My Sugar Daddy ( Nania)

My Sugar Daddy ( Nania)
73. Goa Cleopatra


__ADS_3

📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI YOU ARE A WRITER SEASON 8. OKE 💜💜💜


***


“Nania!”


Nania yang barusaja keluar dari dalam kelas seketika menoleh ke belakang saat ada yang memanggilnya. Susan dan Tasya yang penasaranpun ikut menoleh. Mereka lalu sama-sama mengerutkan kening melihat Marcell yang sedang berlari kecil sambil melambaikan tangan.


“Nania, kau tidak mencelakai Marcell kan saat kalian pergi makan malam?” tanya Susan.


“Aku membunuhnya,” jawab Nania asal. "Dan itu adalah arwahnya Marcell," lanjut Nania. Dia lalu menatap sinis ke arah Susan yang sembarangan menuduhnya. "Kau buta apa bagaimana, San. Memangnya kau tidak lihat kalau Marcell sehat walafiat tanpa kekurangan apapun di tubuhnya. Sembarangan kau!”


“Ck. Akukan hanya bertanya, kenapa kau marah.”


“Bertanya kau bilang?”


Bibir Nania berkomat-kamit tak jelas saat Susan dengan santainya menganggukkan kepala. Benar-benar ya anak satu ini. Dan ketika Nania ingin kembali menyemprot Susan, Marcell sudah lebih dulu sampai di hadapannya. Dia lalu mengerucutkan bibir. Kesal karena emosinya tidak terlampiaskan.


“Um Nania, kau kenapa?” tanya Marcell tak enak hati melihat ekpresi Nania yang terlihat tidak senang dia datang menghampiri. “Apa aku mengganggu waktumu?”


“Marcell, aku baik-baik saja dan kau sama sekali tidak mengganggu waktuku. Aku cemberut begini karena aku sedang kesal pada induk tungau yang berdiri di sebelahku ini,” jawab Nania sambil melirik Susan. Dia lalu mencebikkan bibir saat Susan menjulurkan lidah mengejeknya. Tak terima, Nania segera memikirkan cara untuk membalas kelakuannya. Dia lalu terpikir untuk mengadu pada Marcell saja. “Cell, tadi Susan menuduhku telah melakukan hal yang tidak-tidak kepadamu. Saat kita makan malam kemarin aku sama sekali tidak mencabulimu ‘kan? Ayo cepat jelaskan pada Susan. Aku tidak mau disalahpahami olehnya.”


Kedua biji mata Susan hampir terbang keluar saat dirinya di fitnah oleh Nania. Tak terima, Susan segera memikirkan serangan balasan. Namun ketika dia hendak bicara, mulutnya sudah lebih dulu di bungkam oleh Tasya. Susan hanya bisa menggumam dengan kata yang tidak jelas saat Tasya mengancam akan menggigit daun telinganya sampai putus kalau dia menolak diam.


“Ekhmm Susan, kau salah jika menuduh Nania seperti itu. Karena yang sebenarnya terjadi akulah yang tanpa sengaja telah melakukan tindakan kurang baik. Iyakan, Nania?” ucap Marcell sambil tersenyum kecut. Marcell tentu tak lupa dengan insiden bogem mentah yang hampir saja dia terima gara-gara matanya yang tidak ramah lingkungan terhadap keseksian Nania yang sangat menggoda iman.


“Iya benar, tapi aku sudah memaafkanmu. Aku maklum kenapa kau bisa bersikap seperti itu, Cell. Wajarlah, Tuhan dengan baiknya memberiku body yang sangat luar biasa seksi. Tidak aneh kalau kau sampai meneteskan air liur melihat kulit pahaku yang putih bersih,” jawab Nania dengan entengnya. Setelah itu Nania memasukkan tisu ke dalam mulut Tasya yang sedikit terbuka. Mungkin sahabatnya ini kaget mendengar pengakuannya barusan. “Biasa sajalah, Sya. Lagipula yang dilihat Marcell hanya kulit pahaku, bukan gunung kembar ataupun goa Cleopatra milikku. Kenapa heboh sekali reaksimu?”

__ADS_1


“A-apa? Goa Cleopatra?”


Kali ini Susan, Tasya dan juga Marcell sama-sama memekik kaget mendengar julukan aneh yang Nania lontarkan. Benar-benar ya bunga kampus satu ini. Di hadapan seorang laki-laki berani sekali Nania bicara sefrontal ini. Dasar gila.


“Iyalah. Apalagi memangnya?” sahut Nania santai tanpa merasa terbebani sedikitpun. Dia lalu menatap seksama ke arah Marcell yang wajahnya sudah memerah seperti buah tomat. “Cell, kau demam ya? Wajahmu merah sekali.”


“Hah? Demam?” beo Marcell. Dia lalu menyentuh wajahnya. “Tidak kok. Aku tidak sedang demam, Nania.”


“Kalau tidak demam lalu kenapa wajahmu merah sekali? Aaaa, aku tahu. Otakmu pasti sedang trevelling gara-gara aku menyebut goa Cleopatra ya?”


Plaaaaakkkkk


“Susan, apa-apaan kau. Kalau Nania sampai gegar otak bagaimana? Jangan sembarangan memukulnya ya!” omel Marcell tak terima saat Susan tiba-tiba saja menggeplak kepala Nania. Dan Marcell mati-matian menahan diri untuk tidak mengelus kepala Nania saat melihatnya kesakitan. “Nania, kau baik-baik saja ‘kan? Mau pergi ke ruang kesehatan tidak?”


