
📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI YOU ARE A WRITER SEASON 8. OKE 💜💜💜
***
“Selamat pagi, Ayah. Selamat pagi Ibuku yang cantik,” sapa Rhea sambil bergantian mencium pipi kedua orangtuanya. Dia kemudian terkekeh saat ayah dan ibunya menatapnya heran. “Ayah dan Ibu kenapa menatapku seperti itu sih? Salah ya kalau aku menyapa kalian?”
“Salah sih tidak, Rhe. Ayah dan Ibu hanya merasa aneh saja melihat sikapmu yang berbeda dari biasanya. Iya kan, sayang?” sahut Ardan seraya menatap ke arah Silvi. Dia benar-benar bingung akan sikap putrinya yang lain dari biasanya.
“Ayahmu benar, sayang. Ibu pun merasa aneh melihatmu yang langsung mencium dan menyapa kami dengan begitu bersemangat. Ada apa, hm? Apa kau sedang bergembira?” jawab Silvi membenarkan perkataan Ardan. Dia lalu menatap Rhea penuh rasa ingin tahu.
Sebelum menjawab rasa penasaran sang ibu, Rhea melihat kesana kemari saat tak mendapati keberadaan kakaknya. Di pagi-pagi begini biasanya kakaknya itu sudah berada di ruang makan. Tapi sekarang kenapa tidak ada?
“Ayah, Ibu. Kak Jovan mana? Tumben sekali dia belum menampakkan batang hidungnya. Kak Jovan itukan penganut paham bos yang teladan agar para pegawainya ikut bersikap disiplin. Apa dia sedang tidak sehat?” tanya Rhea khawatir.
Setelah hubungan dengan kakaknya membaik, setiap detik yang dilewati Rhea jadi terasa semakin berharga. Dia kini tak lagi gengsi untuk menunjukkan rasa pedulinya, baik itu kepada kakaknya ataupun kepada orangtuanya. Dari Nania Rhea belajar banyak hal, terutama tentang arti sebuah keluarga. Walaupun awalnya mereka bermusuhan, tapi secara perlahan Rhea akhirnya menyadari kalau di balik sikap culas yang Nania tunjukkan gadis itu sebenarnya adalah gadis yang hangat dan sangat baik hati. Buktinya Nania bisa menyadarkan Rhea dari sikap angkuhnya yang selalu beranggapan kalau kakaknya tak pernah menyayanginya. Ya meskipun cara Nania menyadarkannya terkesan aneh dan mengundang emosi. Hehe.
“Aku di sini,” ….
__ADS_1
Jovan berjalan menghampiri keluarganya sambil merapihkan jas yang di pakainya. Dan tanpa di sangka-sangka, dia mencium puncak kepala Rhea penuh sayang. Hal ini tentu saja membuat kedua orangtuanya diam tercengang, merasa kaget atas apa yang baru saja dilakukannya.
“Jovan, Rhea. Ada apa ini? Kenapa kalian bisa tiba-tiba akur begini?” tanya Ardan sambil menatap bergantian ke arah kedua anaknya. Sungguh, Ardan seperti tidak percaya melihat Jovan mencium kepala adiknya. Ini bagaikan mimpi karena yang Ardan tahu selama ini hubungan kedua anaknya sangatlah buruk. Jovan dan Rhea sudah seperti anjing dan kucing setiap kali bertemu. Tapi barusan? Astaga, benar-benar sulit di percaya.
“Ayah, mulai sekarang aku dan Kak Jovan sudah tidak bermusuhan lagi. Berkat Nania kami akhirnya bisa akur,” jawab Rhea kemudian menatap kakaknya. “Benar begitukan , Kak Jovan?”
“Rhea benar, Ayah. Berkat Nania, tembok es yang selama ini menghalangi hubungan kami telah runtuh. Aku sungguh beruntung memiliki kekasih sepertinya,” sahut Jovan tak ragu memuji Nania di hadapan keluarganya.
“Jadi Nania … kalian?”
Ardan tergagap. Dia kemudian menoleh ke samping, menatap Silvi penuh tanda tanya besar. “Sayang, ini aku tidak salah dengarkan? Jovan dan Rhea … mereka akur karena Nania?” tanya Ardan terharu.
Melihat ibunya menangis karena terharu, Rhea pun merasa tidak tega. Dia segera beranjak dari duduknya kemudian memeluk sang ibu penuh sayang.
“Ibu, maafkan aku ya kalau selama ini sikapku telah membuat Ibu merasa sedih. Dulu aku berpikir kalau kalian hanya boleh mengertiku saja, tidak pada Kak Jovan. Tapi setelah Nania datang, dia mengataiku kalau aku ini sangat serakah akan kasih sayang. Aku lupa kalau Kak Jovan juga membutuhkan kasih sayang dari kalian juga. Tolong maafkan aku ya, Bu. Aku menyesal sekali karena pernah bersikap seperti itu pada kalian,” ucap Rhea dengan tulus meminta maaf kepada ibunya.
“Kau tidak salah apa-apa, sayang. Haahhhh, pokoknya sekarang Ibu benar-benar lega sekali. Akhirnya Ibu bisa melihat kau dan kakakmu berhubungan layaknya saudara sekandung,” sahut Silvi menyudahi suasana mengharu-biru yang tengah menyelimuti perasaannya. Terpikir akan sesuatu, Silvi pun segera menanyakannya pada Rhea. “Oya, Rhe. Tentang hubungan kakakmu dengan Nania, apa kau akan merestui mereka?”
