
📢📢📢 BOM KOMENTARNYA BESTIE 💜
***
Pagi harinya, di rumah Nania terlihat semua orang tengah berkumpul di ruang tengah. Mereka saling berbincang hangat sambil memperhatikan Reiden yang sedang sibuk dengan mainannya.Â
"Ayah, Ibu. Apa benar aku dan Kak Luri pernah mempunyai teman yang bernama Jovan?" tanya Nania. Dia hampir mati penasaran setelah semalam bertemu dengan satu pria aneh yang mengaku bernama Jovan.
Luyan dan Nita yang sedang mencandai cucu mereka langsung beralih melihat ke arah Nania. Jovan, nama ini seperti tidak asing di telinga mereka. Akan tetapi di mana mereka pernah mendengar nama tersebut?
"Jovan. Nama ini seperti tidak asing, tapi Ayah lupa di mana pernah mendengarnya, Nania," jawab Luyan sambil terus berusaha mengingat-ingat nama tersebut.Â
"Ibu juga sama, sayang. Coba kau tanyakan saja pada Kak Luri. Siapa tahu dia mengenal orang ini," timpal Nita sembari memberi saran.
"Isshhh, aku sedang tidak akur dengan Kak Fedo, Bu. Jadi aku tidak akan menelpon Kak Luri dulu sebelum Kak Fedo meminta maaf padaku," sahut Nania sambil berdecak kesal.
"Haihh, kenapa lagi lah kalian ini. Sebentar akur, sebentar kemudian bertengkar. Ada-ada saja,"
"Itu salahnya Kak Fedo, Ibu. Siapa suruh dia mengirim pesan macam-macam padaku dengan mengatakan kalau Kak Luri menghilang. Aku kan panik!"
__ADS_1
Beberapa waktu lalu Nania dan kakak keduanya sempat memiliki keinginan untuk berlibur bersama. Namun menjelang satu hari keberangkatan mereka, tiba-tiba saja Nania menerima kabar dari kakak iparnya kalau sang kakak hilang di bandara saat akan berangkat ke Shanghai. Khawatir? Itu sudah pasti. Bahkan Nania yang saat itu sedang mengikuti mata kuliah penting di kampusnya sampai nekad membolos demi untuk membantu mencari keberadaan sang kakak. Dia kalang kabut mengabari semua orang tentang hal ini. Hingga di sore harinya barulah Nania mengetahui kalau dia hanya sedang di kerjai saja oleh kakak iparnya. Dan dari penjelasan sang kakak, sebenarnya kakaknya itu bukan hilang karena di culik, melainkan sedang di kurung di sebuah villa dan tidak di izinkan memakai ponsel selama satu harian penuh oleh kakak iparnya. Jadi wajar saja bukan kalau sekarang Nania memusuhi pria Jepang itu. Karena candaannya kali ini sudah sangat keterlaluan, Nania berniat mengibarkan bendera perang sampai lawan mengibarkan bendera putih sebagai bukti penyerahan diri.
"Nania, kalau tidak salah orang yang bernama Jovan itu temannya Galang bukan ya? Itu yang seumuran dengan kakakmu tapi beda kelas," ucap Lusi lupa-lupa ingat akan pria yang di maksud oleh adiknya.
"Temannya Kak Galang?" beo Nania sambil mengelus-elus dagu bawahnya. Kalau Galang sih Nania ingat, tapi kalau Jovan ....
"Oh, Ibu ingat sekarang!" seru Nita. "Kalau tidak salah Jovan ini adalah teman kakakmu yang sempat overdosis gara-gara orangtuanya yang ingin bercerai. Dulu Jovan dan Galang sering datang kemari dan ikut sarapan di rumah kita. Benar tidak?"
Haaa? Overdosis? Manusia macam apa si Jovan-Jovan ini sampai nekad melakukan hal rendah seperti itu hanya karena orangtuanya ingin bercerai? Menggelikan sekali, batin Nania heran.Â
"Ya, aku juga sudah ingat sekarang!" timpal Luyan yang akhirnya bisa mengingat wajah dari pria bernama Jovan. "Wahhh, dia sudah kembali ternyata. Tidak di sangka Luri dan kedua sahabatnya bisa sama-sama sukses setelah mereka kuliah di London. Luri sukses menjadi seorang dokter di Jepang. Sedangkan Galang, dia juga menjadi seorang dokter yang sangat terkenal di Shanghai. Dan kini Jovan akan menyusul kesuksesan mereka sebagai pengusaha muda yang akan meneruskan perusahaan milik ayahnya. Luar biasa!"
Hehe, siapa sangka aku akan menemukan sugar daddy yang selama ini aku cari-cari. Hmm, Jovan. Aku akan menangkapmu, sayang, ujar Nania dalam hati.
