
“Wait wait wait. Ada apa dengan senyummu, Jo? Sepertinya kau sedang bahagia sekali hari ini. Ada apakah gerangan?” tanya Galang seraya menatap penuh curiga pada Jovan yang baru saja datang.
Karena sudah sangat lama mereka tidak makan bersama, Galang akhirnya meminta Jovan untuk makan malam bersamanya di restoran. Namun begitu melihatnya datang, Galang dibuat terheran-heran akan sikap Jovan yang terlihat begitu semringah. Penasaran, diapun bertanya.
Bukannya menjawab, Jovan malah duduk bertopang dagu sambil melamunkan kejadian manis yang terjadi di kantornya sore tadi. Pikiran Jovan di penuhi oleh kata-kata dan juga sikap manja yang ditunjukkan oleh Nania, gadis kesayangannya. Jelaslah dia terngiang-ngiang. La wong Nania datang dengan memakai baju warna favoritnya. Belum lagi dengan segala ucapan manisnya yang membuat Jovan serasa mengidap penyakit diabetes. Haha.
“Hmmmm, sepertinya aku tahu penyebab mengapa kau bisa setidakwaras ini, Jo. Pasti Nania pelakunya. Iya ‘kan?” ledek Galang sambil menggelengkan kepala. Pesona gadis desa itu memang tidak main-main meskipun Galang sendiri belum pernah bertatap muka secara langsung dengan Nania. Cukup dengan dia melihat fotonya dan juga menyaksikan bagaimana Jovan yang selalu menggebu-gebu saat membahas tentang Nania, Galang sudah langsung tahu kalau Nania mempunyai pesona yang jauh lebih menarik dari kedua kakaknya.
“Apa ketidakwarasanku terlalu kentara di matamu, Lang?” sahut Jovan balas bertanya. Kali ini dia sedikit mempedulikan keberadaan Galang, tapi setengah pikirannya masih saja terbang menghayal. Hehehe.
“Sangat,” jawab Galang dengan cepat. “Dan aku rasa hanya orang-orang bodoh saja yang tidak bisa menyadari kegilaanmu ini. Sekarang cepat beritahu aku hal salah apa yang telah kau dan Nania lakukan. Kalian tidak mungkin melakukan unboxing secara diam-diam ‘kan?”
Jovan langsung berdecak kesal mendengar ledekan Galang. Yang benar saja dia meng-unboxing Nania. Bukannya mendapat kenikmatan yang ada Jovan malah akan patah tulang dibantai oleh gadis itu. Biarpun Nania sangat suka mengumbar keseksian tubuhnya, Nania bukanlah gadis yang mudah untuk disentuh. Sampai detik ini saja Jovan hanya berani menggenggam tangannya, memeluknya, dan juga menciumnya. Dia tidak memiliki keberanian berlebih untuk menyentuh Nania lebih daripada itu. Jovan selalu memegang prinsipnya yang akan menjaga kesucian Nania sampai mereka di persatukan dalam ikatan pernikahan. Terlebih lagi setelah Jovan menerima ancaman dari kedua kakak ipar Nania yang menyebut akan langsung menghabisinya jika sampai membuat Nania hamil di luar nikah. Namun jika hanya sekedar icip-icip sedikit hal itu tidak akan di permasalahkan baik oleh Nania ataupun kedua kakak iparnya.
“Lang, Nania itu tidak seperti para wanita yang pernah kau kencani dulu. Dia memang menganut paham kalau uang dan keseksian adalah sumber kebahagiaan, tapi bukan berarti Nania akan membiarkan citranya sebagai seorang gadis terlukai. Percaya tidak kalau dia tidak akan ragu untuk menghajarku atau bahkan membunuhku sekalipun jika aku sampai berani berbuat macam-macam padanya!” omel Jovan sambil memelototkan mata pada Galang. Kesal sekali dia.
