
📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI YOU ARE A WRITER SEASON 8. OKE 💜💜💜
***
Karena sudah terlanjur meminta cuti, Rhea akhirnya tidak memiliki aktifitas apapun di kesehariannya. Hal ini terjadi setelah Rhea mendapat hukuman dari sang ayah yang melarang agar jangan pergi kemana-mana selama satu minggu lamanya. Namun karena sekarang Rhea telah menyadari kesalahannya dan juga telah menerima Nania sebagai kekasih sang kakak, dia menerima keringanan hukuman. Sang ayah mengizinkannya untuk keluar rumah.
“Hmmmm, rasanya sungguh membosankan tidak memiliki aktifitas seperti ini. Apa aku jalan-jalan saja ya untuk menghabiskan waktu luang?” gumam Rhea sambil berguling-guling di atas kasur. “Tapi dengan siapa? Malas sekali kalau harus pergi sendiri. Apa aku ajak Krystal saja? Ah, malas. Kemarin kan dia memakiku dengan kasar. Krystal bisa besar kepala jika aku sampai menelpon dan mengajaknya menonton. Haih!”
Meski awalnya Rhea masih beranggapan kalau Krystal adalah teman yang baik, tapi setelah Krystal memakinya lewat telepon anggapan Rhea secara perlahan mulai berubah. Dia kini benar-benar mempercayai ucapan Nania yang menyebut kalau Krystal itu baik hanya karena ada maunya saja. Dan untungnya Rhea menyadari kesalahpahaman ini dengan cepat. Kalau tidak, dia pasti akan terhasut omongan Krystal yang memintanya untuk terus memojokkan Nania.
Sudahlah, lebih baik aku pergi sendirian saja. Sebentar lagikan jam makan siang, sekalian saja aku makan di restoran favoritku, batin Rhea.
Segera Rhea turun dari atas kasur kemudian bersiap. Dia memilih menggunakan kaos biasa yang dia pasangkan dengan celana hotpan berwarna putih. Tak lupa juga Rhea memoles wajahnya dengan make-up sederhana, kemudian mengambil tas, dompet, dan juga ponselnya sebelum keluar dari dalam kamar. Sambil bersenandung riang, Rhea berjalan menuruni anak tangga. Dia lalu menghampiri sang ibu yang tengah berbicara dengan bibi pelayan.
“Rhea, kau cantik sekali. Mau kemana, hm?” tanya Silvi sambil menatap seksama penampilan putrinya.
__ADS_1
“Bu, aku pamit pergi keluar sebentar ya. Aku bosan di rumah, jadi ingin pergi menonton. Boleh tidak?” jawab Rhea meminta izin pada sang ibu dengan manjanya.
“Siang bolong begini ingin pergi menonton? Dengan siapa?”
“Sendirian saja. Kan semua orang sedang sibuk. Boleh ya?”
Silvi menghela nafas. Dia kemudian tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Ya sudah hati-hati. Sebentar lagi waktunya makan siang. Kau jangan lupa makan dan pastikan kau sudah sampai di rumah sebelum Ayah dan kakakmu pulang dari kantor. Oke?”
“Siap, Ibuku yang cantik. Terima kasih. Kalau begitu aku pergi dulu ya?”
Rhea mencium pipi sang ibu setelah mendapatkan izin untuk pergi keluar. Karena tak mau di ganggu, Rhea menolak saat sopir menawarkan untuk mengantarkannya pergi. Dia lalu mengemudikan mobilnya menuju restoran. Ya, Rhea ingin mengisi perutnya terlebih dahulu agar nanti dia bisa fokus menonton di bioskop. Dan ketika dia sampai di restoran yang di tujunya, Rhea tak sengaja melihat sebuah mobil yang sangat familiar sekali di matanya.
Tanpa membuang waktu lagi Rhea bergegas keluar dari dalam mobil kemudian masuk ke dalam restoran. Dia lalu mencari-cari dimana Krystal berada. Dan begitu menemukannya, Rhea pun langsung berjalan menghampiri Krystal yang sedang makan bersama dengan teman-temannya. Niat hati ingin memata-matai rencana Krystal, tapi Rhea malah di suguhkan oleh satu pembicaraan yang membuatnya tersulut emosi. Ya, Krystal tengah menggunjingkan soal Rhea di hadapan teman-temannya yang lain.
“Krys, tumben sekali kau tidak membawa temanmu yang menyebalkan itu. Siapa namanya? Aku lupa,”
__ADS_1
“Namanya Rhea. Dia adik dari pria yang kusukai,” jawab Krystal sambil memutar bola matanya jengah saat menyebut namanya Rhea. “Kuberitahu kalian semua ya. Mulai sekarang aku tidak lagi berteman dengan gadis kolot itu. Dia itu sampah, tidak ada gunanya sama sekali. Lagipula aku sebenarnya juga tidak selevel berteman dengan gadis angkuh dan juga ketinggalan zaman seperti dia. Aku terpaksa berteman dengannya karena aku membutuhkan Rhea untuk menjadi mata-mataku. Kalian tahu sendirikan kalau Nania telah merebut Jovan dariku? Jadi aku butuh informasi akurat agar bisa terus memantau perkembangan hubungan mereka melalui Rhea. Tapi sekarang, heh. Lidahku bahkan gatal-gatal saat menyebutkan namanya. Menjijikkan.”