__ADS_1
Jovan tersenyum sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya saat sang ibu menanyakan hal tersebut kepada adiknya. Dia menunggu dengan tidak sabar jawaban seperti apa yang akan di ucapkan oleh adiknya yang baru bertobat itu.
“Bu, aku akan menjadi orang paling bodoh di dunia ini kalau sampai tidak merestui hubungannya Kak Jovan dengan gadis sehebat Nania. Setelah kemarin dia datang ke rumah kita, aku langsung sadar kalau aku membutuhkan figur seperti Nania untuk menjadi kakak iparku. Dan itu artinya aku seratus persen setuju kalau Kak Jovan menjalin hubungan dengannya. Bahkan menikahinya pun aku rela asalkan yang menjadi kakak iparku adalah gadis bermulut racun itu. Aku sudah memutuskan untuk menerima Nania sebagai bagian dari keluarga kita, Ibu,” jawab Rhea dengan penuh ketulusan. Setelah itu dia beralih menatap kakaknya, tersipu malu ketika sang kakak membalas tatapannya dengan cara mengedipkan sebelah mata.
Jadi seperti ini ya rasanya di sayang oleh kakak sendiri? Terima kasih banyak, Nania. Kalau bukan karena dirimu, mungkin selamanya hubungan antara aku dan Kak Jovan tidak akan bisa sehangat ini. Kau adalah dewi pembawa keberuntungan di dalam hidupku, ujar Rhea dalam hati.
“Rhea, Ayah lega sekali karena sekarang kau sudah bisa menerima Nania sebagai pasangan kakakmu. Tapi Rhe, Ayah penasaran kau itu sudah tahu atau belum siapa Nania sebenarnya?” tanya Ardan memastikan apakah putrinya sudah mengetahui latar belakang keluarga Nania atau belum. Karena jika belum, Ardan berniat memberitahu tentang siapa calon menantunya itu.
“Em, memangnya Nania itu siapa, Ayah? Setahuku dia itu hanya seorang gadis biasa yang terobsesi memiliki kekasih seorang sugar daddy. Benar begitukan, Kak?” jawab Rhea agak bingung dengan pertanyaan ayahnya. Dia lalu menatap bergantian ke arah kakak, ayah dan juga ibunya.
“Hmmmm, Rhea-Rhea. Ayah pikir kau sudah tahu siapa Nania sebenarnya. Ya sudahlah, kalau begitu Ayah yang akan memberitahumu,” sahut Ardan. “Rhe, calon kakak iparmu itu memiliki latar belakang yang tidak biasa. Mungkin memang benar kalau Nania di kenal sebagai gadis yang tergila-gila pada sugar daddy, sejenis pria sukses dan tampan seperti kakakmu. Akan tetapi di balik itu semua, Nania sebenarnya sudah memiliki dua orang sugar daddy yang kekayaannya bahkan jauh melebihi kekayaan keluarga kita. Kau ingin tahu tidak siapa kedua sugar daddy itu?”
Rhea langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat agar dia bisa segera mendengar siapa dua sugar daddy yang di maksud oleh ayahnya. Namun sebelum itu, Rhea memilih untuk kembali ke tempat duduknya. Dia lalu mengambil sarapan sembari menunggu ayahnya lanjut berbicara.
“Nania memiliki dua orang kakak ipar yang kedua-duanya adalah pengusaha besar. Satu tinggal di Jepang, dia bernama Fedo Eiji, yang tak lain adalah kerabat dekat keluarga Ma. Lalu yang satunya lagi bernama Gleen. Dia adalah pemain saham kelas kakap yang waktu itu kau pergoki sedang berjalan masuk ke dalam hotel bersama Nania. Dan apa kau tahu, Rhea. Kedua kakak kandung Nania pun memiliki latar belakang yang tidak biasa juga. Kakak sulungnya memiliki butik pribadi yang koleksi pakaiannya banyak di pakai oleh para anak konglomerat. Lalu kakak keduanya adalah seorang dokter dengan lulusan terbaik di universitas London. Jadi jika ada orang yang menganggap kalau Nania mata duitan itu tidaklah benar. Karena pada dasarnya, Nania adalah berlian yang tercampur dengan tumpukan emas dan perak. Dia sangat mahal, tapi tertutup oleh sikapnya yang bar-bar dan suka bicara seenaknya,” ucap Ardan panjang lebar menjabarkan tentang betapa hebatnya latar belakang dari calon menantunya yang seksi itu.
Pikiran Rhea mendadak kosong setelah dia di beritahu siapa Nania sebenarnya. Dia yang kala itu hendak menyuapkan makanan tanpa sadar membiarkan sendok makan terkatung-katung di depan mulutnya yang terbuka lebar. Jovan yang melihat reaksi syok adiknya hanya bisa tertawa saja. Dia sudah menduga kalau Rhea pasti akan bereaksi seperti ini begitu tahu kalau Nania tidaklah semiskin yang dia pikir selama ini.
__ADS_1
Nah, jantungan kan kau sekarang, Rhe? Untung saja Nania sayang padamu. Kalau tidak, kau pasti akan sangat malu setelah mengetahui latar belakang keluarganya. Hmmm, batin Jovan merasa tergelitik melihat reaksi kaget di wajah adiknya.
***