My Sugar Daddy ( Nania)

My Sugar Daddy ( Nania)
99. Dewa Pembantai


__ADS_3

Tin tin


Nania yang sedang mengganggu Sora langsung berlari keluar begitu mendengar suara klakson mobil. Luri yang melihat hal itupun tampak menggelengkan kepala. Sudah tahu tamu mana yang membuat sang adik sampai berlarian seperti itu.


“Siapa yang datang, sayang?" tanya Fedo yang baru saja keluar dari kamar. Dihampirinya sang istri kemudian dikecup bibirnya. “Seperti biasa. Bibir yang manis untuk menyambut pagi. Hehe,”


“Kalau Nania ada di sini kau pasti langsung dimaki olehnya, Kak. Tahu?” tegur Luri sambil tersenyum kecil. Dia lalu mengangkat Sora ke dalam gendongan saat bayi lucu ini mengulurkan tangan. “Ayahmu sangat tidak tahu tempat sekali, bukan? Nanti setelah besar Ibu sarankan kau jangan sampai mengenal pria yang seperti itu. Oke?”


“Hei sayang, ajaran sesat macam apa yang sedang kau ajarkan pada putri kita, hem?” protes Fedo tak terima. “Justru Sora haruslah menemukan pria yang benar-benar mencintainya seperti aku yang sangat mencintaimu. Dengan begitu kebahagiaannya baru akan terasa lengkap. Ingat sayang, wanita akan menjadi ratu jika jatuh ke tangan pria yang tepat. Dan pria yang pastinya akan meratukan wanitanya adalah jenis pria dengan tipe yang seperti aku ini. Bagaimana sih!”


“Aku setuju dengan perkataanmu, Kak Fedo!”


Jovan yang baru saja masuk ke dalam rumah tanpa pikir panjang langsung menimbrung percakapan Luri dan suaminya. Setelah itu Jovan menatap penuh puja pada gadis yang tengah bergelayut manja sembari merebahkan kepala di pundak. “Wanita akan menjadi ratu di tangan pria yang tepat. Dan orang yang akan meratukan Nania adalah aku. Iyakan, sayang?”


“Tentu saja. Jika tidak, maka bersiaplah kau menjadi perjaka tua,” jawab Nania santai.


“Dan itu hanya akan terjadi jika seandainya kau mati lebih dulu, sayang.”


Nania memicingkan mata menatap Jovan tak percaya. “Jadi kau menyumpahiku supaya cepat mati? Jahat sekali. Mau putus sekarang apa bagaimana?”


“Jangan marah. Itukan hanya kata perandaian saja. Lagipula tanpa aku harus mendoakanmu mati, suatu saat kau juga akan mati sendiri. Karena sejatinya yang hidup suatu saat pasti akan kehilangan nafas mereka. Benar tidak?” sahut Jovan dengan santai menjelaskan maksud perkataannya.


“Kau benar sekali, Jovan. Aku sangat setuju denganmu!” ucap Fedo sambil mengacungkan jari jempol.


“Cihh, ikut-ikut saja kau, Kak!”


Karena hari ini Susan dan Tasya masih belum di izinkan keluar dari rumah sakit, Nania akhirnya meminta Jovan agar mengantarkan berangkat ke kampus. Sebenarnya semalam kedua kakak iparnya sudah menawarkan diri untuk menjadi sopir sementara, tapi Nania tolak dengan alasan ada kepentingan lain. Jika tidak salah hitung hari ini Krystal akan kembali masuk ke kampus. Jadi Nania berniat memamerkan kemesraannya dengan Jovan di hadapan rubah licik itu. Lumayanlah untuk pemanasan otot leher setelah hampir dua minggu mereka tidak adu mulut. Hehe.

__ADS_1


“Oh, Jovan. Kau sudah datang?” tanya Nita. Dia baru saja selesai bermain dengan Reiden di kamarnya sembari menunggu sarapan siap.


“Iya, Bibi. Selamat pagi,” jawab Jovan dengan sopan menyapa.


“Selamat pagi kembali,”


“Paman Luyan di mana. Beliau baik-baik saja ‘kan?”


“Ayahnya Nania sedang asik bermain dengan Reiden di dalam kamar. Mau Bibi panggilkan?”


“Tidak usah, Bibi. Aku tidak mau mengganggu kebersamaan mereka,” tolak Jovan dengan halus.


“Ya sudah kalau begitu,” ucap Nita sambil tersenyum. Dia lalu melirik pada tangan Nania yang melingkar erat di lengan Jovan. Hmmm, anak gadis satu ini benar-benar ya.


Merasa diperhatikan, Nania mengikuti arah pandang yang sedang dilihat oleh sang ibu. Dia lalu meringis lebar tanpa ada niatan untuk melepas gaetan tangan dari lengan si sugar daddy tampan ini. Biar saja. Nania sedang ingin menggatal. Hehe.


“Oya, sayang. Kau sudah berhasil menemukan wanita pemilik jaket itu belum?” tanya Jovan yang kini sudah duduk di sofa setelah tubuhnya di dorong oleh Nania.


“Jangan terlalu lama. Aku takut orang ini benar-benar mempunyai niat untuk melakukan hal jahat kepadamu. Dan jika memang kau tidak sempat menyelidiki siapa pemilik jaket itu, biar aku saja yang turun tangan. Aku tidak bisa mengambil resiko besar di mana itu akan membahayakan nyawamu. Mengerti?”


“Baiklah. Terserah kau saja nanti.”


