My Sugar Daddy ( Nania)

My Sugar Daddy ( Nania)
89. Malam Yang Kacau


__ADS_3

Tepat pukul dua belas malam Jovan beserta Nania, Susan dan juga Tasya pergi meninggalkan club. Karena tadi Nania yang menjemput Susan dan Tasya, dia memiliki kewajiban untuk memulangkan kedua sahabatnya dengan selamat sampai di rumah masing-masing. Akan tetapi hal tersebut di tolak oleh Susan. Dia meminta agar Nania agar pulang bersama Jovan saja dan membiarkan dia yang membawa mobilnya.


“Benar kalian tidak apa-apa pulang sendiri?” tanya Nania agak khawatir. Di dalam club tadi Susan dan Tasya ada sedikit minum alkohol, dia khawatir terjadi sesuatu pada kedua sahabatnya ini.


“Jangan khawatir, Nania. Lagipula inikan bukan pertama kalinya kami pulang dengan keadaan seperti ini. Santai sajalah. Kau nikmatilah waktumu dengan Jovan. Oke?" jawab Susan sambil membantu Tasya masuk ke dalam mobil. Dia kemudian melambaikan tangan pada Jovan dan Nania sebelum menyusul masuk ke dalam mobil juga.


Nania dan Jovan terus memperhatikan Susan yang telah keluar dari lokasi parkiran. Merasa kalau semuanya baik-baik saja, Jovan segera mengajak Nania untuk pulang. Dia dengan mesranya menggandeng tangan Nania lalu membukakan pintu mobil untuknya.


“Silahkan masuk, tuan putri!” ucap Jovan berkelakar. Dia kemudian tertawa saat Nania menggerakkan bibir mengecupnya dari jarak jauh. “Ah, ciuman itu mendarat tepat di relung jantungku. Manis sekali,”


“Dasar kau,”


Sambil terkekeh lucu Nania duduk di dalam mobilnya Jovan. Setelah itu Nania menoleh ke samping saat merasakan seperti ada seseorang yang tengah memperhatikannya dari kegelapan. Namun setelah beberapa detik dia memperhatikan ke arah sana, Nania sama sekali tidak menemukan gerakan yang mencurigakan. Dia lalu meyakinkan diri kalau itu hanya karena pengaruh sistem kinerja otaknya yang sudah kelelahan setelah puas menari di dalam club tadi.


“Sudah siap?” tanya Jovan setelah memasangkan seatbelt ke tubuh Nania. Tangannya kemudian terulur untuk merapihkan anak rambut yang menjuntai menutupi mata indah milik kekasihnya. “Kau terlihat lelah, sayang. Nanti langsung tidur saja ya begitu sampai di rumah?”


“Iya, Jo. Sepertinya di dalam tadi aku cukup banyak mengeluarkan tenagaku untuk menari. Hemmm, padahal biasanya aku tidak pernah seperti ini. Aneh ya?” sahut Nania yang merasa sedikit aneh dengan kondisi tubuhnya. Dia merasa tidak sepenuhnya fit. Mungkin Nania akan jatuh sakit. Mungkin ya.


“Ya sudah tidak apa-apa. Kita pulang sekarang ya?”


Nania mengangguk. Dia memejamkan kedua matanya saat Jovan menyempatkan diri untuk mengecup keningnya sebelum melajukan mobil. Saat mobil mulai melaju di tengah jalanan, tiba-tiba saja Nania merasa gelisah. Dia tak tenang memikirkan Susan dan Tasya yang pulang dengan mengendarai mobilnya dalam kondisi lelah dan sedikit mabuk. Khawatir terjadi sesuatu, Nania akhirnya meminta Jovan agar berputar arah menyusul kedua sahabatnya.


“Jo, putar jalan. Aku tidak tenang membiarkan Susan dan Tasya pulang dengan kondisi seperti itu. Aku takut terjadi sesuatu pada mereka, Jovan!”


“Tenang, Nania. Jangan panik dulu. Kita susul mereka sekarang. Oke?” sahut Jovan langsung menanggapi kegelisahan Nania dengan cara memutar arah mobilnya dan langsung masuk ke arah jalan yang berlawanan dengan jalan menuju rumah mereka. Setelah itu Jovan menggenggam sebelah tangan Nania yang terasa dingin. “Jangan khawatir. Susan pandai mengendarai mobil. Dia dan Tasya pasti akan pulang dengan selamat. Oke?”


“Tapi aku tidak tenang, Jovan. Aku seperti mendapatkan firasat kalau mereka tidak sedang baik-baik saja. Apa yang harus aku lakukan sekarang ya?” sahut Nania masih terus gelisah.


Tak mau mati karena gelisah, Nania memutuskan untuk menghubungi Tasya saja. Dan dia dibuat semakin panik saat Tasya tak kunjung menjawab panggilannya.

__ADS_1


“Tidak ada jawaban, Jo. Bagaimana ini?”


“Coba kau hubungi Susan. Mungkin Tasya ketiduran jadi tidak tahu kalau kau menelponnya,” sahut Jovan mulai ikut terpancing rasa khawatir. Segera dia menambah kecepatan mobilnya agar bisa menyusul Susan yang seharusnya belum pergi terlalu jauh dari jalanan ini.


“Baiklah. Aku akan coba menghubungi Susan saja!”


Namun nihil, hasilnya tetap sama. Sama-sama tidak ada yang menjawab panggilan dari Nania. Belum hilang kekhawatiran di diri Nania, dua mobil ambulance dan juga mobil polisi melaju dengan sangat kencang di samping mobilnya Jovan. Sontak saja hal ini membuat perasaan Nania bertambah semakin tidak karu-karuan. Pikirannya melayang membayangkan sesuatu yang tidak-tidak tentang kedua sahabatnya.


