My Sugar Daddy ( Nania)

My Sugar Daddy ( Nania)
36. Perlakuan Manis Nania


__ADS_3

📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI WRITER SEASON 8. OKE? 💜💜💜


***


Jovan tersenyum sambil mengelus-elus rambut Nania yang tengah duduk menyender ke dadanya. Seperti yang Jovan janjikan, malam ini dia benar-benar kembali mendatangi rumah Nania. Jovan tidak sanggup jika tidak melihat gadis ini meski hanya sehari, jadi dia langsung datang ke sini setelah makan malam bersama kedua orangtuanya. Dan beruntungnya tadi yang membukakan pintu untuknya adalah Nania.


Bahagia, itu sudah pasti. Namun begitu teringat akan ucapan Paman Luyan tentang Nania yang mendapat hukuman, seketika membuat Jovan menjadi cemas. Dia lalu menelisik tubuh Nania untuk memeriksa apakah ada yang terluka atau tidak. Bukannya apa, Jovan hanya tidak mau kekasihnya yang seksi ini merasa tersakiti. Jadi dia harus memastikan terlebih dahulu kalau Nania tidak memiliki luka yang serius.


"Jo?" panggil Nania manja.


"Hm? Kenapa?" sahut Jovan pelan. Dia sangat suka jika Nania memanggilnya dengan nada seperti ini. Sangat menggemaskan.


"Tadi Ayah menghukumku," ucap Nania mengadu. "Hampir tiga jam aku diminta untuk berdiri menghadap tembok oleh Ayah, dan sekarang kakiku terasa pegal sekali. Sepertinya urat-urat di kakiku menjadi tegang karena berdiri terlalu lama."


Tanpa mengatakan apa-apa Jovan langsung mendorong pelan tubuh Nania agar duduk tegak. Setelah itu Jovan mengangkat kedua kaki Nania lalu dia letakkan di atas pangkuannya. Dengan gerakan yang sangat lembut Jovan pun mulai memijit kaki Nania yang putih bersih. Dia lalu terkekeh lucu mendapati Nania yang seperti terkejut melihat tindakannya.


"Kenapa, hm?" tanya Jovan.


"Ck, aku benar-benar sangat beruntung mempunyai sugar daddy yang perhatian sepertimu, Jo. Kalau Krystal melihat ini, aku yakin dia pasti akan langsung kebakaran jenggot karena cemburu. Percaya padaku!" jawab Nania memuji sikap Jovan yang begitu manis. Dia sampai terkejut sendiri karenanya.


"Hmmmm, kenapa jadi membahas Krystal sih. Memangnya tidak bisa ya kalau hanya membicarakan sesuatu yang berhubungan dengan kita berdua?"

__ADS_1


"Hei, jangan salah. Krystal tentu saja sangat berhubungan dengan kita, Jovan. Kau lupa ya kalau dia itu adalah pemeran antagonis dalam drama yang kita mainkan?"


Nania mengerling nakal saat mengatakan hal itu pada Jovan. Lalu setelahnya dia menatap jari tangan Jovan yang dengan begitu piawai memberikan pijatan lembut di bagian betisnya yang terasa pegal. Sungguh, siapapun orangnya pasti akan merasa sangat bahagia mempunyai kekasih yang begitu peka dan juga perhatian. Dan beruntung Jovan adalah miliknya. Nania benar-benar sangat bersyukur akan hal ini.


"Nania, kau tahu tidak. Sebenarnya aku itu kurang suka membiarkan Krystal terus berada di sekitar kita. Wajah dan tingkah lakunya begitu menganggu. Aku muak melihatnya!" ucap Jovan meluapkan keluh kesahnya akan kehadiran Krystal.


"Aku tahu, sayang. Jangan khawatir ya, tidak lama lagi Krystal pasti akan segera mengundurkan diri dari perusahaanmu. Karena siang tadi aku tidak sengaja menemukan kelemahannya," sahut Nania sembari menyeringai licik.


Kedua alis Jovan saling bertaut mendengar ucapan Nania. Dia lalu menatapnya penuh rasa penasaran.


"Kelemahan apa, sayang?"


"Jo, jangan kau kira Krystal benar-benar seorang teman yang baik untuk Rhea ya. Kau tahu tidak. Tadi saat aku dan Rhea berkelahi, Tasya memberitahuku kalau dia tak sengaja merekam ekpresi aneh di wajah Krystal. Sebagai teman, harusnya dia itu mencari tahu bagaimana cara untuk menghentikan perkelahian kami dan menolong Rhea. Tapi ini, heh. Jangankan menolong, bergeming dari tempat dia dudukpun tidak. Menurut Tasya, Krystal adalah jenis teman yang bermuka dua. Saat dia membutuhkan Rhea untuk mendekatimu, dia akan bertingkah manis di hadapannya. Namun ketika Rhea berada dalam masalah, Krystal dengan gampangnya cuci tangan agar tidak ikut terlibat dalam permasalahan yang sedang terjadi. Kalau kau tidak percaya, aku punya buktinya. Rekaman itu bisa menunjukkan padamu siapa Krystal sebenarnya!" ucap Nania kemudian mencari-cari ponsel miliknya. Dia lalu mendengus kesal saat teringat kalau ponselnya tertinggal di dalam kamar. "Ponselku tertinggal di kamar, Jo. Nanti ku kirimkan video itu ke ponselmu saja ya!"


