
📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI YOU ARE A WRITER SEASON 8. OKE 💜💜💜
***
Jovan meninggalkan perusahaan dengan raut wajah yang terlihat sangat lesu. Bagaimana tidak lesu. Kekasihnya yang cantik dan seksi sekarang sedang makan malam bersama pria lain. Meski sebelumnya Nania sudah meminta izin, tetap saja Jovan merasa tak rela. Dia sangat takut pria itu merebut Nania darinya.
“Huhh, kenapa harus pria sih yang menolong Nania. Apa jangan-jangan kejadian itu sudah direncanakan dengan tujuan untuk menarik simpatiknya Nania? Arghhh, sialan. Aku benar-benar sangat kesal sekarang,” geram Jovan sambil memukul stir mobil. Dia lalu menyenderkan badannya sambil memejamkan mata. “Apa aku susul mereka saja ya? Aku khawatir Nania diguna-guna kemudian dibawa lari dariku. Tapi jika aku nekad datang ke sana Nania pasti akan sangat marah padaku. Ya Tuhan, ternyata mempunyai pacar cantik itu sangat tidak tenang sekali ya. Astaga!”
Jovan terus menggerutu sambil membayangkan hal-hal menyebalkan yang mungkin saja dilakukan oleh pria yang tengah makan malam bersama Nania. Dan ketika Jovan memutuskan untuk pulang, ponsel di sakunya berdering. Awalnya dia agak malas untuk menjawab. Namun begitu melihat siapa yang menelpon, secepat kilat Jovan menekan tombol hijau di layar ponselnya kemudian duduk dengan tegak. “Halo sayang. Kau dimana sekarang? Sudah pulang atau belum? Pria itu tidak melakukan sesuatu yang buruk padamu ‘kan? Dia tidak membujukmu agar meninggalkan aku bukan?”
“Jo, bisa-bisanya ya kau mencecarku dengan pertanyaan sebanyak itu. Kau tidak lupa bernafas ‘kan?” sahut Nania dari dalam telepon. “Dengarkan aku baik-baik, Jo. Sekarang aku masih di restoran bersama Marcell dan aku ingin kau datang kemari detik ini juga. Aku akan mengirimkan alamatnya padamu lewat pesan. Bay!”
Panggilan sudah lebih dulu di matikan oleh Nania sebelum sempat Jovan bertanya. Dan tak lama setelah itu sebuah pesan masuk ke ponselnya. Tanpa membuang waktu lagi Jovan bergegas pergi menuju alamat yang di maksud oleh Nania. Khawatir, tentu saja tidak. Yang ada Jovan malah merasa sangat senang karena Nania tidak hanya akan makan malam berdua saja dengan Marcell, tapi juga bersamanya. Kebetulan Jovan juga belum makan, jadi ya sudah sekalian saja nanti. Haha.
“Aku datang sayang,” gumam Jovan saat mobilnya berhenti di depan sebuah restoran bintang lima. Ternyata Marcell cukup memahami seleranya Nania yang memang sangat menyukai restoran mahal seperti restoran yang ada di hadapannya sekarang. Effortnya cukup mengesankan juga.
Setelah memarkirkan mobil, Jovan melangkah masuk ke dalam restoran. Dia lalu bertanya di ruangan mana Nania dan Marcell berada. Dengan di antar oleh salah seorang pelayan restoran, Jovan pun mendatangi ruangan tersebut.
“Oh, Jovan. Cepat sekali kau datangnya. Ayo masuk!” ucap Nania dengan sangat bersemangat menyambut kedatangan sang sugar daddy. Dia kemudian tersenyum penuh goda saat Jovan mencium keningnya. “Hei, kau ini agresif sekali sih. Lihat, ada Marcell di ruangan ini. Memangnya kau tidak malu apa?”
__ADS_1
“Untuk apa aku merasa malu. Kan yang aku cium adalah kekasihku sendiri,” sahut Jovan acuh. Sengaja dia melakukannya di hadapan Marcell dengan tujuan agar pria ini tidak memiliki niat untuk merebut Nania-nya. Tidak akan Jovan biarkan. Enak saja, huh.
“Haihhh, baiklah-baiklah. Sekarang kau duduklah dulu. Aku akan mengenalkanmu secara resmi pada Marcell.”
Jovan mengangguk. Pandangannya kemudian tak sengaja beradu dengan pandangan Marcell yang diam-diam sedang memperhatikannya. Jovan menyeringai, merasa puas karena sepertinya Marcell langsung paham hubungannya dengan Nania. “Halo Marcell. Perkenalkan, aku Jovan, sugar daddynya Nania.”
Marcell langsung sesak nafas begitu tahu kalau orang yang ingin dikenalkan Nania padanya ternyata adalah seorang sugar daddy yang sangat tampan dan terlihat kaya. Kalau sudah seperti ini maka pupuslah sudah harapan Marcell untuk bisa dinner romantis dengan gadis cantik itu. Dia langsung kalah saing dalam sekali pertemuan.