"Hei, Nania. Kenapa kau tersenyum seperti itu? Tahu tidak, kau jadi terlihat sangat mengerikan," tegur Lusi sambil menepuk pelan lengan adiknya. Dia sampai merinding sendiri melihat Nania yang sedang tersenyum aneh.Â
"Kak Lusi, aku baru saja menemukan bibit sugar daddy yang sangat keren. Jovan, dia orangnya," sahut Nania dengan mata berbinar terang.Â
"Jovan? Menjadi sugar daddy-mu?" pekik Lusi kaget. Dia lalu menatap bergantian ke arah kedua orangtuanya. "Ayah, Ibu. Apa kalian juga mendengarnya?"
__ADS_1
Luyan dan Nita kompak mengangguk. Setelah itu mereka memperhatikan Nania yang tengah menikmati cemilannya dengan raut wajah yang begitu bahagia. Anak mereka ini benar-benar ya. Sekalinya mendengar kalau Jovan adalah seorang calon bos, Nania langsung menyebut Jovan sebagai sugar daddy-nya. Terkadang Luyan dan Nita sampai bingung sendiri memikirkan cara berpikir Nania yang terlalu mengejutkan. Membuat orang kaget saja.Â
"Nania, Ibu harap kau bisa menjaga martabatmu sebagai seorang gadis. Jangan sampai kau merendahkan harga dirimu hanya demi bisa mendapatkan pria kaya raya. Ya?" ucap Nita mulai khawatir kalau-kalau Nania akan melakukan tindakah gila untuk mendekati Jovan.Â
"Eihh, Ibu ini bicara apa sih. Apa Ibu pikir aku akan semudah itu menjatuhkan harga diriku hanya demi seorang pria? Tentu saja tidak, Ibuku sayang!" sahut Nania santai. "Dengarkan kata-kataku ini dengan baik dan bijak ya, Bu. Aku ini Nania, pantang untukku mendekati pria terlebih dahulu. Karena setertarik apapun aku pada mereka, harus mereka dulu yang datang padaku. Dan itu juga berlaku pada Jovan, si calon sugar daddy masa depanku. Hehe!"
"Tahu darimana kau kalau Jovan ingin mendekatimu?" tanya Lusi penasaran. Kalau untuk masalah harga diri, Lusi sangat amat percaya pada adiknya ini. Harga diri seorang Nania terlalu tinggi untuk datang menyerahkan diri pada laki-laki, dan Lusi sangat tahu akan hal itu.Â
Sebelum menjawab pertanyaan sang kakak, Nania membersihkan tangannya kemudian membuka ponsel miliknya. Dan dengan begitu percaya diri Nania membacakan pesan yang di kirim Jovan semalam saat Nania belum mengetahui siapa namanya.Â
"Halo, sayang. Jangan nakal ya, aku akan segera datang ke sana," ucap Nania dengan gaya bicara yang begitu sensual. Dia lalu tersenyum lebar sambil menatap bergantian ke arah keluarganya. "Bagaimana? Apa ini sudah cukup menjadi bukti kalau Jovan lah yang pertama kali mendekatiku, hm?"
"Nania, benar itu pesan dari Jovan? Gatal sekali dia memanggilmu dengan sebutan sayang," tanya Gleen yang baru saja datang. Dia lalu duduk di samping Lusi setelah mencium puncak kepalanya.Â
"Awalnya sih aku jengkel saat dia memanggilku dengan sebutan sayang, Kak. Akan tetapi setelah tahu kalau Jovan akan menjadi seorang bos, sekarang aku jadi tidak keberatan lagi di panggil sayang olehnya. Lumayanlah, Kak Gleen. Setidaknya aku akan mempunyai seorang suami yang sekelas denganmu dan Kak Fedo. Sama-sama pengusaha yang tampan dan kaya raya. Benar tidak?" jawab Nania langsung membanggakan Jovan di hadapan keluarganya. Nania seakan lupa akan sikapnya yang begitu cetus pada Jovan semalam.Â
"Oh, kalau begitu sih aku setuju. Pertahankan, dan jangan lupa minta Jovan untuk bekerjasama dengan perusahaanku. Nanti untungnya bisa kita bagi dua, Nania. Bagaimana? Kau mau tidak?"
Gleen meringis pelan saat pinggangnya di cubit oleh Lusi. Dia lalu meminta maaf karena telah mengajak Nania melakukan sesuatu yang tidak baik dengan memoloroti uang Jovan. Sedangkan Nania, gadis itu tampak mengangguk menyetujui ajakan sesat dari kakak iparnya. Mengabaikan pandangan kedua orangtuanya yang stress melihatnya yang begitu menggilai pria kaya. Aneh bukan? Namun, ini adalah fakta di mana uang adalah segalanya.Â
__ADS_1
***