My Sugar Daddy ( Nania)

My Sugar Daddy ( Nania)
19. Pesan Romantis


__ADS_3

📢📢📢 BOM KOMENTARNYA BESTIE 💜


***


Jovan berjalan menuju ruang makan sambil bersenandung riang setelah membaca pesan romantis yang di kirimkan Nania untuknya. Sejak mereka resmi jadian, sikap Nania padanya menjadi semakin lembut dan penuh perhatian. Apalagi setelah Nania tahu kalau Jovan hendak di jodohkan dengan Krystal, gadis itu semakin menjadi-jadi saja dalam menebar keposesifannya. Namun hal itu sama sekali tak membuat Jovan merasa terkekang, yang ada dia malah merasa sangat bahagia karena dicintai dengan begitu dalam oleh seorang gadis yang memang sudah cukup lama dia sukai.


"Selamat pagi, Ayah. Selamat pagi, Ibu!" sapa Jovan. Dia lalu duduk di sebelah adiknya yang terlihat acuh tak mempedulikan kedatangannya.


Ardan dan Silvi kompak mengangguk. Mereka lalu menatap lekat ke arah Jovan yang terlihat begitu bahagia.


"Jovan, apa boleh Ibu bertanya sesuatu tentang Nania?" tanya Silvi hati-hati. Pertanyaan ini sudah lama mengganggu pikiran Silvi setelah Ardan memberitahunya kalau Jovan menolak di jodohkan dengan Krystal, anaknya Kendy dan Aileen.


"Boleh-boleh saja, Bu. Silahkan Ibu bertanya apapun padaku tentang gadis itu. Aku pasti akan menjawabnya," jawab Jovan tanpa merasa keberatan sama sekali.


Silvi menghela nafas.

__ADS_1


"Kau baru beberapa hari kembali dari London dan baru saja menggantikan posisi Ayahmu di perusahaan. Apakah tidak terlalu cepat untuk kau menjalin hubungan dengan Nania? Ibu bukan bermaksud apa-apa, Jo. Ibu hanya khawatir saja kalau Nania itu bukan menyukaimu, tapi dia hanya tertarik pada apa yang kau miliki sekarang. Karena yang Ibu dengar dari Krystal dan adikmu, di kampus Nania terkenal sebagai seorang gadis yang hanya akan menyukai laki-laki yang kaya saja. Ibu takut kau hanya di permainkan olehnya, Jovan. Ibu khawatir sekali,"


Sebelum menjawab pertanyaan sang ibu, Jovan terlebih dahulu melihat ke arah adiknya. Rhea, tidak di sangka ternyata adiknya ini juga tertarik untuk mencari tahu tentang Nania. Walaupun sekarang Rhea sudah bukan mahasiswi lagi, dengan dia bisa mengetahui tentang apa yang di sukai kekasihnya adalah sesuatu yang membuat Jovan menarik kesimpulan kalau adiknya ini diam-diam menyimpan rasa iri pada Nania. Kenapa seperti itu? Karena Jovan sangat amat mengenal seperti apa perangai adiknya ini. Jadi Jovan sudah tak heran lagi ketika ibunya mengatakan kalau Krystal dan Rhea tahu tentang Nania yang memang hanya tertarik pada pria-pria kaya saja.


"Ibu, memang benar apa yang di katakan mereka tentang Nania. Sedari aku masih SMA dulu, pendirian Nania sama sekali tidak pernah berubah. Dia berkata padaku dan juga pada keluarganya kalau dia hanya akan menjalin hubungan dengan pria yang tampan dan kaya raya!" jawab Jovan dengan santai. " Bu, coba sekarang kita pikirkan dari sudut pandang Nania mengapa di usianya yang masih begitu muda dia sudah terpikir untuk mempunyai pasangan yang sudah mapan. Begini. Sekarang zaman sudah semakin canggih dan modern di mana segala sesuatunya selalu di ukur dengan uang. Menurutku sangat wajar kalau Nania berkeinginan untuk memiliki pasangan yang berlebih dalam hal materi. Biaya perawatan kecantikan yang sangat mahal, biaya hidup sehari-hari, belum lagi dengan biaya-biaya lain yang pastinya bisa lebih besar dari yang aku sebutkan barusan. Jadi wajar-wajar saja kalau kekasihku menginginkan pria-pria dalam kriteria tertentu. Dan jika Ibu merasa khawatir Nania hanya mempermainkan aku, maka Ibu salah besar. Aku bisa sukses seperti sekarang adalah agar aku bisa di pilih oleh Nania. Aku menyukainya, aku suka segala pemikiran yang dia miliki tak peduli meski semua orang menganggapnya sebagai seorang gadis yang matrealistis. Berkatnya aku jadi sadar kalau hidupku sangatlah berharga. Ayah dan Ibu belum lupa bukan kalau dulu kalian pernah mengabaikan keberadaanku dan juga Rhea karena sibuk mengejar kekayaan? Kalian masih belum lupa juga kan siapa orang yang telah membuat hubungan kita membaik sampai sekarang?"