“Tidak usah. Kepalaku kepala baja. Pukulan Susan tidak ada apa-apanya,” sahut Nania santai.


“iya,”


“Halah, munafik. Kalau benar kepalamu kepala baja lalu kenapa tadi kau mendesis kesakitan? Jangan sok kuatlah, Nania. Kalau sakit ya bilang saja sakit. Heran!” cibir Susan tanpa merasa bersalah sama sekali.


Nania tersenyum. Dia lalu membelai pipi Susan dengan penuh perasaan. “Susan sayang, aku mengalah karena sekarang ada banyak mahasiswa tampan yang sedang memperhatikan aku. Mereka bisa lari terbiirt-birit jika melihatku membantingmu ke lantai. Kau lupa ya kalau semua yang melekat di tubuhku itu sangatlah berharga. Bahkan rambutkupun bisa laku jika dilelang di acara amal. Tahu kau?”


Glukkkk


Susan langsung menelan ludah mendengar perkataan Nania. Sialan. Kenapa dia bisa lupa siapa Nania sebenarnya. Untung saja disana ada banyak mahasiswa tampan bertebaran. Jika tidak, matilah Susan. Tulang-tulang di tubuhnya pasti remuk semua setelah di smackdown oleh sahabatnya yang jago karate ini. Huffttt.


“Oya Cell, ngomong-ngomong kenapa tadi kau memanggilku? Ada yang ingin kau sampaikan atau bagaimana?” tanya Nania ingin tahu. Dia berbesar hati untuk memaafkan Susan, tapi tidak gratis. Hehehe. Nania berencana mengurangi jatah Susan yang tadinya ingin dia kenalkan pada temannya Jovan. Ini hukuman.

__ADS_1


“Begini, Nania. Em, bisakah kau memberitahu Jovan agar mengizinkan aku bekerja paruh waktu di perusahaannya? Jujur, sekarang perusahaan keluargaku sedang ada masalah. Dan karena aku sedang banyak membutuhkan uang untuk biaya kuliah, aku berniat mencari pekerjaan sampingan untuk meringankan beban keluargaku. Tidak apa-apa gajinya kecil, yang penting aku bisa mendapatkan pemasukan untuk uang bulanan. Aku bisa meminta bantuanmu tidak? Urgent,” jawab Marcell penuh harap. Sebelum menyampaikan hal ini Marcell benar-benar telah menebalkan muka. Mau bagaimana lagi, dia tidak mungkin menyulitkan keluarganya di saat seperti ini bukan? Dan Marcell sudah siap lahir batin jika Nania ingin menertawakannya. Masa bodo.


Nania terdiam sejenak. Dia lalu mengambil ponsel untuk menghubungi Jovan. Dan tak butuh waktu lama, panggilan Nania sudah langsung di jawab oleh sugar daddy-nya. “Halo Jovan, Marcell sedang membutuhkan pekerjaan. Tolong tempatkan dia untuk menggantikan posisinya nenek sihir itu. I love you.”


Klik.


“Sudah. Mulai besok kau sudah bisa bekerja di perusahaan Jovan. Oke?” ucap Nania dengan santainya.


“Se-secepat ini?” syok Marcell.


“Ya. Jovan kekasihku, jadi perusahaannya adalah milikku juga. Kenapa? Apa kau berubah pikiran?”


“Bukan, bukan seperti itu, Nania. Ak-aku hanya kaget saja. Tapi ini aku benar akan bekerja disana apa bagaimana?” jawab Marcell bingung sendiri saat dalam hitungan detik Nania sudah berhasil memasukkannya ke perusahaan Jovan. Seperti mimpi. Sungguh.


“Tentu saja kau akan bekerja disana, Marcell. Bukankah tadi kau yang bilang sendiri ingin bekerja di perusahannya Jovan? Kenapa sekarang kau linglung begini?”


Susan dan Tasya tampak menghela nafas panjang. Bagaimana mungkin Marcell tidak linglung kalau Nania sendiri yang mengambil keputusan tanpa menunggu Jovan bicara. Jangankan Marcell, mereka yakin orang lainpun pasti akan merasa sangat kaget mendapat pekerjaan secara mendadak seperti ini. Ada-ada saja si Nania. Mudah sekali membuat orang lain syok jantung.


“Aku benar-benar tidak menyangka akan mendapat pekerjaan secepat ini, Nania. Rasanya agak mustahil.”


“Sudah jangan banyak mengeluh. Lebih baik besok kau persiapkan diri saja untuk bekerja sebagai sekertarisnya Jovan. Ingat ya, Jovan itu milikku. Kau tidak boleh sampai jatuh hati padanya. Kalau itu sampai terjadi, aku akan mencabut semua bulu ketiakmu. Mengerti?” ucap Nania penuh nada mengancam.


“Baiklah,” sahut Marcell patuh. Dan sedetik kemudian bola mata Marcell membelalak lebar saat dia tersadar di posisi apa dirinya akan bekerja. “A-APA? SEKERTARIS?”


Nania mengangguk. Setelah itu dia mengajak Susan dan Tasya untuk pergi ke kantin, meninggalkan Marcell yang mematung dengan mulut ternganga lebar.


In-ini aku tidak salah dengar ‘kan? Sekertaris? Astaga, astaga. Aku pikir aku akan bekerja sebagai cleaning servis, kenapa malah sekertaris? Ya Tuhan Nania, kau baik sekali. Kau idolaku, Nania. Terima kasih.

__ADS_1


***


__ADS_2