
“Apa kau sudah menemukan siapa mereka?” tanya Fedo berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon. Di pangkuannya ada Sora yang sedang asik dengan cemilannya.
“Sudah, Tuan. Pria itu hanya seorang sopir taxi yang di bayar untuk merusak rem mobil milik Nona Nania. Akan tetapi saat dia hendak menjalankan aksinya, ibu dari orang yang mempekerjakannya datang mencegah. Wanita itu meminta si sopir taxi agar tutup mulut dengan memberinya banyak uang sebagai jaminan. Dan mengenai kecelakaan yang menimpa teman-teman Nona Nania, itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah ini!”
“Hmmm, baiklah kalau begitu,” sahut Fedo lega. “Lalu siapa yang menjadi dalangnya? Apakah mereka berasal dari pihak musuh yang ingin menjadikan anggota keluargaku sebagai target? Jika iya, bantai saja mereka sampai habis tak bersisa. Aku tidak suka jika istri kesayanganku sampai bersedih karena anggota keluarga kami ada yang terluka!”
Fedo langsung memejamkan mata saat mendengar suara letusan yang cukup kuat dari arah bawah. Luar biasa sekali putrinya ini. Hanya dengan memakan cemilan kecil saja sudah mampu menimbulkan efek begitu besar yang mana suara tersebut sampai membuat kakinya bergetar. Dasar Sora gembul. Fedo jadi ingin membuatkan adik untuknya.
“Yang menjadi dalangnya adalah Nona Krystal, Tuan. Dia adalah anak semata wayang dari pasangan Tuan Kendy dan Nyonya Aileen. Dari informasi yang berhasil saya kumpulkan, mereka adalah sahabat dekatnya Tuan Ardan, ayahnya Tuan Jovan. Besar kemungkinan hal ini di sebabkan oleh kecemburuan cinta yang tak berbalas. Tapi jika anda menganggap kalau ini adalah masalah besar, saya akan langsung menghabisi mereka semua!”
“Tidak perlu!” ucap Fedo berubah pikiran. “Masalah ini biar mereka saja yang mengurusnya. Selama tidak membahayakan nyawa adik kesayanganku, kau biarkan saja mereka tetap hidup. Lagipula akan sangat lucu kalau kita sampai ikut terlibat dalam drama percintaan remaja. Jadi biarkan saja!”
Setelah membatalkan tujuan awal, Fedo segera memutuskan panggilan. Dia kemudian terdiam, menimang apakah keputusannya sudah benar atau belum. Sekali lagi. Sekali lagi Fedo menemukan fakta mencengangkan tentang cinta. Hanya karena cinta yang tak terbalas, seseorang mampu mengambil tindakan gila dengan ingin mencelakai orang lain.
Kalau ini di biarkan begitu saja, kira-kira keselamatan gadis beracun itu akan terancam tidak ya?
“Nania, Jovan, Krystal. Jadi mereka terlibat cinta segitiga ya? Kenapa mirip dengan kisahku bersama Luri dan Kanita? Tapi bedanya di sini Nania sangat tengil, sedangkan Luri dulu begitu lembut dan hatinya mudah rapuh. Ah, tidak mungkin jagoanku akan kalah begitu saja. Lebih baik aku tidak ikut campur dulu dalam masalah mereka. Akukan sudah dewasa,” gumam Fedo bicara dengan dirinya sendiri.
Mungkin karena merasa heran, Sora tiba-tiba saja menjejalkan cemilan yang sedang dinikmatinya ke dalam mulut sang ayah. Setelah itu Sora tertawa kesenangan melihat ayahnya terkejut akan apa yang dia lakukan. Bersamaan dengan itu pintu kamar terbuka. Lalu masuklah Gleen bersama dengan putranya, Reiden.
“Para wanita sedang sibuk di dapur. Dan aku menerima mandat penting untuk memastikan kalau pangeran ini tidak menangis,” ucap Gleen mengeluh dengan kata-kata yang sangat ambigu. Dia kemudian berbaring di sofa setelah mendudukkan Reiden di sebelah Fedo. “Tolong jaga anakku sebentar, Fed. Aku butuh lima menit lagi untuk mengumpulkan seluruh nyawaku yang sedang berkeliling dunia!”
“Sialan kau! Memangnya aku babysitternya Reiden apa!” omel Fedo. Dia lalu mengambil Reiden dan mendudukannya di pangkuan. Setelah itu Fedo menarik nafas, heran melihat anaknya Gleen yang langsung diam seperti siput begitu di sentuh oleh Sora. “Aku rasa Reiden itu jatuh cinta pada putriku, Gleen. Lihat. Dia selalu saja seperti ini setiap kali berada di dekat Sora. Apa menurutmu ini wajar?”
“Mereka masih bayi. Tidak ada kamus cinta-cintaan di pikiran mereka. Hanya susu, makan, main, dan juga tidur. Oh satu lagi. Jago merebut istri-istri kita. Tahu kau?”
