
π’π’π’BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI WRITER SEASON 8. OKE? πππ
***
Sementara itu di hotel, Nania kini tengah sibuk mengganggu Reiden, keponakannya yang sedang bermain bersama dengan pengasuhnya. Tadi saat Nania tengah berada di cafe bersama Susan dan Tasya, tiba-tiba saja kakak iparnya datang menjemput. Alasannya sangat klise. Nania diminta pulang untuk membantu bibi pengasuh menjaga Reiden karena kakak iparnya ingin mengajak sang kakak pergi menonton. Tak kuasa menolak, Nania akhirnya bersedia untuk pulang setelah dia di janjikan akan di beri hadiah besar atas jasanya malam ini. Dan di sinilah dia sekarang. Sibuk mengganggu keponakannya yang begitu menggemaskan.
"Nona Nania, ponselmu berdering," ucap bibi pelayan.
"Oh, benarkah?" sahut Nania. Dia lalu mencubit pipi Reiden hingga membuatnya menangis dengan sangat kencang. Alih-alih merasa bersalah, Nania malah tertawa kesenangan menyaksikan bagaimana keponakannya itu mengadu pada bibi pengasuh. Setelah itu barulah Nania mengambil ponselnya untuk melihat siapa yang menelpon.
Jovan? Bukankah tadi dia bilang ingin menyelesaikan pekerjaannya ya? Kenapa dia malah menelpon, gumam Nania dalam hati.
Tak ingin membuat kekasihnya menunggu, Nania segera berjalan menuju balkon hotel kemudian menjawab panggilan tersebut. Angin malam yang berembus kuat membuat kulit di tubuh Nania meremang. Kebetulan sekarang dia hanya mengenakan tanktop dan celana jeans panjang, jadi udara malam ini cukup membuatnya bergidik kedinginan.
"Halo, Jo. Kenapa kau menelpon? Rindu aku kah?" tanya Nania dengan nada suara yang sangat menggoda. Satu tangannya dia gunakan untuk memilin ujung rambut yang dia ikat ke atas.
__ADS_1
"Sayang, apa sekarang kau sedang ada di hotel?"
Nania langsung mengerutkan keningnya heran begitu mendengar pertanyaan Jovan. Aneh. Perasaan Nania sama sekali tidak memberitahu Jovan kalau sekarang dia tengah berada di hotel. Lalu bagaimana caranya Jovan tahu kalau dia sedang ada di sini?
"Jangan salah paham dulu padaku. Aku sama sekali tidak meminta seseorang untuk menguntitmu. Aku hanya ingin memastikan saja apakah benar kau sedang berada di hotel atau tidak!" ucap Jovan langsung memberi penjelasan dari dalam telepon. "Rhea baru saja menunjukan sebuah video tentang kau yang sedang bersama Kak Gleen di sebuah hotel. Dia salah paham. Rhea bilang padaku dan juga pada Ayah dan Ibu kalau kau sedang ingin melayani seorang sugar daddy di hotel itu, makanya aku ingin memastikan apakah benar kau ada di sana atau tidak. Begitu!"
"Apa? Kak Gleen adalah seorang sugar daddy? Ya Tuhaaannn," ....
Tawa Nania langsung pecah begitu Jovan menjelaskan darimana dia mengetahui keberadaannya sekarang. Sungguh, Rhea benar-benar sangat konyol. Bagaimana bisa anak itu berpikir kalau Kak Gleen adalah seorang sugar daddy di saat Kak Gleen sendiri terkadang bisa menjadi musuh bebuyutannya? Ya ampun, ini gila. Nania baru tahu kalau Rhea ternyata juga berprofesi sebagai seorang pelawak. Benar-benar sangat lucu.
"Aku pun sama, Nania. Tapi aku cukup kesal karena tadi Rhea berani menyebutmu sebagai gadis murahan di hadapan Ayah dan juga Ibu. Aku ingin marah, tapi aku rasa itu hanya akan buang-buang waktu saja. Dan juga, rasanya pasti tidak akan seru lagi jika aku yang memberitahu Rhea kalau sugar daddy yang dia maksud ternyata adalah Kak Gleen. Aku tidak siap melihat wajahnya saat sedang menahan malu. Benar tidak?" sahut Jovan.
"Benar Jo, kau benar sekali. Hmmm, ada-ada saja anak itu. Tapi aku jadi penasaran darimana Rhea bisa tahu kalau aku sedang berada di hotel ini. Seingatku saat aku dan Kak Gleen datang, aku sama sekali tidak melihatnya ada di sini. Aneh 'kan?" ucap Nania yang baru menyadari darimana Rhea tahu tentang keberadaannya di hotel ini. "Aaaaa, apa jangan-jangan Rhea melihatku datang saat dia ingin pergi setelah berduaan dengan kekasihnya di hotel ini? Ya ampun, dia gatal sekali!"
