My Sugar Daddy ( Nania)

My Sugar Daddy ( Nania)
32. Cara Mendidik


__ADS_3

📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI WRITER SEASON 8. OKE? 💜💜💜


***


"Nania, itu mereka!" bisik Tasya seraya menggerakkan dagu ke arah pintu masuk restoran.


"Ohowww, pucuk di cinta ulam pun tiba. Akhirnya yang di tunggu-tunggu muncul juga," sahut Nania seraya tersenyum miring. "Oke girls, bersiaplah. Mari kita tunjukkan pada mereka pesona sugar baby seperti kita. Heh, mereka belum tahu saja sedang mencari masalah dengan siapa. Nania dilawan!"


Tasya dan Susan kompak menganggukkan kepala. Setelah itu mereka memperhatikan dengan seksama ke arah dua orang gadis yang kini berada di salah satu meja yang ada di restoran tersebut.


Oh ya, sejak hari di mana Jovan memberitahu Nania tentang kelakuan Rhea yang telah memfitnahnya tengah bermesraan dengan seorang sugar daddy, sejak saat itu pula Nania terus mencari kesempatan untuk memberinya pelajaran. Sebagai gadis terhormat, Nania tentu tidak terima nama baiknya di jelek-jelekkan di hadapan calon mertuanya. Dan karena hari ini adalah hari libur, Nania memutuskan untuk mengajak Susan dan Tasya meeting di restoran ini untuk mengatur rencana balas dendamnya. Namun siapa sangka kalau orang yang sedang di targetkan oleh Nania malah muncul bersama dengan musuh bebuyutannya yang lain. Ibarat kata, Nania saat ini sedang kejatuhan durian montong. Penuh keberuntungan. Haha.


"Rhe, tumben sekali kau mengajakku keluar di hari libur. Biasanya kan kau hanya akan menghabiskan waktu di dalam kamar. Ada apa?" tanya Krystal penasaran.


"Malam setelah kita mengobrol di cafe aku tidak sengaja melihat Nania bersama seorang pria masuk ke sebuah hotel. Keduanya terlihat sangat dekat, jadi aku memutuskan untuk membuntuti mereka. Aku bahkan merekam detik-detik kejadian sebelum Nania dan pria itu masuk ke dalam satu kamar yang ada di sana," jawab Rhea dengan raut wajah yang sulit di artikan. Dia tidak bersemangat sekali saat menceritakan hal ini. Karena ....


"Benarkah? Woaahhh, ini benar-benar kabar yang sangat menggembirakan, Rhe. Sungguh!" pekik Krystal heboh. "Heh, lihatlah. Tanpa harus kita bersusah payah mencari kelemahan Nania, Tuhan sudah lebih dulu menunjukkan pada kita tentang borok gadis itu. Aku jadi tidak sabar melihat bagaimana reaksi Jovan saat tahu kalau Nania ternyata adalah simpanan sugar daddy. Jovan pasti akan sangat syok sekali. Benar tidak?"


"Owwhhh, jadi kau penguntit yang diam-diam merekamku di hotel waktu itu ya?"


Malas menunggu, Nania memutuskan untuk langsung menghampiri Krystal dan Rhea. Dan ketika Nania hampir sampai di dekat mereka, Nania di buat kesenangan karena Rhea tengah menceritakan tentang kejadian malam itu. Hal ini tentu saja membawa keuntungan tersendiri bagi Nania karena dia tidak perlu lagi bersusah payah menyinggung tentang hal ini.


"Nania! Bagaimana bisa kau ada di sini!" tanya Krystal dan Rhea berbarengan. Mereka sangat kaget melihat kemunculan Nania di sana.


"Tentu saja aku bisa. Aku ini Nania, apa yang tidak bisa aku lakukan, hem?" jawab Nania sembari bersedekap tangan. Dia lalu menatap sinis ke arah Krystal dan juga Rhea. "Kenapa? Kaget? Santai sajalah. Aku yang di fitnah sedang menjual diri pada sugar daddy saja santai-santai saja. Kenapa kalian panik? Aneh!"

__ADS_1


Krystal langsung mengerutkan keningnya begitu mendengar ucapan Nania yang menyebut kalau dirinya telah di fitnah menjual diri pada sugar daddy. Ini apa yang sebenarnya terjadi. Baru saja Rhea mengatakan kalau telah menangkap basah Nania sedang bersama seorang pria di hotel. Lalu tiba-tiba Nania muncul kemudian mengatakan kalau dia sedang di fitnah. Ada apa ini?


"Apa maumu?" tanya Rhea sinis. Meskipun malu, Rhea tidak akan membiarkan Nania menginjak-injak harga dirinya.


Sialan. Kenapa Nania harus muncul sekarang sih? kesal Rhea dalam hati.


"Apa mauku? Heh,"


Nania tertawa sumbang. Dia lalu mengalungkan sebelah tangannya ke bahu Rhea kemudian mendekatkan wajah ke samping telinganya.


"Aku mau kau mengakui kesalahanmu dan meminta maaf padaku. Se-ka-rang!"