"Ck, kau jangan terlalu memuja-muja gadis itu, Kak. Nania hanya kebetulan saja menjadi orang yang telah membantu memperbaiki hubungan antara anak dengan orangtua di keluarga kita. Biasa sajalah, tidak perlu sampai menyanjungnya sampai setinggi langit. Menggelikan!" celetuk Rhea mulai jengah mendengar bagaimana sang kakak sangat amat memuji gadis genit itu.


"Apa kau bilang? Hanya kebetulan?"


Ardan sedikit takut melihat cara Jovan tertawa. Segera dia menengahi agar Jovan dan Rhea tidak bertengkar.


"Sebenarnya aku juga sangat malas jika harus bertengkar dengan gadis yang bahkan tidak memiliki rasa simpatik pada anggota keluarganya sendiri, Ayah. Akan tetapi aku tidak mungkin diam saja ketika gadis ini memandang remeh kekasihku. Bahkan jika aku bisa memilih, aku lebih baik tidak memiliki saudara sepertinya daripada harus membiarkannya bicara sembarangan tentang Nania!" sahut Jovan cetus.


"Jovan, bicara apa kau! Rhea itu adik kandungmu. Tahu!" hardik Ardan kaget mendengar perkataan Jovan.

__ADS_1


"Memang benar dia adik kandungku, Ayah. Tapi sayang, di mataku itu hanya sebuah status saja. Ada dan tidak adanya dia di hidupku, semua sama saja. Jadi tolong Ayah nasehati anak kandung Ayah ini agar jangan mencampuri urusanku dengan Nania. Karena jika sampai ketahuan olehku, maka aku tidak akan segan untuk memberinya pelajaran. Aku pergi!"


Setelah berkata seperti itu Jovan langsung beranjak pergi dari ruang makan meninggalkan semua keluarganya di sana. Hatinya terlalu kesal untuk terus berada dalam satu ruangan yang sama dengan adiknya itu.


"Lihatlah Ayah, Ibu. Nania benar-benar membawa dampak yang sangat buruk untuk Kak Jovan. Baru juga beberapa hari mereka pacaran, Nania sudah mencuci otaknya Kak Jovan agar membenci keluarganya sendiri. Lalu apa yang akan terjadi nanti jika mereka sampai berhubungan dalam waktu yang lama? Aku yakin Nania pasti akan meminta Kak Jovan untuk mengusir kita semua dari rumah ini. Percaya padaku!" ucap Rhea yang begitu kesal setelah mendengar ancaman kakaknya sebelum pergi. Dia benar-benar tak habis pikir di buatnya.


"Rhea, hati-hati dengan mulutmu. Kalau omonganmu tadi sampai di dengar oleh kakakmu, maka habislah kau!" sahut Silvi langsung menegur putrinya agar tidak sembarangan bicara tentang Nania. Silvi cukup kaget akan sikap Jovan yang tega mengancam akan menyakiti adiknya sendiri hanya demi seorang gadis yang baru beberapa hari menjadi kekasihnya


"Biar saja, Bu. Toh yang aku katakan adalah benar kalau Nania itu membawa dampak yang kurang baik untuk hidup Kak Jovan. Di mana salahnya?" tana Rhea enggan kalah.


"Sudah-sudah. Lebih baik sekarang kita segera selesaikan sarapan ini. Dan kau, Rhea. Ayah minta tolong bijaklah sedikit ketika sedang berbicara dengan kakakmu. Siapapun Nania, kita tidak boleh sampai menghinanya secara terang-terangan di hadapan kakakmu karena sekarang Nania adalah kekasihnya. Ayah tidak mau hal ini menjadi pemicu hilangnya kepercayaan kakakmu pada kita semua. Paham?" lerai Ardan menengahi perdebatan antara anak dengan istrinya. "Dan untukmu, Silvi. Jangan terlalu melibatkan Krystal dalam hal ini. Sampai sekarang Kendy masih belum mau bicara denganku, tolong kau jangan menambahkan masalah dengan sering menyebut nama Krystal di hadapan Jovan. Aku khawatir Jovan merasa tak terima lalu mendatangi Krystal kemudian memakinya. Dan jika hal ini sampai terjadi, maka hubunganku dengan Kendy akan semakin memburuk. Apa kau paham?"


"Iya, Ar. Aku paham," sahut Silvi sembari menghela nafas panjang. Dia juga cukup tahu akan perangai putranya yang memang sangat keras kepala jika sudah mengambil keputusan.


Rhea acuh saja setelah di tegur oleh sang ayah. Dalam hatinya, Rhea berujar kalau dia pasti akan membuat kakaknya pergi meninggalkan Nania. Dia tak rela melihat kakaknya bersama gadis yang hanya mengincar apa yang kakaknya miliki. Dia tak suka itu.

__ADS_1


Awas saja kau, Nania. Cepat atau lambat aku pasti akan membuatmu berpisah dari Kak Jovan. Heh, dasar gadis mata duitan, batin Rhea.


****


__ADS_2