"Kau ini. Rhea bilang dia tidak sengaja melihatmu sedang berjalan masuk ke hotel bersama Kak Gleen. Karena penasaran, dia memutuskan untuk membuntuti kalian. Dan ... ya, kau bisa pikirkan sendiri apa yang terjadi. Rhea merekam adegan di mana kau sedang melepas jaket kemudian menarik Kak Gleen masuk ke dalam salah satu kamar yang ada di sana. Rhea lalu menunjukkan rekaman itu padaku dan juga pada Ayah dan Ibu. Dia belum tahu saja kalau kami semua tahu hubungan antara kau dengan Kak Gleen. Dan aku yakin sekarang Ayah pasti sudah memberitahu Rhea kalau Kak Gleen adalah kakak iparmu. Ah, aku jadi penasaran seperti apa reaksinya setelah tahu tentang hal ini, Nania. Rhea pasti sedang sangat malu sekarang. Benar tidak?"
__ADS_1
Nania lagi-lagi tertawa kencang setelah mendengar perkataan Jovan. Entahlah, malam ini benar-benar sangat menghibur. Tidak sia-sia juga dia di bawa kemari oleh kakak iparnya. Karena jika tidak, Nania tidak akan mungkin mendengar kabar yang begitu menggelitik hati tentang gadis yang begitu ingin memisahkannya dari Jovan.
"Jo, sebenarnya tadi itu aku sedang bersama Susan dan Tasya di luar. Lalu Kak Gleen datang dan memintaku pulang untuk menjaga Reiden. Kak Gleen berniat mengajak Kak Lusi pergi menonton, jadi memaksaku untuk pulang lebih awal. Karena bayarannya lumayan besar jadi ya sudah aku mau-mau saja di bawa kemari. Tapi siapa yang akan menyangka kalau hal ini malah membuat Rhea salah paham pada kami berdua. Calon adik iparku ternyata lawak sekali ya?" ucap Nania sambil memegangi perutnya yang terasa kaku karena terlalu banyak tertawa.
"Hmmmm, begitulah jika orang terlalu percaya diri. Bukannya untung, yang ada Rhea malah mendapatkan rasa malu karena sudah berpikiran buruk tentangmu. Tapi ya sudahlah, yang jelas aku hanya akan mempercayai apa yang kau katakan. Sekalipun seluruh dunia ini mencoba memisahkan kita, aku tidak akan pernah gentar untuk melawan mereka. Sungguh!"
"Aihhhh, kau kenapa manis sekali sih, Jo. Kalau seperti ini terus lama-lama aku jadi semakin mencintaimu," sahut Nania merasa tersanjung akan keseriusan Jovan terhadapnya.
"Aku mencintaimu, Nania. Sangat amat mencintaimu,"
"Dan aku jatuh cinta pada semua uang yang kau miliki, Jovan. Aku mencintaimu, tapi aku lebih mencintai uangmu. Hehehe!"
Obrolan antara Nania dengan Jovan tidak berlangsung lama karena Jovan berpamitan untuk kembali bekerja. Sedangkan Nania, dia masih berdiri di balkon kamar sambil menatap langit malam. Pikirannya melayang, memikirkan bagaimana cara untuk membalas perbuatan Rhea yang sudah dengan begitu berani menguntit dan bahkan memfitnahnya di hadapan orangtua Jovan. Sebagai gadis penganut paham harga diri, Nania tentu saja tidak terima dirinya di anggap sebagai gadis murahan oleh gadis itu. Dia harus menuntut balas.
"Rhea-Rhea, aku sebenarnya cukup bingung dengan jalan pikiranmu. Aku ini kan cantik, aku kaya, aku menarik, dan aku juga berprestasi. Tapi kenapa kau malah lebih memilih Krystal yang manja dan bodoh itu ketimbang memilihku sebagai calon kakak iparmu. Benar-benar bodoh. Kau belum tahu saja kalau di belakangku ada dua sugar daddy kaya raya yang siap memenuhi apapun yang aku mau. Andai kita bisa berteman baik, aku mungkin akan dengan senang hati meminta Kak Fedo mencarikan jodoh untukmu yang pastinya memiliki bibit, bebet, dan juga bobot yang sangat sempurna. Heh," ujar Nania seraya mencebik heran. "Tapi karena sekarang kau telah menunjukkan rasa tidak sukamu secara terang-terangan, maka mulai malam ini aku tidak akan pernah melunak lagi padamu. Kau berulah, maka aku akan membalas. Kau patuh, maka aku akan bersikap manis. Mari kita tunggu tanggal mainnya, sayang!"
__ADS_1
***