“Tapi buktinya Reiden selalu seperti salah tingkah jika Sora menyentuhnya. Lemah sekali!”
Gleen yang tengah memejamkan mata sontak terbangun saat Fedo menyebut putranya lemah. Dia tak terima. Sambil memasang wajah masam, Gleen mengambil Reiden dari pangkuan Fedo. Kesal sekali dia.
“Oke, kita jangan bercanda dulu. Ada hal penting yang ingin ku sampaikan padamu!” ucap Fedo menghentikan Gleen yang ingin mnegomel. “Ini tentang orang misterius yang berada di dekat mobil Nania sebelum kecelakaan itu terjadi. Aku sudah mengantongi identitasnya!”
“Siapa mereka?”
__ADS_1
“Dalangnya adalah anak dari pasangan Tuan Kendy dan Nyonya Aileen. Namanya Krystal, dia terlibat cinta segitiga dengan Jovan dan Nania.”
Gleen cengo. Apa-apaan ini? Cinta segitiga macam apa yang bisa menimbulkan masalah seberbahaya ini? Gila. Gleen syok sekali mendengarnya. Karena pembicaraan ini sedang sangat serius, dia mendudukkan Reiden di sebelahnya kemudian meminta Fedo agar mendudukkan putrinya juga. Setelah itu mereka pun mulai berbincang.
“Kalau berhubungan dengan cinta segitiga bukankah akan sangat lucu ya kalau kita sampai ikut campur?” ucap Gleen berpikir keras apakah perlu untuk mengurus keluarga itu atau tidak.
“Itu juga yang sedang aku pikirka daritadi, Gleen. Tapi jika kita hanya diam saja, aku khawatir si Krystal-Krystal ini akan semakin meraja dengan kembali melakukan percobaan berbahaya. Yang kemarin mungkin Nania berhasil selamat, tapi yang nanti-nanti bagaimana? Tidak ada jaminan untuk dia bisa kembali lolos seperti kemarin,” sahut Fedo seraya mengusap dagu bawahnya. Tatapannya dalam, seolah ingin memberitahu dunia kalau dia sedang galau. “Lusi dan Luri di didik oleh orangtua yang sama. Sikap mereka juga sama persis, sama-sama tidak suka urusan mereka di selesaikan oleh orang lain. Dan aku rasa Nania juga mempunyai prinsip seperti mereka juga. Dia pasti tidak mau kalau kita sampai terlibat dalam masalah ini. Atau jika tidak bagaimana kalau kita diam-diam memantaunya saja. Dengan begitukan kita bisa memangawasi gerak-gerik gadis itu. Benar tidak?”
“Fed, kau lupa ya kasusmu dengan Kanita? Orang yang sedang di butakan oleh cinta, rata-rata dari mereka pasti tidak akan ragu untuk berbuat nekad. Dan kita sebagai kakak ipar yang baik masa iya akan membiarkan begitu saja bahaya besar datang menghampiri gadis beracun itu? Nanti kalau istri-istri kita merasa sedih bagaimana? Mau kau tidak mendapat jatah? Hah?”
“Waahh, benar juga ya. Tapi apa yang harus kita lakukan sekarang, Gleen? Kita tidak mungkin menculik gadis itu kemudian menjadikannya sebagai patung manekin, kan?”
Bugghhhh
“Yakkkk, kenapa kau memukulku!” kaget Fedo sambil mengelus ulu hatinya yang baru saja di tinju oleh Gleen. Sialan sekali pria ini. Menyerang tanpa memberi aba-aba. Kan sakit.
“Reiden dan Sora ada di sini. Kalau mereka sampai merekam apa yang tadi kita bicarakan, maka matilah kita berdua. Mereka masih anak-anak, jangan sembarangan bicara. Dasar bodoh!” omel Gleen dongkol. Bisa-bisanya Fedo membahas pekerjaan sampingannya di hadapan putranya sendiri. Membuat orang jantungan saja. Huh.
“Lusa aku dan Luri sudah harus kembali ke Jepang. Jadi masalah ini aku serahkan saja padamu. Terserah kau ingin melakukan apa pada mereka, yang penting aku tidak mau dengar Nania kenapa-napa. Oke?”
“Sialan sekali kau. Lempar batu sembunyi tangan itu namanya."
“Aku tidak melempar batu, hanya melemparkan semua tanggung jawab kepadamu. Dan juga, sebaiknya kita jangan memberitahu Nania tentang hal ini. Aku khawatir dia akan kesurupan kemudian mendatangi Krystal lalu membantainya. Jangan lupa ya kalau gadis beracun itu adalah atlet bela diri. Krystal bisa patah tulang jika Nania sampai mengamuk!”
“Haisssshhhh, kenapa jadi repot begini sih. Kitakan bisa mencari jalan penyelesaian lewat cara yang lebih mudah. Tekan saja perusahaan ayahnya Krystal, kemudian ancam supaya anaknya tidak mengganggu adik kita lagi. Mudah, kan?”