“Weeee, santai Jo. Kenapa kau serius sekali sih menanggapi perkataanku tadi. Aku juga tahu kalau Nania pasti tidak mungkin serendah itu dalam menjaga kehormatannya. Kau lupa ya kalau dulu aku pernah hampir gila karena mencintai Luri?” sahut Galang merasa tergelitik melihat reaksi Jovan setelah dia meledeknya tadi. “Walaupun aku belum pernah bertemu langsung dengan Nania, tapi aku sama sekali tidak meragukan didikan Paman Luyan dan juga Bibi Nita. Mereka adalah orangtua yang berhasil dalam memberikan kasih sayang dan juga pemahaman pada ketiga putri mereka. Khusus untuk Luri dan Kak Lusi, aku sangat tahu seperti apa kepribadian mereka. Namun untuk Nania, maaf Jo. Pikiranku agak sedikit berbeda jika tentangnya. Hahaha!”
“Sialan kau!”
Galang dan Jovan sama-sama tertawa kencang setelahnya. Sebagai laki-laki, Jovan jelas tahu apa maksud di balik perkataan Galang barusan. Karena pada kenyataannya memanglah benar kalau sikap Nania sangat jauh berbeda dari kedua kakaknya. Luri dan Kak Lusi adalah dua wanita yang anggun, lemah lembut, tegas, dan juga sangat sopan dalam hal berpakaian dan bertutur kata. Akan tetapi Nania … sudahlah. Tanpa harus Jovan jabarkan dengan detail kalian semua pasti sudah tahu sendirikan seperti apa sikapnya? Dan satu lagi. Di sini Jovan ingin mengingatkan kalian yang telah menghujat sikap Nania. Sesuai dengan judul novel ini MY SUGAR DADDY, jadi karakter Nania memang di gambarkan suka mengumbar keseksian tubuhnya, mulut yang bar-bar dan juga sikap jahil yang terkadang sedikit keterlaluan. Hal ini di sesuaikan dengan judul yang dibuat oleh emak. Kan aneh kalau pemeran utama wanitanya memiliki karakter yang sopan dan lemah lembut, sedang judulnya saja sudah cukup memberitahu kita kalau isi di dalamnya merupakan sesuatu yang berhubungan dengan uang dan keseksian. Jadi Jovan harap kalian berhentilah menghujat Nania karena dia tidak akan tinggal diam. 😎😎😎
__ADS_1
“Kak Jovan, Kak Galang. Kalian di sini?”
Rhea yang diajak pergi makan malam oleh teman-teman kantornya tak sengaja melihat keberadaan kakaknya di restoran yang dia datangi. Jadilah dia meluangkan waktu untuk menyapa sebentar, sekalian menyapa teman yang sedang duduk bersama dengan kakaknya.
“Rhe, kau makan di sini juga?” sahut Jovan agak kaget melihat kemunculan adiknya.
“Iya, Kak. Teman kantor mengajakku untuk makan malam bersama di restoran ini,” jawab Rhea jujur. Dia lalu beralih menatap Galang yang tengah menatapnya sambil tersenyum. “Matamu tidak sedang rusak kan, Kak? Sebegitunya menatapku sampai lupa untuk berkedip.”
Jovan yang sedang minum langsung tersedak mendengar omongan sarkas yang keluar dari mulut Rhea. Dan secara tiba-tiba bulu kuduk di tubuhnya berdiri semua saat dia teringat kalau cara bicara Rhea sangatlah mirip dengan Nania.
Ini kenapa Rhea jadi semakin mirip dengan Nania ya? Apa jangan-jangan mereka melakukan les privat sehingga kata-kata yang mereka lontarkan hampir sama persis? Ya Tuhan, ada-ada saja sih mereka.
“Kak Galang, tolong dengarkan kata-kataku dengan baik. Sebelum ada sesuatu tumbuh di dalam hatimu, aku ingin memperingatkanmu kalau aku tidak akan pernah menjalin hubungan dengan laki-laki yang bukan seorang bos. Entah kau hanya sedang menggodaku saja atau memang benar memiliki niatan untuk menyukaiku, lebih baik segera hentikan perasaanmu itu sekarang juga. Aku cantik dan aku bertalenta, jadi aku hanya akan berpacaran dengan laki-laki yang bisa menjamin masa depanku sampai tua. Sudah paham ‘kan?” ucap Rhea langsung menegaskan kalau dia tidak akan membuka hatinya pada Galang. Enak saja. Rhea bisa dihajar oleh Nania nanti jika dia sampai menjalin hubungan dengan laki-laki yang kekayaannya berada di bawah sang kakak. Tidak-tidak, Rhea tidak akan pernah membiarkan hal tersebut terjadi. Tidak akan.