Pandangan Fedo langsung berubah dingin saat dia mendengar percakapan Jovan dan Nania. Tak mau ada orang yang mengganggu ketenangan gadis beracun kesayangannya, dia dengan cepat merespon dengan bertanya apa maksud di balik percakapan mereka barusan.


“Jovan, Nania. Siapa wanita yang sedang kalian bicarakan? Dan kenapa juga wanita itu ingin mencelakai Nania? Apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui?” tanya Fedo penuh selidik.


Luri dan ibunya menatap dua sejoli itu dengan pandangan yang penuh rasa penasaran. Khawatir, itu sudah pasti. Namun mereka memilih untuk diam menyimak saja dan membiarkan Fedo yang menanyakan apa yang sedang terjadi. Mengingat Nania yang memang suka ceplas-ceplos saat bicara, tidak menutup kemungkinan ada orang yang merasa sakit hati kemudian berniat melakukan balas dendam dengan cara melukainya. Itu bisa saja terjadi, bukan?

__ADS_1


“Begini, Kak Fedo. Kemarin Jovan memerintahkan orang untuk menyelidiki apakah kecelakaan yang di alami Susan dan Tasya adalah murni karena kelalaian sendiri atau ada campur tangan orang lain. Dia lalu menerima laporan kalau sebelum kami pulang, di dekat mobilku ada dua orang manusia bertingkah mencurigakan. Satu laki-laki dan satu perempuan. Karena aku mempunyai kartu keanggotaan VVIP pakaian branded, aku bisa dengan mudah mengenali merk jaket yang di pakai oleh wanita tersebut. Jadi aku dan Jovan membagi tugas untuk menyelidiki masing-masing satu orang guna mencaritahu apakah benar mereka terlibat dalam kejadian ini atau tidak. Begitu,” jawab Nania sambil menelan ludah secara perlahan. Jujur, seberani-beraninya dia mengibarkan bendera perang pada pria Jepang ini, bulu kuduk Nania akan tetap berdiri juga jika pria ini sudah dalam model serius begini. Rasanya dia seperti sedang berbicara dengan dewa pembantai yang sebenarnya. Sungguh.


“Boleh aku melihat foto dari kedua orang itu?”


Nania dengan cepat mengibaskan kedua tangan saat kakak iparnya meminta izin untuk melihat foto dari kedua orang mencurigakan itu. Bukan apa, dia sedikit khawatir kalau kakak iparnya akan salah membantai orang. Jadi dia memutuskan untuk tidak melibatkan kekuasaan pria Jepang ini dulu. Terlalu mengerikan, begitu pikirnya.


“Kenapa, Nania? Jangan bilang kau ingin melindungi mereka ya?” tanya Fedo heran melihat sikap Nania yang terkesan tak ingin dia melihat wajah kedua orang itu.


“Kak Fedo, tolong jangan sembarangan menuduh. Aku tidak mengizinkanmu melihat foto mereka karena aku tahu kalau kau itu bisa berubah menjadi setengah gila kalau sudah mengamuk. Iya jika memang terbukti mereka bersalah, jika tidak? Apa kata Tuhan nanti,” jawab Nania masih sempat berkata cetus karena tak terima dituduh sembarangan. Tak mau masalah semakin runyam, dia memutuskan untuk langsung berangkat ke kampus saja. “Jovan, sekarang sudah siang. Ayo cepat antarkan aku karena aku ada kelas pagi. Cepat!”


“Nania, tapi kau belum sarapan!” ucap Luri agak kaget melihat sikap adiknya yang terkesan buru-buru.


“Cacing di dalam perutku masih tidur, Kak Luri. Jadi mereka belum membutuhkan sarapan,” sahut Nania sekenanya. Dia lalu mengajak Jovan berdiri kemudian bergegas berpamitan pada sang ibu. “Ibu, aku berangkat ke kampus dulu ya. Jangan mengkahwatirkan yang tidak-tidak. Oke?”


“Bibi, kami berangkat dulu ya. Luri, Kak Fedo. Aku pamit,” ucap Jovan pada semua orang.


Nita, Luri dan Fedo kompak menganggukkan kepala saat Jovan dan Nania berpamitan. Setelah itu ketiganya terdiam, merasa aneh dengan apa yang baru saja mereka lihat.


“Nania tidak mungkin menjadi dalang dari kecelakaan sahabatnya sendiri kan Luri, Fedo?” tanya Nita resah.


“Astaga, Ibu. Kenapa Ibu bisa berpikir seperti itu. Walaupun mereka sering bertengkar tapi Nania tidak mungkin tega menyakiti Susan dan Tasya yang sudah seperti tulang rusuknya sendiri,” kaget Luri yang tidak menyangka kalau ibunya akan berpikir sesempit ini. Ya ampun.


“Ibu hanya khawatir saja setelah melihat sikap adikmu, Luri. Tidak biasanya Nania menutup-nutupi masalah seperti tadi. Ibu takut.”


“Kalian tenang saja. Ada aku yang akan menyelidiki siapa mereka. Dan jika Nania sampai terlibat, aku akan menggantungnya di pohon beringin sambil melilitkan banyak ular ke tubuhnya. Jangan khawatir!”


Dan ucapan Fedo sukses membuatnya menerima hadiah cubitan dari Luri yang merasa kesal. Setelah itu Fedo segera meminta maaf serta menjelaskan kalau ucapannya tadi hanya sebatas candaan saja.

__ADS_1


Fyuhhhh, jangan sampai Luri marah padaku. Bisa mati kering aku kalau nanti malam tidak mendapat jatah. Hmmm.


***


__ADS_2