“Woaahhh, kau benar-benar kejam, Krys. Jadi selama ini kau berteman dengan gadis itu hanya karena ingin memanfaatkannya saja?”
“Iyalah. Kalian pikir apa untungnya aku berteman dengan gadis yang bahkan tidak bisa membedakan mana barang branded dan mana barang kawe. Kalau bukan karena ada kepentingan, selamanya aku tidak akan pernah sudi berteman dengan gadis kolot yang hidupnya sangat kesepian. Iyuhhhh,” sahut Krystal seraya bergidik geli.
Terdengar suara gelak tawa yang begitu heboh setelah Krystal mengolok-olok kekurangan Rhea. Dan tanpa mereka sadari, orang yang sedang mereka bicarakan saat ini tengah menatap mereka dengan sangat marah. Rhea, dia benar-benar tidak menyangka akan mendengar langsung kebenaran di balik pertemanannya dengan Krystal. Sungguh kejam. Setega inikah Krystal yang ternyata hanya ingin memanfaatkannya saja? Tak terima dengan kenyataan tersebut, Rhea pun segera menghampiri Krystal dan teman-temannya yang masih asik tertawa kemudian menggebrak meja di hadapan mereka. Dan sontak saja hal tersebut membuat Krystal dan teman-temannya langsung berjengit kaget. Mereka sepertinya sangat terkejut melihat Rhea yang tiba-tiba muncul di sana. Terbukti karena para gadis sialan ini hanya bisa terdiam dengan mulut ternganga dan mata membelalak lebar.
“Oh, jadi seperti ini ya kau di belakangku. Cihh, aku sungguh tidak menyangka kalau hatimu begitu picik, Krystal. Tahu begini sejak awal aku tidak akan sudi membantumu merebut Kak Jovan dari Nania. Untung saja tadi aku mendengar pembicaraan kalian di sini. Kalau tidak, mungkin selamanya aku tidak akan pernah mengetahui kalau kau itu sebenarnya adalah gadis yang berhati busuk. Kau menjijikkan, Krystal!” amuk Rhea dengan menggebu-gebu.
“R-Rhea, sejak kapan kau di sini?” tanya Krystal agak panik mendengar amukan Rhea. Dia sampai salah tingkah karena ketahuan tengah menggunjingkannya.
“Halah, kau tidak perlu berlagak sok baik lagi di hadapanku, Krystal. Percuma. Karena aku sudah menyaksikan sendiri siapa kau sebenarnya. Heh, untunglah hari ini aku mengetahui belangmu yang sesungguhnya. Jadi aku tidak perlu lagi menjadi budak yang akan selalu kau hasut untuk menghancurkan kebahagiaan kakakku sendiri. Dasar murahan!” hardik Rhea sembari mengibaskan tangannya ke depan wajah Krystal. Setelah itu dia memajukan tubuhnya, menatap sinis ke arah Krystal dari jarak dekat. “Dengarkan kata-kataku dengan baik, Krystal. Mulai detik ini, kalau kau ingin mengganggu hubungan Kak Jovan dan Nania maka kau harus berhadapan denganku lebih dulu. Tidak kusangka ternyata peringatan Nania itu benar adanya kalau kau hanya ingin memanfaatkanku saja agar bisa merebut cinta Kak Jovan. Ckckck, kasihan sekali kau ya. Apa saking tidak lakunya sampai kau merendahkan harga diri seperti ini demi seorang pria? Oh, satu lagi. Tadi kau dengan begitu percaya dirinya menyebut kalau aku adalah gadis kasihan yang kolot dan juga kesepian. Asal kau tahu saja ya. Yang sebenarnya cocok menerima sebutan seperti itu bukan aku, tapi kau. Lihat saja ke sekelilingmu. Kau pikir kebaikan teman-temanmu itu tulus? Tidak, Krys. Mereka mau menjadi temanmu karena kau memiliki uang. Karena jika tidak, mereka mana mungkin tahan berteman dengan gadis angkuh dan sok cantik sepertimu. Paham?”
Tak ada kata yang keluar dari mulutnya Krystal setelah dia di amuk oleh Rhea. Dan yang bisa dia lakukan hanya diam, diam, dan diam. Krystal terlalu syok karena Rhea dengan mudahnya membalik semua olok-olokan yang tadi dia lontarkan. Namun siapa sangka kalau Rhea akan membalasnya dengan kata-kata yang begitu menohok hati. Sakit hati? Itu sudah pasti. Namun pada kenyataannya Krystal tak bisa melakukan apa-apa saat satu persatu teman-temannya mulai beranjak pergi dari sana. Dia … sendirian.
__ADS_1
Tidak, ini tidak benar. Aku bukan gadis kesepian. Aku bahagia dan teman-temanku banyak. Aku tidak kesepian. Tidak, jerit Krystal dalam hati.
***