Brengsek! Jangan bilang Susan dan Tasya mengalami kecelakaan karena tidak fokus mengendarai mobil. Argghh, kalau ini sampai terjadi Nania pasti akan sangat sedih sekali nanti. Sialan.


“Nania, berpeganganlah dengan benar. Aku akan melajukan mobil sedikit lebih cepat. Oke?” ucap Jovan meminta agar Nania mengeratkan pegangan tangannya.


“I-iya,” sahut Nania dengan suara yang sudah terbata. Dia semakin yakin pasti telah terjadi sesuatu pada Susan dan Tasya karena sampai sekarang mereka masih belum merespon panggilannya. “Tolong angkat teleponku, Sya. Jangan membuatku khawatir begini. Aku mohon!”


Tak jauh dari keberadaan mobil Jovan, terlihat di sana ada sebuah mobil yang ternyata adalah mobil milik Nania sudah dalam posisi terbalik. Melihat hal itupun Nania langsung membuang asal ponsel di tangannya kemudian berteriak kencang memanggil nama Susan dan juga Tasya.


Sreettttt


Jovan segera memarkirkan mobil tepat di samping mobil polisi kemudian bergegas keluar. Setelah itu dia berlari memutar membukakan pintu mobil untuk Nania.


“Jangan pergi ke sana dulu, Nania. Kau tidak akan di izinkan oleh mereka!” bisik Jovan berusaha menahan Nania agar tidak mendekati lokasi kecelakaan. Dia takut mobil itu akan meledak yang mana akan melukai kekasihnya ini.


“Tapi Susan dan Tasya ada di sana, Jovan. Mereka ada di dalam mobil itu!” teriak Nania histeris. Dia terus berontak agar Jovan mau melepaskannya.


“Iya aku tahu, tapi akan sangat berbahaya kalau kau memaksa untuk datang mendekat. Tolong mengertilah. Ya?”


“Tidak mau. Aku mau menyelamatkan mereka, Jovan. Biarkan aku pergi ke sana. Tolong!”


Tangis Nania pecah sejadi-jadinya saat Jovan tetap tidak membiarkannya untuk menyelamatkan Susan dan Tasya. Dan tak lama setelah itu polisi akhirnya berhasil mengeluarkan Susan dan Tasya dalam keadaan wajah berlumuran darah. Melihat hal itupun Nania langsung menyikut pinggang Jovan kemudian berlari mengejar Susan dan Tasya yang akan di bawa masuk ke dalam mobil ambulance.

__ADS_1


“Paman, mereka adalah teman-temanku. Tolong izinkan aku ikut masuk ke dalam mobil ini. Aku mohon!" ucap Nania sambil menangis sesenggukan melihat keadaan dua sahabatnya yang sudah tidak sadarkan diri.


“Baiklah, Nona. Kalau begitu masuklah!” sahut petugas mempersilahkan


Jovan hanya bisa mengumpat kasar melihat Nania yang pergi dengan kondisi menangis terisak-isak. Penasaran akan apa yang terjadi, Jovan memutuskan untuk bertanya pada polisi tentang penyebab mengapa kecelakaan itu bisa terjadi.


“Selamat malam, Pak. Kalau boleh tahu kecelakaan ini terjadi karena apa ya?” tanya Jovan penuh rasa ingin tahu.


“Selamat malam kembali, Tuan. Dilihat dari kondisi kedua korban, besar kemungkinan kecelakaan ini terjadi karena korban berkendara dalam kondisi mabuk sehingga tidak sadar telah menerobos lampu merah,” jawab salah seorang polisi yang sedang sibuk mencatat ini dan itu.


“Lalu apakah ada korban lain selain kedua wanita itu?”


“Untuk sekarang belum ada laporan lain tentang adanya korban dari kecelakaan ini. Anda bisa mengikuti perkembangan kejadiannya mulai besok pagi. Selamat malam,”


Teringat akan keadaan Nania, Jovan memutuskan untuk mengirim pesan pada Kak Gleen saja. Dan setelahnya Jovan langsung pergi menuju rumah sakit terdekat guna menyusul Nania yang sedang menemani Susan dan Tasya. Juga ada beberapa hal yang perlu Jovan urus agar masalah ini tidak melebar kemana-mana.


“Aneh. Bukankah Susan itu sangat lihai dalam mengendarai mobil ya? Masa iya dia bisa seceroboh ini hanya karena sedikit meminum alkohol? Apa mungkin kecelakaan ini ada faktor kesengajaan yang sebenarnya ingin di tujukan pada Nania?” gumam Jovan menerka-nerka. Dia kemudian menjawab panggilan yang baru saja masuk ke dalam ponselnya. “Halo, Kak Gleen,”


“Jovan, Nania bagaimana? Dia baik-baik saja ‘kan? Di rumah sakit mana Susan dan Tasya berada sekarang?” cecar Gleen dari dalam telepon. Nada suaranya terdengar sangat khawatir sekali.


“Aku akan segera mengirimkan alamatnya padamu, Kak. Dan tolong bantu aku mengabari keluarganya Susan dan Tasya. Aku tidak punya nomornya!”


Sambil terus berbicara lewat telepon, mobil Jovan bergerak masuk ke parkiran rumah sakit tempat Susan dan Tasya berada. Setelah itu Jovan langsung meminta izin untuk memutuskan panggilan saat melihat Nania yang sedang menangis tersedu-sedu dengan tangan yang berlumuran darah.


“Sh***! Aku benci melihat hal ini!” umpat Jovan sesaat sebelum dia berlari menghampiri Nania.


Malam ini benar-benar sangat kacau. Sangat tidak menyenangkan.


***

__ADS_1


__ADS_2