“Hmmmmm, lalu apa yang akan kau lakukan jika seandainya nanti aku tetap bersikukuh ingin mendapatkanmu, Rhe? Apa kau akan meminta kakakmu untuk menghajarku?”
Ini menarik. Patut untuk di coba. Kebetulan juga Galang sedang tidak menjalin hubungan dengan siapapun, sepertinya mengejar Rhea adalah sesuatu yang menyenangkan juga.
“Jangan keras kepala, Kak Galang. Tetaplah menjadi dirimu yang tidak memiliki perasaan apapun padaku. Permisi!”
Setelah berkata seperti itu Rhea bergegas menyusul teman-temannya. Dia malas jika harus berlama-lama meladeni teman kakaknya yang aneh itu.
__ADS_1
“Yoooo, Bung. Meskipun kau adalah sahabatku, aku tidak akan ragu untuk benar-benar menghajarmu kalau kau sampai macam-macam pada adikku. Tahu?!” ancam Jovan saat mencium ada aroma-aroma perburuan di diri Galang.
“Ck, kau ini bagaimana sih, Jo. Memangnya kau pikir aku akan segila itu apa sampai harus berbuat macam-macam pada Rhea? Aku bukan maniak, bodoh!” protes Galang tak terima di curigai oleh Jovan. Setelah itu Galang menyesap separuh minumannya kemudian beralih menatap Jovan dengan seksama. “Rhea cukup cantik untuk ukuran wanita idamanku. Kira-kira kau akan mengizinkan aku tidak untuk mengejarnya?”
Sudah Jovan duga. Buaya satu ini pasti akan mengincar adiknya.
“Ayolah, Jo. Kita teman, bukan?”
“Mau itu teman atau bukan aku akan tetap menghajarmu kalau kau sampai berbuat macam-macam pada Rhea. Dan bukankah tadi kau sudah dengar sendiri kalau Rhea tidak akan berpacaran dengan pria yang bukan seorang bos? Lalu apa gunanya kau bertanya tentang izinku, Lang? Bukankah itu hanya akan membuang waktumu saja?” tanya Jovan agak aneh dengan cara berpikir sahabatnya ini.
“Siapa bilang aku bukan bos, Jo?”
Kening Jovan mengerut. Dia menatap lekat ke arah Galang yang tengah tersenyum miring.
“Kau lupa atau bagaimana sih kalau ayahku juga memiliki perusahaan seperti ayahmu? Dan karena aku adalah anak semata wayang ayah dan ibuku, sudah pasti perusahaan mereka akan menjadi milikku seutuhnya. Tergantung aku saja kapan aku siap untuk menggantikan posisi ayahku di kantor. Menjadi seorang bos yang juga adalah seorang dokter adalah hal yang sangat menarik sekali, bukan?” ucap Galang sambil tersenyum lebar. Kartu untuk dia mengejar Rhea sudah ada di dalam genggaman. Kini tinggal menunggu Jovan berkata iya. Lalu selanjutnya ….
“Oh, begitu ya. Ya sudah kau atur saja waktu untuk mulai mendekati Rhea. Dan jangan lupa bayar upeti dengan bekerjasama dengan perusahaanku. Antar calon ipar harus akur ‘kan?”
Galang tergelak. Brengsek sekali sahabatnya ini. Rupa-rupanya virus Nania sudah menular pada Jovan sepenuhnya. Oh, bukan hanya Jovan saja, tapi Rhea juga. Dan kemungkinan besar setelah ini Galang juga akan segera mengidap virus yang sama juga dengan mereka bertiga. Haihhh.
***
__ADS_1