
📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI WRITER SEASON 8. OKE? 💜💜💜
***
Sudut bibir Nania terangkat ke atas saat dia tak sengaja berbarengan keluar dari dalam mobil bersama Krystal. Dia lalu memberi kode pada Susan dan Tasya kalau musuh mereka ada di depan mata.
"Girl's, menurut kalian apakah aku perlu memberikan salam sapaan untuk musuh kita yang aduhai itu?" tanya Nania sembari menunjuk ke arah Krystal yang belum menyadari keberadaannya. Kakak seniornya itu sedang sibuk memperbaiki make-up.
"Tentu saja itu sangat perlu, Nona Nania. Nah, sekarang silahkan beri dia salam terbaik yang kau miliki. Aku yakin Nona itu pasti akan merasa sangat tersanjung di sapa oleh mahasiswi tercantik di kampus ini," jawab Susan dengan penuh semangat.
"Aku setuju. Cepat sapa dia, Nania. Aku ingin lihat apakah dia akan menunjukkan muka duanya atau tidak di hadapan kita. Heh!" imbuh Tasya tak kalah semangat dari Susan. Dia sudah di buat penasaran sejak insiden Nania bertengkar dengan Rhea di restoran kemarin.
"Baiklah-baiklah jika itu yang kalian mau. Tunggu sebentar. Oke?" ucap Nania sambil terus menyunggingkan senyum. "Dan Tasya. Seperti biasa, kau jangan sampai lupa mengabadikan momen saat aku menyapanya ya. Itu penting sebagai hiburan untuk sugar daddy-ku nanti!"
Tasya mengangguk sambil mengacungkan jari jempolnya. Dia dan Susan kemudian melakukan high five saat Nania mulai berjalan menghampiri Krystal. Sebentar lagi permainan seru akan segera terjadi. Ini sungguh menyenangkan.
Krystal yang sedang sibuk merapihkan make-up di wajahnya sama sekali tidak menyadari kalau ada Nania di belakangnya. Dia tak henti bersenandung kecil sambil terus memeriksa apakah penampilannya sudah sempurna atau belum.
"Kalian sungguh buta jika tidak bisa melihat kalau aku itu jauh lebih cantik ketimbang Nania. Dia itu cuma anak ingusan yang hanya bermodal tubuh seksi saja. Sedangkan aku, heh. Aku adalah tuan putri yang bisa memiliki apapun dalam sekejap mata. Aku ini Krystal, gadis dengan seribu multitalenta," ucap Krystal dengan bangga memuji dirinya sendiri.
"Apa? Gadis multitalenta? Hei Krystal, aku tidak salah dengar 'kan?"
__ADS_1
Nania tertawa terbahak-bahak setelah mendengar ucapan Krystal yang baru saja menyebut kalau dirinya adalah seorang gadis dengan seribu multitalenta. Lawak, ini benar-benar sangat lawak. Entah apa yang di pikirkan oleh Krystal sampai dia bisa begitu yakin menyebut dirinya seperti itu. Benar-benar menggelitik hati. Nania sampai tidak bisa berhenti tertawa karenanya.
"Kau lagi kau lagi. Apa yang sedang kau lakukan di belakangku, hah!" tanya Krystal dongkol. Dia muak sekali karena harus bertemu dengan Nania sekarang. Waktunya sungguh sangat tidak tepat.
"Tentu saja sedang mengagumi kecantikanmu yang tidak seberapa itu, Krystal. Apalagi memangnya," jawab Nania santai. "Aduuuhhh. Kau itu bisa tidak sih jangan membuat lawakan di pagi-pagi begini. Perutku jadi sakitkan sekarang!"
"Enyah dari hadapanku sekarang juga, Nania. Aku sedang tidak mood bertengkar denganmu!" usir Krystal cetus.
"Enyah kau bilang? Yakk Krystal, yang seharusnya enyah itu dirimu, bukan aku. Memangnya kau lupa ya kalau aku adalah bunga kampus di universitas kita. Para mahasiswa tampan yang ada di sini bisa merasa kehilangan jika aku sampai pergi. Lain cerita kalau kau yang lenyap dari muka bumi ini. Aku yakin semua orang pasti akan bersorak kegirangan. Cobalah jika tidak percaya. Haha!" sahut Nania kemudian kembali menertawakan Krystal.
Kedua tangan Krystal nampak terkepal kuat saat dirinya di ejek oleh Nania. Kesal, itu sudah pasti. Tapi nyali Krystal masih terlalu kecil untuk menantang juniornya ini. Krystal tentu saja belum lupa akan kebrutalan Nania saat menghajar Rhea. Dan dia sangat tidak ingin wajahnya yang cantik ini menjadi jelek jika Nania sampai melakukan sesuatu kepadanya.
