membelalakkan mata begitu tahu kalau gadis yang menjadi kekasihnya Jovan adalah Nania, adik dari wanita yang pernah membuat Galang hampir gila. “Jo, kau tidak sedang mempermainkan aku ‘kan? Nania … kalian pacaran?”
“Iya kami pacaran. Kaget ya?”
Bughhhhh
Galang dengan kuat meninju lengan Jovan saat melihatnya yang malah tersenyum mengejek. Kesal sekali. Sambil terus memperhatikan foto Nania, Galang meluapkan ketidakpercayaannya akan perubahan Nania dari yang dulu kekanakan menjadi gadis yang luar biasa cantik dan juga seksi. “Jo, aku tidak menyangka Nania akan berubah sedrastis ini. Bahkan kecantikannya mampu mengalahkan kecantikan Luri dan Kak Lusi. Kau menggunakan pelet apa untuk menjeratnya?”
“Sialan kau. Jangan sembarangan bicara ya. Aku bisa memiliki Nania karena aku memang berjuang keras untuk mendapatkan hatinya. Mau dengar ceritanya tidak?”
“Mau,” sahut Galang dengan cepat. Sungguh, dia benar-benar penasaran sekali pada pasangan ini.
Sambil menikmati cemilan, Jovan mulai bercerita dari awal pertemuannya dengan Nania setelah dia kembali dari London. Tak lupa juga Jovan menceritakan penyebab mengapa Nania bisa dengan mudah menerima cintanya.
Whaaatttt? Jadi Nania bersedia menjadi kekasihnya Jovan setelah tahu kalau Jovan adalah seorang bos? Aneh, kenapa Nania berbeda sekali dengan Luri dan Kak Lusi ya? Dia matre sekali.
***
__ADS_1