Fedo menyipitkan mata. “Darimana kau tahu kalau ayahnya Krystal mempunyai perusahaan?”
“Tentu saja aku tahu, Fedo. Tuan Kendy adalah pemain lama di meja saham. Sedangkan aku? Aku adalah salah satu pembisnis sukses di negara ini. Jadi aku mana mungkin tidak mengenal siapa Tuan Kendy,” jawab Gleen dengan pongahnya. Dia kemudian tertawa saat berhasil menghindar dari pukulan Fedo.
Tok tok tok
“Maaf, apa aku mengganggu?”
__ADS_1
Luri bertanya sambil melongokkan kepala dari balik pintu. Dan senyumnya langsung mengembang ketika melihat Sora mengulurkan tangan meminta untuk di gendong.
“Sayang, ayo cepat masuk. Aku rinduuuu sekali padamu,” sahut Fedo semringah melihat kemunculan istrinya. Tanpa merasa bersalah sama sekali, dia mengusir Gleen keluar dari dalam kamarnya. Dia ingin bermesraan dengan istrinya yang cantik itu. “Sana pergi. Cari istrimu sendiri dan jangan ganggu aku!”
“Kak Fedo, jangan begitu. Nanti prilaku tidak sopanmu di tiru oleh Sora dan Reiden. Jangan lupa kalau otak bayi itu memiliki daya rekam dan daya ingat yang sangat baik. Jadi berhati-hatilah dalam bicara saat sedang bersama mereka. Bisa?” tegur Luri mengingatkan suami dan juga kakak iparnya supaya menjaga sikap.
Gleen dan Fedo membeku di tempat setelah di tegur oleh Luri. Seperti biasa. Luri dengan gaya bicaranya yang lembut, tapi mampu membungkam mulut orang lain tanpa mempunyai kesempatan untuk melakukan pembelaan. Mau bagaimana lagi. Yang di katakan oleh wanita desa ini sama sekali tidak ada titik celahnya, jadi mau tidak mau Gleen dan Fedo harus mau mengaku bersalah. Sedih sekali.
“Sayang, ayo kita keluar. Sarapan untuk kalian sudah siap dan bibi pengasuh juga sudah mandi. Kalian pasti sudah lapar, kan?” ucap Luri sembari mencium bergantian pipi Sora dan Reiden. Dia kemudian tertawa saat kedua anak ini berebut ingin memeluknya. “Pelan-pelan, Nak. Nanti jatuh!”
Tak mau mendengar, Reiden hampir saja jatuh ke lantai jika Fedo tidak sigap menangkap tubuhnya. Sembari melayangkan tatapan sinis pada Gleen, Fedo membisikkan kata di telinga anak lima tahun ini.
“Dasar kurang ajar kau ya. Wanita yang tadi ingin kau peluk itu adalah istriku, kau mana boleh menyentunhya sembarangan. Sana ikut ayahmu dan ajak dia untuk menemui ibumu. Jangan ganggu istriku lagi. Tahu?”
Setelah unek-uneknya tersampaikan dengan benar, Fedo memberikan Reiden pada Gleen. Dia lalu menyeringai lebar saat pria itu menatapnya penuh curiga. Hehe.
“Apa yang baru saja kau bisikkan di telinga putraku, Fed? Awas saja ya kalau Reiden sampai mengatakan sesuatu yang bukan-bukan. Aku bersumpah akan mencabut semua rambut yang ada di kepalamu,” tanya Gleen penuh nada ancaman. Dia yakin betul kalau mantan Casanova ini pasti telah mengatakan hal buruk pada putranya.
“Jangan negative thinking dulu. Aku hanya mengajari Reiden tata cara bercocok tanam yang baik. Tidak lebih,” jawab Fedo dengan santainya.
“Kau bilang apa barusan, Kak?”
Luri menatap lekat ke arah Fedo. Dia merasa tidak asing dengan kalimat bercocok tanam yang baik. Sangat mirip dengan rayuan suaminya setiap kali ingin mengajak bercinta. Hmmm.
“Maksudku bercocok tanam bunga dengan baik. Jangan salah paham. Oke?” sahut Fedo langsung down begitu sadar kalau Luri ada di sana. Hampir saja ketahuan.
“Benar?” Luri memastikan.
“Iya, sayang. Ya ampun!”
Tak mau berdebat lagi, Luri mengajak semua orang keluar untuk sarapan. Karena Fedo memintanya berjalan lebih dulu, Luri jadi tidak bisa melihat kalau di belakangnya ada dua orang pria yang terlibat adu mulut tanpa suara. Dan lucunya, kedua pria ini menjadikan Reiden sebagai wasit. Gila sekali, bukan? Dan itulah kelakuan seorang Fedo dan Gleen. Kekanakan, tapi lucu dan menggemaskan. Hehe.
***
__ADS_1