"Kenapa diam, hem? Sedang berpikir bagaimana cara untuk menjatuhkan aku ya?" tanya Nania yang sudah beralih mode menjadi serius. Dia menatap sinis ke arah Krystal sambil bersedekap tangan.
"Apa maksudmu bicara seperti itu, Nania. Siapa yang ingin menjatuhkanmu. Jangan sembarangan menuduh ya!" jawab Krystal berkilah.
"Halah, kau tidak perlu berpura-pura saat sedang bicara denganku, Krys. Aku tahu betul kalau apa yang kau katakan tidaklah sama dengan apa yang sedang kau pikirkan. Dasar muka dua kau!"
Kesal di katai seperti itu oleh Nania, tanpa sadar tangan Krystal bergerak hendak memukulnya. Nania yang melihat hal itupun dengan mudah menangkap tangan Krystal kemudian menamparnya balik. Dia lalu menyeringai lebar.
"Ckckckck. Padahal niatku baik ingin menyapamu, tapi kenapa kau malah bersikap kasar padaku, Krys. Salah ya kalau seorang junior menyapa kakak seniornya sendiri?" tanya Nania sambil memasang ekpresi sedih. Ini dia lakukan karena ada segerombolan mahasiswa yang baru saja masuk ke parkiran. Seperti biasa, Nania sedang memainkan peran sebagai seorang tuan putri yang tertindas.
__ADS_1
"Kau ... beraninya kau memukulku, Nania. Kau sudah gila ya!" teriak Krystal habis kesabaran. Untunglah pukulan ini tidak terlalu kuat, jadi wajahnya tidak akan lebam. Nania benar-benar kelewatan, Krystal sangat emosi sekarang.
"Aku hanya membela diri, Krys. Kaulah yang pertama kali mengangkat tangan ingin memukulku tadi," sahut Nania.
Krystal mengerutkan keningnya heran melihat sikap Nania yang tiba-tiba bicara dengan suara yang sangat lirih. Merasa penasaran, Krystal pun segera mengedarkan pandangannya ke sekeliling parkiran. Dia lalu mengumpat pelan saat mendapati kalau tak jauh dari sana ada beberapa mahasiswa yang sedang melihat ke arahnya.
Sialan. Jadi Nania sengaja melemah seperti ini dengan tujuan menarik simpatik para mahasiswa itu? Brengsek, aku di jebak, umpat Krystal dalam hati.
"Hehehehe, bagaimana rasanya, Nona Krystal? Enak tidak terkena senjata makan tuan, hm? Makanya, kalau ingin mencari masalah itu lihat-lihat dulu siapa orangnya. Nania dilawan!" ejek Nania sambil berpura-pura merapihkan rambutnya. Dia kemudian mendekatkan wajahnya ke depan wajah Krystal, mencari celah agar apa yang akan dia katakan tidak terdengar oleh para mahasiswa yang masih memperhatikan mereka. "Krystal, aku sungguh penasaran mengapa saat di restoran kemarin kau terlihat seperti tidak peduli pada Rhea. Dia itu kan temanmu, juga adalah adik dari pria yang sedang kau kejar. Kenapa kau tega memperlakukannya seperti itu? Kau terkesan seperti tidak ingin terlibat dengan permasalahan yang muncul di antara kami, bahkan saat di kantor polisi pun kau sama sekali tidak mengatakan apapun untuk membela Rhea. Kenapa? Apa kau hanya ingin memanfaatkannya saja, hm?"
"B-bicara apa kau, Nania. Jangan asal menuduh yang bukan-bukan ya. A-aku peduli pada Rhea, aku juga ingin menolongnya. Tapi kau ... kau ....
"Kau apa, hm? Sejatinya seorang teman, dia akan mati-matian membela temannya yang lain apapun resikonya. Tasya hanya mengingatkanmu untuk jangan ikut campur, dan kau langsung patuh begitu saja. Tidakkah ini hanya alibimu saja supaya tidak ketahuan kalau kau sebenarnya tidak peduli apakah Rhea akan celaka atau tidak. Iya 'kan?" cecar Nania memotong perkataan Krystal yang terbata-bata. "Ingat, Krystal. Rhea adalah adiknya Jovan, yang artinya dia adalah calon adikku juga. Sebaiknya kau jangan macam-macam padanya atau aku akan membuat perhitungan denganmu!"
"Jadi kau mengancamku?" geram Krystal.
Nania dengan gaya yang elegan melangkah mundur tanpa menghiraukan pertanyaan Krystal. Setelah itu dia tersenyum miring sebelum kembali menghampiri Susan dan Tasya.
"Kau benar-benar sialan, Nania. Beraninya ya kau mengancamku. Awas saja kau nanti," gumam Krystal sambil menatap bengis ke arah Nania dan kedua temannya.
***
__ADS_1