Nania menatap lekat wajah Jovan saat menyadari ada guratan emosi di sana. Tak mau sugar daddy-nya terbawa suasana tak menyenangkan, Nania segera meraih satu tangan Jovan kemudian menciumnya. Dia lalu tersenyum melihat Jovan yang langsung menyeringai lebar.


"Sayang, kenapa kau manis sekali sih. Aku kan jadi meleleh," ucap Jovan dengan hati yang berbunga-bunga. Dia senang sekali mendapat perlakuan manis dari Nania.


"Kau kekasihku, jadi sudah sepantasnya aku memperlakukanmu dengan cara yang manis. Lagipula aku juga kurang suka melihatmu murung seperti tadi. Kadar ketampananmu kan jadi berkurang," sahut Nania asal. Yang penting sugar daddy-nya bahagia, itu poin paling penting di sini.


"Aku bukan murung, sayang. Akan tetapi aku sedang merasa kesal saja pada Krystal. Selama dia dan Rhea saling kenal, Rhea selalu peduli padanya. Bahkan kepedulian Rhea pada Krystal jauh lebih besar ketimbang kepeduliannya terhadap kakaknya sendiri. Jadi begitu aku mendengar tentang sikapnya yang abai pada Rhea, emosiku seperti tersulut. Walaupun hubungan di antara kami kurang baik, sebagai seorang kakak aku tetap tidak terima jika adikku di perlakukan seperti itu. Aku tidak terima Krystal memanfaatkan kebaikan Rhea demi keuntungannya sendiri. Aku tidak terima itu!"

__ADS_1


Nania segera melongok ke dalam rumah untuk memastikan kalau tidak ada orang yang sedang mengintip. Setelah itu dia dengan genitnya mencium pipi Jovan yang mana langsung membuat Jovan diam mematung.


"Sayang, apa kau baru saja menciumku?" tanya Jovan antara percaya dan tidak percaya. Dia lalu mengusap pipinya pelan. Manis, ciuman ini sungguh manis.


"Ck, baru juga pipimu yang ku cium, tapi kenapa ekpresimu seolah menggambarkan kalau kau baru saja melihat seluruh bagian tubuhku yang tidak tertutup pakaian. Biasa saja lah, Jo," jawab Nania dengan santainya. Dia sama sekali tidak merasa bersalah telah mencium anak orang.


"Mana mungkin aku bisa biasa saja, sayang," sahut Jovan antusias. Dia lalu memegang dadanya. "Akhh, jantungku. Detakannya menjadi jauh lebih cepat sekarang. Sepertinya aku sedang jatuh cinta. Bagaimana ini?"


Nania langsung mencebikkan bibirnya melihat kelakuan Jovan. Namun, kedua pipinya merona. Nania merasa seakan dirinya sedang berada di musim semi di mana ada banyak sekali bunga-bunga yang tumbuh dan bermekaran. Sangat sejuk dan juga indah. Sama seperti kata-kata manis yang baru saja di ucapkan Jovan.


"Nania?"


"Apa?" sahut Nania malu-malu. Dia jadi salah tingkah sendiri melihat Jovan yang sedang menatapnya penuh cinta.


"Terima kasih karena sudah memberiku kesempatan untuk membuktikan keseriusanku padamu. Aku bahagia sekali," ucap Jovan sambil menyatukan jari-jari tangannya dengan tangan Nania. Dia lalu menciumnya dengan penuh perasaan, meresapi betapa dia sangat bersyukur bisa memiliki gadis cantik ini. "Aku mencintaimu, Nania. Benar-benar sangat mencintaimu!"


"Ck, kenapa kau jadi sok manis begini sih, Jo," ucap Nania dengan wajah memerah menahan malu. Jujur, saat ini dadanya begitu bertalu-talu. Aliran darah di tubuh Nania seakan melaju dengan sangat cepat mendengar kata cinta yang keluar dari mulutnya Jovan. Nania terpesona.


"Aku bukan sok manis, Nania. Tapi aku mengatakan yang sebenarnya. Aku mencintaimu, dan selamanya akan tetap seperti itu!"


Melihat sikap Nania yang malu-malu membuat Jovan menjadi gemas sendiri. Dia lalu menarik Nania ke dalam pelukannya kemudian membisikkan kata cinta untuknya.

__ADS_1


"I love you," ....


***


__ADS_2