“Cell, you okay?” tanya Nania. Dia sebenarnya paham kalau Marcell merasa kecewa, tapi Nania memilih untuk pura-pura tidak tahu saja. Hehe. “Jovan adalah orang yang ingin aku kenalkan padamu. Kau tidak keberatan bukan kalau kita makan malam bersama kekasihku?”
“O-oh, tentu saja tidak, Nania. Aku … aku sama sekali tidak merasa keberatan makan malam bertiga dengan kekasihmu,” sahut Marcell antara rela dan tidak rela. Dia lalu tersenyum ke arah Jovan saat merasa tak nyaman dengan cara Jovan menatapnya. “Jovan, kau tidak perlu mewaspadaiku secara berlebih. Kebersamaan kami di sini murni hanya untuk makan malam saja. Sungguh.”
Jovan terkekeh. Kalau saja Nania tidak ada di sebelahnya, Jovan pasti sudah mengajak Marcell untuk baku hantam. Berani sekali anak ini menyebut kata kebersamaan di hadapannya. Sungguh lancang.
“Bukan, maksud ucapanku tadi tidak seperti yang kau pikirkan. Makan malam ini terjadi karena Nania ingin berterima kasih padaku. Begitu,” ucap Marcell buru-buru menjelaskan saat Jovan terlihat tidak senang dengan kata-kata kebersamaan yang dia ucapkan.
“Hah, terserah apa katamu. Yang jelas aku tidak akan membiarkan siapapun merebut Nania dariku. Karena jika hal itu sampai terjadi aku tidak akan segan memberi pelajaran pada siapapun orangnya. Termasuk dirimu, Marcell!” sahut Jovan dengan tegas memberi pengertian pada Marcell kalau dia tidak akan membiarkan siapapun merebut kekasihnya. Tidak akan.
Nania menatap penuh pesona pada Jovan yang baru saja menunjukkan keposesifannya di hadapan Marcell. Sungguh, hal ini sangatlah manis. Sebagai seorang gadis tentu saja Nania merasa sangat bahagia melihatnya. Kapan lagi coba diperlakukan dengan seposesif ini oleh seorang sugar daddy yang tampan dan kaya raya. Haha.
__ADS_1
Karena suasana makan malam jadi berubah kikuk, Nania akhirnya mencairkan suasana dengan mengambilkan makanan secara adil untuk Jovan dan Marcell. Kenapa Marcell juga menerima perlakuan manis seperti Jovan? Karena Nania masih sadar dialah yang mengajak Marcell untuk makan malam bersama. Jadi dia tidak mungkinkan mengacuhkannya begitu saja setelah Jovan datang. Dia khawatir Marcell akan pulang sambil menangis. Kan tidak lucu.
“Nah, sekarang mari kita makan,” ucap Nania sambil menatap bergantian ke arah Marcell dan Jovan.
Hening. Baik Jovan maupun Marcell, keduanya sama-sama enggan untuk memulai acara makan malamnya. Dan pada akhirnya sikap mereka mengundang kekesalan di diri Nania. Sembari memotong daging, Nania mengancam akan menguliti tubuh keduanya jika mereka masih saling diam seperti sekarang.
“Baiklah karena kalian memilih diam daripada memakan makanan yang telah kusiapkan, sepertinya akan jauh lebih baik kalau aku menguliti tubuh kalian berdua kemudian menggorengnya di dalam minyak panas. Lumayanlah untuk di jadikan sebagai cemilan gratis.”
“Ah Marcell, ayo cepat habiskan makanan yang sudah di ambilkan Nania. Dengar-dengar makanan di restoran ini sangat mahal, sayangkan kalau semua makanan ini kita biarkan menjadi dingin. Ayo makan,” ucap Jovan langsung ketar-ketir mendengar ancaman yang dilontarkan oleh Nania.
“Kau juga, Jovan. Mari makan,” sahut Marcell buru-buru menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
Seperti yang selama ini semua orang ketahui kalau Nania adalah seorang peri cantik yang sangat mematikan. Gadis ini tak segan mengancam dengan sesuatu yang sangat mengerikan hanya karena Marcell dan Jovan bersikap canggung satu sama lain.
“Nah, kalau begini kan enak. Saatnya makan ya makan, saatnya bersaing baru kalian bersaing. Kalian itu jangan lupa kalau tidak semua orang bisa duduk dan menikmati makanan mahal seperti ini, mubadzir kalau tidak segera dimakan. Tahu?” ucap Nania dengan santainya memberikan nasehat pada dua pria yang kini sudah sibuk dengan makanan di piring masing-masing.
“Kami tahu, Nania,” sahut Jovan dan Marcell berbarengan.
Hihihihi, lucu sekali melihat mereka akur begini, ujar Nania dalam hati.
__ADS_1
***