"Cihhh, Nania-Nania. Kau pikir kau itu siapa, hah! Apa hakmu memintaku untuk mengakui kesalahan yang nyata-nyata di sebabkan karena sikapmu yang murahan itu. Asal kau tahu saja ya. Semua orang pasti akan beranggapan sama sepertiku jika mereka menyaksikan langsung kedekatanmu dengan kakak iparmu itu. Bermanja-manjaan, bahkan membuka pakaian tanpa merasa malu. Aku jadi ragu kalau hubungan di antara kalian hanya sebatas kakak dan adik ipar saja!" sahut Rhea dengan santai. Dia lalu mendorong kasar tubuh Nania. "Nania, aku mungkin sudah salah paham pada apa yang aku lihat malam itu. Tapi jujur, aku jadi penasaran apa memang seperti itu cara mendidik orangtuamu dengan memberi kebebasan kau untuk mengekspos diri di hadapan seseorang yang notabenenya adalah seorang ipar. Apa Ayah dan Ibumu tidak merasa takut ada hubungan terlarang muncul di antara kalian berdua, hem?"


Susan dan Tasya terperangah kaget mendengar hinaan yang dilontarkan oleh Rhea. Sungguh, adiknya Jovan benar-benar cari penyakit. Adalah hal yang paling sensitif bagi seorang Nania jika mendengar ada orang yang berani menghina keluarganya. Tapi Rhea, astaga. Sepertinya perang besar akan segera terjadi di sini.


"Krystal, aku sarankan kau sebaiknya diam dan jangan ikut campur. Duduk dan dengarkan saja apa yang sedang mereka bicarakan!" tegur Tasya. Akan sangat gawat kalau burung beo ini banyak bicara. Bisa-bisa emosi Nania naik sampai ke level dewa.


"Hei, berani sekali kau bicara seperti itu padaku. Kau pikir kau itu ....


"Sekali lagi kau berani mengeluarkan suara, garpu ini akan langsung melayang ke dalam mulutmu. Dasar berisik!" amuk Nania sambil memelototkan mata ke arah Krystal. Setelah itu dia kembali menatap Rhea, tersenyum tipis dengan tatapan mata yang begitu tajam. "Rhea, kau bilang apa tadi? Kau meragukan cara mendidik Ayah dan Ibuku?"


"Ya, itu yang aku katakan. Kenapa? Kau tidak terima? Atau kau ingin marah dan memukulku seperti waktu itu? Lakukan saja. Aku tidak takut!" jawab Rhea dengan begitu berani.


"Baiklah. Karena kau berani menghina orangtuaku, maka jangan merengek saat aku menunjukkan bagaimana cara mereka mendidikku selama ini!" ucap Nania. "Susan!"

__ADS_1


"I-iya, Nania. Ada apa?" sahut Susan tergagap.


"Tolong pegang tasku. Hati-hati, tas itu keluaran brand ternama dunia. Kau tidak akan sanggup untuk membelinya!"


Susan mengangguk. Segera dia mengambil tas Nania kemudian menarik Tasya untuk sedikit menjauh. Susan lalu meminta Tasya untuk merekam apa yang akan segera terjadi di hadapan mereka.


"Huh, sayang sekali Nania hanya akan menghajar Rhea saja. Padahal aku sangat berharap kalau wajah nenek lampir itu akan berubah jelek setelah di pukuli oleh Nania. Hem," bisik Susan sedikit kecewa.


"Sudah, diamlah. Jangan banyak protes, nanti yang ada malah kau sendiri yang jadi sasarannya Nania. Mau kau!" sahut Tasya sambil terus mengarahkan ponsel ke arah depan.


"Yeee, enak saja!"


"Ya sudah diam!"


"Iya-iya,"


Sementara itu Nania yang sudah sangat meradang setelah orangtuanya di hina, tanpa basa basi langsung menjambak rambutnya Rhea. Setelah itu Nania menyeringai, senang melihat Rhea yang kesakitan.


"Apa-apaan kau, Nania. Kau sudah gila ya!" teriak Rhea kaget. Dia lalu berusaha keras untuk melepaskan rambutnya.


"Kan sudah aku bilang kalau aku ingin menunjukkan cara Ayah dan Ibuku dalam mendidikku. Jadi nikmati saja, oke?" sahut Nania kemudian menarik rambut Rhea sampai dia jatuh terduduk di lantai.


Rhea memekik kesakitan. Krystal yang melihatnya pun berniat untuk menolongnya. Tapi baru saja dia akan berdiri, Nania sudah lebih dulu meliriknya. Krystal takut, tentu saja. Bagaimana tidak! Krystal tahu dengan pasti kalau Nania adalah seorang atlet bela diri yang sudah sering mengharumkan nama kampus mereka dalam beberapa turnamen dalam negeri. Sudah pasti hal ini membuat nyali Krystal menciut seketika. Rhea memang temannya, tapi dia jauh lebih sayang dengan keselamatannya sendiri. Jadi Krystal memutuskan untuk diam dan melihat saja ketika Nania mulai menyerang Rhea dengan brutal.


Maaf, Rhe. Bukannya aku tidak setia kawan, tapi aku takut wajahku rusak jika Nania sampai memukulku. Lagipula siapa suruh kau menghina orangtuanya, jadi ya terima saja konsekuensinya, batin Krystal penuh kelicikan.

__ADS_1


***


__ADS_2